Jakarta, 2 Februari 2026 – Dunia game kembali dihebohkan oleh gelombang kekecewaan dari para pemain, kali ini menimpa game naratif yang sangat dinanti, "Dispatch," di platform Nintendo Switch. Ratusan gamer mengungkapkan frustrasi mereka setelah menemukan bahwa versi Switch dari game tersebut telah mengalami sensor ketat pada konten seksual dan bahasa kasar, tanpa opsi bagi pemain untuk menonaktifkannya. Insiden ini, yang terungkap tak lama setelah rilis versi Switch pada Januari 2026, dianggap merusak pengalaman bermain dan mengkhianati ekspektasi penggemar yang telah menanti-nanti karya terbaru dari AdHoc Studio.
"Dispatch," sebuah kreasi ambisius dari AdHoc Studio, pertama kali diluncurkan pada 22 Oktober 2025 untuk PC, PlayStation 5, dan bahkan disebutkan untuk Nintendo Switch 2, dan juga Nintendo Switch. Sejak awal kemunculannya di akhir tahun 2025, game ini segera menarik perhatian luas dan menuai pujian tinggi dari para kritikus maupun pemain. Game ini dikenal tidak hanya karena alur cerita yang mendalam dan karakter yang kuat, tetapi juga karena keberaniannya dalam menyajikan dialog yang penuh humor vulgar, kata-kata kasar, dan beberapa adegan romantis yang sensual secara eksplisit. Konten dewasa ini dianggap sebagai bagian integral dari identitas "Dispatch," berkontribusi pada nuansa realistis dan dewasa yang ingin disampaikan oleh studio.
Keunikan "Dispatch" terletak pada pendekatannya terhadap konten dewasa. Untuk versi PC dan PlayStation 5, AdHoc Studio dengan cermat menyertakan fitur yang memungkinkan pemain untuk memilih apakah ingin menyensor adegan telanjang atau tidak. Lebih jauh, game ini juga memberikan opsi untuk mengganti musik berhak cipta dengan trek bebas royalti. Pengaturan ini dirancang dengan mempertimbangkan berbagai kebutuhan pemain, terutama para streamer yang ingin menghindari penonaktifan monetisasi video mereka akibat klaim hak cipta atau pedoman platform, serta bagi pemain yang ingin menikmati game di lingkungan yang lebih ramah keluarga. Fleksibilitas ini dipuji sebagai langkah progresif yang menghormati otonomi pemain dan kreativitas konten.
Namun, harapan para gamer yang menanti versi Nintendo Switch dari "Dispatch" pupus ketika game tersebut akhirnya dirilis pada Januari 2026. Berbeda dengan saudaranya di PC dan PS5, versi Switch sama sekali tidak menyertakan fitur penyesuaian sensor tersebut. Sebagai gantinya, seluruh konten sensual dan bahasa kasar disensor secara default dan tidak dapat diubah.
Visual yang seharusnya memperlihatkan adegan intim antara Invisigal dan Robert, dua karakter sentral dalam "Dispatch," kini secara otomatis tertutup oleh kotak hitam yang mengganggu. Efek suara sensual yang krusial dalam membangun suasana romantis di mimpi Invisigal juga dihilangkan sepenuhnya, meninggalkan kekosongan yang merusak imersi. Tak hanya itu, dialog yang mengandung kata-kata kasar, yang merupakan ciri khas humor vulgar game ini, kini disensor dengan efek bunyi ‘bip’ yang terdengar janggal dan memecah ritme percakapan. Bahkan, para pemain juga melaporkan bahwa buku-buku seni digital yang disertakan dalam game, yang seharusnya memamerkan desain karakter dan adegan secara penuh, juga turut disensor.
Bagi para gamer yang telah menanti-nanti game ini, penemuan sensor yang tidak dapat dihindari ini adalah kejutan pahit yang memicu gelombang kekecewaan dan frustrasi yang meluas. Banyak yang merasa pengalaman bermain mereka telah dirusak secara fundamental. Platform media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter), segera menjadi wadah bagi para pemain untuk meluapkan kemarahan dan kekecewaan mereka.
Salah satu pengguna X dengan nama akun @OctaviaGamer menulis, "Saya sangat kecewa dengan versi Switch dari Dispatch. Tidak ada tombol untuk mengaktifkan atau menonaktifkan sensor. Saya tidak akan keberatan jika hal ini diungkapkan kepada kami sebelum pembelian, tetapi mereka merahasiakannya hingga setelah peluncuran. Saya pasti akan membelinya di PS5 jika hal ini tersedia." Sentimen ini diamini oleh banyak pemain lain yang merasa ditipu. Mereka percaya bahwa informasi mengenai sensor ini seharusnya disampaikan secara transparan sebelum game dirilis, terutama karena perbedaan signifikan dengan versi platform lain.
