Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh telah meninggalkan dampak yang signifikan, tidak hanya pada infrastruktur fisik dan kehidupan masyarakat, tetapi juga pada konektivitas telekomunikasi yang krusial. Dalam menghadapi tantangan pascabencana ini, Telkomsel, sebagai penyedia layanan telekomunikasi terkemuka di Indonesia, dengan sigap dan tanpa henti mengerahkan seluruh sumber daya untuk memastikan pemulihan jaringan telekomunikasi berjalan cepat dan efektif. Komitmen ini tidak hanya sebatas tanggung jawab bisnis, melainkan juga sebuah dedikasi untuk mendukung upaya mitigasi bencana dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Aceh.
Sejak awal kejadian, Telkomsel telah mengidentifikasi bahwa akses komunikasi yang andal adalah urat nadi bagi proses penanganan darurat, koordinasi bantuan, dan bahkan untuk sekadar memberikan kabar kepada keluarga. Oleh karena itu, percepatan pemulihan jaringan menjadi prioritas utama. Hingga saat ini, progres pemulihan jaringan di wilayah terdampak telah mencapai angka impresif 99%, sebuah pencapaian yang menunjukkan efisiensi dan kesungguhan tim di lapangan. Angka ini mencerminkan keberhasilan dalam mengembalikan sebagian besar infrastruktur yang sempat terganggu, memastikan bahwa mayoritas masyarakat di Aceh dapat kembali menikmati layanan komunikasi yang stabil dan berkualitas.
Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa menjaga kualitas layanan jaringan agar tetap andal adalah inti dari komitmen Telkomsel, terutama di tengah kondisi pascabencana yang penuh tantangan. "Pemulihan jaringan di Aceh terus kami lakukan secara berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk Combat (Compact Mobile Base Transceiver Station), genset sebagai back up power, serta peningkatan kapasitas jaringan, kami berupaya memastikan masyarakat tetap dapat berkomunikasi dan mengakses informasi penting di masa pemulihan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis (8/1/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan multi-faceted yang diterapkan Telkomsel, meliputi penggunaan teknologi bergerak, solusi daya darurat, dan peningkatan kapasitas untuk mengakomodasi lonjakan lalu lintas komunikasi.
Kerusakan akibat banjir seringkali bersifat kompleks, mulai dari terendamnya perangkat keras di site BTS (Base Transceiver Station), putusnya kabel fiber optik, hingga terganggunya pasokan listrik di area terdampak. Kondisi ini menuntut respons yang cepat dan strategis. Telkomsel mengerahkan tim teknisi yang berdedikasi untuk melakukan survei kerusakan, perbaikan infrastruktur, dan implementasi solusi sementara maupun permanen. Penggunaan Combat menjadi sangat vital dalam situasi seperti ini. Combat adalah BTS bergerak yang dapat dengan cepat dikerahkan ke lokasi-lokasi yang jaringan utamanya terganggu atau belum pulih, menyediakan cakupan seluler instan. Ini adalah solusi darurat yang sangat efektif untuk memulihkan konektivitas di daerah-daerah terpencil atau yang sulit dijangkau pasca-bencana.

Selain Combat, ketersediaan genset atau generator set sebagai sumber daya cadangan listrik memegang peranan krusial. Banyak site BTS yang mungkin tidak mengalami kerusakan fisik parah, namun kehilangan daya listrik akibat padamnya aliran PLN. Dengan genset, Telkomsel dapat memastikan bahwa perangkat-perangkat telekomunikasi tetap beroperasi tanpa henti, menjaga agar komunikasi tidak terputus. Logistik pengadaan dan pengisian bahan bakar genset di wilayah yang aksesnya terbatas pasca-banjir merupakan tantangan tersendiri yang berhasil diatasi oleh tim Telkomsel. Selain itu, peningkatan kapasitas jaringan dilakukan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kebutuhan komunikasi. Selama bencana, masyarakat cenderung lebih sering menggunakan telepon untuk menghubungi kerabat, mengakses berita, atau mencari bantuan, sehingga peningkatan kapasitas memastikan jaringan tidak mengalami kongesti.
