0

Gisel Blak-blakan Usai Tanam Benang-Sedot Lemak di Korea: Ungkap Alasan, Proses, dan Perjuangan Jaga Penampilan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penampilan Gisella Anastasia atau yang akrab disapa Gisel belakangan ini memang menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Wajahnya yang terlihat semakin tirus dan segar, memberikan kesan yang berbeda dari penampilan sebelumnya, sontak mengundang rasa penasaran banyak orang. Menanggapi berbagai spekulasi dan pertanyaan yang muncul, Gisel akhirnya memilih untuk bersikap terbuka dan membeberkan secara blak-blakan mengenai perubahan pada bentuk wajahnya, terutama di area pipi yang selama ini menjadi salah satu fokus utama kekhawatirannya. Dalam sebuah kesempatan wawancara yang berlangsung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (27/1/2026), Gisel mengakui bahwa perubahan tersebut memang nyata dan bukan sekadar ilusi optik. Ia tidak menampik bahwa beberapa waktu lalu dirinya memang sempat melakukan perjalanan ke Korea Selatan, sebuah negara yang terkenal dengan kemajuan pesat di bidang prosedur kecantikan dan estetika.

"Nemenin mama. Mama kan ditarik, jadinya aku benang-benang gitu loh, sama ada sedot lemak di sini sedikit," ungkap Gisel dengan nada santai namun lugas, menjelaskan bahwa kunjungannya ke Korea Selatan tidak hanya untuk menemani sang ibunda yang menjalani prosedur facelift secara menyeluruh, tetapi juga sebagai kesempatan untuk melakukan beberapa perawatan untuk dirinya sendiri. Fokus utama Gisel dalam prosedur yang dijalaninya adalah untuk merapikan dan memberikan definisi yang lebih tegas pada area bawah dagu dan pipinya. Ia membandingkan tindakannya dengan prosedur yang dijalani oleh ibundanya, yang melakukan full facelift meliputi seluruh area wajah hingga leher. "Aku gak facelift. Yang facelift mama, full facelift sampai leher-leher. Kalau aku cuman benang doang," jelasnya lebih lanjut, menekankan perbedaan skala dan tingkat invasivitas prosedur yang dijalaninya dibandingkan dengan sang ibu.

Penyanyi jebolan sebuah ajang pencarian bakat ternama ini juga mengungkapkan bahwa rasa ketidakpercayaan diri terhadap bentuk pipi chubby-nya bukanlah hal yang baru baginya. Ia mengaku sudah merasakan kekhawatiran tersebut sejak lama, bahkan sejak ia menyadari perbedaannya dengan orang lain. "Pipi tuh ya insecure, tapi ya karena sudah dari lahir, itu kondisi dari awal sudah begitu. Jadi sudah, I’m dealing with it, sudah dari lama gitu," tuturnya, menggambarkan bahwa kondisi pipi yang cenderung berisi sudah menjadi ciri khas fisiknya sejak awal. Namun, seiring berjalannya waktu dan seiring dengan perkembangan standar kecantikan yang terus berubah, Gisel pun memiliki keinginan untuk bisa menampilkan dirinya dalam kondisi yang dianggap lebih ideal. "Tapi kan kita juga pengin ngusahain untuk bisa terlihat lebih biasa, kalau yang tirus pengin berisi, yang berisi pengin tirus gitu kan," tambahnya, menyiratkan keinginan universal banyak orang untuk selalu mencoba menyesuaikan penampilan dengan tren dan persepsi ideal.

Selain masalah bentuk wajah, Gisel juga membeberkan bahwa dirinya memiliki kecenderungan mudah gemuk. Hal ini membuatnya harus ekstra kerja keras dalam menjaga bentuk tubuhnya agar tetap proporsional dan bugar. Rutinitas olahraganya yang terlihat di media sosial, seperti lari, pilates, gym, dan padel, serta rencana terbarunya untuk mencoba olahraga Hyrox, adalah bukti nyata dari komitmennya untuk menjaga kesehatan dan penampilan fisiknya. "Kalau lihat hari-hari aku di Instagram isinya lari, pilates, gym, padel, sekarang mau Hyrox segala. Ya memang karena salah satunya, aku tuh gampang kelihatan berisi gitu," ungkapnya, menjelaskan bahwa berbagai aktivitas fisik tersebut bukan sekadar hobi, melainkan sebuah keharusan demi mengimbangi metabolisme tubuhnya yang cenderung menyimpan lemak lebih cepat.

Gisel menambahkan bahwa ia sangat bersyukur dengan kondisi fisiknya saat ini, meskipun harus diakui membutuhkan usaha ekstra untuk menjaganya. "Body goals ya mungkin, dibilang bersyukur ya bersyukur," pungkasnya, menyiratkan penerimaan diri sekaligus apresiasi atas kerja keras yang telah dilakukannya. Pengakuan Gisel ini tidak hanya memberikan pencerahan bagi publik yang penasaran, tetapi juga menunjukkan sisi lain dari seorang figur publik yang juga memiliki kekhawatiran dan berusaha untuk tampil terbaik, baik secara fisik maupun mental. Keputusannya untuk menjalani prosedur kecantikan di luar negeri, meskipun tidak dalam skala besar, menunjukkan adanya keinginan untuk melakukan perbaikan diri demi meningkatkan rasa percaya diri. Hal ini juga membuka diskusi mengenai berbagai pilihan perawatan estetika yang kini semakin beragam dan mudah diakses, meskipun tetap perlu diimbangi dengan pemahaman yang benar mengenai risiko dan manfaatnya.

