Daftar Isi
Jakarta – Miliarder teknologi visioner dan salah satu tokoh paling kontroversial di dunia, Elon Musk, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, bos Tesla, SpaceX, dan pemilik platform X (dahulu Twitter) itu secara terbuka mengakui keberadaan anak ke-13 yang selama ini menjadi subjek spekulasi. Namun, pengakuan ini tidak datang tanpa drama, melainkan dibarengi dengan langkah hukum drastis berupa gugatan hak asuh penuh terhadap sang ibu, influencer konservatif Ashley St. Clair, atas putra mereka yang diberi nama Romulus.
Perselisihan pribadi yang cepat berubah menjadi konsumsi publik ini meledak di platform X pada Senin (12/1), mengguncang jagat maya dan memicu perdebatan sengit. Musk menyatakan niatnya untuk mengajukan gugatan hak asuh penuh atas Romulus, putra mereka yang baru berusia satu tahun. Alasan di balik langkah ekstrem ini adalah serangkaian unggahan St. Clair yang menunjukkan perubahan sikap mendalam terhadap komunitas transgender, sebuah isu yang sangat sensitif bagi Musk, terutama mengingat hubungan retaknya dengan putrinya sendiri yang transgender, Vivian Wilson.
Titik Balik Ashley St. Clair
Ketegangan ini bermula ketika Ashley St. Clair, yang dikenal luas karena konten sayap kanan yang kental dan seringkali kontroversial, mengunggah permintaan maaf terbuka di akun X-nya. Dalam unggahan tersebut, St. Clair menyatakan rasa bersalah yang mendalam atas "transfobia terang-terangan" yang pernah ia suarakan di masa lalu. Perubahan sikap ini mengejutkan banyak pengikutnya, mengingat rekam jejaknya sebagai penentang keras isu-isu gender progresif.
Yang membuat situasi semakin pelik, St. Clair secara khusus menyebut putri transgender Elon Musk, Vivian Wilson, sebagai salah satu alasan utama di balik rasa bersalahnya. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa pernyataan-pernyataannya di masa lalu mungkin telah menambah luka bagi kakak perempuan dari putranya, Romulus. "Saya merasa sangat bersalah atas peran saya selama ini. Dan bahkan lebih bersalah bahwa hal-hal yang pernah saya katakan di masa lalu mungkin telah menyebabkan saudara perempuan putra saya lebih banyak rasa sakit," tulis St. Clair dalam unggahannya yang viral. Ia melanjutkan, "Saya tidak tahu bagaimana menebus banyak hal ini, tetapi saya telah berusaha sangat keras secara pribadi untuk belajar + membela mereka yang berada di komunitas trans."
Sikap baru St. Clair ini merupakan perubahan 180 derajat yang mencolok. Pada tahun 2021, ia bahkan pernah menulis buku anak-anak berjudul ‘Elephants Are Not Birds’. Buku tersebut, yang ditujukan untuk audiens muda, secara eksplisit menolak konsep penerimaan transgender dan mempromosikan pandangan konservatif tentang identitas gender. Pergeseran ideologi St. Clair dari penentang vokal menjadi pendukung komunitas trans menjadi inti pemicu reaksi keras dari Elon Musk.
Elon Musk dan Sikap Terhadap Identitas Gender
Di sisi lain, Elon Musk dikenal sangat vokal dan seringkali kontroversial dalam menentang apa yang ia sebut sebagai "gender medicine" untuk anak di bawah umur. Musk berulang kali menyatakan pandangannya bahwa tindakan medis terkait transisi gender pada anak-anak terlalu dini dan dapat merugikan. Ia bahkan memiliki hubungan yang retak dengan putrinya, Vivian Wilson, setelah Vivian memutuskan untuk mengubah identitas gendernya dan secara hukum mengganti nama serta jenis kelaminnya. Musk pernah secara terang-terangan menyebut putrinya telah "tewas" akibat "woke mind virus"—istilah yang sering ia gunakan untuk mengkritik kebijakan dan ideologi progresif yang dianggapnya merusak nilai-nilai tradisional.
