Isra Miraj, sebuah peristiwa monumental dalam sejarah Islam, diperingati setiap tahun sebagai salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Kisah perjalanan malam yang menakjubkan ini, di mana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Mekah ke Baitul Maqdis (Masjid Al Aqsa) dan kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha, selalu memukau umat manusia. Selain makna spiritual yang mendalam, pertanyaan tentang bagaimana perjalanan secepat kilat ini dapat terjadi telah memicu berbagai interpretasi, termasuk dari sudut pandang fisika modern. Upaya untuk memahami keajaiban ini melalui lensa sains tidak lantas mengurangi kemuliaan peristiwa tersebut, melainkan justru memperkaya pemahaman kita tentang kebesaran Tuhan dan potensi alam semesta yang seringkali melampaui batas imajinasi manusia.
Secara definisi, Isra adalah perjalanan malam hari yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah menuju Baitul Maqdis, atau Masjid Al Aqsa di Yerusalem. Perjalanan ini merupakan sebuah pembuka yang menakjubkan, menghubungkan dua situs suci dalam Islam dan menandai signifikansi Baitul Maqdis sebagai salah satu kiblat pertama umat Muslim. Setelah tiba di Al Aqsa, Nabi Muhammad SAW kemudian melanjutkan Miraj, yaitu peristiwa diangkatnya beliau oleh Allah SWT dari Masjid Al Aqsa, melewati tujuh lapis langit, hingga mencapai Sidratul Muntaha—sebuah batas terakhir yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk ciptaan. Di tempat yang penuh kemuliaan itulah, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu bagi seluruh umat Islam, sebuah rukun Islam yang menjadi tiang agama.
Dalam narasi tradisional, umat Islam meyakini bahwa kendaraan yang dipergunakan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan luar biasa ini adalah Buraq. Nama "Buraq" sendiri memiliki makna yang sangat relevan, yaitu "kilat" atau sesuatu yang memiliki kecepatan tinggi. Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU, Ishaq Zubaedi Raqib, dalam tulisannya, menjelaskan bahwa Buraq dapat diinterpretasikan sebagai makhluk Tuhan yang terbuat dari cahaya, yang secara logis mampu melesat dengan kecepatan cahaya, bahkan mungkin melampauinya. Interpretasi ini secara intrinsik sudah menyinggung konsep fisika, terutama terkait kecepatan dan cahaya.
Gambaran Buraq secara budaya di berbagai negeri Muslim seringkali divisualisasikan secara artistik. Dilansir dari Asia Research News, Buraq kerap digambarkan sebagai kuda bersayap dengan kepala manusia dalam sejumlah manuskrip dan lukisan yang berasal dari Persia dan Asia Tengah, khususnya sejak abad ke-15. Gambaran ini, meskipun indah dan penuh simbolisme, cenderung bersifat metaforis dan antropomorfis, berbeda dengan upaya penjelasan ilmiah yang mencoba menyingkap mekanisme di balik fenomena kecepatan luar biasa yang disebutkan dalam narasi.
Lalu, bagaimana para ilmuwan modern mencoba menjelaskan peristiwa Isra Miraj dari sudut pandang fisika? Salah satu upaya penelitian yang menarik dilakukan oleh Hismatul Istiqomah dari Universitas Negeri Malang dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember. Penelitian mereka, yang berjudul "The Concept of Buraq in the Events of Isra Mi’raj: Literature and Physics Perspective," dipublikasikan di Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Volume 5 No 1 tahun 2020. Penelitian ini mencoba menjembatani narasi spiritual dengan prinsip-prinsip fisika kuantum dan teori relativitas.
Dalam perspektif fisika yang diuraikan oleh Hismatul dan Ihsan, Buraq dijelaskan bukan sebagai makhluk fisik yang terpisah, melainkan sebagai manifestasi energi cahaya berkecepatan tinggi. Kunci dari penjelasan mereka terletak pada kajian Fisika Kuantum, sebuah cabang fisika yang mempelajari perilaku materi dan energi pada skala atom dan subatom. Fisika Kuantum membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terjangkau oleh fisika klasik, termasuk fenomena transformasi materi menjadi energi.
