0

Iklan Seram Elon Musk-Jeff Bezos Tua Promosi Manusia Kerja Buat AI

Share

Sebuah ‘iklan’ digital yang mendunia baru-baru ini telah mengguncang jagat maya, menampilkan sosok-sosok ikonik dunia teknologi seperti Elon Musk, Sam Altman, dan Jeff Bezos dalam versi tua mereka, mempromosikan sebuah konsep pekerjaan manusia yang di luar nalar. Video creepy ini, meskipun hanya sebuah karya fiksi yang dibuat untuk promosi perusahaan AI bernama AiCandy, berhasil memancing berbagai reaksi, mulai dari kekaguman hingga kengerian, dan memicu diskusi mendalam tentang masa depan hubungan manusia dengan kecerdasan buatan. Banyak yang memuji kejeniusan di balik kampanye ini, sementara yang lain merasa ngeri dengan gambaran distopia yang disajikannya.

Dalam tayangan iklan palsu berdurasi singkat namun padat makna tersebut, AiCandy secara satir menyindir lonjakan kebutuhan energi yang masif untuk menggerakkan infrastruktur kecerdasan buatan. Narasi iklan itu mengusulkan sebuah "solusi" ekstrem: pekerjaan bagi manusia untuk mengayuh sepeda secara terus-menerus, demi mencukupi kebutuhan energi yang tak terbatas dari AI. Pekerjaan ini, menurut iklan tersebut, ditawarkan oleh sebuah perusahaan fiktif bernama ‘Energym’, yang konon didirikan oleh trio bos teknologi terkemuka dunia. Latar belakang cerita iklan tersebut diletakkan di tahun 2036, sebuah masa depan yang tidak terlalu jauh, di mana Musk dan para miliarder lainnya dalam video sudah terlihat menua, dengan kerutan di wajah yang mencerminkan beban waktu dan mungkin juga dilema moral yang mereka hadapi, sebagaimana dilaporkan oleh Yahoo! News.

Premis utama iklan ini sangat menohok. Menurut versi AI dari Elon Musk, pada tahun 2030, diperkirakan 80% populasi manusia akan kehilangan pekerjaan mereka akibat otomatisasi dan dominasi AI. Angka ini bukanlah isapan jempol semata, melainkan refleksi dari kekhawatiran nyata yang banyak disuarakan oleh para ekonom dan futuris mengenai dampak disruptif AI terhadap pasar kerja global. Tanpa pekerjaan, manusia-manusia ini akan kehilangan tidak hanya sumber penghasilan, tetapi juga tujuan hidup, demikian tambah AI Jeff Bezos dalam iklan tersebut, sambil menambahkan bahwa mereka akan memiliki "banyak waktu luang."

Inilah inti dari sindiran AiCandy: kekosongan eksistensial yang mungkin dihadapi manusia di era AI. Kemudian, AI Musk mengajukan pertanyaan retoris yang mencekam: "Bagaimana jika kita bisa menggunakan energi manusia untuk menggerakkan mesin-mesin yang telah mengambil pekerjaan mereka?" Ide ini, meskipun disajikan sebagai "ide gila" dalam konteks iklan, secara brutal menelanjangi potensi skenario terburuk di mana manusia direduksi menjadi sumber daya belaka demi keberlangsungan teknologi yang justru menghilangkan nilai mereka.

Iklan ini secara cerdik memanfaatkan kekhawatiran yang sudah ada di masyarakat. Kebutuhan energi untuk AI memang bukan fiksi. Model bahasa besar (LLM) seperti GPT-4 dan model AI generatif lainnya membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, baik selama fase pelatihan (training) maupun saat digunakan (inference). Pusat data raksasa yang menampung server-server ini mengkonsumsi energi setara dengan kota-kota kecil, dan jejak karbonnya terus meningkat. Para ahli memperkirakan bahwa konsumsi energi AI akan terus melonjak seiring dengan perkembangan dan adopsi yang lebih luas. Jadi, ide manusia mengayuh sepeda untuk energi AI, meskipun satir, menyentuh isu nyata tentang keberlanjutan energi di era dominasi AI.

Lebih jauh, iklan ini merujuk pada ketakutan mendalam tentang masa depan pekerjaan. Wacana tentang AI yang mengambil alih pekerjaan manusia telah menjadi topik hangat selama bertahun-tahun. Dari pekerjaan kerah biru di pabrik hingga pekerjaan kerah putih di bidang kreatif dan analitis, AI berpotensi mengubah lanskap pekerjaan secara fundamental. Beberapa optimis berpendapat bahwa AI akan menciptakan pekerjaan baru yang belum terbayangkan, sementara pesimis memperingatkan tentang pengangguran massal dan kesenjangan ekonomi yang melebar. Iklan AiCandy ini mengambil perspektif yang paling gelap, membayangkan skenario di mana manusia yang kehilangan pekerjaan tidak lagi relevan, kecuali sebagai sumber energi fisik. Ini adalah distopia yang mengingatkan pada karya-karya fiksi ilmiah klasik seperti "The Matrix", di mana manusia dijadikan baterai hidup.

