0

Elon Musk Terseret Skandal Epstein, Bantah Keras Tapi Emailnya Terungkap

Share

Nama Elon Musk kembali menjadi sorotan global setelah dokumen baru yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara eksplisit mengaitkannya dengan mendiang pelaku kejahatan seks, Jeffrey Epstein. Berkas-berkas yang mencuat ke publik ini, bagian dari serangkaian dokumen yang secara bertahap diungkap berdasarkan perintah pengadilan, memuat rangkaian email dan undangan kalender yang mengindikasikan upaya Musk untuk menghadiri pertemuan dan pesta di pulau pribadi Epstein yang terkenal, Little St. James. Pengungkapan ini memicu gelombang perdebatan dan spekulasi baru, menyeret salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi ke dalam pusaran skandal yang telah mengguncang kalangan elit global.

Dokumen DOJ yang dirilis merinci pertukaran email dan undangan kalender yang terjadi setelah Jeffrey Epstein divonis pada tahun 2008 atas dakwaan meminta dan membayar seorang pelacur di bawah umur. Ini menunjukkan bahwa meskipun Epstein telah memiliki catatan kriminal yang serius, ia masih aktif berinteraksi dengan figur-figur terkemuka. Dalam percakapan email pada November 2012, Epstein secara langsung bertanya kepada Musk, "Berapa orang yang akan ikut helikopter ke pulau itu?" Pertanyaan ini jelas merujuk pada transportasi menuju Little St. James, yang kemudian dikenal sebagai "Pulau Pedofil." Musk menanggapi pertanyaan tersebut dengan ketertarikan, membalas, "Mungkin hanya Talulah dan aku. Hari/malam apa yang akan menjadi pesta paling meriah di pulau kita?" Talulah diyakini merujuk pada Talulah Riley, aktris yang saat itu adalah istri Musk. Pertanyaan Musk mengisyaratkan keinginan untuk menghadiri acara sosial di lokasi tersebut, yang kini diselimuti reputasi kelam.

Pada rangkaian email Desember 2013, upaya untuk menyelaraskan jadwal kembali dilakukan ketika Musk berada di Kepulauan Virgin Britania Raya dan St. Bart’s untuk liburan. Epstein, yang memiliki properti dan koneksi di wilayah tersebut, menyarankan tanggal 1 hingga 8 setelah Tahun Baru, seraya menulis, "Selalu ada tempat untuk Anda." Meskipun tawaran tersebut mengindikasikan keterbukaan dan kemudahan akses ke lingkaran Epstein, perjalanan yang direncanakan itu kemudian dibatalkan. Musk mengklaim pembatalan tersebut terjadi karena bentrok jadwal, sebuah detail yang kini menjadi fokus penyelidikan publik dan media. Dokumen-dokumen ini, meskipun tidak secara langsung menunjukkan bahwa Musk benar-benar mengunjungi pulau atau menghadiri pesta, namun secara definitif menunjukkan adanya upaya komunikasi dan perencanaan pertemuan antara keduanya.

Latar belakang Jeffrey Epstein adalah kunci untuk memahami bobot tuduhan ini. Ia adalah seorang pemodal yang berjejaring luas, dikenal memiliki hubungan dengan para politisi, bangsawan, dan selebriti di seluruh dunia. Namun, di balik citra glamornya, Epstein adalah pelaku kejahatan seks yang keji, terlibat dalam jaringan perdagangan seks anak di bawah umur. Ia ditangkap pada tahun 2019 atas dakwaan federal terkait perdagangan seks dan konspirasi untuk memperdagangkan anak di bawah umur, namun meninggal di selnya sebelum persidangan, dengan penyebab kematian yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, meskipun spekulasi konspirasi tetap beredar luas. Pulau Little St. James, di mana banyak kegiatan ilegalnya diduga terjadi, menjadi simbol kebejatan dan penyalahgunaan kekuasaan. Pelepasan dokumen-dokumen yang terkait dengan Epstein ini merupakan bagian dari upaya hukum yang lebih besar untuk mengungkap jaringan kejahatannya dan mengidentifikasi individu-individu yang mungkin terlibat atau mengetahui aktivitasnya, seringkali berasal dari gugatan perdata yang diajukan oleh para korban. Publik telah lama menuntut transparansi dan akuntabilitas dari semua pihak yang terhubung dengan Epstein.

Elon Musk, yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan dan sering kali kontroversial di platform media sosial miliknya sendiri, X (sebelumnya Twitter), bergerak cepat untuk membantah laporan tersebut. Sepanjang akhir pekan, ia melancarkan serangkaian unggahan yang menyebut laporan itu sebagai "berita palsu" dan menegaskan bahwa korespondensi tersebut bisa "disalahpahami." Musk dengan tegas menampik pernah mengunjungi pulau, jet, atau menghadiri pesta milik Epstein. Ia berulang kali menyatakan bahwa ia tidak pernah bertemu Epstein, meskipun dokumen yang dirilis menunjukkan sebaliknya.

