Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah tahun ini menjadi momen yang sangat kontras dan menyesakkan bagi rakyat Iran. Di tengah dentuman artileri yang seolah tak henti-hentinya mengguncang cakrawala, warga Iran terpaksa merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa dalam bayang-bayang konflik bersenjata yang berkepanjangan dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel. Suasana sukacita yang biasanya menyelimuti hari raya kini digantikan oleh kewaspadaan tinggi, doa-doa untuk para martir, dan harapan akan berakhirnya ketegangan yang telah memorak-porandakan stabilitas negara sejak awal tahun 2026.
Pada Sabtu, 21 Maret 2026, ribuan umat Muslim di Iran memadati berbagai titik lokasi salat Id. Di pusat Teheran, Masjid Agung Imam Khomeini menjadi pusat perhatian di mana lautan jemaah berkumpul sejak fajar menyingsing. Mengingat keterbatasan kapasitas masjid dan risiko keamanan yang terus mengintai, banyak jemaah yang memilih menggelar sajadah di pelataran luar, terpapar langsung pada udara pagi yang dingin, namun tetap teguh menjalankan ibadah. Televisi pemerintah Iran menyiarkan secara nasional suasana khusyuk dari berbagai kota seperti Arak, Zahedan, hingga Abadan, yang menggambarkan ketahanan psikologis masyarakat di tengah situasi perang yang mencekam.
Situasi di Teheran dan kota-kota besar lainnya memang berada dalam kondisi darurat. Sejak serangan gabungan yang dilancarkan oleh aliansi AS dan Israel pada 28 Februari 2026, ibu kota Iran terus-menerus menjadi sasaran pemboman. Eskalasi konflik ini bukan sekadar perang militer biasa, melainkan rangkaian serangan yang telah merenggut nyawa banyak pejabat tinggi negara, termasuk kehilangan sosok pemimpin tertinggi sebelumnya. Hal ini menciptakan kekosongan kepemimpinan yang kritis dan ketidakpastian politik yang mendalam, menjadikan Idulfitri tahun ini sebagai salah satu periode paling gelap dalam sejarah modern Iran.
Dalam suasana yang penuh duka tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mencoba memberikan suntikan semangat dan harapan melalui pesan Idulfitri. Dalam unggahan di akun media sosial X, Mojtaba Khamenei menyoroti keunikan tahun ini di mana "musim semi spiritualitas" dan "musim semi alam" bertepatan. Baginya, Idulfitri dan momentum pergantian musim adalah simbol ketabahan. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Muslim di dunia, namun pesannya segera berubah menjadi refleksi mendalam mengenai penderitaan yang dialami rakyatnya.
Mojtaba Khamenei secara terbuka mengungkapkan belasungkawa kepada keluarga para korban yang gugur akibat berbagai rentetan konflik. Ia merinci bagaimana rakyat Iran telah melalui serangkaian ujian berat selama satu tahun terakhir. Menurutnya, tahun ini adalah masa yang sangat menantang, di mana bangsa Iran dipaksa berhadapan dengan tiga perang militer dan keamanan yang berbeda. Perang yang ia maksud mencakup konflik berdarah pada bulan Juni tahun lalu, ketika pasukan Zionis, yang ia sebut mendapatkan dukungan logistik dan intelijen khusus dari Amerika Serikat, melancarkan serangan yang menewaskan sekitar 1.000 warga Iran tepat di tengah upaya negosiasi diplomatik.
Ketegangan ini semakin diperparah dengan upaya kudeta yang terjadi pada Januari 2026, yang menambah daftar panjang ketidakstabilan domestik Iran. Mojtaba menekankan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan upaya sistematis untuk meruntuhkan kedaulatan republik Islam. Dalam pidatonya, ia menghormati para "martir keamanan dan perbatasan" yang gugur dalam mempertahankan integritas wilayah Iran dari serangan udara maupun infiltrasi darat oleh pasukan koalisi. Baginya, mereka adalah pahlawan yang memastikan bahwa meski dalam kondisi perang, identitas Iran sebagai sebuah bangsa tidak akan luntur.
