Dugaan aksi rasisme kembali mencoreng dunia sepak bola, kali ini menargetkan Vinicius Junior, bintang Real Madrid, dalam laga leg pertama playoff knockout Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid. Pertandingan yang digelar di Estádio da Luz, Lisbon, pada dini hari WIB tanggal 17 Februari 2026, seharusnya menjadi panggung bagi kehebatan sepak bola, namun justru tercoreng oleh insiden tak terpuji yang melibatkan pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni. Real Madrid berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0 berkat gol indah Vinicius Junior di menit ke-50, namun sorotan utama pasca-laga tertuju pada momen kontroversial yang terjadi setelah gol tersebut.
Gol Vinicius Junior adalah sebuah mahakarya, sebuah tendangan yang hanya bisa dihasilkan oleh pemain dengan bakat luar biasa seperti dirinya atau Kylian Mbappé, seperti yang diakui oleh mantan pelatih Real Madrid, José Mourinho. Setelah mencetak gol krusial tersebut, Vinicius merayakan dengan tarian khasnya di depan bendera sudut lapangan, sebuah selebrasi yang kerap ia lakukan dan menjadi ciri khasnya. Namun, selebrasi tersebut, yang juga berujung pada kartu kuning dari wasit François Letexier, diduga memicu reaksi rasis dari Gianluca Prestianni. Pemain Benfica bernomor punggung 25 itu, mendekati Vinicius dan, sambil menutupi mulutnya dengan jersey, diduga melontarkan kata rasis "mono" yang berarti "monyet" dalam bahasa Spanyol.
Vinicius Junior, yang telah berulang kali menjadi korban pelecehan rasis di berbagai stadion, langsung melaporkan insiden tersebut kepada wasit. Respons Vinicius yang tenang namun tegas ini memicu diaktifkannya protokol anti-rasisme UEFA/FIFA, sebuah langkah penting yang menunjukkan keseriusan insiden tersebut. Pertandingan sempat terhenti selama kurang lebih 10 hingga 15 menit, sebuah jeda yang mengganggu jalannya pertandingan namun sangat penting untuk menegakkan prinsip keadilan. Vinicius sempat menunjukkan emosi yang mendalam dan menolak untuk melanjutkan pertandingan, sebuah reaksi yang dapat dimengerti mengingat trauma berulang yang ia alami. Namun, setelah dibujuk oleh rekan-rekan setim dan ofisial, ia akhirnya bersedia kembali ke lapangan. Momen ini menyoroti beban psikologis yang harus ditanggung oleh pemain yang menjadi target rasisme.
Menyusul insiden tersebut, Gianluca Prestianni membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Namun, bantahan ini tidak meredakan kemarahan publik dan komunitas sepak bola internasional, terutama mengingat tindakan Prestianni yang menutupi mulutnya, yang banyak diinterpretasikan sebagai upaya untuk menyembunyikan kata-kata yang diucapkannya. Di sisi lain, pelatih Benfica, José Mourinho, yang memiliki sejarah panjang dan kompleks dengan Real Madrid, memilih untuk mengkritik selebrasi Vinicius yang dianggapnya provokatif. "Vinicius mencetak gol yang hanya bisa dicetak oleh Mbappé dan dirinya. Dia seharusnya pergi merayakan bersama rekan-rekan setimnya, bukan di depan 60.000 orang," ujarnya. Mourinho melanjutkan, "Vini memprovokasi suporter? Di berapa banyak stadion hal seperti ini pernah terjadi? Dia pemain yang luar biasa; saya menyukainya. Tapi jika kamu mencetak gol seperti itu, kamu seharusnya pergi merayakannya dengan rekan setimmu." Pernyataan Mourinho ini menuai kontroversi, karena banyak yang menganggapnya sebagai bentuk victim-blaming atau menyalahkan korban, menggeser fokus dari tindakan rasis ke selebrasi pemain. Argumen bahwa selebrasi adalah provokasi yang membenarkan rasisme telah lama menjadi perdebatan dalam sepak bola, dan sebagian besar komunitas menolak gagasan tersebut. Selebrasi adalah bagian dari kegembiraan sepak bola dan tidak boleh menjadi dalih untuk tindakan diskriminatif.
