0

Elon Musk Semprot Christopher Nolan Hilang Integritas, Ada Apa?

Share

Kritik pedas dari miliarder teknologi Elon Musk baru-baru ini mengguncang jagat perfilman, menargetkan sutradara pemenang Oscar, Christopher Nolan. Pusat kontroversi terletak pada tuduhan Musk bahwa Nolan telah "kehilangan integritasnya" terkait keputusan casting untuk film terbarunya, The Odyssey, sebuah adaptasi epik Yunani kuno karya Homer. Pernyataan tersebut, yang dilontarkan di platform X (sebelumnya Twitter) miliknya, segera memicu perdebatan sengit tentang representasi, kebebasan artistik, dan interpretasi karya klasik di era modern.

Christopher Nolan, yang dikenal dengan karya-karya sinematik kompleks dan visioner seperti Inception, The Dark Knight trilogy, Dunkirk, hingga Oppenheimer yang memenangkan berbagai penghargaan, kini berada di tengah tahap pascaproduksi untuk proyek ambisiusnya, The Odyssey. Film ini telah menarik perhatian luas bukan hanya karena nama besar sutradaranya, tetapi juga karena jajaran pemeran bertabur bintang yang dijanjikan. Daftar nama yang terlibat dalam proyek ini mencakup aktor-aktor kaliber Matt Damon, Tom Holland, Jon Bernthal, Robert Pattinson, Zendaya, Charlize Theron, Anne Hathaway, Mia Goth, dan Benny Safdie. Para penggemar film dan kritikus telah menantikan bagaimana Nolan akan menghidupkan kembali kisah epik klasik ini dengan sentuhan khasnya.

Namun, di tengah antusiasme tersebut, sebuah kabar casting menjadi pemicu utama kontroversi. Aktris pemenang Oscar, Lupita Nyong’o, seorang aktris berkulit hitam yang dikenal dengan penampilan memukau dalam film seperti 12 Years a Slave dan Black Panther, dikabarkan turut bergabung dalam jajaran pemeran. Laporan media sosial menyebutkan bahwa Nyong’o dipilih untuk memerankan Helen of Troy, sosok legendaris yang dalam mitologi Yunani dikenal sebagai wanita paling cantik di dunia, yang kecantikannya menjadi penyebab Perang Troy.

Keputusan casting ini segera memicu gelombang reaksi di media sosial. Seorang pengguna di platform X menyuarakan keberatan yang keras, menulis, "Helen of Troy berkulit terang, berambut pirang, dan merupakan ‘wajah yang meluncurkan seribu kapal’ karena ia begitu cantik hingga para pria memulai perang demi dirinya. Pilihan pemeran yang membuat premis ini rancu adalah pengakuan bahwa ceritanya tidak pernah menjadi poin utama dan merupakan penghinaan bagi penulisnya." Unggahan ini dengan cepat menarik perhatian dan menjadi titik fokus perdebatan. Pandangan ini menegaskan bahwa bagi sebagian penonton, Helen of Troy adalah sosok yang terpatri dalam imajinasi kolektif sebagai wanita Kaukasia dengan ciri-ciri fisik tertentu, dan penyimpangan dari gambaran tersebut dianggap merusak esensi cerita, bahkan merendahkan karya sastra aslinya.

Tidak butuh waktu lama bagi Elon Musk, pemilik platform X dengan lebih dari 233 juta pengikut, untuk ikut campur dan memberikan bobot pada narasi ini. Musk, yang seringkali dikenal karena pandangan kontroversialnya tentang budaya dan politik identitas, memperkuat unggahan kritik tersebut dengan tanggapannya yang berbunyi: "Chris Nolan telah kehilangan integritasnya." Pernyataan singkat namun padat ini segera menyebar dan memicu gelombang diskusi yang lebih besar, mengubah kritik awal dari seorang pengguna menjadi sebuah pernyataan besar yang melibatkan salah satu sutradara paling dihormati di Hollywood.

Pernyataan Musk ini menjadi sangat signifikan mengingat reputasi Christopher Nolan sebagai salah satu sineas paling dihormati di era modern. Integritas artistik Nolan selama ini kerap diasosiasikan dengan dedikasinya terhadap penceritaan yang orisinal, penggunaan efek praktis yang revolusioner, dan kemampuannya mengarahkan film-film berskala besar dengan visi yang tak tergoyahkan. Film-filmnya seringkali menantang penonton dengan narasi non-linear dan tema-tema filosofis yang mendalam, menjadikannya seorang auteur sejati. Pertanyaan pun muncul: apakah pemilihan pemeran yang inklusif dapat secara fundamental mengikis integritas seorang sutradara yang rekam jejaknya begitu cemerlang?

