Jakarta – Sebuah harapan baru yang menggembirakan telah muncul di tengah kegelapan penyakit kanker otak paling agresif, glioblastoma. Para ilmuwan dari University of Virginia School of Medicine tampaknya telah menemukan sebuah mekanisme potensial untuk membasmi penyakit mematikan ini, yang bahkan mungkin dapat diatasi hanya dengan mengonsumsi pil. Penemuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science Translational Medicine, menandai langkah revolusioner dalam upaya melawan salah satu bentuk kanker yang paling sulit diobati.
Glioblastoma, atau sering disingkat GBM, bukan sekadar tumor otak biasa. Ini adalah bentuk kanker otak paling agresif dan mematikan, diklasifikasikan sebagai tumor otak grade IV oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ini berarti sel-selnya tumbuh sangat cepat, bersifat invasif, dan memiliki tingkat proliferasi yang tinggi. Glioblastoma memiliki kemampuan unik untuk menyusup ke dalam jaringan otak sehat sekitarnya, menjadikannya sangat sulit untuk diangkat sepenuhnya melalui operasi. Gejala awal seringkali samar, bisa berupa sakit kepala persisten, mual, kejang, perubahan kepribadian, atau defisit neurologis tergantung pada lokasi tumor. Namun, begitu terdiagnosis, prognosisnya sangat buruk. Median harapan hidup pasien glioblastoma hanya berkisar antara 12 hingga 18 bulan, bahkan dengan terapi standar yang paling intensif sekalipun. Penyakit ini sering menyerang usia lanjut, membawa dampak yang menghancurkan bagi pasien dan keluarga mereka.
"Glioblastoma adalah penyakit yang sangat merusak. Pada dasarnya tidak ada terapi yang efektif," kata Hui Li, seorang peneliti di Departemen Patologi Fakultas Kedokteran University of Virginia. Pernyataan Li ini mencerminkan realitas pahit yang telah dihadapi oleh komunitas medis dan pasien selama beberapa dekade. Terapi standar untuk glioblastoma umumnya melibatkan kombinasi operasi, radiasi, dan kemoterapi menggunakan Temozolomide. Meskipun pendekatan ini dapat memperpanjang harapan hidup, sayangnya, tidak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit ini sepenuhnya. Kanker seringkali kambuh, dan sel-sel tumor yang tersisa mengembangkan resistensi terhadap pengobatan, membuat pasien terjebak dalam siklus yang melelahkan dan seringkali tanpa harapan.
Namun, pada tahun 2020, Hui Li dan timnya telah mengambil langkah pertama yang krusial untuk menemukan terapi yang selama ini dicari. Mereka berhasil mengidentifikasi apa yang disebut ‘onkogen’ yang secara spesifik memicu perkembangan glioblastoma. Onkogen adalah gen yang, ketika mengalami mutasi atau ekspresi berlebihan, dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Mereka ibarat pedal gas yang selalu terinjak dalam mesin pertumbuhan sel yang tak terkendali. Menemukan onkogen spesifik yang bertanggung jawab atas glioblastoma ibarat mengidentifikasi saklar utama yang mengendalikan keganasan penyakit ini.
"Onkogen baru yang kami temukan menjanjikan sebagai titik lemah glioblastoma, dengan penargetan spesifiknya yang berpotensi menjadi pendekatan efektif untuk pengobatan penyakit ini," ungkap Li saat itu. Penemuan ini menjadi fondasi penting, sebuah peta jalan awal yang menunjukkan di mana kelemahan musuh berada.
Kini, tim peneliti tersebut telah mengumumkan tahap selanjutnya yang lebih transformatif dalam pengembangan pengobatan atau penyembuhan untuk glioblastoma. Mereka berhasil mengidentifikasi sebuah molekul spesifik yang memiliki kemampuan untuk memblokir aktivitas onkogen pemicu kanker ini. Yang lebih menakjubkan lagi, dalam studi yang dilakukan pada tikus, molekul ini terbukti mampu menghancurkan sel-sel glioblastoma secara efektif tanpa memengaruhi jaringan sehat di sekitarnya. Ini adalah aspek krusial dari setiap terapi kanker yang menjanjikan, karena efek samping yang minimal pada sel normal sangat penting untuk kualitas hidup pasien.
"Yang baru di sini adalah kita menargetkan protein yang secara unik bergantung pada sel (glioblastoma) dan kita dapat melakukannya dengan molekul kecil yang memiliki aktivitas in vivo yang jelas," jelas Li. Pernyataan ini menyoroti dua aspek penting dari penemuan ini: presisi dan efektivitas. Penargetan protein yang spesifik hanya pada sel kanker berarti terapi ini dirancang untuk bekerja dengan sangat akurat, meminimalkan kerusakan pada sel-sel sehat yang sering terjadi pada kemoterapi tradisional. Selain itu, fakta bahwa molekul ini adalah "molekul kecil" sangat signifikan. Molekul kecil cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menembus sel dan jaringan, serta yang terpenting, melewati penghalang darah-otak.
