0

Fariz RM Mantap Hijrah Usai Bebas dari Penjara

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kebebasan musisi legendaris Fariz RM dari jerat hukum, setelah menjalani masa hukuman penjara, menandai babak baru yang signifikan dalam kehidupannya. Di usianya yang telah menginjak 67 tahun, pria yang akrab disapa Fariz ini menyatakan dengan mantap niatnya untuk berhijrah, sebuah keputusan yang ia anggap sebagai respons atas panggilan ilahi dan pembelajaran berharga dari masa lalunya. Keputusan ini bukan sekadar pernyataan sesaat, melainkan hasil dari perenungan mendalam yang terjadi selama ia berada di dalam sel, sebuah periode yang ia gambarkan sebagai momen pencerahan spiritual yang tak ternilai. Pengalaman pahit di balik jeruji besi telah mendorongnya untuk melakukan evaluasi total terhadap seluruh aspek kehidupannya, dari karier, pergaulan, hingga cara ia berinteraksi dengan dunia luar.

"Pesan Tuhan itu kepada rasul-rasulnya adalah kalau sudah tidak bisa diapa-apain lagi berhadapan dengan masalah, hijrah. Ini saya hijrah," ujar Fariz RM dengan penuh keyakinan saat ditemui di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa keputusan hijrahnya didasari oleh pemahaman spiritual yang mendalam, sebuah upaya untuk menemukan kedamaian dan ketenangan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Ia melihat hijrah sebagai sebuah langkah strategis untuk menjauhkan diri dari potensi masalah yang selama ini mengelilinginya, sebuah proses pembersihan diri dari hal-hal yang dianggapnya dapat mengganggu ketenangan batin.

Keputusan hijrah yang diambil Fariz RM ini mencakup berbagai aspek krusial dalam kehidupannya. Ia memilih untuk meninggalkan segala hal yang menurutnya dapat mendatangkan kerumitan dan kegelisahan, sebuah komitmen untuk menyederhanakan hidupnya dan fokus pada kesejahteraan diri. Hal ini mencakup interaksi di dunia maya, terutama media sosial, yang ia anggap sebagai arena yang kerap kali memunculkan polemik dan potensi masalah. Selain itu, ia juga memutuskan untuk mereformasi pergaulan yang selama ini telah membentuk dan membesarkan namanya di industri musik. "Hijrah dari profesi, hijrah dari sosial media, hijrah dari pergaulan. Saya sekarang pengin mikirin diri saya sendiri dulu deh. Udah enak gitu lho," jelasnya, menunjukkan keinginan kuat untuk memprioritaskan kesehatan mental dan emosionalnya.

Salah satu bentuk nyata dan paling mengejutkan dari keputusan hijrahnya adalah keputusannya untuk sepenuhnya meninggalkan penggunaan telepon genggam (handphone). Bagi Fariz, alat komunikasi yang begitu universal ini justru telah bertransformasi menjadi sumber keribetan dan masalah yang tidak perlu, sebuah pengalih perhatian yang dapat menjauhkan dirinya dari kedamaian. Ia merasa bahwa ketergantungan pada handphone telah membawanya pada situasi yang rumit dan berpotensi menimbulkan masalah baru. "Saya tidak lagi pakai handphone teman-teman, jadi kalau ada apa-apa tinggal kontak ke sana (manajemen). Kapok pakai handphone," tegasnya, menekankan betapa seriusnya ia dalam mengambil langkah ini. Keputusan ini mencerminkan upayanya untuk memutus mata rantai komunikasi yang berpotensi menimbulkan stres dan kerumitan, serta mengalihkan fokusnya pada hal-hal yang lebih esensial.

Perubahan drastis yang dialami oleh Fariz RM ini turut diamini dan didukung penuh oleh tim kuasa hukumnya, Deolipa Yumara. Menurut Deolipa, kliennya tersebut sebenarnya telah lama menyimpan niat untuk bertobat dan memperbaiki diri, namun baru kali ini ia merasa siap untuk menyampaikannya secara terbuka kepada publik. Pernyataan Deolipa ini memberikan konteks lebih dalam mengenai keputusan hijrah Fariz, menunjukkan bahwa ini bukanlah reaksi sesaat melainkan sebuah proses internal yang telah berlangsung cukup lama. "Memang udah bertobat. Tadi Bang Fariz ini udah lama bertobat, cuma belum ada yang terpublikasi aja dengan baik. Kenapa enggak pegang handphone? Itulah salah satu bentuk pertobatannya," ujar Deolipa, membenarkan bahwa penolakan terhadap handphone adalah salah satu manifestasi nyata dari pertobatannya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak menggunakan handphone bukan sekadar tindakan simbolis, melainkan sebuah bukti konkret dari komitmennya untuk menjalani hidup yang lebih sederhana dan bebas dari potensi masalah.