Reaksi publik di platform X (sebelumnya Twitter) terhadap iklan ini pun sangat beragam dan intens. Banyak netizen yang merasa terganggu namun terkesan dengan pesan yang disampaikan. "Rasanya ini bukan parodi dari apa pun," tulis Senator Chris Murphy, sebuah komentar yang mengisyaratkan bahwa iklan ini terasa terlalu dekat dengan kemungkinan realitas, bukan sekadar lelucon. Komentar ini kemudian dibalas oleh warganet lain yang turut merasakan kekhawatiran serupa. Akun @xoila58124 menulis, "Ini benar-benar seperti episode Black Mirror. Segelintir orang di bidang fintech mengubah hari-hari menjadi mimpi buruk. Aku benci berada di sini." Perbandingan dengan "Black Mirror," serial antologi yang terkenal dengan kisah-kisah distopia teknologi, adalah hal yang umum dan menunjukkan betapa efektifnya iklan ini dalam memicu perasaan cemas dan refleksi kritis terhadap arah perkembangan teknologi.

Sentimen serupa juga diungkapkan oleh @jlamonteIII, yang dengan emoji terkejut berkomentar, "Wow. Distopia Black Mirror kini menjadi kehidupan sehari-hari." Komentar-komentar ini mencerminkan rasa takut yang meluas bahwa batas antara fiksi ilmiah dan realitas semakin kabur. Iklan ini berhasil menangkap esensi ketidaknyamanan kolektif terhadap kecepatan dan arah kemajuan teknologi, terutama ketika kekuatan besar dipegang oleh segelintir individu.

Menariknya, ada juga komentar yang mencoba memberikan perspektif berbeda atau pengalaman serupa, meskipun dalam konteks yang jauh lebih positif. @nyyfan09 mengungkapkan, "Itu dilakukan 10 tahun yang lalu. Di CT (Connecticut). Energi dari kelas spin dialirkan ke baterai untuk memasok daya ke pusat kebugaran. Ide bagus… energi bersih, kan?" Komentar ini menyoroti perbedaan fundamental antara penggunaan energi manusia untuk tujuan keberlanjutan dan kesehatan, dibandingkan dengan eksploitasi manusia untuk menggerakkan mesin yang telah merenggut pekerjaan mereka. Meskipun keduanya melibatkan "energi manusia," konteks dan implikasinya sangatlah berbeda—satu memberdayakan, yang lain merendahkan.

Namun, kebanyakan reaksi cenderung skeptis dan sinis terhadap ide-ide yang mungkin muncul dari para raksasa teknologi. "Mereka tidak butuh ide lain," sindir @wetkissesb, menunjukkan rasa lelah atau ketidakpercayaan publik terhadap inovasi yang datang dari "Silicon Valley" yang terkadang terasa jauh dari realitas atau kepentingan manusia biasa. Sentimen ini mencerminkan pandangan bahwa para pemimpin teknologi ini sudah memiliki terlalu banyak pengaruh dan ide-ide mereka, meskipun dimaksudkan untuk kemajuan, kadang-kadang bisa berakhir dengan konsekuensi yang tidak diinginkan atau bahkan merugikan bagi masyarakat luas.

Keberhasilan iklan AiCandy terletak pada kemampuannya untuk menggabungkan satire tajam dengan kekhawatiran nyata. Dengan menggunakan figur-figur yang dikenal publik karena ambisi mereka di bidang AI dan eksplorasi ruang angkasa (Musk), e-commerce dan inovasi (Bezos), serta pengembangan AI mutakhir (Altman), iklan ini memberikan lapisan kedalaman pada pesannya. Musk, dengan visinya tentang kolonisasi Mars dan integrasi otak-komputer melalui Neuralink, sering dianggap sebagai futuristis radikal. Bezos, dengan kerajaan Amazon-nya yang didorong oleh otomatisasi dan AI, mewakili kekuatan logistik yang tak tertandingi. Altman, sebagai CEO OpenAI, berada di garis depan pengembangan teknologi AI yang paling canggih. Kehadiran mereka dalam iklan ini, meskipun buatan AI, secara efektif mempersonifikasikan kekuatan dan dilema yang terkait dengan kemajuan teknologi.

Sebagai sebuah kampanye promosi untuk perusahaan AI AiCandy, iklan ini sangat cerdas. Alih-alih langsung mempromosikan produk atau layanan mereka, AiCandy memilih jalur provokatif untuk menarik perhatian. Dengan menciptakan narasi distopia yang relevan dan mengguncang, mereka berhasil menempatkan diri dalam percakapan penting tentang masa depan AI. Ini adalah contoh masterclass dalam pemasaran viral yang tidak hanya menarik mata tetapi juga memicu pemikiran mendalam dan perdebatan sengit.

Pada akhirnya, "iklan" seram dari Elon Musk dan Jeff Bezos tua ini bukan sekadar lelucon atau parodi belaka. Ini adalah cermin yang memantulkan ketakutan kolektif kita tentang masa depan yang didominasi oleh kecerdasan buatan, di mana manusia mungkin harus berjuang untuk menemukan tempat dan tujuannya. Iklan ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial tentang etika pengembangan AI, tanggung jawab para inovator, dan bagaimana kita sebagai masyarakat akan menentukan peran manusia di era teknologi yang semakin canggih. Apakah kita akan menjadi budak energi bagi mesin-mesin yang kita ciptakan, atau akankah kita menemukan cara untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama dengan AI? Pertanyaan ini tetap menggantung di udara, menunggu jawaban dari generasi kita.