Jakarta –
Foto satelit terbaru menunjukkan bongkahan es raksasa A23a di Antartika telah mengalami transformasi dramatis, berubah menjadi massa es berwarna biru cerah atau yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai ‘blue mush’. Fenomena visual yang menakjubkan ini, konon, bukan sekadar keindahan alam semata, melainkan pertanda bahaya dan fase akhir dari eksistensi gunung es yang pernah menjadi yang terbesar di dunia ini.
Setelah hampir empat dekade mengambang di Samudra Selatan, A23a kini menunjukkan tanda-tanda akhir hidupnya yang semakin nyata. ‘Blue mush’ yang terpantau jelas dari angkasa merupakan indikator kuat bahwa bongkahan es fenomenal ini sedang dalam proses pencairan dan pemecahan yang dipercepat, menyusul perjalanannya yang panjang dan penuh gejolak sejak pertama kali terlepas dari benua es pada tahun 1986. Perubahan warna ini bukan hanya estetika, melainkan sebuah narasi geologis yang menceritakan tentang kerapuhan dan transformasi di tengah perubahan iklim global.
Kisah Raksasa yang Terjebak: Perjalanan A23a dari Awal Hingga Kini
Kisah A23a dimulai pada bulan November 1986, ketika gunung es ini pertama kali terlepas dari Filchner-Ronne Ice Shelf, sebuah lapisan es besar yang mengapung di atas Laut Weddell di Antartika. Dengan luas permukaan yang mencapai sekitar 4.000 kilometer persegi—kira-kira dua kali ukuran kota London atau lebih besar dari wilayah DKI Jakarta—A23a segera mendapatkan predikat sebagai gunung es terbesar di dunia. Namun, tak lama setelah kelahirannya yang spektakuler, nasibnya seolah terhenti. A23a tidak hanyut jauh; sebaliknya, ia sempat terperangkap di dasar laut selama bertahun-tahun, dengan bagian bawahnya yang keeled (mirip lunas kapal) menancap di dasar laut yang relatif dangkal di sekitar benua Antartika.
Jebakan ini berlangsung selama lebih dari tiga dekade, menjadikannya sebuah anomali yang menarik bagi para ilmuwan. Ia menjadi semacam "pulau es" permanen, memengaruhi arus laut lokal dan ekosistem di sekitarnya. Namun, sekitar tahun 2020, entah karena erosi bertahap pada bagian bawahnya, peningkatan suhu air laut, atau kombinasi dari berbagai faktor dinamis di Samudra Selatan, A23a akhirnya bebas dari cengkeraman dasar laut. Begitu terlepas, raksasa es ini mulai terapung bebas, berputar terpengaruh oleh arus laut yang kuat di sekitar Antartika, dan perlahan menjauh dari benua es tempat kelahirannya. Perjalanan panjang ini membawanya ke perairan yang lebih hangat, mempercepat proses degradasi yang kini kita saksikan.
Misteri Perubahan Warna: Mengapa Es Berubah Menjadi Biru?
Foto terbaru yang diambil oleh satelit NASA Terra pada 26 Desember 2025 (catatan: tanggal ini merujuk pada observasi di masa depan yang disebutkan dalam teks asli) menunjukkan permukaan A23a dipenuhi kolam air lelehan yang berwarna biru mencolok. Lapisan air ini, bersama dengan es yang berubah warna, adalah inti dari fenomena ‘blue mush’.
Perubahan warna es menjadi biru bukanlah kejadian sepele, melainkan indikator penting dari struktur dan kepadatan es itu sendiri. Es yang terlihat putih biasanya mengandung banyak gelembung udara kecil yang tersebar di dalamnya. Gelembung-gelembung ini memantulkan semua spektrum cahaya tampak, sehingga mata kita melihatnya sebagai warna putih. Namun, ketika es mengalami kompresi ekstrem atau pencairan dan pembekuan ulang berulang kali—seperti yang terjadi pada inti gletser atau gunung es yang sangat tua—gelembung udara tersebut akan terdorong keluar, menghasilkan es yang jauh lebih padat dan jernih.
Es yang padat dan jernih ini memiliki sifat optik yang berbeda. Ia menyerap cahaya merah dan kuning dari spektrum cahaya tampak, sementara memantulkan dan menyebarkan cahaya biru. Inilah mengapa es terlihat biru. Fenomena "blue mush" pada A23a merujuk pada kondisi di mana permukaan gunung es dipenuhi kolam-kolam air lelehan berwarna biru. Kolam-kolam ini terbentuk ketika es di permukaan mulai kehilangan struktur padatnya, mencair, dan air lelehan menumpuk di cekungan-cekungan kecil. Kehadiran air ini semakin memperkuat pantulan warna biru, menciptakan pemandangan yang memukau namun mengkhawatirkan.
Interpretasi Ilmiah: Pertanda Kelemahan dan Akhir Kehidupan
Para ilmuwan telah lama mengamati A23a, dan perubahan warna ini adalah sinyal yang jelas bagi mereka. Ted Scambos, seorang ilmuwan iklim terkemuka dari University of Colorado Boulder, menggarisbawahi urgensi temuan ini. "Kolom air yang terlihat itu menunjukkan bahwa struktur es sudah melemah secara signifikan dan proses pecahnya gunung es terus dipercepat," jelas Scambos, dikutip dari Live Science. Pernyataannya mengindikasikan bahwa A23a bukan hanya mencair secara perlahan, tetapi integritas strukturalnya sedang terancam. Ini berarti retakan-retakan besar dapat terbentuk lebih cepat, menyebabkan fragmen-fragmen raksasa terlepas dan mempercepat kehancuran total.
