Dunia livestreaming e-commerce di China kembali berduka dengan kabar meninggalnya Wang Yefei, seorang kreator konten ternama yang dikenal dengan julukan ‘Sister Wang Zha’. Wanita berusia 39 tahun ini menghembuskan napas terakhirnya secara tragis saat sedang melakukan siaran langsung, di mana ia sempat mengeluh sakit kepala dan merasa tidak enak badan. Insiden ini, yang terjadi pada Senin (9/3) pekan lalu, memicu gelombang perbincangan dan kekhawatiran serius mengenai tekanan fisik dan mental yang dihadapi para influencer di industri yang sangat kompetitif ini.
Wang Yefei, yang berasal dari Provinsi Shanxi, China, adalah sosok yang dikenal energik dan bersemangat dalam setiap siaran langsungnya. Dengan 130.000 pengikut setia di berbagai platform media sosial China, ia telah membangun reputasi sebagai penjual pakaian wanita yang handal dan karismatik. Pada hari naas itu, seperti biasanya, Yefei memulai livestream-nya dengan antusiasme tinggi. Rekaman siaran langsung tersebut awalnya memperlihatkan Yefei sedang mencoba dan memperkenalkan berbagai koleksi pakaian terbaru yang hendak ia jual. Ia berinteraksi dengan penonton, menjelaskan detail produk, dan menampilkan cara pemakaiannya, semuanya dengan senyum dan semangat yang menjadi ciri khasnya.
Namun, sekitar 36 menit setelah siaran dimulai, suasana ceria itu mendadak berubah. Para penonton dan staf di lokasi melihat Yefei menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang jelas. Ia tiba-tiba mencengkeram kepala dan lehernya, ekspresinya berubah meringis menahan sakit. Dengan suara yang terdengar lemah, ia memberi tahu staf yang berada di dekatnya bahwa ia merasa tidak enak badan. Momen singkat itu terekam kamera, menunjukkan betapa cepatnya kondisinya memburuk. Yefei kemudian menghilang sebentar dari pandangan kamera, diduga untuk mendapatkan pertolongan. Di balik layar, ia terlihat sedang dipijat oleh asistennya, sebuah upaya putus asa untuk meredakan rasa sakit yang mendadak menyerang.
Sayangnya, kondisi Yefei tidak membaik. Justru semakin memburuk dengan cepat. Dalam kepanikan yang mendalam, Yefei menyuruh stafnya untuk segera menghubungi 120, nomor telepon layanan ambulans darurat di China. Tim medis segera tiba di lokasi dan membawa Yefei ke rumah sakit terdekat. Namun, semua upaya penyelamatan tak membuahkan hasil. Setibanya di rumah sakit, Wang Yefei dinyatakan meninggal dunia. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan penyebab kematiannya adalah pendarahan batang otak, sebuah kondisi medis serius yang seringkali dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, stres ekstrem, dan kelelahan kronis.
Kematian Yefei meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan para pengikutnya. Ia dikenal sebagai seorang ibu tunggal yang membesarkan seorang anak perempuan berusia empat tahun. Perjuangan dan dedikasinya dalam bekerja keras seringkali menjadi inspirasi bagi banyak orang. Namun, di balik senyum dan semangatnya di depan kamera, tersimpan beban kerja yang luar biasa berat. Menurut laporan dari VNExpress International, Yefei seringkali melakukan siaran langsung hingga 7-10 jam setiap hari. Jadwal yang brutal ini, yang ia lakukan untuk mengakali algoritma platform dan memastikan dirinya tetap terlihat oleh audiens, telah memaksanya mengorbankan waktu istirahat yang seharusnya. Ia dilaporkan hanya tidur selama empat hingga lima jam setiap malam.
Tekanan pekerjaan dan kurangnya istirahat ini berdampak serius pada kesehatannya. Yefei mulai mengalami sakit kepala kronis beberapa minggu sebelum kematiannya, sekitar periode Tahun Baru Imlek. Untuk mengatasi rasa sakit yang tak kunjung reda, ia sering mengonsumsi obat penghilang rasa sakit. Ini menjadi indikasi kuat bahwa tubuhnya sudah mengirimkan sinyal bahaya, namun tuntutan pekerjaan membuatnya terus memaksakan diri.