Inti dari penjelasan fisika yang mereka kemukakan adalah teori anihilasi. Teori anihilasi adalah sebuah proses fundamental dalam fisika partikel di mana sebuah partikel bertabrakan dengan antipartikelnya, dan seluruh massa kedua partikel tersebut dikonversi menjadi energi murni. Contoh paling umum adalah ketika sebuah elektron (partikel materi) bertabrakan dengan positron (antipartikelnya), menghasilkan pancaran foton energi tinggi, biasanya dalam bentuk sinar gamma. Dalam konteks Isra Miraj, Hismatul dan Ihsan mengusulkan sebuah interpretasi revolusioner: tubuh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan massa dari materi, mengalami reaksi anihilasi dengan massa antimateri yang diwakili oleh Malaikat Jibril.
Interpretasi ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra Miraj bukanlah perjalanan fisik dalam pengertian biasa, melainkan sebuah transformasi fundamental. Melalui reaksi anihilasi ini, tubuh fisik Nabi Muhammad SAW "dihapus" atau diubah menjadi sebuah bentuk energi baru yang sangat besar. Energi inilah yang oleh tim peneliti disebut sebagai Buraq. Secara fisika, Buraq dalam konteks ini bisa dipasangkan dengan konsep sinar gamma, yaitu gelombang elektromagnetik dengan energi tertinggi dan frekuensi terpendek dalam spektrum elektromagnetik. Sinar gamma bergerak dengan kecepatan cahaya, dan karena tidak memiliki massa diam, ia dapat melakukan perjalanan melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat.
Konsep ini juga sehubung erat dengan teori kesetaraan massa-energi yang dirumuskan oleh Albert Einstein, yang terkenal dengan persamaan E=mc². Persamaan ini menyatakan bahwa massa (m) dan energi (E) adalah dua bentuk yang dapat saling diubah, di mana c adalah kecepatan cahaya. Artinya, materi dalam kondisi tertentu dapat diubah menjadi energi, dan sebaliknya. Transformasi ini menjelaskan bagaimana tubuh Nabi Muhammad SAW, sebagai materi, dapat diubah menjadi energi murni—Buraq—untuk melakukan perjalanan yang mustahil secara fisik.
Lebih lanjut, perspektif ini mengemukakan bahwa setiap objek nyata di alam semesta terdiri dari materi submikroskopis yang dikenal sebagai atom, yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Dan menariknya, setiap materi memiliki antimateri di dalamnya, meskipun dalam kondisi normal mereka tidak berinteraksi dalam skala besar. Dengan demikian, Buraq bukanlah entitas eksternal yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Miraj, melainkan merupakan bagian dari dirinya sendiri, sebuah manifestasi energi dari esensi materi dan antimateri yang ada dalam dirinya dan lingkungan interaksinya dengan Jibril.
Tentu saja, reaksi anihilasi juga diklasifikasikan sebagai reaksi yang bisa berkebalikan, yaitu reaksi materialisasi. Reaksi materialisasi adalah proses di mana energi yang sangat besar dapat dipecah kembali untuk membentuk materi dan antimateri yang semula bertumbukan. Ini adalah bagian krusial dari penjelasan fisika ini, karena memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk kembali ke bentuk fisik setelah perjalanan spiritualnya yang menakjubkan.
Berdasarkan konsep fisika materialisasi ini, setelah peristiwa Isra Miraj selesai, energi Buraq yang telah menjadi wadah perjalanan Nabi Muhammad SAW kemudian termaterialisasi kembali. Energi tersebut dipecah dan diubah kembali menjadi materi dan antimateri, sehingga Nabi Muhammad SAW dapat kembali normal, menjadi sosok nyata yang dapat dirasakan, dan dapat berkumpul dengan umatnya seperti biasa. Proses ini menjelaskan bagaimana beliau bisa melakukan perjalanan trans-dimensi atau trans-ruang-waktu dan kembali tanpa mengalami kerusakan fisik.
Penjelasan fisika ini menawarkan perspektif yang menarik dalam memahami salah satu mukjizat terbesar dalam Islam. Ia tidak bertujuan untuk menafikan dimensi spiritual atau keajaiban ilahi, melainkan mencoba memberikan kerangka pemahaman rasional atas fenomena yang melampaui batas-batas pengalaman manusia sehari-hari. Dengan menggabungkan narasi keagamaan dengan teori-teori fisika modern, kita dapat melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat memperkaya apresiasi kita terhadap kisah-kisah keimanan, menunjukkan bahwa alam semesta ini menyimpan misteri dan potensi yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan. Upaya semacam ini mencerminkan semangat eksplorasi dan pencarian kebenatan, baik melalui lensa iman maupun lensa sains, yang pada akhirnya dapat bertemu dalam kekaguman akan kebesaran Sang Pencipta.