Penghalang darah-otak (blood-brain barrier atau BBB) adalah sistem perlindungan alami otak yang sangat ketat, terdiri dari sel-sel endotel yang sangat rapat yang melapisi pembuluh darah di otak. Fungsinya adalah untuk mencegah zat-zat berbahaya, termasuk banyak obat, masuk ke jaringan otak yang sensitif. Ini adalah ‘tembok’ pelindung yang vital, namun juga menjadi rintangan terbesar dalam pengembangan obat untuk penyakit otak, termasuk kanker. Kebanyakan molekul obat, terutama yang berukuran besar atau bersifat hidrofilik, tidak dapat menembus penghalang ini, sehingga terapi yang efektif sulit mencapai sel-sel tumor. Selama bertahun-tahun, banyak kandidat obat yang menjanjikan untuk kanker otak gagal di tahap awal karena tidak mampu melintasi penghalang ini. Kemampuan molekul baru ini untuk melintasi BBB secara efektif adalah ‘game-changer’ yang luar biasa, sebuah terobosan yang sering kali dianggap mustahil bagi banyak kandidat obat lain.
Menurut Li, jalur terapi yang baru ditemukan ini belum pernah dieksploitasi secara terapeutik sebelumnya. Ini berarti bahwa timnya telah membuka sebuah pintu baru dalam pengobatan kanker yang sebelumnya tidak terjamah, berpotensi mengatasi masalah resistensi obat yang sering muncul ketika sel kanker beradaptasi dengan terapi yang sudah ada. Pendekatan novel ini menawarkan harapan untuk menciptakan terapi yang lebih kuat dan tahan lama.
Kendati demikian, Li juga menekankan bahwa penelitiannya ini masih jauh dari produk jadi yang siap digunakan. Sebelum senyawa baru ini tersedia sebagai obat bagi pasien, ia harus terlebih dahulu melalui serangkaian uji klinis dan pengujian yang ketat. Proses pengembangan obat adalah perjalanan panjang dan berliku. Setelah fase pre-klinis yang melibatkan studi laboratorium dan hewan, senyawa ini harus melalui tiga fase uji klinis utama pada manusia. Fase I akan menilai keamanan dan dosis yang tepat pada sejumlah kecil pasien. Fase II akan mengevaluasi efektivitas dan efek samping pada kelompok pasien yang lebih besar. Dan Fase III akan membandingkan obat baru ini dengan terapi standar pada ribuan pasien untuk mengkonfirmasi manfaatnya dan memantau efek samping jangka panjang. Setiap fase membutuhkan waktu bertahun-tahun, investasi finansial yang besar, dan persetujuan regulasi yang ketat. Bahkan sebelum itu, perlu dipelajari lebih lanjut secara teoritis untuk mengetahui bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkannya dan mengoptimalkan potensinya.
Meski demikian, tak dimungkiri bahwa penemuan ini bisa dibilang hampir ajaib. Selain kemampuan menembus sawar darah-otak yang merupakan hambatan besar, molekul ini menunjukkan selektivitas yang luar biasa terhadap sel kanker. Ini adalah fondasi dari apa yang disebut "pengobatan presisi" atau "terapi target," di mana obat dirancang untuk menyerang fitur spesifik sel kanker sambil meminimalkan kerusakan pada sel normal. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi efek samping yang parah yang seringkali dikaitkan dengan kemoterapi dan radiasi tradisional, yang menyerang sel-sel yang membelah cepat, baik itu sel kanker maupun sel sehat.
"Pasien (glioblastoma) sangat membutuhkan pilihan yang lebih baik. Terapi standar belum berubah secara fundamental selama beberapa dekade, dan angka harapan hidup tetap suram," ujar Li. Ini adalah seruan putus asa yang diucapkan oleh banyak dokter dan peneliti yang berjuang melawan glioblastoma. Kurangnya kemajuan signifikan dalam pengobatan selama bertahun-tahun telah menciptakan kebutuhan mendesak akan inovasi. Penemuan ini, dengan potensinya untuk dikembangkan menjadi pil yang mudah dikonsumsi, dapat merevolusi cara glioblastoma ditangani, menawarkan harapan bukan hanya untuk memperpanjang hidup tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
"Tujuan kami adalah untuk menghadirkan mekanisme kerja yang sepenuhnya baru ke dalam praktik klinis, mekanisme yang menargetkan kerentanan inti dalam biologi glioblastoma," tandasnya. Pernyataan ini merangkum ambisi besar di balik penelitian ini: untuk tidak hanya menambahkan satu obat lagi ke dalam daftar yang sudah ada, tetapi untuk memperkenalkan pendekatan yang secara fundamental berbeda dan lebih efektif. Jika berhasil, penemuan ini dapat menjadi tonggak sejarah dalam perang melawan kanker otak, membuka jalan bagi era baru pengobatan yang lebih cerdas, lebih aman, dan pada akhirnya, lebih menyelamatkan jiwa. Demikian melansir IFL Science.

