Jakarta – Sebuah laporan investigasi mendalam yang dilakukan oleh Al Jazeera, berkolaborasi dengan data dari pertahanan sipil di Jalur Gaza, telah mengungkap sebuah fenomena mengerikan: ribuan warga Gaza lenyap tanpa jejak setelah serangkaian serangan pasukan Israel yang diduga menggunakan senjata dengan suhu dan tekanan ekstrem. Temuan ini tidak hanya mengejutkan tetapi juga membuka babak baru dalam diskusi tentang sifat konflik modern dan implikasi hukum humaniter internasional.
Tim peneliti mencatat sedikitnya 2.842 kasus di mana tubuh korban sama sekali tidak ditemukan di lokasi serangan, hanya menyisakan jejak biologis minimal seperti percikan darah atau fragmen kecil jaringan manusia. Angka yang mencengangkan ini, yang diperkirakan masih bisa bertambah seiring berlanjutnya konflik dan upaya pencarian, menggambarkan skala kehancuran yang melampaui kematian konvensional. Para peneliti dan ahli yang terlibat dalam investigasi ini menjelaskan bahwa fenomena tragis ini sangat mungkin berkaitan erat dengan penggunaan amunisi termal dan termobarik. Senjata jenis ini, yang sering dikenal dengan sebutan bom vakum atau bom aerosol, memiliki karakteristik yang unik dan daya rusak yang luar biasa.
Amunisi termobarik bekerja dengan mekanisme dua tahap yang sangat merusak. Pertama, sebuah ledakan awal menyebarkan awan besar bahan bakar (biasanya berupa bubuk halus atau cairan yang mudah menguap) ke area target. Segera setelah itu, ledakan kedua memicu awan bahan bakar tersebut, menciptakan gelombang tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Gelombang tekanan ini dapat menciptakan "vakum" parsial yang menghisap oksigen dari area tersebut, menyebabkan paru-paru korban pecah dan organ dalam hancur. Bersamaan dengan itu, suhu ekstrem yang dihasilkan—yang dapat mencapai belasan kali lipat dari titik didih air—membakar semua bahan organik dalam radius ledakan.
Mayor Mahmoud Basal, Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, dalam investigasi tersebut menguraikan metode pencatatan yang mereka gunakan untuk mendokumentasikan kasus-kasus ‘penguapan’ ini. "Jika sebuah keluarga melaporkan bahwa ada lima orang di dalam rumah mereka yang menjadi sasaran serangan, namun setelah pencarian menyeluruh kami hanya berhasil menemukan tiga jasad utuh, maka dua orang lainnya diklasifikasikan ‘menguap’," jelas Mayor Basal, dikutip dari Middle East Eye. Ia menambahkan bahwa klasifikasi ini hanya diberikan setelah upaya pencarian ekstensif yang hanya berhasil menemukan jejak biologis kecil, seperti percikan darah atau fragmen kulit kepala, mengindikasikan bahwa tubuh secara harfiah telah lenyap menjadi abu atau uap.
Dampak dari hilangnya jasad secara total ini melampaui dimensi fisik. Investigasi tersebut juga menyoroti trauma emosional dan sosial yang mendalam yang dialami oleh keluarga korban. Kesaksian para warga yang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, mencari anggota keluarga mereka tanpa pernah menemukan tubuh yang dapat dikuburkan, menjadi narasi pilu tentang kehilangan yang tak terhingga. Tradisi dan keyakinan banyak masyarakat, termasuk di Gaza, menempatkan penguburan jenazah sebagai ritual suci yang esensial untuk proses berduka dan ketenangan spiritual. Ketiadaan jasad menghalangi proses ini, meninggalkan keluarga dalam limbo duka yang tak berkesudahan, tanpa penutupan atau tempat untuk mengenang secara fisik.
Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, memberikan penjelasan ilmiah yang lebih rinci mengenai bagaimana tubuh manusia dapat ‘menguap’ di bawah kondisi ekstrem tersebut. "Paparan panas ekstrem dan tekanan luar biasa dari bom termal dapat menyebabkan cairan tubuh mendidih dalam hitungan detik. Mengingat bahwa tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, suhu yang sangat tinggi dapat mengubah jaringan manusia menjadi abu atau bahkan menguap sepenuhnya," paparnya. Fenomena ini, menurut al-Bursh, sangat mungkin terjadi di pusat ledakan senjata termobarik, di mana intensitas energi yang dilepaskan sangatlah dahsyat.
Temuan investigasi ini memperlihatkan bahwa selain dampak langsung berupa korban jiwa dan kehancuran infrastruktur, fenomena ‘menguapnya’ tubuh menjadi indikator betapa destruktif dan mematikan senjata yang digunakan dalam konflik Gaza saat ini. Skala kejadian ini—ribuan orang yang hilang tanpa jejak—menunjukkan bahwa ini bukan insiden terisolasi, melainkan pola yang mengkhawatirkan yang memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.
Kasus penggunaan senjata termal dan termobarik secara luas ini juga memicu diskusi panas tentang legalitas penggunaannya di bawah hukum humaniter internasional (IHL). Meskipun senjata termobarik tidak secara eksplisit dilarang oleh konvensi internasional seperti senjata kimia atau biologis, penggunaannya sangat diatur oleh prinsip-prinsip IHL, terutama prinsip pembedaan (distinction) antara kombatan dan warga sipil, serta prinsip proporsionalitas.
Para pakar hukum dan kemanusiaan menilai bahwa kasus seperti ini bisa memiliki implikasi serius terhadap hukum humaniter internasional, terutama jika terbukti bahwa senjata yang digunakan memang dilarang atau digunakan dengan cara yang tidak proporsional terhadap populasi sipil yang terkena dampak. Penggunaan senjata yang menyebabkan penderitaan yang tidak perlu atau berlebihan, seperti yang mungkin terjadi dengan bom vakum yang menghancurkan organ internal tanpa meninggalkan bekas luka eksternal, juga merupakan pelanggaran berat terhadap IHL. Jika penggunaan senjata semacam itu terbukti disengaja dan mengakibatkan kematian massal warga sipil, hal itu dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan perang.
Komunitas internasional, termasuk badan-badan seperti Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan PBB, mungkin perlu melakukan penyelidikan independen dan menyeluruh untuk memverifikasi temuan ini dan menentukan apakah ada pelanggaran hukum internasional. Penting untuk mengumpulkan bukti forensik yang memadai, meskipun sulit mengingat sifat ‘penguapan’ tubuh, untuk membangun kasus yang kuat dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Investigasi Al Jazeera dan laporan pertahanan sipil Gaza ini bukan hanya sekadar berita, melainkan seruan darurat untuk dunia. Ini adalah cerminan dari tingkat kekejaman dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga menghilangkan jejak fisik keberadaan mereka. Fenomena ‘menguapkan’ jenazah ini menambahkan dimensi baru yang mengerikan pada daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia dan hukum perang yang dituduhkan dalam konflik Israel-Gaza, menuntut penyelidikan segera, keadilan bagi para korban, dan pertanggungjawaban bagi pelaku. Tanpa tindakan tegas, preseden berbahaya ini dapat mengikis fondasi hukum humaniter internasional dan memicu siklus kekerasan yang lebih kejam di masa depan.

