BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Meskipun pabrikan raksasa asal Jepang, Honda, menunjukkan secercah harapan dan kemajuan signifikan dalam pengembangan motor RC213V yang telah lama tertinggal, ambisi untuk benar-benar menyaingi dominasi mutlak Ducati di ajang MotoGP 2026 tampaknya masih memerlukan rentang waktu yang lebih panjang. Sinyal ini semakin diperkuat oleh hasil pengujian pramusim terbaru yang baru saja rampung digelar di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia.
Joan Mir, salah satu pembalap andalan Honda, sempat memberikan gelombang optimisme yang cukup besar bagi para penggemar dan tim. Pada hari kedua sesi pengujian, Mir berhasil mencatatkan waktu tercepat, sebuah indikasi jelas akan adanya lompatan kemajuan yang substansial dalam performa motor RC213V. Meskipun di hari terakhir Ducati kembali menunjukkan taringnya dengan meningkatkan kecepatan yang luar biasa, Mir menunjukkan ketahanan mental dan teknis yang patut diacungi jempol dengan tetap mampu bertahan di jajaran papan atas. Performa gemilangnya diakhiri dengan menempati posisi kelima dalam catatan waktu gabungan, hanya terpaut tipis 0,472 detik dari pembalap tercepat. Lebih impresif lagi, ia menjadi satu-satunya pembalap dari kubu Honda yang berhasil menembus batas waktu 1 menit 57 detik, sebuah pencapaian yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun, kontras yang cukup mencolok terlihat di garasi sebelah, tempat rekan setim Mir, Luca Marini, berjuang. Marini, yang merupakan pendatang baru di tim Honda, tampaknya masih kesulitan untuk menyamai bahkan mendekati performa Mir. Ia harus puas finis di posisi ke-13 dalam klasemen waktu gabungan, tertinggal cukup jauh sebesar 1,163 detik dari catatan waktu terbaik. Pembalap asal Italia ini sendiri belum sepenuhnya yakin bahwa Honda telah berhasil memangkas jurang pemisah yang begitu lebar dengan para rival terberatnya, terutama dengan Ducati yang selama ini mendominasi.
"Kami memang mampu melihat peningkatan performa motor di banyak sektor krusial, terutama pada sistem pengereman dan saat memasuki tikungan. Ini adalah aspek yang membuat kami bisa sedikit merasa puas," ujar Marini, yang dikutip dari sumber terpercaya Crash. "Namun, sejujurnya, masih ada begitu banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Kita semua tahu bahwa semua pabrikan lain terus berinovasi dan mengembangkan motor mereka secara konsisten. Jarak yang memisahkan kami saat ini, secara kasar, masih sama seperti yang kami lihat pada akhir pekan Grand Prix di sini sebelumnya. Kami harus terus berupaya tanpa henti dan bekerja secara konsisten untuk menutup celah ini."
Lebih lanjut, Marini menekankan bahwa menarik kesimpulan yang definitif dari hasil pengujian pramusim seperti ini seringkali sangat sulit dan penuh ketidakpastian. "Selama sesi pengujian seperti ini, selalu saja sulit untuk bisa mengevaluasi situasi dengan akurasi penuh. Anda tidak pernah bisa benar-benar tahu dengan pasti, misalnya, ban jenis apa yang digunakan oleh tim lain atau berapa banyak bahan bakar yang mereka bawa dalam simulasi lap mereka. Memahami dinamika ini secara mendalam jelas bukanlah hal yang mudah," jelasnya. "Mari kita semua bersabar dan menunggu, serta melihat bagaimana hasil pengujian di Thailand nanti akan berjalan. Mungkin baru di akhir pekan Grand Prix sesungguhnya kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan akurat tentang kekuatan serta kelemahan setiap tim."
Meskipun demikian, ada optimisme yang berkembang bahwa Honda secara umum telah berhasil melewati fase terberat dari krisis performa mereka. Performa Marini pun menunjukkan peningkatan yang signifikan, melompat dari perolehan yang hanya 14 poin sepanjang musim 2024 menjadi target yang ambisius yaitu 142 poin pada musim 2025. Uji coba terakhir yang akan digelar di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Thailand, sebelum dimulainya musim baru MotoGP 2026, akan menjadi penentu krusial. Hasil dari tes di Thailand inilah yang akan memberikan indikasi sejauh mana Honda benar-benar bisa mendekati level performa Ducati, sang penguasa tak terbantahkan saat ini, menjelang musim kompetisi yang baru.
Analisis mendalam terhadap data pengujian pramusim di Sepang menunjukkan bahwa meskipun kemajuan Honda nyata adanya, kesenjangan dengan Ducati masih cukup lebar. Pemanfaatan teknologi terbaru oleh Ducati, seperti pengembangan aerodinamika yang inovatif dan mesin Desmosedici GP yang terus disempurnakan, telah menempatkan mereka pada posisi yang sangat kuat. Konsistensi performa yang ditunjukkan oleh para pembalap Ducati, dari Francesco Bagnaia hingga Jorge Martin dan Enea Bastianini, menjadi bukti kemampuan tim Borgo Panigale untuk memaksimalkan potensi motor mereka di berbagai kondisi lintasan dan situasi balapan.