Namun, seperti yang sering terjadi di media sosial, kritik ini tidak berlalu tanpa perlawanan. Beberapa pengguna X dengan cepat menyanggah argumen yang mengedepankan akurasi rasial untuk karakter mitologis. Seorang netizen menyoroti sifat fiksi dari The Odyssey, menulis, "The Odyssey adalah mitos. Tidak ada bukti sejarah menunjukkan bahwa Helen of Troy benar-benar ada, jadi dia bisa cantik dalam warna kulit apa pun. Memilih wanita kulit hitam yang cantik SAMA SEKALI TIDAK bertentangan dengan apa yang ditulis ribuan tahun lalu. Tanya saja pada Homer." Argumen ini menekankan bahwa kecantikan adalah konsep universal yang tidak terikat pada ras atau warna kulit tertentu, dan dalam ranah mitologi, kebebasan artistik harus lebih diutamakan daripada interpretasi literal yang sempit. Helen of Troy, sebagai figur mitologis, tidak memiliki bukti keberadaan historis yang konkret. Kecantikannya adalah inti dari karakternya, bukan warna kulitnya.

Pengguna lain membawa perdebatan ke tingkat yang lebih absurd namun logis dengan menyoroti asal-usul Helen yang fantastis. "Saya ingin semua orang mencari di Google siapa orang tua Helen of Troy, bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka berhubungan, bagaimana Helen lahir, lalu kembali ke sini, dan coba bicara pada saya soal akurasi sejarah dengan wajah serius," tulisnya. Pernyataan ini merujuk pada mitologi Helen yang lahir dari telur setelah ibunya, Leda, diperkosa oleh Zeus yang menyamar sebagai angsa. Argumen ini secara efektif menyoroti kemunafikan dalam menuntut "akurasi sejarah" pada satu aspek (ras) sambil mengabaikan elemen-elemen yang jauh lebih fantastis dan tidak masuk akal dalam mitologi itu sendiri. Jika kita menerima dewa-dewi Olympus, monster, dan kelahiran dari telur, mengapa ras karakter menjadi batas "integritas" yang tidak boleh dilanggar?

Keterlibatan Elon Musk dalam perdebatan ini juga tidak terlepas dari rekam jejaknya sendiri. Musk kerap menggunakan platformnya untuk mengkritik apa yang ia sebut sebagai "wokeness" atau politik identitas yang terlalu jauh, dan pernyataannya tentang Nolan dapat dilihat sebagai bagian dari kampanye yang lebih luas untuk menantang norma-norma representasi baru di Hollywood. Sebagai seorang tokoh yang sangat berpengaruh, baik di bidang teknologi maupun opini publik, kritik Musk memiliki bobot yang signifikan dan dapat membentuk narasi di kalangan pengikutnya yang masif.

Di luar pusaran kontroversi casting, film The Odyssey sendiri menjanjikan sebuah tontonan epik yang dinantikan. Film ini akan mengadaptasi salah satu mahakarya sastra tertua di dunia, The Odyssey karya Homer, yang mengisahkan perjalanan pulang Odysseus, Raja Ithaca, setelah Perang Troy yang panjang dan brutal. Kisah epik ini dipenuhi dengan rintangan luar biasa: monster mitologis seperti Cyclops dan Sirene, dewa-dewi yang ikut campur dalam nasib manusia, serta godaan mematikan di berbagai pulau yang ia singgahi, sembari ia berjuang untuk kembali kepada istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus, yang di rumahnya sedang berjuang melawan para pelamar yang ingin merebut takhta dan istrinya.

Dalam cuplikan baru yang beredar, diketahui pula bahwa rapper terkenal Travis Scott akan debut aktingnya di The Odyssey. Sebuah teaser trailer memperlihatkan Menelaus (diperankan oleh Jon Bernthal) dan Telemachus (diperankan oleh Tom Holland) mengadakan pertemuan di ruang makan. Karakter Scott, yang menyerupai seorang penyair atau penasihat, berdiri dan mengetukkan tongkat ke tanah untuk memperingatkan mereka tentang perang yang akan segera pecah atau bahaya yang mengintai. Kemunculan Scott dalam film ini menambah daftar kejutan casting yang menarik perhatian, menunjukkan ambisi Nolan untuk menyuntikkan elemen-elemen segar ke dalam narasi klasik, sekaligus menarik audiens yang lebih luas.

The Odyssey dijadwalkan tayang di bioskop pada 17 Juli, dan terlepas dari kontroversi yang menyelimuti proses produksinya, film ini diprediksi akan menjadi salah satu rilis terbesar tahun ini. Debat seputar casting Helen of Troy dan tuduhan Elon Musk terhadap integritas Christopher Nolan adalah cerminan dari pergeseran lanskap budaya yang lebih besar, di mana pertanyaan tentang representasi, otentisitas artistik, dan interpretasi ulang karya klasik terus menjadi medan pertempuran. Ini bukan hanya tentang satu peran dalam satu film, melainkan tentang bagaimana masyarakat modern bergulat dengan warisan masa lalu dan bagaimana kita memilih untuk menafsirkannya kembali di masa kini, di bawah sorotan tajam media sosial dan tokoh-tokoh berpengaruh.