Melihat unggahan St. Clair yang menunjukkan empati dan dukungan terhadap komunitas transgender, Musk segera melontarkan tuduhan bahwa St. Clair mungkin memiliki niat untuk melakukan transisi pada Romulus, anak mereka yang masih bayi. "Saya akan mengajukan hak asuh penuh hari ini, mengingat pernyataannya yang menyiratkan bahwa dia mungkin akan melakukan transisi pada anak laki-laki berusia satu tahun," tulis Musk, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terhadap masa depan identitas gender putranya.

Menariknya, dalam unggahan permintaan maafnya, St. Clair sebenarnya tidak memberikan indikasi eksplisit atau menyatakan niat akan melakukan tindakan medis atau hormonal terhadap Romulus. Pernyataannya lebih condong pada ekspresi penyesalan pribadi dan keinginan untuk belajar serta mendukung komunitas trans, bukan tentang intervensi langsung terhadap anaknya. Namun, bagi Musk, perubahan sikap St. Clair sudah cukup untuk memicu kekhawatiran serius yang mengancam pandangan dunianya dan keputusannya untuk mengambil tindakan hukum. Konflik ini tidak hanya menjadi pertarungan hak asuh, tetapi juga refleksi dari perdebatan sosial yang lebih luas mengenai identitas gender, peran orang tua, dan kebebasan berekspresi di era digital.
Drama Paternitas dan Bantuan Finansial
Identitas Romulus sebagai anak Musk pertama kali terungkap ke publik tahun lalu, sekitar lima bulan setelah kelahirannya. Pengungkapan ini menambah daftar panjang anak-anak Musk dan semakin memperumit kehidupan pribadinya yang sudah sering menjadi sorotan. Saat itu, Musk sempat meragukan status paternitasnya, sebuah klaim yang menambah ketegangan dalam hubungannya dengan St. Clair. Meskipun demikian, Musk mengaku telah mengirimkan dana sebesar USD 2,5 juta (sekitar Rp 39 miliar) dan tunjangan tahunan sebesar USD 500 ribu kepada St. Clair sebagai bentuk dukungan finansial.
Namun, St. Clair membalas klaim Musk dengan tuduhan serius. Ia menyatakan bahwa Musk menolak untuk melakukan tes paternitas sebelum kelahiran Romulus, sebuah tindakan yang menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan Musk dalam mengakui anak tersebut sejak awal. Lebih lanjut, St. Clair mengklaim bahwa Musk menggunakan dukungan finansial sebagai alat kontrol dan leverage dalam hubungan mereka. Ia menuduh Musk memotong sebagian besar dana tersebut untuk menghukumnya karena dianggap "tidak patuh" atau bertindak tidak sesuai dengan keinginan Musk. Perselisihan finansial ini menyoroti dinamika kekuasaan yang tidak seimbang antara miliarder tersebut dan sang influencer, serta memperkeruh masalah hak asuh yang sedang berlangsung.
Dokumen pengadilan, yang bocor ke publik, turut mengkonfirmasi beberapa detail terkait kelahiran Romulus dan pengakuan Musk. Informasi ini semakin menegaskan bahwa kehidupan pribadi Musk, terutama yang berkaitan dengan keluarganya, nyaris tidak pernah lepas dari intrik dan perhatian media. Kasus Romulus ini bukan hanya tentang pengakuan anak, tetapi juga tentang perebutan kontrol, kekuasaan, dan perbedaan ideologi yang mendalam antara kedua belah pihak.
Daftar Panjang Keturunan Elon Musk
Jika dikonfirmasi secara hukum dan dihitung berdasarkan jumlah anak yang pernah dilahirkan dari dirinya, Romulus akan menjadi anak ke-13 Elon Musk. Kehidupan keluarga Musk memang dikenal sangat kompleks dan multi-generasi. Sejauh ini, Musk memiliki anak dari empat wanita berbeda, mencerminkan pola hidup pribadinya yang tidak konvensional.