Dalam unggahan yang ramai dibagikan, Musk mengklaim telah menolak undangan ke pulau Epstein dan terlalu sibuk untuk menghadiri pertemuan apa pun dengannya. Ia memposting ulang spekulasi seorang pengguna bahwa dirinya tak punya "waktu untuk bergaul di pulau itu," lalu menambahkan, "Saya juga bekerja hampir sepanjang akhir pekan. Bahkan sampai sekarang." Pembelaan ini menggarisbawahi citra dirinya sebagai seorang pekerja keras yang berdedikasi, yang tidak memiliki waktu untuk terlibat dalam kegiatan semacam itu. "Media lama berbohong tanpa henti," tulis Musk saat menanggapi pengguna yang menyebut laporan email tersebut sebagai "berita palsu." Kritik tajam terhadap media ini merupakan pola umum dalam respons Musk terhadap liputan negatif. Ia juga membagikan sejumlah unggahan yang menyatakan dirinya sebagai pembela anak-anak dan korban Epstein, sebuah upaya untuk mengalihkan narasi dan menegaskan posisinya sebagai individu yang berintegritas.

Tak berhenti di situ, Musk menyerukan agar penegak hukum segera menindaklanjuti rilis berkas tersebut dengan tindakan nyata. "Yang penting bukan rilis sebagian dari berkas Epstein, melainkan penuntutan terhadap mereka yang melakukan kejahatan keji bersama Epstein," tulisnya. "Jika setidaknya ada satu penangkapan, keadilan akan ditegakkan. Jika tidak, ini semua hanya sandiwara." Pernyataan ini menunjukkan bahwa Musk berusaha menggeser fokus dari keterlibatannya yang dituduhkan ke isu keadilan yang lebih luas, sebuah strategi yang bertujuan untuk mengurangi tekanan yang tertuju padanya.

Namun, narasi yang dibangun Musk mendapati tantangan yang signifikan dari sumber yang tidak terduga: putrinya sendiri. Dilansir dari Daily Beast, Vivian Wilson, putri Musk, ikut menanggapi email Epstein melalui platform Threads. Pernyataannya menambah lapisan kompleksitas pada situasi ini. Vivian mengatakan bahwa ia percaya korespondensi tersebut asli. "Saya dapat memastikan bahwa kami berada di St. Bart’s pada waktu yang disebutkan dalam email tersebut, dan oleh karena itu saya percaya email tersebut nyata," tulisnya. Pengakuan ini secara langsung menguatkan salah satu detail kunci dalam dokumen yang dirilis, yaitu keberadaan Musk di St. Bart’s pada periode yang sama dengan tawaran Epstein.

Vivian menambahkan bahwa ini adalah pertama kalinya ia mendengar tentang percakapan ayahnya dengan Epstein. "Saya tidak tahu apa pun tentang email-email itu sebelumnya, jadi saya mempelajari semuanya bersamaan dengan kalian," ujarnya, seraya menyebut akan membagikan informasi tambahan jika dapat memverifikasi kebenarannya. Pernyataan Vivian Wilson ini memiliki dampak besar. Sebagai anggota keluarga terdekat, kesaksiannya, meskipun tidak secara langsung menuduh ayahnya berbuat salah, namun mengonfirmasi keaslian konteks email tersebut. Hal ini membuat klaim "berita palsu" atau "disalahpahami" yang diutarakan Musk menjadi lebih sulit dipertahankan di mata publik. Pernyataan seorang anak yang secara publik memberikan informasi yang bertentangan dengan atau mempersulit bantahan orang tuanya jarang terjadi dan sering kali memiliki bobot yang besar dalam opini publik.

Hingga berita ini diturunkan, pengacara Musk belum memberikan tanggapan resmi terhadap rilis dokumen baru ini atau terhadap pernyataan Vivian Wilson. Ketiadaan komentar resmi dari jalur hukum menambahkan ketidakpastian pada situasi yang sudah tegang. Sementara itu, rilis dokumen Epstein secara berkesinambungan kembali menyalakan perdebatan global tentang akuntabilitas dan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan kejahatan Epstein. Setiap nama baru yang muncul dalam dokumen ini memicu gelombang kemarahan dan tuntutan keadilan, menegaskan bahwa warisan kelam Epstein masih jauh dari kata usai dan bahwa masyarakat internasional terus menuntut jawaban dan keadilan bagi para korbannya. Skandal ini terus membuktikan bahwa tidak ada individu, sekaya atau seberpengaruh apa pun, yang kebal dari sorotan publik dan tuntutan akuntabilitas ketika dikaitkan dengan kejahatan yang begitu keji.