Sejak kemunculan ChatGPT ke ranah publik, dunia telah menyaksikan ledakan minat sekaligus kontroversi seputar kecerdasan buatan generatif. Dari kekhawatiran massal akan hilangnya jutaan pekerjaan hingga skenario distopia ala fiksi ilmiah tentang "kiamat AI", narasi negatif seputar teknologi ini terus menguat dan mendominasi diskursus. Namun, CEO Nvidia, Jensen Huang, salah satu tokoh paling berpengaruh di industri semikonduktor dan AI, memiliki pandangan yang sangat berbeda. Menurutnya, pendekatan yang didorong oleh ketakutan semacam itu justru merugikan dan berpotensi mempercepat terwujudnya skenario terburuk yang kita coba hindari.
Dalam wawancaranya di podcast "No Priors" yang banyak disorot, Huang secara terang-terangan melontarkan kritik keras terhadap narasi kiamat AI. Ia berpendapat bahwa pembingkaian masalah AI sebagai ancaman eksistensial tidak hanya tidak konstruktif tetapi juga tidak membawa dampak positif bagi masyarakat luas, industri teknologi, maupun upaya pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat. Baginya, narasi semacam itu lebih menyerupai plot film fiksi ilmiah ketimbang diskusi rasional dan faktual, yang pada akhirnya hanya menciptakan ketakutan yang tidak perlu di kalangan publik.
Huang bahkan menyebut bahwa adu narasi antara pihak yang melihat AI sebagai kekuatan transformatif positif dan mereka yang menganggapnya sebagai ancaman besar merupakan salah satu pelajaran terpenting yang ia petik dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun ia mengakui bahwa pandangan pro dan kontra sama-sama memiliki kompleksitas dan tidak bisa disederhanakan begitu saja, Huang menilai sebagian besar kritik terhadap AI telah melampaui batas rasionalitas dan masuk ke ranah histeria.
"Kita sudah melakukan banyak kerusakan dengan narasi akhir dunia yang datang dari orang-orang sangat dihormati," kata Huang, menyoroti bagaimana figur-figur terkemuka dalam komunitas AI dan teknologi justru berkontribusi pada penyebaran ketakutan. Ia menekankan bahwa retorika semacam itu mengalihkan fokus dari potensi AI untuk mengatasi tantangan global dan meningkatkan kualitas hidup manusia, menuju spekulasi tentang kehancuran yang belum tentu terjadi.
Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, pernyataan Huang tersebut tak pelak mengingatkan pada perdebatan publiknya dengan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang merupakan salah satu suara terkemuka yang menyerukan kehati-hatian ekstrem terhadap AI. Amodei, tahun lalu, pernah memperingatkan bahwa AI berpotensi menghapus hingga separuh pekerjaan kerah putih level pemula dalam kurun waktu lima tahun. Sebuah prediksi yang secara tegas dibantah oleh Huang, yang saat itu menyatakan ketidaksetujuannya dengan sebagian besar pernyataan tersebut. Konflik pandangan antara kedua raksasa AI ini mencerminkan polarisasi yang terjadi di seluruh industri.
Nvidia, di bawah kepemimpinan Huang, dikenal sebagai produsen chip grafis (GPU) yang menjadi tulang punggung komputasi AI modern. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan perangkat keras, tetapi juga ekosistem perangkat lunak yang memungkinkan inovasi AI di berbagai sektor, mulai dari penelitian medis, rekayasa material, hingga pengembangan kendaraan otonom. Visi Huang adalah menjadikan AI sebagai alat akselerasi bagi kemajuan manusia, bukan sebagai pengganti atau ancaman. Oleh karena itu, kritik terhadap narasi kiamat AI sangat konsisten dengan misi perusahaannya untuk mendorong adopsi dan pengembangan AI yang luas dan bermanfaat.