Solidaritas terhadap Vinicius Junior mengalir deras dari rekan-rekan setimnya dan pemain top dunia lainnya. Federico Valverde, gelandang Real Madrid, dengan tegas menyatakan, "Bukan hanya Vini yang mendengar, semua pemain Madrid di dekatnya juga dengar kata buruk itu." Pernyataan Valverde ini sangat krusial karena memberikan bukti saksi mata dari sesama pemain, yang memperkuat tuduhan Vinicius dan menyanggah bantahan Prestianni. Ini juga menegaskan bahwa insiden tersebut bukan sekadar salah paham atau tuduhan sepihak, melainkan sebuah peristiwa yang disaksikan oleh beberapa orang.
Dukungan juga datang dari luar Real Madrid. Bek Liverpool, Trent Alexander-Arnold, menyebut insiden itu "disgusting" dan merusak keindahan sepak bola. Ia menekankan bahwa tindakan rasisme seperti ini tidak memiliki tempat di olahraga yang seharusnya menyatukan orang. Yang paling mengejutkan dan memberikan bobot besar pada insiden ini adalah reaksi dari Kylian Mbappé. Bintang Paris Saint-Germain dan kapten timnas Prancis itu bahkan terlihat memanggil Prestianni "bloody racist" pasca-laga. Mbappé, yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial, tidak hanya mengecam tindakan tersebut tetapi juga memberikan rincian yang mengerikan: "Setelah gol Vini dan selebrasinya, nomor 25 Benfica, saya tidak akan menyebut namanya karena dia tidak layak membuat saya menyebut namanya, mulai menggunakan kata-kata yang tidak dapat diterima. Dia memanggil Vini ‘monyet’, sebanyak 5 KALI!" Kesaksian Mbappé ini menambah lapisan kredibilitas yang tak terbantahkan terhadap tuduhan Vinicius, menunjukkan betapa parahnya pelecehan yang terjadi. Kata-kata "5 KALI!" menunjukkan intensitas dan keberulangan pelecehan yang dilakukan Prestianni.
Di platform media sosial X (Twitter), warganet ramai-ramai membela Vinicius dan mengecam keras tindakan Prestianni. Gelombang dukungan ini menunjukkan betapa besar kepedulian publik terhadap isu rasisme dalam sepak bola, serta empati yang mendalam terhadap Vinicius yang kerap menjadi korban. Berbagai cuitan menyoroti berbagai aspek dari insiden tersebut dan menyuarakan tuntutan keadilan:
Akun @m33rchy mengungkapkan empati yang mendalam: "Denger berita gini tuh hati jadi ikutan geter juga, gua ga bisa bayangin kalo itu di posisi gua atau orang lain. Dan ini orang dah dapet perlakuan semacam ini bertahun-tahun. We stand with Vini Jr." Cuitan ini menyoroti penderitaan Vinicius yang berulang kali menjadi target rasisme, menekankan bahwa ini bukan insiden tunggal melainkan pola yang mengkhawatirkan.
@Vminiestfairy menuntut investigasi menyeluruh dan sanksi tegas: "ini harus di investigasiin anjir. saksinya ada arda sebelah vini. harus cek apakah ad kamera yg rekam suara dia. sanksinya buat bocil itu harus di ban 1-2tahun dari lapangan biar tau rasa, dia pikir rasis itu hal kecil apa." Cuitan ini penting karena menyebutkan adanya saksi lain (Arda Guler, jika memang Arda berada di dekat Vinicius saat kejadian), dan menyerukan penggunaan teknologi (rekaman suara) untuk membuktikan tuduhan. Tuntutan sanksi berat berupa larangan bermain selama 1-2 tahun juga menunjukkan keinginan publik untuk melihat tindakan nyata dan bukan sekadar peringatan.