Perjuangan Gisel dalam menjaga penampilan fisiknya, mulai dari kekhawatiran terhadap pipi chubby hingga kecenderungan tubuh mudah gemuk, adalah cerminan dari tantangan yang dihadapi banyak individu, terutama perempuan, di era modern ini. Tekanan sosial dan standar kecantikan yang kerap kali tidak realistis, ditambah dengan sorotan media yang intens, memaksa banyak orang untuk terus berupaya menampilkan citra diri yang dianggap sempurna. Dalam konteks ini, Gisel menunjukkan keberaniannya untuk terbuka mengenai perjalanannya, memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk tidak ragu dalam merawat diri, baik melalui cara alami maupun dengan bantuan prosedur yang aman dan terpercaya. Keputusannya untuk menjalani perawatan di Korea Selatan, negara yang menjadi kiblat kecantikan dunia, juga menandakan adanya kepercayaan pada teknologi dan keahlian medis di sana.

Tanam benang, sebuah prosedur non-bedah yang bertujuan untuk mengangkat dan mengencangkan kulit dengan menggunakan benang khusus, telah menjadi salah satu pilihan populer di kalangan mereka yang ingin mendapatkan hasil yang lebih muda dan segar tanpa harus melalui operasi besar. Sementara itu, sedot lemak, meskipun terkesan lebih invasif, juga dipilih oleh sebagian orang untuk mengatasi penumpukan lemak lokal yang sulit dihilangkan dengan diet dan olahraga. Gisel sendiri menegaskan bahwa ia tidak melakukan facelift total, melainkan kombinasi tanam benang dan sedikit sedot lemak di area tertentu. Ini menunjukkan bahwa ia memilih opsi yang lebih minimalis dan sesuai dengan kebutuhan serta keinginannya saat ini. Fokusnya pada area pipi dan dagu juga merupakan area yang seringkali menjadi perhatian utama dalam proses penuaan atau ketika seseorang merasa memiliki bentuk wajah yang kurang proporsional.

Kisah Gisel ini juga bisa menjadi pengingat bahwa di balik penampilan glamor dan percaya diri seorang selebriti, terdapat berbagai upaya dan pertimbangan yang matang. Rasa insecure yang ia alami bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan sebuah bagian dari perjalanan manusia dalam menerima dan memperbaiki diri. Keinginannya untuk terlihat "lebih biasa" atau "lebih tirus" ketika merasa "berisi" adalah refleksi dari dinamika persepsi diri yang terus berubah dan keinginan untuk selalu tampil optimal. Hal ini juga menyoroti bahwa standar kecantikan bersifat subjektif dan dapat berfluktuasi, baik bagi individu maupun masyarakat secara umum.

Lebih jauh lagi, Gisel juga secara tidak langsung menyentuh isu mengenai metabolisme tubuh dan bagaimana hal tersebut memengaruhi penampilan fisik. Pengakuannya bahwa ia "gampang kelihatan berisi" adalah sebuah fakta biologis yang dihadapi oleh banyak orang. Oleh karena itu, komitmennya untuk berolahraga secara rutin dan bervariasi adalah strategi yang cerdas dan berkelanjutan. Olahraga tidak hanya membantu menjaga bentuk tubuh, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan jangka panjang, meningkatkan energi, dan memperbaiki suasana hati. Penggabungan berbagai jenis olahraga, seperti lari untuk kardio, pilates untuk kekuatan inti dan fleksibilitas, gym untuk pembentukan otot, dan padel sebagai aktivitas rekreasi yang aktif, menunjukkan pendekatan yang holistik dalam menjaga kebugaran.

Keputusannya untuk terus mencoba hal baru seperti Hyrox menunjukkan semangat petualangan dan keinginan untuk terus menantang diri sendiri. Ini adalah sikap yang patut dicontoh, karena menunjukkan bahwa menjaga penampilan dan kesehatan bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah proses yang menyenangkan dan penuh penemuan. Dengan segala upaya yang dilakukannya, Gisel menunjukkan bahwa ia sangat menghargai anugerah fisik yang diberikan kepadanya, dan ia berupaya semaksimal mungkin untuk merawatnya. Pengakuan bahwa ia "bersyukur" atas kondisi fisiknya, meskipun memerlukan usaha ekstra, adalah sebuah penegasan akan penerimaan diri yang positif.

Pada akhirnya, cerita Gisel ini adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan perjalanan uniknya sendiri dalam hal penampilan dan kepercayaan diri. Terbuka mengenai prosedur yang dijalani, alasan di baliknya, serta perjuangan dalam menjaga bentuk tubuh, memberikan perspektif yang lebih realistis tentang bagaimana figur publik mengelola citra diri mereka. Ini juga menjadi ajakan bagi kita semua untuk lebih kritis dalam memandang standar kecantikan yang ada, dan lebih fokus pada kesehatan serta kesejahteraan diri sendiri, baik secara fisik maupun mental.