Dalam podcast yang sama, Huang juga kembali menyindir perusahaan AI tertentu yang secara aktif mendorong regulasi ketat terhadap industri. Menurutnya, perusahaan-perusahaan semacam itu kemungkinan besar memiliki konflik kepentingan. Ia menegaskan bahwa tidak ada perusahaan yang seharusnya meminta pemerintah untuk memperketat aturan AI demi keuntungan atau kepentingannya sendiri. Pandangan ini menyoroti kekhawatiran bahwa regulasi yang terlalu ketat, terutama jika didorong oleh pemain dominan, dapat menciptakan "pagar" atau hambatan masuk bagi startup dan inovator yang lebih kecil, sehingga memonopoli pasar dan menghambat inovasi yang lebih beragam dan aman.
Ketegangan antara Nvidia dan Anthropic juga sempat mencuat terkait isu-isu kebijakan, salah satunya adalah aturan pembatasan ekspor teknologi AI canggih ke China. Anthropic diketahui mendukung pengawasan ketat terhadap ekspor tersebut, sejalan dengan kekhawatiran keamanan nasional yang lebih luas. Sementara itu, Nvidia, yang memiliki kepentingan bisnis signifikan di pasar global, termasuk China, telah berulang kali membantah tudingan soal penyelundupan chip canggih ke negara tersebut, dan seringkali menyuarakan kekhawatiran tentang dampak regulasi yang terlalu restriktif terhadap inovasi dan daya saing global.
Huang lebih lanjut memperingatkan bahwa dominasi narasi negatif justru bisa mempercepat terwujudnya skenario terburuk yang ditakutkan. Ia berargumen bahwa ketakutan berlebihan terhadap AI dapat membuat investor ragu untuk menanamkan modal pada pengembangan AI yang lebih aman, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Logikanya sederhana: jika sebagian besar pesan yang beredar adalah tentang ancaman dan kehancuran, insentif untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan AI yang berfokus pada keselamatan, etika, dan aplikasi positif akan berkurang drastis.
"Kalau 90% pesan yang beredar soal AI adalah pesimisme dan kiamat, orang akan takut berinvestasi pada AI untuk membuat teknologi ini lebih aman, lebih fungsional, lebih produktif, dan lebih berguna untuk masyarakat," ujarnya. Kekhawatiran Huang beralasan. Pengembangan AI yang aman dan bertanggung jawab memerlukan investasi besar dalam penelitian etika AI, teknik mitigasi risiko, sistem pengawasan, dan pendidikan. Jika narasi negatif menghalangi aliran dana ini, maka pengembangan AI bisa saja didorong ke arah yang kurang transparan, kurang terkontrol, dan berpotensi lebih berbahaya karena kurangnya sumber daya untuk membangun safeguards yang memadai.
Pendekatan Huang menganjurkan sebuah keseimbangan. Ia tidak menafikan adanya risiko yang melekat pada pengembangan teknologi sekuat AI, namun ia percaya bahwa cara terbaik untuk mengatasi risiko tersebut bukanlah dengan menghentikan atau menakut-nakuti, melainkan dengan berinvestasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam pengembangannya. Ini berarti fokus pada "alignment" AI dengan nilai-nilai manusia, membangun sistem yang transparan dan dapat diaudit, serta memastikan bahwa manfaat AI dapat diakses secara merata.
Narasi kiamat AI, meskipun mungkin berakar pada niat baik untuk menyerukan kehati-hatian, menurut Huang, secara ironis dapat menjadi bumerang. Dengan melukiskan gambaran suram tentang masa depan, narasi tersebut berisiko mengalihkan perhatian dari pekerjaan penting yang harus dilakukan sekarang untuk membentuk masa depan AI yang positif. Ini adalah seruan untuk beralih dari ketakutan ke tindakan, dari spekulasi ke konstruksi, dan dari narasi yang memecah belah ke kolaborasi yang menyatukan untuk memastikan bahwa AI menjadi kekuatan untuk kebaikan, bukan sumber malapetaka. Perdebatan ini, pada intinya, adalah tentang bagaimana kita sebagai masyarakat memilih untuk memandang dan membentuk salah satu teknologi paling transformatif dalam sejarah manusia.

