Laporan intelijen Barat baru-baru ini telah mengguncang lanskap geopolitik, mengklaim bahwa Rusia telah mulai mengirimkan drone tempur canggih ke Iran. Langkah ini, yang jika terbukti benar, akan menandai peningkatan signifikan dalam kerja sama militer antara kedua negara dan menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan negara-negara Barat mengenai stabilitas regional dan global. Berdasarkan sumber dari Financial Times, Moskow tidak hanya memasok drone, tetapi juga dilaporkan mengirimkan pasokan penting lainnya seperti obat-obatan dan makanan untuk mendukung Teheran.
Intelijen Barat menyebutkan bahwa diskusi rahasia antara pejabat tinggi Iran dan pemerintah Rusia berlangsung segera setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat terhadap kepentingan Teheran di kawasan. Meskipun rincian spesifik mengenai serangan ini tidak diuraikan, konteksnya mengindikasikan tekanan berkelanjutan terhadap Iran, yang mungkin mendorong Teheran untuk mencari dukungan militer yang lebih substansial dari sekutunya. Proses pengiriman drone dilaporkan dimulai pada awal Maret 2024 dan diperkirakan akan rampung pada akhir bulan yang sama.
Hubungan antara Moskow dan Teheran telah lama terjalin erat, diperkuat oleh kepentingan geopolitik bersama dan penolakan terhadap hegemoni Barat. Rusia secara historis telah memberikan dukungan penting kepada Iran, termasuk dalam bentuk citra satelit, data penargetan, dan bantuan intelijen. Namun, pengiriman persenjataan seperti drone tempur akan menjadi bukti konkret pertama dari dukungan militer langsung dan aktif dari Moskow kepada Teheran sejak pecahnya konflik di Ukraina. Ini mengindikasikan adanya pertukaran strategis yang lebih dalam, di mana Rusia kemungkinan membalas budi atas pasokan drone buatan Iran yang telah digunakan secara ekstensif oleh Rusia dalam perangnya melawan Ukraina.
Menanggapi tuduhan pengiriman drone ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memberikan respons yang ambigu. Ia menyatakan bahwa "banyak berita palsu beredar saat ini," namun secara bersamaan mengkonfirmasi bahwa "kami melanjutkan dialog kami dengan kepemimpinan Iran." Pernyataan ini, meskipun menyiratkan penolakan, juga menegaskan kedalaman dan keberlanjutan komunikasi antara kedua negara, meninggalkan ruang untuk interpretasi mengenai sifat sebenarnya dari "dialog" tersebut.
Seorang pejabat senior Barat yang tidak disebutkan namanya menyoroti bahwa intervensi Moskow ini bertujuan untuk memperkuat tidak hanya kemampuan tempur Iran, tetapi juga untuk menjamin stabilitas politik Teheran. Dalam pandangan Barat, dukungan militer ini dapat menjadi upaya Rusia untuk menjaga sekutunya tetap kuat di tengah tekanan regional dan internasional yang meningkat, sekaligus memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Di mata publik, Moskow sering menyoroti aspek bantuan kemanusiaan dalam hubungannya dengan Iran. Sebagai contoh, pekan lalu Rusia mengumumkan telah mengirimkan lebih dari 13 ton obat-obatan ke Iran melalui Azerbaijan dan berencana untuk melanjutkan pengiriman tersebut, menampilkan narasi dukungan yang lebih lunak.
Strategi militer Iran telah lama mengandalkan penggunaan drone serang satu arah, yang dikenal karena biaya produksinya yang relatif murah dan efektivitasnya dalam peperangan asimetris di Timur Tengah. Sejak konflik di Ukraina pecah, Rusia sendiri telah menembakkan lebih dari 3.000 drone jenis ini, banyak di antaranya merupakan adaptasi dari desain drone Iran seperti Shahed-136. Sejak tahun 2023, Rusia telah memproduksi drone serang satu arah dengan desain Iran untuk digunakan di Ukraina. Drone-drone ini telah dimodifikasi secara signifikan agar mampu menghindari pertahanan udara musuh dan membawa muatan yang lebih berat, menunjukkan tingkat kolaborasi dan transfer teknologi yang substansial.