Upaya pemulihan yang dilakukan Telkomsel tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan faktor keselamatan tim di lapangan. Kondisi akses jalan yang mungkin masih tergenang atau rusak, serta risiko-risiko lain di area bencana, menjadi pertimbangan utama. Tim lapangan dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai dan mengikuti prosedur operasi standar yang ketat. Proses pemulihan juga disesuaikan dengan ketersediaan pasokan listrik di masing-masing wilayah, yang seringkali menjadi penentu utama kecepatan pemulihan layanan. Daerah-daerah yang pasokan listriknya belum stabil mungkin memerlukan solusi daya cadangan yang lebih lama atau berulang.
Sejak awal bencana, Telkomsel telah mengerahkan seluruh sumber daya pendukung yang tersedia untuk menjaga keberlangsungan layanan jaringan di wilayah terdampak. Ini mencakup tidak hanya peralatan fisik tetapi juga sumber daya manusia yang terlatih dan berpengalaman dalam menangani krisis. Berbagai upaya dilakukan secara bertahap dan terukur, mulai dari pemulihan infrastruktur jaringan yang rusak, penggantian komponen yang tidak berfungsi, hingga penguatan kapasitas layanan agar kebutuhan komunikasi masyarakat tetap terpenuhi. Fase-fase pemulihan ini dirancang untuk mencapai efisiensi maksimal dan meminimalkan waktu henti layanan.
Konektivitas yang stabil memiliki dampak yang sangat luas bagi masyarakat di tengah masa pemulihan. Bagi korban banjir, telepon genggam dan internet menjadi alat vital untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga yang terpisah, mencari informasi mengenai posko bantuan, atau melaporkan kebutuhan darurat. Bagi tim SAR dan relawan, komunikasi yang lancar memungkinkan koordinasi yang efektif dalam operasi penyelamatan dan distribusi bantuan. Sementara itu, bagi pemerintah daerah, jaringan telekomunikasi adalah infrastruktur dasar untuk memantau situasi, mengelola data, dan menyampaikan informasi penting kepada publik. Bahkan, bagi perekonomian lokal, pemulihan konektivitas adalah langkah awal untuk mengembalikan aktivitas bisnis dan perdagangan.
Dalam proses pemulihan tersebut, Telkomsel memanfaatkan beragam perangkat pendukung, memastikan setiap upaya dilakukan dengan teknologi yang tepat guna dan responsif terhadap kondisi lapangan. Ini mencerminkan investasi perusahaan dalam teknologi dan kesiapan menghadapi berbagai skenario bencana.

Telkomsel juga terus melakukan percepatan pemulihan di lokasi-lokasi yang masih terdampak, dengan mengedepankan aspek keselamatan tim, mempertimbangkan kondisi akses di lapangan yang mungkin masih sulit, serta menyesuaikan dengan ketersediaan pasokan listrik di masing-masing wilayah. Ini adalah bukti bahwa Telkomsel tidak hanya mengejar target pemulihan angka, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan layanan.
"Kami akan terus menjaga jaringan agar tetap stabil dan andal hingga seluruh layanan di Aceh pulih sepenuhnya. Komitmen kami adalah selalu hadir mendampingi masyarakat, terutama di saat-saat yang paling membutuhkan konektivitas," imbuh Nugroho. Pernyataan ini menegaskan kembali filosofi Telkomsel sebagai bagian integral dari masyarakat, siap sedia di garis depan untuk memberikan dukungan melalui layanan telekomunikasi. Ini bukan hanya tentang memulihkan sinyal, tetapi tentang mengembalikan harapan dan memungkinkan masyarakat untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Sebagai bagian dari upaya komprehensif, Telkomsel akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, serta berbagai pemangku kepentingan terkait lainnya seperti lembaga sosial dan komunitas lokal. Koordinasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa upaya pemulihan jaringan selaras dengan keseluruhan rencana penanggulangan bencana dan pemulihan pasca-bencana. Dengan kolaborasi yang kuat, Telkomsel dapat lebih efektif mengidentifikasi area prioritas, mengatasi hambatan logistik, dan memastikan bahwa layanan telekomunikasi dapat kembali beroperasi secara optimal di seluruh wilayah Provinsi Aceh, mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang sedang berjalan. Kehadiran jaringan telekomunikasi yang kuat dan stabil akan menjadi fondasi penting bagi Aceh untuk bangkit lebih cepat dan lebih kuat dari dampak bencana.

