Misi Artemis 2, sebuah tonggak sejarah yang akan membawa empat astronaut mengelilingi Bulan, semakin mendekat ke tanggal peluncurannya. Setelah sempat menghadapi serangkaian tantangan, termasuk penundaan akibat masalah kebocoran bahan bakar, NASA kini dengan optimis menargetkan misi ambisius ini akan diluncurkan paling cepat pada 6 Maret. Target baru ini muncul setelah tim Artemis 2 mencatatkan serangkaian pencapaian penting selama fase pengujian, terutama keberhasilan gladi resik basah (wet dress rehearsal/WDR) yang sangat krusial, sebuah simulasi penuh dari prosedur peluncuran.
Keberhasilan WDR ini menjadi angin segar bagi program Artemis NASA, yang bertujuan untuk mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade. Lori Glaze, Associate Administrator NASA, dalam sebuah konferensi pers pada Sabtu (21/2/2026), menyatakan, "Setelah keberhasilan uji gladi resik kemarin, kami sekarang menargetkan tanggal 6 Maret sebagai upaya peluncuran paling awal." Pernyataan ini menggarisbawahi kepercayaan diri yang tinggi dari pihak NASA setelah serangkaian perbaikan dan pengujian intensif.
Gladi resik basah adalah salah satu tahapan paling kompleks dan vital dalam persiapan peluncuran roket. Ini melibatkan pengisian penuh tangki roket Space Launch System (SLS) dengan bahan bakar kriogenik – hidrogen cair (LH2) dan oksigen cair (LOX) – serta menjalankan seluruh hitungan mundur peluncuran hingga beberapa detik sebelum penyalaan mesin, tanpa benar-benar menyalakan mesin. Tujuannya adalah untuk memverifikasi semua sistem roket, kapsul Orion, dan peralatan di darat berfungsi dengan sempurna dalam kondisi yang mirip dengan peluncuran sesungguhnya.
Ini merupakan upaya gladi resik kedua yang dilakukan NASA untuk Artemis 2. Percobaan pertama, yang dilakukan pada awal Februari, sayangnya berakhir dengan kegagalan. Masalah utama yang dihadapi saat itu adalah kebocoran bahan bakar hidrogen cair (LH2) yang signifikan. Kebocoran hidrogen sangat berbahaya karena sifatnya yang mudah terbakar dan sulit dideteksi secara visual. Tim Artemis 2 segera bertindak cepat untuk mengidentifikasi akar masalah, yang ternyata berasal dari dua segel di area yang mengalami kebocoran.
Setelah percobaan gladi resik pertama yang tidak berhasil, tim teknik Artemis 2 segera mengganti kedua segel yang bermasalah. Untuk memastikan perbaikan tersebut efektif, mereka melakukan pengujian parsial pada 12 Februari, dengan mengisi sebagian tangki roket. Hasilnya sangat memuaskan: segel yang baru terpasang berfungsi dengan baik dan mampu menahan tekanan serta suhu ekstrem bahan bakar kriogenik. Keberhasilan pengujian perbaikan ini menjadi fondasi penting bagi upaya gladi resik kedua yang dimulai pada Kamis, 18 Februari.
Dalam upaya gladi resik kedua yang lebih komprehensif, NASA berhasil mengisi tangki roket SLS dengan jumlah bahan bakar yang luar biasa, mencapai 2,76 juta liter campuran hidrogen cair dan oksigen cair. Ini adalah pencapaian signifikan karena seluruh proses pengisian bahan bakar berlangsung tanpa melewati batas keamanan yang ditetapkan untuk konsentrasi kebocoran hidrogen di darat. Ini menunjukkan bahwa perbaikan segel telah berhasil sepenuhnya dan sistem bahan bakar roket kini siap untuk misi sebenarnya.
Selain pengisian bahan bakar, gladi resik kedua juga mencakup pemeriksaan poin-poin penting lainnya. Tim memastikan bahwa pintu palka modul awak kapsul Orion, tempat para astronaut akan berada, dapat ditutup dengan aman dan rapat. Sistem penyelamatan darurat kapsul Orion juga diverifikasi untuk memastikan kesiapan dalam skenario darurat apa pun selama fase-fase awal peluncuran. Selanjutnya, NASA menjalankan "hitungan akhir" sebanyak dua kali, yang merupakan langkah terakhir dari hitungan mundur sebelum peluncuran, menguji semua prosedur dan komunikasi hingga titik krusial.
