0

Ferdy Tahier Jadi ‘Quality Control’ Urusan Pacar Dewa Tahier

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Hubungan antara musisi Ferdy Tahier dan putranya, Dewa Tahier, tidak hanya sebatas kolaborasi di dunia musik atau kreasi konten di platform media sosial. Lebih dari itu, vokalis kenamaan dari band Element ini juga memegang peranan penting dalam urusan percintaan putranya. Dewa Tahier secara terbuka mengaku bahwa ia sering kali berkonsultasi dengan sang ayah mengenai perempuan yang dekat dengannya. Ia bahkan mengibaratkan Ferdy Tahier bertindak layaknya seorang "quality control" atau pengendali mutu untuk setiap calon pasangannya. "Sering curhat. Bahkan kalau soal cewek harus approve-nya ke Papa dulu. Papa itu QC-lah," ungkap Dewa Tahier saat ditemui di kawasan Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Senin, 12 Januari 2026. Pernyataan ini menunjukkan betapa Ferdy Tahier berperan sebagai sosok yang dipercaya dan diandalkan oleh putranya dalam mengambil keputusan penting terkait hubungan romantis.

Ferdy Tahier sendiri tidak menyangkal peran tersebut. Ia menjelaskan bahwa sikapnya yang demikian bukanlah bertujuan untuk mengekang atau membatasi kebebasan sang anak dalam menjalin hubungan. Sebaliknya, ia ingin memastikan bahwa putranya memahami dan mampu memperlakukan wanita dengan baik dan penuh rasa hormat. Ferdy memiliki seperangkat aturan main yang tegas bagi anak-anaknya ketika mereka sedang menjalin sebuah hubungan asmara. "Kalau lagi pacaran, mereka nggak boleh ngelarang-larang ceweknya. Ceweknya lagi berkarya, mau apa, jangan dilarang. Jangan posesiflah, support saja," tegas Ferdy Tahier. Ia menekankan pentingnya sikap saling mendukung dan menghargai dalam sebuah hubungan, yang mencakup kebebasan bagi pasangan untuk mengejar minat dan karir mereka tanpa larangan atau rasa posesif yang berlebihan. Filosofi ini mencerminkan pandangan Ferdy Tahier tentang hubungan yang sehat, di mana kepercayaan dan dukungan menjadi fondasi utamanya.

Lebih lanjut, Ferdy Tahier sangat menekankan pentingnya rasa percaya diri yang kokoh dalam diri seorang pria ketika menjalin hubungan. Ia secara spesifik mengingatkan Dewa dan saudara-saudaranya agar tidak pernah menjadi laki-laki yang memiliki rasa insecure atau ketakutan berlebih akan ditinggalkan oleh pasangannya. "Jangan nggak percaya diri. Bahwa lu takut ditinggalin sama ceweknya, entar selingkuh lagi. Harus PD ya," lanjut Ferdy. Pesan ini disampaikan dengan tujuan agar anak-anaknya tumbuh menjadi individu yang mandiri dan memiliki harga diri yang tinggi, sehingga mereka tidak bergantung pada validasi eksternal, terutama dari pasangan mereka. Ferdy Tahier, yang dikaruniai enam orang putra dan satu putri, tampaknya menerapkan prinsip ini secara konsisten kepada seluruh buah hatinya, mengajarkan mereka untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah goyah.

Nasihat berharga dari ayahnya ini tampaknya benar-benar dipegang teguh oleh Dewa Tahier, yang merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Menurut Dewa, sang ayah senantiasa mengajarkan sebuah konsep penting: jika seseorang memiliki nilai dan kualitas diri yang baik, maka tidak akan ada alasan untuk merasa terancam atau insecure dalam sebuah hubungan. "Papa ngajarin nggak boleh nggak PD. Justru kalau dia makin ketemu banyak orang, harus makin PD lagi. Karena ya kita bukan yang nggak ada value-nya," pungkas Dewa. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana Ferdy Tahier menanamkan pemahaman tentang self-worth kepada anak-anaknya. Ia ingin mereka sadar akan potensi dan keunikan diri mereka, sehingga mereka dapat menjalani setiap interaksi, termasuk dalam hubungan romantis, dengan penuh keyakinan dan tanpa rasa takut akan kekurangan diri. Filosofi ini tidak hanya relevan untuk urusan asmara, tetapi juga untuk seluruh aspek kehidupan, mendorong anak-anaknya untuk terus berkembang dan menyadari bahwa mereka memiliki nilai intrinsik yang tidak dapat diukur oleh pandangan orang lain.

Kepercayaan yang diberikan Dewa kepada ayahnya dalam urusan percintaan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ini adalah hasil dari kedekatan emosional yang kuat dan komunikasi terbuka yang telah terjalin sejak lama. Ferdy Tahier, sebagai seorang ayah dan juga seorang figur publik yang telah banyak makan asam garam kehidupan, memiliki pandangan yang matang mengenai dinamika hubungan. Pengalamannya dalam dunia musik, yang seringkali melibatkan interaksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, mungkin juga telah membentuk perspektifnya tentang pentingnya kepercayaan diri dan cara berinteraksi secara sehat. Ia tidak hanya melihat Dewa sebagai anaknya, tetapi juga sebagai seorang pria muda yang sedang belajar menavigasi kompleksitas dunia dewasa, termasuk dalam hal membangun hubungan yang bermakna.

