0

Elon Musk Bicara Masa Depan, China Sudah Mengerjakannya

Share

Elon Musk, figur visioner di balik Tesla, telah berhasil menempatkan robot humanoid sebagai sorotan utama dunia teknologi tahun ini. Dengan penuh keyakinan, ia memproyeksikan bahwa robot-robot ini akan menjadi inti dari valuasi Tesla di masa depan, bahkan memimpikan angka puluhan triliun dolar. Musk, dengan ambisi yang tak terbatas, meyakini bahwa robot Tesla akan mendominasi lanskap teknologi di masa mendatang. Namun, di tengah gemuruh janji dan harapan besar, Tesla belum melangkah lebih jauh dari prototipe; robot humanoid andalannya, Optimus, belum memasuki fase penjualan massal.

Di belahan dunia lain, sebuah narasi yang kontras tengah terukir. Bukan Tesla, melainkan jajaran perusahaan-perusahaan di China yang kini kemungkinan besar berada di garis depan, siap untuk meningkatkan produksi robot humanoid secara besar-besaran tahun ini. Andreas Brauchle, seorang pengamat dari konsultan Horvath, menegaskan bahwa China saat ini memimpin atas Amerika Serikat dalam tahap awal komersialisasi robot humanoid. Meskipun proyeksi menunjukkan bahwa kedua negara akan membangun pasar dengan skala yang serupa di masa depan, China mengambil langkah lebih cepat dalam fase awal produksi massal ini.

Robot humanoid, sebagaimana namanya, dirancang untuk meniru bentuk dan gerakan manusia. Konsep ini bukan sekadar fiksi ilmiah, melainkan sebuah realitas yang ditenagai oleh algoritma kecerdasan buatan (AI) yang canggih dan didukung oleh perangkat keras kompleks, termasuk semikonduktor mutakhir. Kemampuannya untuk meniru interaksi dan pergerakan manusia membuka pintu bagi berbagai aplikasi revolusioner. Robot-robot ini diharapkan dapat beroperasi di berbagai sektor, mulai dari lini produksi pabrik yang membutuhkan presisi dan ketahanan, industri perhotelan yang menuntut layanan pelanggan prima, hingga lingkungan rumah tangga yang dapat membantu meringankan beban pekerjaan sehari-hari dan memberikan pendampingan. Potensi transformasinya meliputi otomatisasi tugas berulang, peningkatan efisiensi, dan bahkan pelayanan di area yang berisiko bagi manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah secara eksplisit menjadikan robotika sebagai salah satu pilar utama strategi teknologi nasionalnya. Komitmen ini diperkuat pada bulan Oktober, ketika Presiden Xi Jinping dan para pemimpin puncak negara tersebut yang tergabung dalam Komite Sentral, merilis proposal "Rencana Lima Tahun ke-15". Dokumen strategis ini bukan sekadar daftar keinginan, melainkan peta jalan yang menetapkan area fokus utama China untuk tahun-tahun mendatang, termasuk investasi besar-besaran dalam teknologi mutakhir. Istilah "Embodied Artificial Intelligence" (AI yang diwujudkan secara fisik) secara khusus disebutkan dalam teks tersebut. Istilah ini merujuk pada perangkat keras berbasis AI seperti robotika dan mobil tanpa pengemudi, menggarisbawahi tekad China untuk membawa kecerdasan buatan dari ranah perangkat lunak ke aplikasi fisik yang dapat berinteraksi dengan dunia nyata.

Bagi China, pengembangan robot humanoid bukan hanya tentang kemajuan teknologi, melainkan juga solusi strategis untuk mengatasi tantangan demografi dan ekonomi yang mendesak, sekaligus menegaskan supremasi teknologinya di panggung global. Karel Eloot dari McKinsey & Company menjelaskan bahwa dorongan China ke pengembangan robotika humanoid dipicu oleh kombinasi antara upaya mengatasi tekanan demografi yang signifikan, memacu pertumbuhan ekonomi di masa depan yang berkelanjutan, dan memperkuat perannya dalam kompetisi global yang semakin intens.

