BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pelatih tim nasional futsal Indonesia, Hector Souto, melayangkan kritik tajam terhadap kualitas perwasitan dalam gelaran Piala AFF Futsal 2026 yang dianggapnya berjalan terlalu keras dan agresif. Souto menekankan pentingnya ketegasan wasit dalam memimpin pertandingan untuk melindungi para pemain, mengingatkan bahwa futsal adalah olahraga yang berbeda dengan rugbi yang cenderung mengandalkan fisik. Pernyataan ini disampaikan Souto jelang pertandingan semifinal krusial antara timnya melawan Vietnam, di mana ia mengamati banyak pelanggaran keras yang lolos dari sanksi wasit dalam pertandingan sebelumnya, termasuk duel antara Thailand dan Vietnam.
Kekhawatiran Souto bukan tanpa alasan. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana intensitas permainan dalam beberapa pertandingan Piala AFF Futsal 2026 terlihat meningkat drastis, bahkan cenderung mengarah pada agresivitas yang berlebihan. "Saya melihat beberapa pertandingan dan merasa bahwa level wasit belum cukup baik, terutama dalam membiarkan permainan berjalan terlalu agresif. Kita bisa melihat pada pertandingan kemarin antara Thailand dan Vietnam," ungkap Souto dalam sesi keterangan persnya, Kamis (9/4/2026). Menurutnya, semangat juang untuk meraih kemenangan memang wajar dalam setiap kompetisi, namun hal tersebut tidak seharusnya mengorbankan keselamatan dan perlindungan para pemain. "Di laga itu terdapat banyak kesalahan karena kedua tim sama-sama ingin menang. Namun, para pemain tidak mendapatkan perlindungan yang cukup, dan itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi. Hal yang paling penting adalah melindungi pemain," tegasnya.
Souto berpendapat bahwa para pengadil lapangan harus melakukan evaluasi diri secara mendalam, serupa dengan apa yang dilakukan oleh para pelatih dan tim nasional yang terus-menerus menganalisis dan meningkatkan taktik, teknik, serta kondisi fisik para pemain. Ia melihat bahwa pembiaran terhadap aksi-aksi permainan keras dapat secara signifikan mengubah jalannya pertandingan, memberikan keuntungan yang tidak adil, dan bahkan berpotensi menimbulkan cedera serius pada pemain. "Aksi-aksi menjurus permainan keras yang dibiarkan bisa mengubah jalannya laga," ujarnya.
Lebih lanjut, Souto menyoroti bagaimana kecenderungan pemain, terutama di lini pertahanan, menjadi terlalu agresif karena minimnya peringatan atau sanksi dari wasit. Pembiaran terhadap banyak pelanggaran terjadi, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi serius bagi badan perwasitan. Ia menekankan bahwa kritik ini bukan bertujuan untuk menguntungkan tim nasional tertentu, melainkan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas futsal di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. "Bukan untuk menguntungkan tim nasional tertentu, tetapi demi meningkatkan kualitas futsal di Asia Tenggara," ucap Souto.
Pelatih asal Spanyol ini kemudian menyampaikan analogi yang cukup kuat untuk menggambarkan kekhawatirannya. Ia berargumen bahwa jika permainan keras yang tidak terkontrol terus dibiarkan, maka futsal akan kehilangan identitasnya yang sebenarnya. "Karena pada akhirnya, kita semua ingin mendorong batas untuk meningkatkan level permainan. Jika perilaku seperti ini terus dibiarkan, itu bukan lagi futsal, melainkan seperti rugby. Dan maaf, ini bukan rugbi," tegasnya, menyiratkan bahwa kontak fisik yang berlebihan dan tanpa pengendalian seperti dalam olahraga rugbi sangat tidak sesuai dengan esensi futsal yang mengutamakan kelincahan, kecepatan, dan teknik bermain bola yang presisi.
