Indonesia menghadapi gelombang ancaman siber yang semakin canggih dan tak terduga, menuntut respons yang gesit dan sumber daya manusia yang mumpuni. Serangan terhadap data pribadi, layanan publik esensial, hingga infrastruktur vital negara bukan lagi sekadar potensi abstrak, melainkan risiko nyata yang berpotensi melumpuhkan ekonomi, merusak kepercayaan publik, dan mengancam stabilitas nasional. Dalam upaya mengokohkan pertahanan digitalnya, Indonesia mengambil langkah proaktif dengan menjalin kerja sama strategis dengan Korea Selatan, negara yang telah lama diakui sebagai pemimpin dalam inovasi dan keamanan siber. Kolaborasi ini diwujudkan melalui program pelatihan intensif yang diselenggarakan oleh Stelien, sebuah perusahaan keamanan siber terkemuka asal Korea Selatan, dengan dukungan penuh dari Korea International Cooperation Agency (KOICA).
Program ini, yang bertajuk "Pengembangan Kompetensi Ahli Keamanan Siber Indonesia," dirancang secara komprehensif untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para profesional keamanan siber Indonesia. Ini merupakan respons langsung terhadap kebutuhan mendesak akan tenaga ahli yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mahir dalam praktik penanggulangan serangan siber yang kompleks. Mengingat lanskap ancaman yang terus berubah, investasi dalam sumber daya manusia menjadi pilar utama strategi pertahanan siber nasional. Indonesia menyadari bahwa tanpa talenta yang terampil, sistem dan teknologi secanggih apa pun akan menjadi rentan.
Pelatihan yang berlangsung selama dua minggu, tepatnya mulai 10 hingga 23 Januari 2026, menjadi sorotan utama dalam inisiatif ini. Acara ini diikuti oleh perwakilan dari lembaga-lembaga kunci di Indonesia, termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), yang merupakan garda terdepan pertahanan siber negara, serta Politeknik Siber dan Sandi Negara (PSSN), institusi pendidikan yang bertanggung jawab mencetak generasi ahli siber. Selain itu, sejumlah institusi strategis lain di bidang keamanan siber turut mengirimkan perwakilannya, memastikan bahwa transfer pengetahuan dapat tersebar luas ke berbagai sektor yang membutuhkan. Keterlibatan lembaga-lembaga ini menunjukkan komitmen serius pemerintah Indonesia untuk membangun ekosistem keamanan siber yang kuat dan terintegrasi.
Dalam menjalankan proyek ambisius ini, Stelien tidak bekerja sendirian. Mereka membentuk konsorsium bersama Universitas Ajou, salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Korea Selatan yang dikenal dengan keunggulan di bidang teknologi dan informatika, serta Solutek System, perusahaan yang juga memiliki rekam jejak kuat dalam solusi teknologi. Kolaborasi ini memastikan bahwa program pelatihan tidak hanya didukung oleh keahlian praktis dari Stelien, tetapi juga diperkaya dengan landasan akademis yang kokoh dari Universitas Ajou, serta dukungan teknis yang mumpuni dari Solutek System, menciptakan sinergi yang optimal untuk hasil yang maksimal.
Kegiatan pelatihan diselenggarakan di kampus Universitas Ajou, Korea Selatan, menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan fasilitas berstandar internasional. Agenda pelatihan dirancang sangat padat dan relevan, mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan dan pengelolaan keamanan siber. Salah satu fokus utama adalah pengelolaan kurikulum pendidikan keamanan siber. Para peserta diajak untuk memahami bagaimana Korea Selatan mengembangkan kurikulum yang dinamis dan adaptif, yang tidak hanya mengajarkan dasar-dasar, tetapi juga mencakup teknologi terbaru dan tren ancaman siber global. Ini penting agar Indonesia dapat merancang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan spesifiknya.
Selain itu, pelatihan juga mencakup pengoperasian sistem keamanan siber, mulai dari deteksi dini, respons insiden, hingga analisis forensik. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk hands-on dengan berbagai peralatan dan platform yang digunakan di Korea Selatan, memungkinkan mereka untuk memahami implementasi praktis dari teori yang dipelajari. Bagian tak kalah penting adalah kunjungan langsung ke Korea Internet & Security Agency (KISA) Academy. KISA adalah lembaga pemerintah Korea Selatan yang bertanggung jawab atas keamanan siber nasional, dan akademi mereka merupakan pusat pelatihan terkemuka. Kunjungan ini memberikan wawasan langsung tentang bagaimana KISA mengelola operasional keamanannya, mengembangkan kebijakan, dan melatih tenaga ahli mereka, menawarkan model percontohan yang berharga bagi Indonesia.
Program ini dirancang bukan sebagai pelatihan sekali jalan, melainkan sebagai bagian integral dari visi jangka panjang Indonesia untuk kemandirian keamanan siber. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dan pengelola sistem sebagai persiapan pendirian Pusat Pelatihan Keterampilan Profesional Keamanan Siber di Indonesia. Pusat pelatihan ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 dan akan menjadi hub utama untuk mencetak lebih banyak ahli siber di tanah air. Dengan memiliki pusat pelatihan sendiri, Indonesia dapat secara berkelanjutan mengembangkan talenta lokal sesuai dengan standar internasional, mengurangi ketergantungan pada keahlian asing, dan memastikan bahwa respons terhadap ancaman siber dapat dilakukan dengan cepat dan efektif.