Salah satu sahabat Yefei, yang identitasnya tidak disebutkan, mengungkapkan keterkejutannya atas kematian temannya. Ia mengaku masih menonton siaran langsung Yefei hanya beberapa menit sebelum insiden itu terjadi. "Ia tidak pernah mengeluh," kata teman Yefei, seperti dikutip dari People pada Kamis (19/3) (meskipun tahun 2026 dalam kutipan asli kemungkinan adalah typo, kita asumsikan konteks kejadian dan laporan berita terjadi di waktu yang lebih dekat). "Bahkan ketika ia mengalami sakit punggung atau sakit kepala, ia tidak pernah menunjukkannya selama livestream dan selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja," sambungnya. Kesaksian ini menggambarkan sosok Yefei yang tangguh, yang selalu berusaha menunjukkan sisi terbaiknya di depan publik, bahkan saat ia sendiri sedang berjuang melawan rasa sakit fisik. Sang teman juga menambahkan bahwa Yefei bertanggung jawab penuh atas semua operasional livestream-nya, mulai dari pemilihan produk, penjualan, hingga pengemasan dan pengiriman barang. Ini menunjukkan betapa besar beban kerja yang ia pikul sendiri, tanpa dukungan tim yang memadai.
Kematian tragis Wang Yefei memicu perbincangan luas di China tentang dampak fisik dan mental dari industri livestreaming. Fenomena ini telah berkembang pesat menjadi kekuatan ekonomi digital yang sangat besar, menawarkan peluang emas bagi individu untuk meraih ketenaran dan kekayaan. Namun, di balik gemerlapnya, industri ini juga menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Influencer harus bekerja secara rutin selama berjam-jam, bahkan hingga larut malam, untuk mengakali algoritma platform yang terus berubah, mempertahankan tingkat interaksi yang tinggi, dan tetap relevan di mata jutaan penonton yang haus akan konten baru.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna, menjaga citra yang positif, dan memenuhi target penjualan dapat menyebabkan stres ekstrem, kelelahan kronis, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Kasus Wang Yefei bukan yang pertama. Pada Oktober tahun lalu, seorang streamer berusia 32 tahun yang dikenal dengan nama ‘Yunnan Akui’ juga meninggal dunia karena pendarahan batang otak setelah pingsan saat sedang livestream. Dua insiden serupa dalam waktu berdekatan ini menjadi alarm keras bagi masyarakat dan otoritas terkait.
Budaya kerja "996" (bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam, 6 hari seminggu) yang lazim di banyak perusahaan teknologi China, tampaknya juga merambah ke sektor influencer dan kreator konten. Meskipun seringkali bekerja secara independen, para streamer menghadapi tekanan yang serupa, bahkan mungkin lebih besar, karena pendapatan mereka seringkali bergantung langsung pada jam tayang dan interaksi. Kurangnya regulasi yang jelas mengenai jam kerja, perlindungan kesehatan, dan hak-hak pekerja bagi influencer independen menjadi celah yang memungkinkan eksploitasi diri terjadi.
Pendarahan batang otak, seperti yang dialami Wang Yefei dan Yunnan Akui, adalah kondisi yang sangat serius dan seringkali fatal. Kondisi ini dapat dipicu oleh kombinasi faktor seperti tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, stres kronis, kurang tidur, dan kelelahan ekstrem yang berkepanjangan. Tubuh yang terus-menerus dipaksa melampaui batas kemampuannya akan mengalami kerusakan, dan dalam kasus ini, berujung pada tragedi yang tak terhindarkan.
Kematian Wang Yefei harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk merenung. Bagi platform media sosial, ada tanggung jawab untuk meninjau kembali algoritma dan kebijakan mereka agar tidak secara tidak langsung mendorong praktik kerja yang tidak sehat. Bagi para influencer, ini adalah pengingat penting untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan diri di atas segalanya. Dan bagi masyarakat, ini adalah panggilan untuk lebih menyadari bahwa di balik layar kesuksesan digital, seringkali ada kisah-kisah perjuangan dan pengorbanan yang luput dari perhatian. Semoga kisah Wang Yefei menjadi pelajaran berharga agar tidak ada lagi nyawa yang melayang demi tuntutan industri yang tidak manusiawi.

