BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mobil listrik mungil biasanya identik dengan harga yang terjangkau, sebuah persepsi yang umum dan logis di benak banyak konsumen. Namun, anggapan ini seketika runtuh dan tergambar tidak berlaku saat kita menelisik banderol harga Honda Super One yang baru saja resmi diperkenalkan di Singapura. Terlepas dari ukurannya yang tergolong kecil, kendaraan ramah lingkungan terbaru dari Honda ini justru memecahkan rekor harga, melambung tinggi hingga menembus angka fantastis Rp 2,3 miliar. Pertanyaan besar yang muncul di benak banyak orang adalah: apa sebenarnya yang menjadi faktor pendorong mahalnya harga mobil listrik mungil ini?
Singapura memegang predikat sebagai negara pertama di luar Jepang yang mendapatkan kehormatan untuk memasarkan Honda Super One secara resmi. Kemunculan mobil listrik kompak ini sebelumnya telah diperkenalkan kepada publik pada ajang Japan Mobility Show yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2025. Setelah itu, kendaraan ini kembali menarik perhatian saat tampil di Tokyo Auto Salon dan berlanjut ke Singapore Motor Show di awal tahun 2026 ini, menegaskan posisinya sebagai produk global yang dinanti.
Bersamaan dengan debut resminya di pasar Singapura, spesifikasi teknis yang lebih rinci mengenai Honda Super One mulai terkuak ke publik. Mobil listrik ini dibekali dengan motor listrik yang memiliki tenaga sebesar 95 PS, yang setara dengan 70 kW, serta torsi puncak mencapai 162 Nm. Angka performa ini menempatkan Super One berada di posisi tengah-tengah jika dibandingkan dengan model basisnya, yaitu N-One e:, dan Honda e yang memiliki kapabilitas performa yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Honda tidak hanya sekadar menghadirkan mobil listrik mungil, tetapi juga menyematkan elemen performa yang cukup menarik.
Meskipun demikian, mengenai klaim jarak tempuh yang mampu dicapai oleh Honda Super One, pihak Honda sendiri belum merilis angka resmi yang pasti. Namun, berdasarkan kemampuan pengisian daya cepat DC yang terintegrasi, di mana baterai dapat terisi dari 20 hingga 80 persen hanya dalam kurun waktu 30 menit, dapat diindikasikan bahwa mobil ini menggunakan baterai berkapasitas 29,6 kWh. Kapasitas baterai ini identik dengan yang digunakan pada model N-One e:. Dengan tenaga motor listrik yang lebih besar dibandingkan N-One e:, diperkirakan jarak tempuh Super One akan sedikit di bawah klaim WLTP N-One e: yang mencapai 295 kilometer. Perkiraan ini memberikan gambaran mengenai efisiensi dan jangkauan operasionalnya.

Salah satu fitur yang patut disorot dan menjadi daya tarik tersendiri dari Honda Super One adalah dibekalinya mode Boost. Fitur inovatif ini memungkinkan simulasi perpindahan gigi yang menyerupai transmisi tujuh percepatan, lengkap dengan simulasi suara mesin buatan yang dihasilkan melalui sistem Active Sound Control. Fitur seperti ini sebelumnya telah mendapatkan popularitas yang signifikan melalui model-model seperti Hyundai Ioniq 5 dan 6 N, dan kini mulai diadopsi oleh pabrikan otomotif lainnya, menandakan tren baru dalam pengalaman berkendara mobil listrik. Hal ini menunjukkan upaya Honda untuk memberikan sensasi berkendara yang lebih dinamis dan menyenangkan, bahkan pada mobil listrik.
Menariknya, meskipun diposisikan sebagai kendaraan listrik dengan sentuhan sport, konstruksi mekanis yang diusung oleh Honda Super One tergolong cukup sederhana. Pada bagian suspensi depan, mobil ini masih mengandalkan MacPherson strut, sementara di bagian belakang menggunakan torsion beam. Sistem pengereman belakang pun masih menggunakan rem tromol. Dari segi eksterior, Super One secara gagah mempertahankan gaya retro-modern yang menjadi ciri khas N-One e:, namun diperkaya dengan lengkungan spatbor yang lebih agresif, yang secara visual membuat dimensi mobil ini tampak sedikit membesar dan memberikan kesan lebih kekar. Desain ini menggabungkan elemen klasik dengan sentuhan modern yang futuristik.
Memasuki bagian interior, kabin Honda Super One dirancang dengan tampilan yang simpel namun mampu memberikan kesan lebih premium. Jok depan telah mendapatkan peningkatan kualitas dengan balutan kulit parsial, yang menambah kenyamanan dan estetika. Sebagai fitur standar, mobil ini dilengkapi dengan layar sentuh berukuran 9 inci untuk sistem Display Audio, sebuah sistem audio Bose yang terdiri dari delapan speaker untuk pengalaman suara yang imersif, serta paket keselamatan komprehensif Honda Sensing. Kelengkapan fitur ini memastikan bahwa pengguna mendapatkan pengalaman berkendara yang aman, nyaman, dan terkoneksi.
Lantas, pertanyaan yang paling krusial kembali muncul: apa sebenarnya yang membuat harga Honda Super One di Singapura begitu melambung tinggi hingga mencapai angka Rp 2,3 miliar? Jawabannya terletak pada struktur pasar otomotif Singapura yang unik dan kompleks. Di Singapura, Honda Super One dijual dengan harga SGD 178.999, yang jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah, setara dengan sekitar Rp 2,3 miliar. Namun, angka tersebut belum termasuk biaya-biaya lain yang sangat signifikan. Dari total harga tersebut, sekitar SGD 90.000, atau setara dengan Rp 1,1 miliar, merupakan biaya Certificate of Entitlement (COE).
COE, atau Certificate of Entitlement, adalah sebuah sertifikat kepemilikan kendaraan yang wajib dimiliki oleh setiap pemilik kendaraan di Singapura selama jangka waktu 10 tahun. Sertifikat ini secara luas dikenal sebagai "biang keladi" utama di balik tingginya harga mobil di negara tersebut. Sistem COE ini berfungsi sebagai mekanisme kuota yang dirancang secara cermat untuk mengendalikan jumlah kendaraan yang beredar di jalan raya. Tujuan utamanya adalah untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas yang kronis di Singapura, sebuah negara yang dikenal sebagai "negeri singa" dengan lahan yang terbatas namun memiliki populasi yang padat. Dengan membatasi jumlah kendaraan melalui sistem lelang COE yang kompetitif, pemerintah Singapura berusaha menjaga kelancaran arus transportasi dan kualitas hidup warganya. Oleh karena itu, tingginya harga Honda Super One di Singapura bukan semata-mata karena biaya produksi atau fitur mobil itu sendiri, melainkan lebih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kondisi pasar otomotif lokal yang unik, di mana biaya kepemilikan kendaraan jauh melampaui harga dasar mobil itu sendiri. Tingginya nilai COE ini menjadikan mobil, termasuk mobil listrik mungil seperti Honda Super One, menjadi barang mewah yang sangat mahal di Singapura.