Nantinya, para peserta pelatihan yang telah digembleng di Korea Selatan ini diharapkan dapat berperan sebagai pengajar, staf administrasi pendidikan, serta pengelola sistem di pusat pelatihan yang baru. Mereka akan menjadi "trainer of trainers," yang akan melipatgandakan dampak pelatihan ini dengan menyebarkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh kepada generasi ahli siber Indonesia berikutnya. Pada pelatihan kali ini, rombongan peserta dipimpin langsung oleh Wakil Direktur PSSN, menunjukkan tingkat kepentingan yang diberikan oleh Indonesia terhadap program ini. Jumlah peserta yang mencapai sekitar 30 dosen dan 10 staf praktisi mencerminkan komitmen untuk membangun fondasi pendidikan dan praktik keamanan siber yang kuat dari hulu ke hilir.
Salah satu peserta, Septia Ulfa, mengungkapkan apresiasinya terhadap pelatihan ini, menyebutnya sebagai pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, program tersebut memungkinkan peserta untuk mempelajari secara langsung sistem pendidikan dan praktik operasional keamanan siber yang diterapkan di Korea Selatan, yang dinilai lebih matang dan terstruktur. "Kami mendapatkan wawasan yang tak ternilai tentang bagaimana Korea Selatan mengintegrasikan pendidikan dan praktik keamanan siber secara holistik. Dari kurikulum yang adaptif hingga simulasi serangan siber yang realistis, semuanya dirancang untuk menghasilkan profesional yang siap tempur," ujar Septia. Ia menambahkan bahwa struktur yang matang ini akan menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem keamanan siber yang lebih kokoh dan responsif.
Ke depan, konsorsium Stelien berencana melanjutkan rangkaian kegiatan melalui beberapa fase lanjutan. Pada Februari 2026, akan diselenggarakan pelatihan undangan bagi pejabat tinggi Indonesia. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman strategis kepada para pengambil kebijakan tentang pentingnya keamanan siber, tren ancaman terkini, dan bagaimana kebijakan yang tepat dapat mendukung upaya pertahanan digital. Kemudian, dari Maret hingga Agustus 2026, akan ada pelatihan jangka menengah yang lebih mendalam bagi dosen lokal. Pelatihan ini akan fokus pada transfer pengetahuan teknis yang lebih kompleks dan metodologi pengajaran, memastikan bahwa para dosen di Indonesia siap untuk mengampu mata kuliah keamanan siber dengan standar internasional.
Kim Deok-yoon, Kepala Tim Proyek Sektor Publik Stelien, menekankan bahwa pelatihan ini merupakan bagian penting dari program KOICA yang lebih luas dalam membangun kapasitas tenaga lokal di negara-negara mitra. "Pelatihan undangan ini memberikan kesempatan yang unik bagi peserta Indonesia untuk memahami langsung lingkungan pendidikan serta praktik operasional keamanan siber yang canggih di Korea Selatan. Kami percaya bahwa pengalaman ini akan menjadi katalisator bagi perkembangan keamanan siber di Indonesia," ujarnya. Kim Deok-yoon juga menegaskan komitmen jangka panjang Stelien. "STEALIEN akan terus menjalin kerja sama berkelanjutan dalam pembangunan sistem pengembangan sumber daya manusia keamanan siber di Indonesia, karena kami percaya bahwa kolaborasi internasional adalah kunci untuk menghadapi ancaman siber yang bersifat global."
Sebagai perusahaan offensive security yang didukung oleh para white hacker berstandar global, Stelien membawa keahlian yang sangat relevan dan terdepan. Offensive security adalah pendekatan proaktif dalam keamanan siber, di mana para ahli mensimulasikan serangan dunia nyata (ethical hacking) untuk mengidentifikasi dan menambal kerentanan sebelum dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab. Keahlian ini sangat krusial dalam membangun pertahanan siber yang tangguh. Stelien memiliki sejumlah lini bisnis utama yang mendukung misi ini, mulai dari solusi keamanan aplikasi mobile seperti AppSuit, yang melindungi aplikasi dari berbagai ancaman; layanan red team penetration testing dan konsultasi keamanan, di mana tim ahli mereka mencoba menembus sistem untuk menemukan celah; riset dan pengembangan teknologi peretasan dan keamanan, yang memastikan mereka selalu selangkah di depan para penjahat siber; hingga pengoperasian platform pelatihan siber Cyber Drill System, yang menyediakan simulasi serangan realistis untuk melatih respons insiden. Dengan pengalaman dan teknologi canggih ini, Stelien menjadi mitra ideal bagi Indonesia dalam memperkuat ekosistem keamanan sibernya. Kolaborasi ini menandai langkah maju yang signifikan bagi Indonesia dalam menghadapi era digital dengan lebih aman dan percaya diri.