@agungwirraa mempertanyakan logika di balik komentar Mourinho dan pihak-pihak yang menyalahkan Vinicius: "salah nya vini dimana ya? apakah selebrasi dilarang? masa iya cara berpikir nya provokasi berlebihan bisa impas dengan rasisme? ini jln pikir nya dimana ya?" Cuitan ini secara langsung menantang narasi victim-blaming, menegaskan bahwa tidak ada selebrasi atau provokasi yang dapat membenarkan tindakan rasisme. Ini adalah poin krusial dalam perdebatan anti-rasisme.
@joweepp memuji reaksi Vinicius yang tenang dan sesuai protokol: "reaksi paling keren sih dari vini, langsung datengin wasit bukan malah kepancing emosi dan nyamperin prestianni." Cuitan ini menyoroti kematangan Vinicius dalam menghadapi situasi yang sangat emosional. Dengan melaporkan langsung kepada wasit, Vinicius menunjukkan contoh bagaimana menghadapi rasisme secara benar dan sesuai aturan, alih-alih membalas dengan kekerasan.
Terakhir, @Aeterna536404 menunjukkan skeptisisme terhadap bantahan Prestianni: "yakali vini boong dikatain rasis. bangke jg itu pas ngomong nutup pake baju." Cuitan ini menggarisbawahi kejanggalan dalam tindakan Prestianni yang menutupi mulutnya, sebuah gestur yang sering kali diasosiasikan dengan upaya menyembunyikan sesuatu yang salah.
Insiden ini bukan hanya tentang Vinicius Junior dan Gianluca Prestianni, melainkan cerminan dari masalah rasisme yang masih mengakar kuat di sepak bola Eropa. Vinicius telah menjadi simbol perjuangan melawan rasisme, dengan banyak insiden yang menimpanya di berbagai stadion La Liga dan Liga Champions. Setiap kali ia menjadi korban, ia berdiri tegak, menuntut keadilan, dan menyuarakan pentingnya kampanye #NoToRacism. Perjuangan Vinicius telah memicu diskusi global tentang bagaimana badan pengatur sepak bola seperti UEFA dan FIFA dapat lebih efektif dalam memerangi diskriminasi.
UEFA sendiri dikabarkan akan segera membuka penyelidikan resmi terhadap dugaan penghinaan rasial tersebut. Proses penyelidikan ini akan melibatkan pengumpulan bukti dari rekaman video, kesaksian wasit, ofisial pertandingan, dan para pemain yang berada di lokasi kejadian. Jika Gianluca Prestianni terbukti bersalah, sanksi berat dapat dijatuhkan kepadanya maupun klub Benfica. Sanksi untuk pemain dapat berupa larangan bermain dalam jumlah pertandingan tertentu, denda, atau bahkan larangan bermain dalam jangka panjang, seperti yang dituntut oleh beberapa warganet. Untuk klub, sanksi bisa berupa denda finansial yang besar, pertandingan tanpa penonton (stadion ditutup sebagian atau seluruhnya), atau bahkan pengurangan poin dalam kompetisi.
Pentingnya sanksi yang tegas dan tidak kompromi tidak dapat diremehkan. Hanya dengan hukuman yang berat dan konsisten, pesan anti-rasisme dapat benar-benar tersampaikan dan berfungsi sebagai pencegah bagi insiden serupa di masa depan. Sepak bola adalah olahraga global yang seharusnya merayakan keragaman dan inklusivitas, bukan menjadi wadah bagi kebencian dan diskriminasi. Insiden yang menimpa Vinicius Junior ini adalah pengingat yang menyakitkan bahwa perjuangan melawan rasisme masih jauh dari kata usai. Namun, solidaritas yang ditunjukkan oleh rekan-rekan setim, pemain internasional, dan warganet memberikan harapan bahwa dengan suara yang bersatu, masa depan sepak bola yang bebas dari rasisme dapat tercapai.

