Fenomena alam yang mengkhawatirkan telah mencengkeram Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, di mana sebuah lubang raksasa terus meluas dan menganga, menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Kehadiran "mulut bumi" yang semakin dalam dan lebar ini telah memicu spekulasi luas, dengan banyak warga mengira ini adalah manifestasi dari sinkhole serupa dengan yang pernah terjadi di berbagai belahan dunia. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan tegas meluruskan persepsi tersebut, mengungkap penyebab sebenarnya di balik anomali geologis yang menakutkan ini.
Kekhawatiran publik sangat beralasan. Setiap hari, lubang tersebut seolah menelan lebih banyak bagian dari lanskap sekitar, mengancam permukiman, lahan pertanian, dan bahkan infrastruktur vital. Foto udara menunjukkan bagaimana perkebunan milik warga telah ambles, dan jalan lintas Kabupaten Aceh Tengah-Kabupaten Bener Meriah kini terputus total, menghambat mobilitas dan perekonomian lokal. Peristiwa ini, yang telah berlangsung selama beberapa tahun namun meluas secara signifikan dalam dua bulan terakhir, telah menempatkan Aceh Tengah dalam sorotan nasional dan mendesak para ilmuwan untuk memberikan penjelasan yang komprehensif.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjadi suara terdepan dalam mengurai misteri ini. Dengan tegas, ia menjelaskan bahwa lubang raksasa di Aceh Tengah bukanlah sinkhole—seperti yang banyak dipahami publik—melainkan sebuah fenomena longsoran tanah berskala besar. Perbedaan ini fundamental dan krusial untuk memahami dinamika geologis yang terjadi serta untuk merumuskan langkah mitigasi yang tepat.
Menurut Adrin, secara geologi, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batuan gamping (kapur) yang lazim menjadi penyebab utama sinkhole. Sinkhole terbentuk ketika batuan gamping yang larut dalam air tanah membentuk gua-gua bawah tanah, yang kemudian runtuh ketika rongga tersebut tidak lagi mampu menopang beban di atasnya. Kondisi geologis di Pondok Balek sangat berbeda. Daerah ini justru didominasi oleh endapan piroklastik aliran yang berupa material tufa. Material tufa ini merupakan hasil aktivitas gunung api Geurendong yang kini sudah tidak aktif. Karakteristik material tufa ini sangat penting dalam menjelaskan fenomena yang ada.
Material tufa di wilayah ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna. Akibatnya, sifatnya sangat rapuh, memiliki kekuatan rendah, dan sangat mudah tergerus serta runtuh. "Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh," jelas Adrin, merujuk pada hasil analisis awal BRIN. Penjelasan ini mengubah perspektif dari sebuah lubang tiba-tiba menjadi sebuah proses geologis yang gradual namun masif.
Lebih lanjut, Adrin menambahkan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian yang mendadak. Analisis citra satelit Google Earth sejak tahun 2010 telah menunjukkan keberadaan lembah atau ngarai kecil di kawasan tersebut. Seiring waktu, proses erosi alami dan longsoran terus berlangsung secara bertahap. Lambat laun, lembah kecil itu semakin melebar dan memanjang, hingga akhirnya membentuk lubang besar yang kini terlihat menganga. Ini menunjukkan bahwa masyarakat telah menyaksikan puncak dari sebuah proses geologis yang telah berlangsung puluhan, bahkan ratusan tahun.
Beberapa faktor diduga kuat telah berkontribusi mempercepat proses pembentukan longsoran ini. Salah satunya adalah aktivitas seismik. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Aceh Tengah pada tahun 2013 kemungkinan besar telah memperlemah struktur lereng secara signifikan. Guncangan gempa dapat menyebabkan rekahan pada batuan tufa yang rapuh, mengurangi kohesi antarpartikel tanah, dan memicu ketidakstabilan yang semakin besar pada massa tanah. Hal ini ibarat retakan kecil pada sebuah struktur yang rapuh, yang menunggu pemicu lain untuk runtuh sepenuhnya.