Salah satu pendorong utama adalah krisis demografi yang dihadapi China. Tingkat kelahiran di negara tersebut terus menurun secara drastis, sementara populasinya menua dengan cepat. Fenomena ini menyebabkan berkurangnya jumlah angkatan kerja yang tersedia dan peningkatan biaya tenaga kerja, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Robot humanoid dipandang sebagai solusi yang efektif untuk mengisi kesenjangan tenaga kerja, meningkatkan produktivitas, dan menjaga daya saing ekonomi China di tengah perubahan struktural demografi ini. Robot dapat melakukan pekerjaan yang berulang, berbahaya, atau membutuhkan presisi tinggi, membebaskan tenaga kerja manusia untuk tugas-tugas yang lebih kompleks dan kreatif.

Melihat potensi pasar yang luar biasa, RBC Capital Markets, seperti dikutip detikINET dari CNBC, menyatakan bahwa China bisa menjadi pasar terpenting untuk humanoid. Analis memperkirakan bahwa pasar global untuk robot humanoid dapat mencapai angka fantastis USD 9 triliun pada tahun 2050, dan yang lebih mencengangkan, China diproyeksikan akan menyumbang lebih dari 60% dari total nilai tersebut. Proyeksi ini menggarisbawahi skala ambisi dan kemampuan China dalam menguasai sektor teknologi baru.

Berbagai perusahaan robotika China kini sedang bergerak cepat untuk melesat dalam produksi massal, menunjukkan dinamisme dan inovasi yang luar biasa. Salah satu pemain paling populer adalah Unitree, yang kini sedang mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) dengan valuasi sekitar USD 7 miliar. Unitree telah meluncurkan model terbaru mereka, H2, sebuah robot yang tidak hanya mampu bergerak dengan lincah tetapi juga dapat menari, menunjukkan kemajuan signifikan dalam keseimbangan dan koordinasi.

Kemudian ada UBTech Robotics, sebuah perusahaan yang berfokus pada produksi robot untuk aplikasi industri (pabrik) dan komersial (pemandu wisata atau layanan pelanggan). Model andalan mereka, Walker S2, dirancang dengan fitur inovatif seperti kemampuan untuk mengganti baterai sendiri, memungkinkan robot ini beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. UBTech memiliki rencana ambisius untuk mengirimkan 500 robot industri tahun ini, dan menargetkan peningkatan produksi menjadi 5.000 unit pada tahun 2026, serta mencapai 10.000 unit pada tahun 2027. Angka-angka ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap permintaan pasar yang masif dan kapasitas produksi yang terus berkembang.

Saat ini, terdapat lebih dari 150 perusahaan robot humanoid yang beroperasi di China, menciptakan ekosistem yang kompetitif dan inovatif. Kekuatan manufaktur China yang telah terbukti, serta keberhasilannya dalam meningkatkan produksi produk-produk lain seperti kendaraan listrik, memberikan keunggulan komparatif yang signifikan dalam pengembangan dan produksi robotika. China memiliki infrastruktur manufaktur yang luas, tenaga kerja terampil, dan rantai pasokan yang mendalam dan efisien.

Kedalaman rantai pasokan China memungkinkan perusahaan untuk memproduksi robot dengan keunggulan biaya yang signifikan dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Dari komponen elektronik kecil seperti semikonduktor dan sensor, hingga motor, aktuator, dan material bodi, semuanya dapat diproduksi atau diperoleh di dalam negeri dengan efisiensi tinggi. Fakta ini tercermin dalam perkiraan UBTech bahwa biaya produksi dapat turun 20% hingga 30% setiap tahunnya, sebuah laju penurunan yang akan membuat robot humanoid semakin terjangkau dan memungkinkan adopsi massal.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap unggul dalam bidang penelitian dan pengembangan AI, khususnya dalam pengembangan algoritma canggih yang menjadi otak di balik robot-robot ini. Meskipun pasar China diperkirakan akan lebih besar pada tahap awal, dalam jangka panjang, kedua negara diprediksi akan memiliki pangsa pasar yang sama besar. Kompetisi ini tidak hanya akan mendorong inovasi tetapi juga mempercepat pengembangan teknologi secara keseluruhan. Penetrasi pasar massal untuk robot humanoid diperkirakan akan terjadi setelah tahun 2040, didorong oleh adopsi luas di rumah tangga, yang akan mengubah cara kita hidup dan bekerja.

(fyk/afr)