Ahli lain, Chris Shuman, pensiunan glasiolog yang kini mendedikasikan penelitiannya pada sejarah A23a, menambahkan perspektif historis. "Warna biru yang masih terlihat setelah sekian lama menunjukkan sejarah panjang es tersebut dan bagaimana ia berubah seiring waktu," kata Shuman. Komentarnya menyoroti bahwa es biru ini bukan hanya hasil dari pencairan permukaan saat ini, tetapi juga cerminan dari usia dan proses pembentukan es selama ribuan tahun di dalam gletser Antartika. Ini adalah es purba, yang kini terpapar dan mencair, membawa serta informasi tentang iklim masa lalu dan menyoroti perubahan iklim saat ini.
Selama beberapa tahun terakhir, A23a memang telah kehilangan sebagian besar massanya. Pecahan-pecahan besar terus terlepas dari bongkahan utama saat ia mengapung menuju perairan yang lebih hangat. Proses inilah yang secara alami mempercepat akhir eksistensi gunung es ini setelah 40 tahun diamati secara cermat oleh ilmuwan dari seluruh dunia. Setiap kali sebuah fragmen terlepas, luas permukaan yang terpapar air laut hangat dan radiasi matahari akan bertambah, mempercepat laju pencairan.
Implikasi yang Lebih Luas: Indikator Perubahan Iklim Global
Meskipun pencairan gunung es seperti A23a tidak secara langsung menaikkan permukaan laut—karena es laut sudah terapung di air, dan perpindahan volume airnya sudah diperhitungkan—fenomena ini tetap menjadi indikator krusial dari perubahan iklim global dan dampaknya terhadap sistem es di Antartika serta lautan sekitarnya. Ada beberapa alasan mengapa A23a, meskipun tidak berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, tetap menjadi perhatian serius:
- Indikator Kesehatan Gletser: Kebebasan dan pencairan A23a menunjukkan dinamika yang lebih besar pada Filchner-Ronne Ice Shelf dan gletser Antartika lainnya. Peningkatan suhu air laut dan udara di sekitar Antartika dapat mempercepat pelepasan gunung es yang lebih besar di masa depan, yang pada akhirnya dapat mengancam stabilitas lapisan es yang masih terhubung dengan daratan.
- Dampak pada Ekosistem Laut: Saat gunung es raksasa mencair, ia melepaskan nutrisi dan mineral yang telah terperangkap di dalamnya selama ribuan tahun ke dalam air laut. Pelepasan nutrisi ini dapat memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan laut. Namun, perubahan mendadak dalam ketersediaan nutrisi juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lokal, memengaruhi krill, ikan, hingga mamalia laut seperti paus dan anjing laut yang bergantung pada ekosistem tersebut.
- Perubahan Suhu dan Salinitas Laut: Volume air tawar dingin yang dilepaskan dari gunung es yang mencair dapat memengaruhi suhu dan salinitas air laut di sekitarnya. Perubahan ini berpotensi memengaruhi arus laut global, yang merupakan komponen vital dalam regulasi iklim Bumi. Arus laut berperan dalam mendistribusikan panas dan nutrisi ke seluruh dunia.
- Umpan Balik Iklim (Climate Feedback): Pencairan es mengurangi tutupan permukaan yang memantulkan sinar matahari (albedo). Ketika es mencair, permukaannya digantikan oleh air laut gelap yang menyerap lebih banyak panas matahari, sehingga mempercepat pemanasan laut dan pencairan es lebih lanjut. Ini adalah contoh umpan balik positif yang mempercepat pemanasan global.
Kisah A23a adalah contoh nyata bagaimana formasi es terbesar di planet ini berinteraksi dengan perubahan lingkungan selama puluhan tahun. Dari kejayaan sebagai raksasa es yang berada di puncak daftar gunung es terbesar di dunia, hingga masa akhirnya yang penuh warna biru dan fragmentasi, A23a memberi pelajaran penting bagi pemantauan perubahan iklim dan dinamika laut dunia. Ia adalah laboratorium alam yang bergerak, memberikan data berharga tentang proses pencairan dan dampaknya.
Apakah A23a sudah memasuki fase terakhir hidupnya sepenuhnya masih ditunggu oleh komunitas ilmuwan. Dengan ukuran yang masih signifikan, proses pemecahan dan pencairannya kemungkinan akan berlangsung selama beberapa bulan atau bahkan tahun lagi. Sementara itu, citra satelit dan instrumen pemantauan lainnya akan terus memantau perubahan dramatis ini dalam beberapa bulan mendatang, mengumpulkan data vital yang akan membantu kita memahami masa depan Antartika dan iklim global yang lebih baik. Transformasi biru A23a adalah pengingat visual yang kuat akan kerapuhan dan dinamika planet kita di hadapan perubahan lingkungan yang terus berlangsung.