Selain faktor geologi dan gempa, curah hujan lebat menjadi pemicu utama yang tak terhindarkan. Batuan tufa yang rapuh sangat mudah jenuh oleh air. Ketika air meresap ke dalam lapisan tufa, ia meningkatkan tekanan air pori, mengurangi daya ikat antarpartikel tanah, dan secara drastis menurunkan kekuatan gesernya. Akibatnya, lapisan tanah tersebut kehilangan stabilitas dan akhirnya runtuh. Kemiringan lereng yang sudah curam, sebagai dampak dari proses longsoran sebelumnya, semakin memperparah kondisi, menciptakan medan yang ideal bagi terjadinya longsoran berulang.

Adrin juga menyoroti peran air permukaan, khususnya dari saluran irigasi perkebunan di sekitar lokasi. Aliran air yang deras dan terus-menerus meresap ke dalam tanah secara signifikan meningkatkan kelembaban lapisan tufa, mempercepat kejenuhan air, dan memperbesar risiko runtuhan. "Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil," ungkapnya, menekankan dampak aktivitas manusia yang tanpa disadari dapat memperburuk kondisi alam.
Sebuah hipotesis menarik lainnya yang dikemukakan oleh Adrin adalah kemungkinan adanya aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar yang lebih padat di dasar tebing dan batu tufa yang rapuh di atasnya. Penggerusan di bagian kaki lereng oleh aliran air tanah ini dapat menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap, menciptakan efek domino yang terus meluas. Mekanisme ini menjelaskan mengapa longsoran tidak hanya terjadi dari atas ke bawah, tetapi juga dari "dalam" struktur tanah.
Meskipun tampak dramatis, fenomena ini, menurut Adrin, tidak terjadi secara tiba-tiba. Gempa dan hujan hanya berperan sebagai akselerator, mempercepat proses alami pembentukan lembah atau ngarai yang telah berlangsung selama berabad-abad. Ini adalah bagian dari evolusi lanskap geologis yang dinamis, di mana kekuatan alam terus membentuk permukaan bumi.
Kondisi geologis serupa, dengan karakter batuan gunung api muda yang rapuh, dapat ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Adrin mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang juga terbentuk melalui proses geologi panjang terkait dengan aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dan memiliki karakter batuan yang serupa. Ini mengindikasikan bahwa potensi longsoran serupa mungkin ada di daerah-daerah lain dengan kondisi geologis yang serupa.
Saat ini, BRIN belum melakukan penelitian lapangan secara langsung di lokasi tersebut. Analisis yang disampaikan masih didasarkan pada data citra satelit dan informasi publik yang tersedia. "Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," jelas Adrin, menyoroti pentingnya investigasi lebih lanjut.
Penelitian lanjutan, menurutnya, dapat dilakukan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik untuk mengetahui struktur bawah permukaan, seismik refleksi untuk memetakan lapisan batuan, maupun mikrotremor untuk mendeteksi potensi rekahan dan faktor-faktor yang membuat lereng mudah longsor. Studi komprehensif ini akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme longsoran dan risiko yang ada, serta menjadi dasar bagi perencanaan mitigasi yang efektif.
Mengingat skala dan dampaknya, Adrin menekankan pentingnya langkah mitigasi yang segera dan terencana. Prioritas utama adalah pengendalian air permukaan agar tidak terus meresap ke dalam tanah, misalnya dengan membangun sistem drainase yang terkontrol atau menutupi saluran irigasi yang bocor. Selain itu, penetapan zona bahaya dan pemasangan sistem peringatan dini longsor sangat krusial untuk melindungi masyarakat. Masyarakat juga diingatkan untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda awal longsor, seperti munculnya retakan tanah baru, amblesan kecil, atau perubahan pada aliran air.
"Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," pungkas Adrin. Imbauan ini menjadi seruan serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk berkolaborasi, tidak hanya untuk menanggulangi dampak saat ini, tetapi juga untuk mencegah tragedi serupa di masa depan melalui pemahaman ilmiah dan tindakan preventif yang berkelanjutan. Kasus lubang raksasa di Aceh Tengah ini menjadi pengingat nyata akan kekuatan alam dan pentingnya hidup selaras dengan kondisi geologis lingkungan sekitar.

