BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) memegang peranan dominan dalam kinerja ekspor sepeda motor Indonesia dalam bentuk utuh atau Completely Built Up (CBU) pada tahun 2025. Pernyataan ini diungkapkan oleh Executive Vice President Director PT Astra Honda Motor (AHM), Thomas Wijaya, di Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026). Ia merinci bahwa pada tahun sebelumnya, total ekspor motor CBU mencapai 223 ribu unit, sementara ekspor dalam bentuk Completely Knocked Down (CKD) menyentuh angka hampir 1 juta unit. Thomas juga menyoroti pertumbuhan signifikan dalam delapan tahun terakhir, dengan total ekspor CBU yang telah mencapai hampir 2,5 juta unit.
Namun, data terbaru dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyajikan gambaran yang sedikit berbeda mengenai angka ekspor motor CBU ‘Made in Indonesia’ pada tahun 2025. Totalnya hanya mencapai 544.133 unit, yang menandakan penurunan sekitar 4,95 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang tercatat sebanyak 572.506 unit. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga volume ekspor produk jadi, meskipun secara keseluruhan industri otomotif roda dua Indonesia terus menunjukkan geliatnya di pasar global.
Berbeda dengan tren ekspor motor CBU, sektor komponen menunjukkan performa yang luar biasa. AISI mencatat bahwa ekspor motor dalam bentuk Completely Knocked Down (CKD) mencapai angka fantastis sebesar 8.139.894 unit. Lebih mengesankan lagi, pengiriman suku cadang atau part by part menembus angka 138.455.487 unit. Signifikansi dari angka-angka ini sangat jelas: meskipun perakitan unit utuh di luar negeri mungkin mengalami penurunan atau pergeseran, permintaan pasar global terhadap komponen motor yang diproduksi di Indonesia tetap sangat tinggi dan terus berkembang. Hal ini menggarisbawahi kekuatan Indonesia sebagai basis produksi komponen otomotif yang kompetitif dan diminati.
Di sisi lain, PT Astra Honda Motor (AHM) bersiap untuk mencetak sejarah besar dalam industri otomotif tanah air. Memasuki usia 55 tahun keberadaannya di Indonesia, pabrikan berlambang sayap mengepak ini menargetkan pencapaian kumulatif produksi motor sebanyak 100 juta unit. Thomas Wijaya mengungkapkan harapannya agar tahun ini menjadi tahun yang diberkahi untuk dapat memberikan kontribusi mobilitas bagi konsumen di Indonesia melalui produksi 100 juta unit motor selama 55 tahun operasionalnya. Target ambisius ini tidak hanya mencerminkan skala produksi yang masif, tetapi juga komitmen jangka panjang AHM untuk terus melayani pasar domestik.
Thomas menambahkan bahwa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, AHM telah melakukan ekspansi dan pengembangan produk secara agresif. Nilai investasi yang digelontorkan mencapai puluhan triliun rupiah. Investasi besar ini difokuskan pada pengembangan teknologi dan inovasi produk sepeda motor yang secara spesifik dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Transformasi ini terlihat jelas dari pergeseran tren pasar, mulai dari dominasi motor bebek di masa lalu hingga penguasaan pasar oleh skutik yang terjadi saat ini. Fleksibilitas dan kemampuan adaptasi AHM dalam merespons perubahan selera konsumen menjadi kunci keberhasilan dalam mempertahankan posisinya di pasar yang dinamis.
"Kemudian juga dalam masa 15 tahun ini, tentu investasi yang kita juga lakukan juga sudah ada puluhan triliun, mungkin angka pastinya tidak bisa saya sebutkan, tapi sudah puluhan triliun selama 15 tahun ini kita juga investasikan untuk mengembangkan produk-produk atau produk-produk sepeda motor di Indonesia," ujar Thomas, mengkonfirmasi skala investasi yang luar biasa demi inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai tren ekspor motor CBU Indonesia, berikut adalah data historis dalam enam tahun terakhir:
- 2026: 52.924 unit (data Januari)
- 2025: 544.133 unit
- 2024: 572.506 unit
- 2023: 570.004 unit
- 2022: 743.551 unit
- 2021: 803.931 unit
- 2020: 700.392 unit
Analisis data ini menunjukkan adanya fluktuasi dalam volume ekspor motor CBU. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2021, terjadi tren penurunan yang signifikan pada tahun-tahun berikutnya, termasuk pada tahun 2025. Namun, penting untuk diingat bahwa angka ini hanya mencakup ekspor dalam bentuk utuh. Kontribusi besar dari ekspor komponen dan CKD, seperti yang dilaporkan oleh AISI, menunjukkan bahwa industri sepeda motor Indonesia tetap menjadi pemain penting di panggung global, baik dalam penyediaan produk jadi maupun komponen vital.
Pergeseran tren ekspor ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan ekspor, dinamika pasar global, persaingan dari produsen lain, serta strategi penetrasi pasar dari masing-masing prinsipal. Misalnya, beberapa negara mungkin memilih untuk meningkatkan kapasitas produksi domestik mereka, yang berdampak pada penurunan permintaan impor motor CBU. Di sisi lain, negara-negara tersebut mungkin masih mengandalkan Indonesia sebagai sumber komponen atau bahkan sebagai basis perakitan (CKD) untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal mereka.
Peran AHM yang signifikan dalam ekspor motor CBU menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama yang tidak hanya melayani pasar domestik yang besar, tetapi juga berkontribusi pada neraca perdagangan Indonesia melalui aktivitas ekspornya. Ketergantungan pada satu prinsipal untuk sebagian besar ekspor CBU juga bisa menjadi indikator kuat mengenai kekuatan merek dan daya saing produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Namun, penurunan dalam ekspor CBU juga menjadi sinyal penting bagi industri otomotif Indonesia. Hal ini dapat mendorong produsen untuk lebih fokus pada peningkatan nilai tambah produk, diversifikasi pasar ekspor, atau bahkan memperkuat basis produksi komponen dan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi negara perakit, tetapi juga pusat inovasi dan produksi bernilai tinggi. Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi industri seperti AISI, dan para produsen seperti AHM akan menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan peluang yang ada di pasar global.
Masa depan ekspor motor Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk beradaptasi dengan perubahan lanskap global. Investasi dalam riset dan pengembangan, peningkatan kualitas produk, efisiensi produksi, serta pemahaman mendalam tentang kebutuhan pasar internasional akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang. Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendukung industri ekspor, seperti insentif fiskal, perjanjian perdagangan bebas, dan peningkatan infrastruktur logistik, juga memainkan peran krusial dalam mendorong daya saing industri otomotif Indonesia di kancah internasional. Dengan fondasi yang kuat dalam produksi komponen dan komitmen investasi yang berkelanjutan dari prinsipal besar seperti AHM, industri sepeda motor Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan berkontribusi pada perekonomian nasional, meskipun tantangan dalam ekspor produk jadi tetap perlu diatasi secara strategis.
(riar/din)