Berikut adalah daftar anak-anak Elon Musk yang diketahui publik:
-
Dari Justine Wilson (Menikah 2000-2008):
- Nevada Alexander Musk: Lahir pada tahun 2002, namun meninggal dunia karena Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS) pada usia 10 minggu. Kematian Nevada sangat memengaruhi Musk dan Justine.
- Griffin Musk dan Vivian Jenna Wilson (sebelumnya Xavier Alexander Musk): Lahir pada tahun 2004, adalah anak kembar. Vivian adalah putri transgender Musk yang hubungannya dengan sang ayah dikabarkan renggang.
- Kai Musk, Saxon Musk, dan Damian Musk: Lahir pada tahun 2006, adalah anak kembar tiga.
-
Dari Claire "Grimes" Boucher (Berhubungan 2018-2021, kemudian on-off):

- X Æ A-Xii (X): Lahir pada Mei 2020. Namanya yang unik menjadi sensasi global.
- Exa Dark Sideræl Musk (Y): Lahir pada Desember 2021 melalui ibu pengganti.
- Techno Mechanicus (Tau): Lahir pada tahun 2023, juga melalui ibu pengganti, dan keberadaannya baru terungkap kemudian.
-
Dari Shivon Zilis (Eksekutif Neuralink, dikonfirmasi 2021):
- Azure dan Strider: Anak kembar yang lahir pada akhir 2021, beberapa minggu sebelum kelahiran Exa Dark Sideræl dari Grimes. Keberadaan mereka baru terungkap pada tahun 2022.
-
Dari Ashley St. Clair (Dikonfirmasi 2023):
- Romulus: Lahir pada tahun 2023, anak ke-13 Musk yang keberadaannya dikonfirmasi dalam konteks sengketa hak asuh ini.
Dengan demikian, Musk kini memiliki 11 anak yang masih hidup dan 12 anak yang pernah dilahirkan (termasuk Nevada yang telah meninggal). Kehidupan keluarga yang besar dan beragam ini menambah lapisan kompleksitas pada citra publik Musk yang sudah penuh dengan inovasi teknologi dan kontroversi.
Sengketa Hak Asuh Lain dan Sorotan Publik
Hingga berita ini diturunkan, kasus hak asuh anak antara Elon Musk dan Ashley St. Clair terkait Romulus masih bergulir di pengadilan, menarik perhatian luas dari media dan publik. Perkembangan kasus ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan, mengingat profil tinggi kedua belah pihak dan isu-isu sensitif yang melingkupinya.
Selain kasus dengan St. Clair, Musk juga tengah menghadapi sengketa hak asuh terpisah dengan mantan pasangannya, musisi Grimes, terkait tiga anak mereka: X Æ A-Xii, Exa Dark Sideræl, dan Techno Mechanicus. Konflik dengan Grimes juga telah menjadi konsumsi publik, dengan Grimes mengungkapkan keprihatinannya atas kehidupan anak-anaknya. Pada Maret 2025, Grimes secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas fakta bahwa kehidupan anak-anaknya terus-menerus menjadi konsumsi publik dan berada di bawah pengawasan media. Ia menyebut hal tersebut sebagai masalah serius yang terus ia pikirkan solusinya, mencerminkan keinginan untuk melindungi privasi dan kesejahteraan anak-anaknya dari sorotan yang tak henti-hentinya.
Rentetan sengketa hak asuh ini menggarisbawahi tantangan unik yang dihadapi oleh figur publik dengan kekayaan dan pengaruh besar seperti Elon Musk. Setiap aspek kehidupan pribadinya, termasuk dinamika keluarga dan pandangan pribadinya, dapat dengan cepat berubah menjadi berita utama dan memicu perdebatan global. Kasus Romulus ini bukan hanya pertarungan hukum, melainkan juga cerminan dari benturan ideologi, nilai-nilai pribadi, dan kompleksitas hubungan modern di era digital.
(afr/afr)