Honda, di sisi lain, sedang dalam proses rekayasa ulang yang komprehensif. Fokus utama mereka adalah mengembalikan feeling motor yang sebelumnya sangat disukai oleh para pembalap seperti Marc Marquez, yang kini telah pindah ke tim Gresini Racing. Desain sasis baru, perbaikan pada mesin, serta penyesuaian pada sistem elektronik menjadi prioritas utama. Namun, implementasi perubahan ini membutuhkan waktu dan proses adaptasi yang tidak instan. Pengujian di Sepang memang memperlihatkan potensi, namun perlu diingat bahwa sirkuit tersebut memiliki karakteristik yang unik, dan hasil di sana belum tentu mencerminkan performa di sirkuit lain yang memiliki tata letak berbeda.
Posisi kelima yang diraih Joan Mir adalah pencapaian yang luar biasa mengingat performa Honda di musim-musim sebelumnya. Namun, perlu dicatat bahwa selisih 0,472 detik, meskipun tergolong kecil dalam konteks MotoGP, masih merupakan celah yang signifikan jika dilihat dari perspektif persaingan gelar juara. Keunggulan Ducati tidak hanya terletak pada kecepatan motor mereka, tetapi juga pada kedalaman talenta pembalap yang mereka miliki, serta strategi tim yang matang.
Luca Marini, meskipun tertinggal cukup jauh dari Mir, memberikan pandangan yang realistis. Pernyataannya bahwa "selisihnya kurang lebih sama seperti pada akhir pekan Grand Prix di sini" mengindikasikan bahwa meskipun ada kemajuan, kemajuan tersebut belum cukup untuk menyamai performa para rival teratas. Ia juga benar dalam menyoroti kesulitan dalam mengevaluasi data pengujian. Faktor-faktor seperti pemilihan ban, jumlah bahan bakar, dan mapping mesin yang digunakan oleh tim lain seringkali tidak diketahui secara pasti, sehingga interpretasi hasil tes harus dilakukan dengan hati-hati.
Honda perlu memanfaatkan pengujian di Thailand dengan maksimal. Sirkuit Buriram dikenal memiliki karakteristik yang berbeda dengan Sepang, dengan tikungan kecepatan tinggi dan area pengereman yang intens. Hasil di Thailand akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan adaptasi RC213V yang baru. Jika Honda mampu menunjukkan performa yang konsisten dan mendekati catatan waktu terdepan di Buriram, ini akan menjadi sinyal positif yang lebih kuat.
Selain pengembangan teknis, faktor pembalap juga menjadi kunci. Meskipun Mir menunjukkan potensi, konsistensi performa dari kedua pembalap Honda, Mir dan Marini, akan sangat penting. Jika Marini dapat terus beradaptasi dan meningkatkan performanya, ini akan memberikan Honda dua pembalap yang mampu bersaing di barisan depan, bukan hanya satu. Kehilangan Marc Marquez, pembalap yang mampu secara individu memenangkan balapan meskipun dengan motor yang kurang kompetitif, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Honda. Mereka perlu membangun kembali kekuatan tim secara kolektif.
Proyek pengembangan Honda ini adalah sebuah maraton, bukan sprint. Perubahan fundamental pada filosofi desain motor dan strategi pengembangan membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil yang optimal. Jika kita melihat sejarah, Honda pernah mengalami masa-masa sulit di masa lalu dan berhasil bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, dominasi Ducati saat ini adalah sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk menyaingi Ducati di tahun 2026, Honda tidak hanya perlu menyamai kecepatan mereka, tetapi juga mampu mengungguli mereka secara konsisten dalam berbagai kondisi. Ini berarti mereka harus melakukan lompatan teknologi yang signifikan, atau Ducati harus mengalami penurunan performa yang drastis. Mengingat investasi dan dedikasi Ducati dalam pengembangan MotoGP, skenario kedua tampaknya kurang mungkin terjadi.
Oleh karena itu, Honda harus fokus pada peningkatan diri mereka sendiri. Peningkatan performa motor harus terus berjalan seiring dengan pengembangan bakat pembalap. Kolaborasi yang erat antara insinyur di Jepang dan tim di Eropa, serta masukan yang berharga dari para pembalap, akan menjadi kunci kesuksesan.
Pertanyaan besar yang masih menggantung adalah apakah Honda dapat menemukan kembali DNA juara mereka. Pengujian di Sepang telah memberikan sedikit harapan, namun jalan menuju puncak masih panjang dan terjal. Perjalanan ini akan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan inovasi yang berkelanjutan. Menyaingi Ducati di tahun 2026 bukanlah tugas yang mustahil, tetapi membutuhkan upaya luar biasa dan mungkin sedikit keberuntungan. Musim 2025 akan menjadi batu loncatan penting, dan hasil di Thailand akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang seberapa dekat Honda dengan target ambisius mereka. Para penggemar Honda tentu berharap tim kesayangan mereka dapat menemukan kembali performa terbaiknya dan kembali bersaing di papan atas, menantang dominasi Ducati yang telah berlangsung begitu lama.