Kondisi ekonomi Iran pun kini berada di titik nadir akibat blokade dan pemboman terus-menerus. Pasokan logistik, bahan bakar, dan kebutuhan pokok menjadi sulit diakses oleh warga sipil. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, semangat gotong royong warga Iran justru tampak menguat. Di masjid-masjid, pembagian makanan dan sedekah fitrah dilakukan dengan skala yang lebih besar, ditujukan untuk membantu keluarga-keluarga yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat perang.
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa perang yang terjadi antara Iran dengan AS-Israel saat ini telah melampaui batas-batas perang proksi tradisional. Dengan keterlibatan langsung kekuatan udara AS dan presisi serangan Israel terhadap infrastruktur vital Iran, negara tersebut kini berada dalam mode bertahan hidup total. Idulfitri tahun ini bukan lagi sekadar perayaan agama, melainkan sebuah pernyataan eksistensial. Rakyat Iran seolah mengirimkan pesan kepada dunia bahwa meskipun mereka terus dibombardir, mereka tetap menjalankan tradisi keagamaan mereka sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap musuh-musuh mereka.
Dalam khutbah-khutbah yang disampaikan di berbagai masjid di seluruh Iran, para khatib menekankan pentingnya persatuan nasional. Mereka mengingatkan bahwa perpecahan di dalam negeri adalah hal yang paling diharapkan oleh pihak luar. Oleh karena itu, salat Idulfitri kali ini juga menjadi momentum untuk menggalang solidaritas internal, mengesampingkan perbedaan pandangan politik, dan fokus pada upaya perlindungan diri serta pertahanan negara.
Dunia internasional sendiri memandang situasi di Iran dengan kekhawatiran mendalam. Banyak pihak, termasuk organisasi kemanusiaan internasional, telah menyerukan gencatan senjata segera, terutama pada hari-hari suci keagamaan seperti Idulfitri. Namun, seruan tersebut tampaknya belum mendapatkan respons positif dari pihak koalisi AS-Israel yang menganggap operasi militer mereka adalah bagian dari pertahanan keamanan regional yang mendesak.
Bagi masyarakat sipil di Iran, Idulfitri 1447 Hijriah akan selalu diingat sebagai hari raya yang diwarnai oleh suara sirine peringatan udara, bukan suara takbir yang tenang. Meski demikian, ada secercah optimisme yang diungkapkan oleh para warga. Mereka percaya bahwa sejarah akan mencatat keteguhan mereka. Setiap sujud dalam salat Idulfitri tahun ini membawa harapan akan hari esok yang lebih damai, di mana anak-anak Iran tidak perlu lagi takut pada dentuman bom saat bangun di pagi hari.
Khamenei dalam penutup pesannya menegaskan bahwa masa depan Iran ditentukan oleh ketangguhan rakyatnya dalam menghadapi kesulitan. "Kita telah melewati masa-masa sulit, dan kita akan terus berjuang untuk kebenaran dan keadilan," ungkapnya. Pesan ini disambut dengan takbir yang menggema di seluruh penjuru negeri, sebuah suara yang di satu sisi adalah bentuk syukur kepada Tuhan, namun di sisi lain adalah sebuah peringatan keras bagi musuh-musuhnya bahwa bangsa Iran tidak akan menyerah begitu saja di tengah badai perang.
Tahun ini, Idulfitri di Iran benar-benar berbeda. Ia adalah sebuah perayaan dalam pengepungan, sebuah ibadah di bawah bayang-bayang maut, dan sebuah bukti nyata bahwa iman seringkali justru menguat ketika ujian yang dihadapi terasa begitu berat. Di tengah puing-puing bangunan dan ancaman yang masih nyata, rakyat Iran merayakan kemenangan atas hawa nafsu dan keterbatasan mereka, sembari terus menatap langit dengan harapan agar hari esok membawa kedamaian yang sesungguhnya. Iran, dengan segala luka dan kekuatannya, tetap bertahan, menjalankan tradisi di tengah pusaran konflik yang terus menguji batas-batas kemanusiaan.