Piala AFF Futsal 2026, yang merupakan turnamen futsal antarnegara tingkat Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF), sejatinya merupakan ajang penting untuk mengukur perkembangan olahraga futsal di kawasan tersebut. Turnamen ini biasanya diikuti oleh tim-tim nasional futsal terbaik dari negara-negara anggota AFF. Selain kompetisi antar tim senior, terkadang juga terdapat kategori usia muda atau putri. Gelaran ini tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi platform penting bagi para pemain untuk mendapatkan pengalaman bertanding di level internasional, serta bagi pelatih untuk menguji strategi dan taktik yang telah mereka persiapkan. Kualitas perwasitan memegang peranan krusial dalam menjaga integritas dan kelancaran setiap pertandingan. Wasit yang kompeten dan tegas bertugas untuk menegakkan aturan permainan, memastikan bahwa setiap pertandingan berjalan sesuai dengan prinsip fair play, dan yang terpenting, melindungi keselamatan para atlet dari potensi cedera yang disebabkan oleh permainan kasar.
Dalam konteks futsal, permainan keras yang dimaksud Souto merujuk pada tekel-tekel yang berlebihan, dorongan yang tidak sportif, atau tindakan-tindakan lain yang membahayakan pemain lawan. Berbeda dengan rugbi yang memang mengandalkan kontak fisik sebagai bagian integral dari permainan, futsal memiliki aturan yang lebih ketat terkait kontak fisik. Fokus utama futsal adalah pada penguasaan bola, pergerakan tanpa bola, dan strategi menyerang maupun bertahan yang cepat dan dinamis. Pelanggaran-pelanggaran kecil yang bersifat fisik seringkali dihukum dengan tendangan bebas, sementara pelanggaran yang lebih serius dapat berujung pada kartu kuning atau kartu merah, yang mengakibatkan pemain dikeluarkan dari pertandingan.
Pernyataan Hector Souto juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dalam ekosistem olahraga. Para pemain, pelatih, ofisial, dan tentu saja wasit, memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga sportivitas dan kualitas permainan. Jika wasit membiarkan permainan kasar terus terjadi, hal ini dapat menciptakan persepsi bahwa tindakan tersebut dapat diterima, yang pada gilirannya dapat memicu siklus permainan yang semakin agresif. Hal ini tentu saja akan merusak citra futsal dan mengurangi daya tariknya bagi penonton maupun calon pemain muda.
Indonesia, sebagai salah satu tim yang berpartisipasi dalam Piala AFF Futsal 2026, memiliki harapan besar untuk dapat berprestasi di kancah regional. Pelatih seperti Hector Souto yang berasal dari Spanyol, sebuah negara dengan tradisi futsal yang sangat kuat dan berprestasi di kancah internasional, membawa perspektif dan metodologi pelatihan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas timnas Indonesia. Namun, untuk mencapai potensi maksimal, dukungan terhadap upaya peningkatan kualitas di semua lini, termasuk perwasitan, menjadi sangat penting.
Pertandingan semifinal yang akan dihadapi Indonesia melawan Vietnam akan menjadi ujian penting tidak hanya bagi para pemain di lapangan, tetapi juga bagi wasit yang bertugas. Souto berharap, pengalaman dan kekhawatiran yang ia sampaikan dapat menjadi masukan berharga agar pertandingan semifinal nanti berjalan lebih adil dan aman bagi seluruh pemain. Ia ingin melihat futsal yang diperagakan adalah futsal yang berkualitas, bukan sekadar adu fisik yang kasar. Keberhasilan tim nasional tidak hanya diukur dari kemenangan, tetapi juga dari bagaimana mereka mampu menampilkan permainan yang baik dan menjunjung tinggi sportivitas.
Piala AFF Futsal 2026, seperti halnya turnamen olahraga lainnya, adalah sebuah panggung yang menampilkan performa terbaik dari para atlet. Namun, panggung tersebut haruslah dijaga keamanannya agar setiap performa dapat tersaji tanpa ancaman cedera yang tidak perlu. Kritik Hector Souto adalah sebuah pengingat penting bahwa menjaga integritas dan esensi permainan adalah tanggung jawab bersama. Wasit, dengan posisinya yang sentral, memegang kunci utama dalam memastikan bahwa setiap pertandingan futsal tetaplah futsal, bukan ajang adu fisik yang tak terkendali. Harapannya adalah agar para pengadil lapangan dapat lebih jeli, lebih tegas, dan lebih berani dalam mengambil keputusan demi melindungi para pemain dan menjaga marwah olahraga futsal di Asia Tenggara.