Meskipun sukses secara keseluruhan, gladi resik kedua tidak sepenuhnya berjalan mulus tanpa hambatan. Selama proses tersebut, tim menghadapi kendala karena hilangnya komunikasi darat yang vital. Namun, tim teknis NASA menunjukkan profesionalisme dan ketangguhan yang luar biasa. Mereka mampu dengan cepat beralih ke sistem cadangan, yang memungkinkan komunikasi kembali normal dan memastikan proses gladi resik dapat dilanjutkan. Para insinyur juga berhasil mengidentifikasi peralatan spesifik yang menyebabkan masalah komunikasi tersebut, sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum peluncuran sesungguhnya. Kemampuan untuk mengatasi masalah tak terduga dalam simulasi adalah salah satu alasan utama mengapa gladi resik sangat penting.
Glaze menambahkan bahwa meskipun gladi resik telah sukses, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum peluncuran. Ini termasuk analisis mendalam dari semua data yang terkumpul selama gladi resik, tinjauan kesiapan penerbangan (Flight Readiness Review/FRR) yang ketat oleh para pemimpin dan pakar NASA, serta pekerjaan lainnya di landasan peluncuran untuk memastikan setiap detail siap. Analisis ini akan mencakup evaluasi kinerja roket, sistem darat, dan kesiapan operasional secara keseluruhan.
Misi Artemis 2 memiliki makna historis yang sangat mendalam. Ini akan menandai pertama kalinya manusia terbang mengelilingi Bulan dalam lebih dari 50 tahun, sejak misi Apollo terakhir pada awal tahun 1970-an. Perjalanan berdurasi 10 hari ini bukan hanya sekadar penerbangan melingkar, tetapi juga merupakan misi uji coba penting untuk menguji sistem pendukung kehidupan kapsul Orion, prosedur navigasi di luar orbit Bumi yang rendah, dan kemampuan kru untuk beroperasi di lingkungan luar angkasa yang dalam.
Empat astronaut terpilih untuk misi bersejarah ini adalah Reid Wiseman (Komandan Misi), Victor Glover (Pilot), Christina Koch (Spesialis Misi 1), dan Jeremy Hansen (Spesialis Misi 2). Mereka adalah pionir modern yang akan membuka jalan bagi eksplorasi Bulan yang lebih jauh. Reid Wiseman adalah seorang veteran luar angkasa yang pernah menghabiskan 165 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Victor Glover juga seorang veteran ISS dan merupakan astronaut kulit hitam pertama yang akan terbang mengelilingi Bulan. Christina Koch memegang rekor untuk penerbangan luar angkasa tunggal terpanjang oleh seorang wanita. Sementara itu, Jeremy Hansen adalah astronaut pertama dari Kanada yang akan terbang mengelilingi Bulan, menandai kerja sama internasional yang erat dalam program Artemis.
Artemis 2 adalah langkah krusial dalam program Artemis yang lebih besar, yang bertujuan untuk membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan dan mempersiapkan misi berawak ke Mars. Setelah Artemis 2 berhasil menguji coba sistem Orion dan SLS dengan kru, misi Artemis 3 akan menyusul, dengan target mendaratkan manusia kembali di permukaan Bulan, termasuk wanita pertama dan orang kulit berwarna pertama yang menginjakkan kaki di sana.
Dengan keberhasilan gladi resik basah ini, NASA semakin mendekati impian untuk kembali mengirimkan manusia ke Bulan. Tanggal 6 Maret menjadi simbol harapan dan kemajuan teknologi yang luar biasa. Seluruh dunia akan menantikan momen bersejarah ini, menyaksikan era baru eksplorasi antariksa manusia yang akan segera dimulai. Keberhasilan Artemis 2 akan menjadi bukti nyata ketekunan, inovasi, dan semangat petualangan yang tak terbatas dari umat manusia.
(vmp/rns)