Antonio Giustozzi, seorang peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), berpendapat bahwa Iran, meskipun memiliki kemampuan produksi drone sendiri, kini membutuhkan "drone yang lebih baik" dan "kemampuan yang lebih canggih." Giustozzi secara independen mendengar dari sumber-sumber di dalam Korps Garda Revolusi Islam bahwa diskusi mengenai pengiriman drone dengan Rusia telah dibuka segera setelah apa yang disebutnya "serangan AS dan Israel terhadap Iran." Ini menggarisbawahi urgensi Iran untuk meningkatkan pertahanan dan kemampuan serangnya.
Seorang pejabat keamanan Barat lainnya mengungkapkan bahwa mereka belum dapat memastikan kelas drone yang tepat yang disetujui Rusia untuk dikirim ke Iran bulan ini. Namun, mereka berspekulasi bahwa Moskow kemungkinan hanya akan mampu mengirimkan model seperti Geran-2, yang merupakan versi Rusia dari Shahed-136 Iran. Jika demikian, ini menunjukkan bahwa transfer teknologi mungkin bukan hanya tentang drone baru, tetapi juga tentang peningkatan versi yang sudah ada.
Nicole Grajewski, seorang profesor di Universitas Sciences Po di Paris yang mempelajari hubungan Rusia-Iran, menjelaskan bahwa Teheran mungkin memiliki motivasi untuk merekayasa balik drone-drone kiriman Rusia tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu meningkatkan sistem domestiknya sendiri. Grajewski menambahkan bahwa Rusia telah secara dramatis meningkatkan Shahed, termasuk modifikasi pada mesin, sistem navigasi, dan kemampuan anti-jamming. "Jadi sistem ini sudah lebih canggih daripada yang diproduksi Iran di dalam negeri," jelasnya, menyoroti nilai tambah yang bisa diperoleh Iran dari teknologi Rusia.
Selain drone, Teheran juga telah meminta Rusia untuk kemampuan pertahanan udara yang lebih canggih. Kedua negara menyetujui kesepakatan pada Desember lalu untuk pengiriman 500 unit peluncur Verba portabel dan 2.500 rudal 9M336 selama tiga tahun. Ini menunjukkan ambisi Iran untuk memperkuat pertahanan udaranya secara signifikan. Namun, Rusia dilaporkan telah menolak permintaan Iran untuk S-400, salah satu sistem pertahanan udara tercanggih milik Moskow, menurut beberapa sumber. Penolakan ini bisa jadi karena Rusia membutuhkan sistem tersebut untuk pertahanannya sendiri atau karena keengganan untuk mentransfer teknologi militer paling mutakhir kepada Iran, yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan regional secara drastis.
Sebagai catatan penting, Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis tahun lalu. Meskipun memperdalam kerja sama mereka di berbagai bidang, perjanjian tersebut secara signifikan tidak mewajibkan kedua belah pihak untuk saling membela dalam kasus serangan militer. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan kolaborasi, ada batas-batas tertentu dalam komitmen pertahanan bersama mereka, yang mungkin mencerminkan perhitungan strategis masing-masing negara untuk menghindari keterlibatan langsung dalam konflik pihak lain.
Secara keseluruhan, laporan intelijen Barat ini menggambarkan evolusi yang mengkhawatirkan dalam aliansi Rusia-Iran. Jika terkonfirmasi, pengiriman drone dan teknologi militer canggih lainnya tidak hanya akan meningkatkan kapasitas militer Iran tetapi juga memperdalam keterikatan kedua negara dalam menentang pengaruh Barat. Ini berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah dan menimbulkan implikasi serius bagi keamanan global, terutama mengingat peran kedua negara dalam konflik regional dan persaingan kekuatan besar. Dunia akan terus mengamati dengan cermat perkembangan aliansi ini dan dampaknya terhadap tatanan geopolitik.

