0

Hanung Bramantyo Jelaskan Alasan Materi Khutbah Salat Id Fokus pada Palestina dan Geopolitik Internasional

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sutradara ternama Hanung Bramantyo memiliki pandangan mendalam mengenai pentingnya relevansi materi khutbah dalam momen-momen keagamaan besar, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri. Pada perayaan Idul Fitri 1447 H yang diselenggarakan di lingkungan kediamannya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Hanung secara spesifik meminta agar khutbah yang disampaikan tidak hanya sekadar mengulang-ulang tema yang sudah umum didengar setiap tahunnya. Ia menginginkan adanya muatan edukasi yang lebih substansial dan mendalam, yang mampu membekali para jemaah dengan wawasan yang lebih luas mengenai realitas umat Islam di kancah internasional. Suami dari Zaskia Adya Mecca ini memilih penceramah yang dianggap mampu membedah situasi terkini dalam konteks geopolitik global, sehingga jemaah dapat memahami kompleksitas kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia.

"Kalau soal penceramah karena kita sesuaikan dengan konteks hari ini. Saya kepingin yang hadir, jamaah yang hadir hari di sini itu memahami betul konteks geopolitik yang ada di internasional, dunia internasional," ujar Hanung Bramantyo saat ditemui awak media usai pelaksanaan salat Id pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Hanung Bramantyo mengamati bahwa materi khutbah pada momen-momen keagamaan besar seringkali terjebak dalam pola yang monoton dan repetitif. Ia merasa sangat penting bagi umat Islam di Indonesia untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detail mengenai perjuangan saudara sesama muslim di wilayah-wilayah yang tengah dilanda konflik, dengan fokus utama pada situasi di Palestina dan Gaza. "Jadi tidak hanya berbicara tentang ayat-ayat yang template saja, seperti kalau udah lebaran itu kan selalu ayatnya template, kalau puasa juga ayatnya template. Tapi kita kepingin memberikan informasi, memberikan pelajaran pengetahuan tentang apa yang terjadi geopolitik di terutama di Palestina, di Gaza, bagaimana saudara-saudara kita di sana," jelas Hanung Bramantyo.

Lebih lanjut, Hanung Bramantyo juga menyoroti isu ketegangan yang meningkat antara Iran dan Israel belakangan ini. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa konflik tersebut berpotensi memicu perpecahan di dalam tubuh umat Islam sendiri, terutama terkait perbedaan aliran seperti Sunni dan Syiah. Menurut pandangannya, pemahaman yang kuat mengenai geopolitik sangat krusial agar umat Islam tidak mudah terpecah belah dan dimanfaatkan oleh kepentingan global yang ingin melemahkan persatuan umat. "Terus bagaimana hubungan antara peperangan antara Iran dan Israel ini hampir memecah belah umat Islam, mana yang Sunni mana yang Syiah, kemudian saling itu apa segala macam. Karena itu yang dimaui oleh dunia internasional, dunia barat, yang tidak suka dengan Islam adalah udah Islam terpecah belah," tegas Hanung Bramantyo.

Hanung Bramantyo menekankan bahwa pemahaman akan isu-isu global ini bukan hanya sekadar menambah wawasan, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim untuk peduli terhadap kondisi saudara seiman di belahan dunia lain. Ia berpendapat bahwa khutbah Idul Fitri, yang seharusnya menjadi momen refleksi dan penguatan spiritual, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran umat terhadap isu-isu kemanusiaan dan keadilan yang sedang dihadapi oleh sesama Muslim. Dengan demikian, perayaan Idul Fitri tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan kebahagiaan semata, tetapi juga menjadi momentum untuk menggalang solidaritas dan empati yang lebih luas.

Ia meyakini bahwa dengan pemahaman geopolitik yang baik, umat Islam dapat memilah informasi yang benar dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang menyesatkan. Hal ini penting mengingat maraknya penyebaran berita bohong dan propaganda yang bertujuan untuk menciptakan disinformasi dan perpecahan di kalangan umat. Hanung Bramantyo ingin agar para jemaah dapat menjadi pribadi yang kritis dan cerdas dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Selain itu, Hanung Bramantyo juga menyinggung pentingnya menyikapi perbedaan pendapat dengan bijak, termasuk dalam konteks penentuan tanggal Idul Fitri di Indonesia. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan mengenai awal dan akhir bulan Ramadan serta penentuan Hari Raya Idul Fitri merupakan tradisi yang telah mengakar panjang dalam sejarah Islam di tanah air. Keberagaman pandangan ini, menurutnya, seharusnya menambah keindahan toleransi dan kerukunan di Indonesia, bukan justru menjadi sumber perpecahan.

"Kita memang sudah tradisi perbedaan pendapat di dalam penentuan Ramadan dan penentuan Lebaran, itu memang sudah ada lama sekali dan tidak perlu diperdebatkan karena itu adalah indahnya Indonesia. Jadi tidak perlu harus dikacaukan dengan clickbait-clickbait yang ada di media, itu saja sih," pungkasnya.

Pandangan Hanung Bramantyo ini mencerminkan sebuah upaya untuk membawa dimensi baru dalam praktik keagamaan di Indonesia, yaitu dengan mengintegrasikan pemahaman spiritual dengan kesadaran sosial dan politik. Ia berharap bahwa apa yang ia gagas ini dapat menjadi inspirasi bagi penyelenggara ibadah lainnya, agar materi keagamaan senantiasa relevan dengan tantangan zaman dan memberikan kontribusi positif bagi pembentukan karakter umat yang berwawasan luas, berhati mulia, dan senantiasa menjaga persatuan. Dengan demikian, ibadah yang dilaksanakan tidak hanya bernilai spiritual semata, tetapi juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Ia juga menekankan bahwa momen Idul Fitri, yang identik dengan kemenangan setelah perjuangan sebulan penuh berpuasa, seyogianya menjadi pengingat akan perjuangan umat Islam di seluruh dunia yang mungkin masih berjuang untuk kemerdekaan, kedamaian, dan keadilan.

Oleh karena itu, materi khutbah yang menyentuh isu-isu seperti Palestina dan konflik internasional lainnya menjadi relevan untuk membangkitkan rasa empati dan solidaritas umat Islam Indonesia terhadap saudara-saudara mereka yang sedang tertindas. Hanung Bramantyo percaya bahwa dengan pemahaman yang lebih baik mengenai situasi dunia, umat Islam Indonesia dapat memberikan dukungan yang lebih efektif, baik dalam bentuk doa, donasi, maupun advokasi. Ia ingin agar perayaan Idul Fitri ini menjadi momen yang lebih bermakna, tidak hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga sebagai pengingat akan tanggung jawab kolektif sebagai bagian dari umat Islam global.

Hanung Bramantyo juga berharap agar para penceramah ke depannya dapat lebih berani dan inovatif dalam menyampaikan materi khutbah, tidak hanya terpaku pada teks-teks klasik yang bersifat umum. Ia mengajak agar para penceramah mampu mengaitkan ajaran agama dengan realitas kontemporer, sehingga pesan-pesan keagamaan dapat lebih mudah diterima dan dipahami oleh jemaah, serta mampu memberikan solusi dan pencerahan bagi problematika yang dihadapi umat. Dengan demikian, ibadah salat Id tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan transformasi sosial yang berkesinambungan.