Pengguna lain, @PixelProtest, menambahkan dengan nada geram, "Astaga, bahkan buku-buku seninya pun disensor! Ini benar-benar merusak pengalaman bermain. Saya melakukan pre-order karena ulasan positif untuk versi PC/PS5 dan harapan akan pengalaman yang sama di Switch. Jika perubahan besar ini diinformasikan sebelumnya, saya tidak akan pernah melakukan pre-order. Ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan konsumen." Protes ini menyoroti bagaimana sensor tidak hanya memengaruhi adegan inti, tetapi juga konten tambahan yang seharusnya menjadi bonus bagi penggemar.
Kekecewaan ini tidak hanya berputar pada isu konten dewasa semata, melainkan juga pada prinsip pilihan pemain dan integritas artistik sebuah karya. Banyak gamer berpendapat bahwa sensor semacam ini mengganggu visi asli pengembang dan mengurangi kualitas narasi serta pengalaman imersif yang telah dibangun AdHoc Studio. Bagi mereka, "Dispatch" bukan hanya sekadar game, melainkan sebuah karya seni yang sengaja dirancang dengan batasan rating dewasa, dan sensor tanpa pilihan adalah bentuk pemangkasan yang tidak dapat diterima.
Hingga saat artikel ini ditulis, AdHoc Studio belum memberikan tanggapan resmi mengenai gelombang kekecewaan dari komunitas pemain Switch. Keheningan ini semakin memperburuk situasi, membuat banyak penggemar merasa diabaikan dan tidak dihargai. Akibatnya, banyak pemain yang telah membeli game di Nintendo Switch kini menuntut pengembalian dana dan menyatakan niat mereka untuk membeli "Dispatch" di platform gaming lain seperti PC atau PS5, di mana mereka dapat menikmati game tersebut sesuai dengan maksud asli pengembang, tanpa sensor yang membatasi.
Insiden ini menyoroti dilema yang sering dihadapi oleh pengembang game indie ketika berhadapan dengan kebijakan platform yang berbeda. Nintendo, sebagai salah satu pemimpin pasar konsol, dikenal memiliki kebijakan yang lebih ketat terkait konten dewasa, sejalan dengan citra perusahaan yang ramah keluarga. Meskipun banyak game berating dewasa lainnya telah dirilis di Nintendo Switch (seperti "Doom Eternal" atau "The Witcher 3"), seringkali ada negosiasi atau modifikasi yang harus dilakukan pengembang untuk memenuhi standar Nintendo. Namun, kasus "Dispatch" ini menjadi sorotan karena kurangnya transparansi dan tidak adanya opsi bagi pemain, yang membuat mereka merasa tidak memiliki kontrol atas produk yang telah mereka beli.
Bagi AdHoc Studio, keputusan untuk merilis versi yang disensor di Switch mungkin didorong oleh keinginan untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memanfaatkan basis pengguna Switch yang besar. Namun, tanpa komunikasi yang jelas, langkah ini justru berbalik menjadi bumerang, merusak reputasi studio dan memicu kemarahan dari basis penggemar setia mereka. Pertimbangan finansial untuk porting ke Switch dan potensi persyaratan ketat dari Nintendo mungkin menjadi faktor di balik keputusan ini, namun transparansi tetap menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Kasus "Dispatch" ini bisa menjadi preseden penting bagi pengembang game independen lainnya yang berencana membawa karya mereka dengan konten dewasa ke Nintendo Switch, atau bahkan konsol masa depan seperti Nintendo Switch 2. Ini adalah pengingat bahwa komunikasi yang jujur dan terbuka mengenai perbedaan konten antar-platform sangat vital. Para pemain modern menghargai pilihan dan integritas artistik, dan ketika hal itu dikompromikan tanpa pemberitahuan, respons negatif hampir dapat dipastikan.
Pada akhirnya, kejadian ini bukan hanya tentang sensor konten seksual, tetapi juga tentang hak pemain untuk membuat keputusan tentang pengalaman hiburan mereka sendiri, dan tanggung jawab pengembang serta platform untuk transparan mengenai produk yang mereka jual. Keheningan AdHoc Studio saat ini hanya memperpanjang ketidakpuasan, dan banyak yang berharap studio akan segera memberikan penjelasan atau bahkan solusi, seperti pembaruan yang menambahkan opsi sensor, meskipun itu mungkin sulit dilakukan di bawah kebijakan Nintendo. Namun, tanpa tindakan tersebut, insiden "Dispatch" di Nintendo Switch akan terus dikenang sebagai pelajaran pahit tentang pentingnya transparansi dan penghormatan terhadap pilihan pemain.

