BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mimpi Italia untuk kembali berlaga di ajang sepak bola terbesar sejagat, Piala Dunia, kembali pupus. Kali ini, kegagalan tersebut terukir pada kualifikasi Piala Dunia 2026, menambah daftar panjang rentetan ketidakberuntungan Gli Azzurri dalam tiga edisi beruntun. Kekalahan dramatis dalam adu penalti melawan Bosnia Herzegovina dengan skor 1-4 di partai final play-off, setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, menjadi pukulan telak yang menggema hingga ke benua Amerika Selatan.
Sejarah kelam ini tentu saja meninggalkan luka mendalam bagi para pecinta sepak bola Italia, namun kesedihan itu ternyata turut dirasakan oleh sosok yang notabene adalah pelatih tim nasional Argentina, Lionel Scaloni. Pria berusia 47 tahun ini, meskipun memimpin skuad yang berhasil menjuarai Piala Dunia 2022, tidak bisa menutupi rasa prihatinnya atas nasib buruk yang menimpa negara yang memiliki hubungan emosional kuat dengannya. Scaloni, yang pernah berkarier sebagai pemain di Italia, memperkuat klub-klub seperti Lazio dan Atalanta, memiliki banyak kerabat dan ikatan personal dengan negeri pizza tersebut.
"Saya punya kerabat di Italia, dan apa yang terjadi di Italia membuat saya sedih," ujar Scaloni dengan nada lirih, seperti dikutip dari Football Italia. Pernyataannya ini bukan sekadar ungkapan simpati biasa, melainkan refleksi dari hubungan historis dan budaya yang erat antara Argentina dan Italia. Kedua negara ini memiliki ikatan kuat, yang ditandai dengan banyaknya imigran Italia di Argentina dan sebaliknya, serta warisan budaya dan sepak bola yang saling mempengaruhi. "Negara itu adalah negara saudara bagi Argentina yang sangat peduli kepada kami. Negara itu adalah kekuatan dunia, jadi kenyataan bahwa negara itu tidak hadir tidak dapat kami terima sebagai warga Argentina," tambahnya, menekankan betapa mengejutkan dan tidak terduganya kegagalan Italia ini bagi komunitas sepak bola global, khususnya bagi Argentina.
Kegagalan Italia kali ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Ini adalah episode terbaru dari sebuah tren yang memprihatinkan. Terakhir kali Gli Azzurri mampu unjuk gigi di Piala Dunia adalah pada edisi 2014 di Brasil. Setelah itu, mereka absen di Rusia 2018 setelah kalah dalam babak play-off melawan Swedia. Tren negatif ini berlanjut di kualifikasi Piala Dunia 2022, di mana mereka secara mengejutkan tersingkir di babak play-off oleh Makedonia Utara. Dan kini, dengan kekalahan melawan Bosnia Herzegovina, Italia harus kembali menyaksikan turnamen akbar sepak bola dari layar kaca untuk edisi 2026.
Scaloni melanjutkan penjelasannya dengan lebih mendalam, "Ini menyedihkan karena cara kejadiannya yang tidak adil; ini adalah kebenaran yang sulit diterima." Ungkapan "cara kejadiannya yang tidak adil" bisa diartikan dalam beberapa dimensi. Secara teknis, kekalahan dalam adu penalti memang bisa dianggap sebagai sebuah lotre nasib, di mana sedikit kesalahan bisa berakibat fatal. Namun, bagi negara dengan sejarah sepak bola sekuat Italia, yang telah menorehkan empat gelar juara dunia, absennya mereka di tiga edisi Piala Dunia berturut-turut terasa seperti sebuah ketidakadilan yang lebih besar. Ini mencerminkan adanya masalah struktural atau penurunan kualitas yang mendalam dalam sistem sepak bola Italia, yang belum mampu diatasi secara efektif.
Bagi seorang pelatih sekaliber Lionel Scaloni, yang baru saja membawa Argentina meraih kejayaan di Piala Dunia, pemahaman tentang tekanan dan harapan yang menyertai tim nasional pasti sangat ia rasakan. Ia tahu betul betapa pentingnya kehadiran tim-tim besar seperti Italia di panggung dunia. Piala Dunia bukan hanya tentang persaingan memperebutkan gelar, tetapi juga tentang merayakan keindahan permainan, persatuan global, dan momen-momen emosional yang menyatukan miliaran orang. Absennya Italia, dengan sejarah panjang dan basis penggemar yang fanatik, mengurangi kemeriahan dan prestise turnamen itu sendiri.
Lebih jauh, Scaloni mungkin melihat kegagalan Italia sebagai sebuah pelajaran berharga. Sebagai seorang pelatih yang baru saja mencapai puncak karier, ia tentu memahami bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja dan membutuhkan kerja keras, perencanaan yang matang, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Kegagalan Italia bisa menjadi pengingat bagi semua tim sepak bola, bahkan yang paling berprestasi sekalipun, bahwa stagnasi adalah musuh utama dan inovasi adalah kunci keberlanjutan.
Pernyataan Scaloni juga menyoroti betapa sepak bola memiliki kekuatan untuk melampaui batas negara dan menciptakan ikatan emosional yang kuat. Bagi Argentina, Italia adalah "negara saudara," sebuah ungkapan yang sarat makna. Ini menunjukkan bahwa rivalitas di lapangan tidak selalu berarti permusuhan di luar lapangan. Ada rasa saling menghormati, kekeluargaan, dan bahkan kesamaan nasib yang bisa dirasakan antar negara. Ketika negara yang memiliki hubungan erat seperti itu mengalami kemunduran, wajar jika negara lain turut merasakan kesedihan.
Fakta bahwa Italia, sebuah "kekuatan dunia" dalam sepak bola, tidak mampu lolos ke Piala Dunia, menjadi sebuah anomali yang sulit diterima. Ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serius tentang kualitas pemain muda, sistem pembinaan, taktik permainan, hingga manajemen federasi sepak bola Italia. Apakah ada yang salah dalam regenerasi pemain? Apakah gaya permainan Italia sudah tertinggal dari perkembangan sepak bola modern? Atau apakah ada faktor-faktor eksternal yang turut berkontribusi pada kemunduran ini?
Scaloni, dengan posisinya sebagai pelatih juara dunia, memiliki perspektif unik untuk mengamati dinamika sepak bola global. Ia pasti telah mempelajari kekuatan dan kelemahan berbagai tim, termasuk Italia. Dan dari pengamatannya, ia melihat sebuah kebenaran yang "sulit diterima" – bahwa Italia, sebuah raksasa sepak bola, kini menghadapi tantangan yang signifikan untuk kembali ke jalur kejayaan.
Kemunduran Italia ini bisa menjadi momen introspeksi bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola di sana. Perlu adanya evaluasi menyeluruh, mulai dari level akar rumput hingga tim nasional senior. Tanpa perubahan yang signifikan, risiko untuk kembali gagal di masa depan akan semakin besar.
Sementara itu, bagi Lionel Scaloni dan timnas Argentina, kegagalan Italia ini mungkin menjadi pengingat bahwa takhta juara dunia sangatlah sulit dipertahankan. Kesuksesan yang diraih harus terus dijaga dengan kerja keras dan inovasi. Dan di tengah rasa sedihnya atas nasib Italia, ia juga mungkin menyimpan harapan agar Gli Azzurri segera bangkit dan kembali bersaing di panggung dunia, demi kebaikan sepak bola itu sendiri. Karena pada akhirnya, Piala Dunia akan selalu lebih berwarna dan lebih bergengsi dengan kehadiran tim-tim bersejarah seperti Italia.