Langkah hijrah Fariz RM ini dapat dipandang sebagai sebuah refleksi atas pengalaman hidupnya yang penuh warna. Masa-masa sulit di penjara tampaknya telah menjadi katalisator bagi perubahan spiritual yang mendalam. Ia menyadari bahwa kesuksesan dan ketenaran yang pernah ia raih, serta berbagai dinamika sosial yang menyertainya, terkadang justru membawa beban dan kerumitan yang tak terduga. Keputusannya untuk menjauh dari dunia media sosial dan pergaulan yang dianggapnya problematis adalah sebuah upaya sadar untuk melindungi dirinya dari pengaruh negatif dan menemukan kembali jati dirinya yang sejati. Ia ingin fokus pada pengembangan diri, mencari ketenangan batin, dan menjalani sisa hidupnya dengan lebih bermakna dan damai.

Keputusan untuk tidak lagi menggunakan handphone, sebuah alat yang hampir menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, menunjukkan betapa kuatnya tekad Fariz RM untuk mengubah gaya hidupnya. Ia melihat handphone sebagai sebuah perangkat yang, meskipun memiliki manfaat, juga menyimpan potensi besar untuk mendatangkan kerumitan, kecanduan, dan bahkan masalah hukum atau sosial. Dengan melepaskan diri dari genggaman handphone, Fariz berusaha menciptakan sebuah "zona aman" bagi dirinya sendiri, di mana ia dapat terhindar dari berbagai distraksi dan potensi konflik yang seringkali timbul dari interaksi digital. Ia memilih untuk kembali ke cara komunikasi yang lebih konvensional, mengandalkan manajemennya sebagai perantara, sebuah pilihan yang menunjukkan kedisiplinan dan kemauan untuk beradaptasi dengan cara hidup yang baru.

Perjalanan hijrah Fariz RM ini tentu saja akan menarik perhatian banyak pihak, terutama para penggemarnya yang telah lama merindukan karya-karyanya. Namun, tampaknya Fariz tidak berniat untuk kembali ke dunia hiburan dalam waktu dekat. Fokus utamanya saat ini adalah pada dirinya sendiri dan pencarian kedamaian spiritual. Keputusan ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, terutama setelah melalui pengalaman hidup yang berat. Hijrah yang dilakukan Fariz RM ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melakukan introspeksi diri dan berani mengambil langkah perubahan demi kebaikan diri sendiri, meskipun langkah tersebut mungkin terlihat radikal bagi sebagian orang.

Keberanian Fariz RM untuk mengambil langkah drastis seperti ini patut diapresiasi. Di usia senja, ia menunjukkan bahwa perubahan dan pertobatan tidak mengenal usia. Ia tidak lagi terikat oleh tuntutan popularitas atau ekspektasi industri. Ia memilih untuk mendengarkan suara hatinya dan tuntunan spiritual yang ia rasakan. Keputusan ini bukan sekadar tentang menjauh dari masalah, tetapi juga tentang menemukan kembali esensi diri, kedamaian batin, dan hubungan yang lebih dalam dengan Sang Pencipta. Masa penjara, yang seringkali dianggap sebagai titik terendah dalam kehidupan seseorang, justru menjadi titik balik yang membawanya pada pencerahan dan keputusan untuk memulai babak baru yang lebih bermakna.

Dengan hijrahnya, Fariz RM mungkin akan menemukan bentuk kebahagiaan dan ketenangan yang selama ini ia cari. Keputusannya untuk menjauh dari hiruk pikuk dunia hiburan dan media sosial adalah sebuah pernyataan tegas bahwa prioritasnya telah berubah. Ia ingin menjalani hidup yang lebih sederhana, lebih dekat dengan nilai-nilai spiritual, dan lebih fokus pada introspeksi diri. Perjalanan hijrahnya ini akan menjadi sebuah babak baru yang menarik untuk diikuti, sebuah bukti bahwa kehidupan selalu menawarkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan menemukan makna yang lebih dalam. Semoga langkah hijrah Fariz RM ini membawa berkah dan kedamaian yang ia dambakan.