Lebih jauh, Ferdy Tahier juga menekankan pentingnya keseimbangan dalam hubungan. Ia tidak ingin melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang terlalu bergantung pada pasangan, atau sebaliknya, menjadi sosok yang mendominasi dan mengontrol. Prinsip "support saja" yang diucapkannya adalah sebuah pengingat bahwa hubungan yang sehat adalah tentang pertumbuhan bersama, bukan tentang pembatasan. Dalam konteks ini, peran Ferdy Tahier sebagai "quality control" lebih bersifat sebagai mentor dan penasihat yang bijak, bukan sebagai pembuat keputusan mutlak. Ia memberikan panduan, berbagi pengalaman, dan membantu Dewa untuk merefleksikan setiap dinamika yang terjadi dalam hubungannya. Ini adalah pendekatan yang sangat konstruktif, yang bertujuan untuk memberdayakan Dewa agar mampu membuat keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri.

Pentingnya rasa percaya diri yang diajarkan oleh Ferdy Tahier juga mencakup pemahaman bahwa setiap individu memiliki nilai dan keunikan tersendiri. Dengan memiliki kesadaran akan hal ini, seseorang tidak akan merasa terancam oleh keberhasilan atau popularitas pasangannya. Sebaliknya, mereka akan mampu merayakan pencapaian pasangannya dan melihatnya sebagai sebuah inspirasi, bukan sebagai sebuah ancaman terhadap diri sendiri. Ini adalah prinsip yang sangat penting dalam membangun hubungan yang langgeng dan bahagia, di mana kedua belah pihak merasa aman, dihargai, dan didukung untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka. Dewa Tahier, dengan pemahaman yang diajarkan oleh ayahnya, tampaknya telah menginternalisasi nilai-nilai ini, menjadikannya sebagai panduan dalam menjalani kehidupannya, baik dalam urusan pribadi maupun profesional.

Dalam budaya Indonesia, peran orang tua dalam urusan pernikahan dan percintaan anak memang seringkali masih sangat signifikan. Namun, dalam kasus Ferdy Tahier dan Dewa Tahier, pendekatan yang diambil terlihat lebih modern dan berorientasi pada pembentukan karakter yang kuat. Ferdy tidak memaksakan kehendaknya, melainkan memberikan guidance dan memastikan bahwa prinsip-prinsip dasar hubungan yang sehat tertanam dalam diri putranya. Ini adalah contoh bagaimana orang tua dapat tetap berperan aktif dalam kehidupan anak-anak mereka yang sudah beranjak dewasa, tanpa menghilangkan kebebasan dan otonomi mereka. Hubungan seperti ini, yang didasarkan pada kepercayaan, komunikasi, dan rasa hormat, adalah fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan dan kebahagiaan setiap individu.

Lebih lanjut, jika kita melihat konteks ini dari perspektif psikologis, Ferdy Tahier sedang membekali Dewa dengan coping mechanisms yang sehat dalam menghadapi tantangan hubungan. Ketakutan akan ditinggalkan atau rasa insecure seringkali menjadi akar dari perilaku posesif, kecurigaan, dan bahkan perselingkuhan. Dengan mengajarkan pentingnya rasa percaya diri, Ferdy membantu Dewa untuk membangun ketahanan emosional. Ini berarti Dewa akan lebih mampu mengelola emosinya ketika dihadapkan pada situasi yang menantang dalam hubungan, dan tidak akan bereaksi secara impulsif atau merusak. Kemampuan untuk tetap tenang dan percaya diri dalam menghadapi ketidakpastian adalah aset yang sangat berharga dalam menjalin hubungan yang sehat dan stabil.

Filosofi Ferdy Tahier mengenai "jangan dilarang, support saja" juga mencerminkan pemahaman tentang evolusi peran gender dalam masyarakat modern. Ia tidak membatasi pilihan atau aspirasi calon pasangannya hanya berdasarkan jenis kelamin. Sebaliknya, ia mendorong anak-anaknya untuk mendukung pasangan mereka dalam meraih impian mereka, apapun itu. Ini adalah pandangan yang progresif dan sejalan dengan semangat kesetaraan dalam hubungan. Di era di mana perempuan semakin aktif dalam berbagai bidang, penting bagi pria untuk menjadi partner yang suportif, bukan penghalang. Ferdy Tahier, dengan pandangannya ini, sedang mendidik generasi penerus yang lebih inklusif dan menghargai kontribusi setiap individu dalam masyarakat.

Terakhir, penting untuk dicatat bahwa peran Ferdy Tahier sebagai "quality control" bukanlah untuk mencari kesempurnaan absolut pada calon pasangan Dewa. Ini lebih kepada memastikan bahwa Dewa memiliki kriteria dasar yang sehat dalam memilih pasangan dan bahwa ia sendiri memiliki kesiapan emosional dan mental untuk menjalani sebuah hubungan. Dengan kata lain, Ferdy membimbing Dewa untuk menjadi pribadi yang bijak dalam memilih dan menjaga hubungan. Ini adalah sebuah investasi jangka panjang dalam kebahagiaan dan kesejahteraan putranya. Kepercayaan yang diberikan Dewa kepada ayahnya adalah bukti nyata dari kedalaman hubungan mereka, yang melampaui sekadar ikatan darah, melainkan sebuah kemitraan dalam menjalani kehidupan.