Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat sekaligus mantan Direktur CIA, melontarkan kritik pedas terhadap strategi Presiden Donald Trump dalam menangani konflik bersenjata dengan Iran. Menurut Panetta, krisis energi global yang kini melumpuhkan pasar minyak dunia adalah buah dari "naivitas" dan kegagalan perencanaan strategis yang dilakukan oleh Trump sendiri. Di tengah berkecamuknya perang yang telah memasuki minggu ketiga, Panetta menilai Trump terjebak dalam posisi sulit tanpa jalan keluar yang jelas, sebuah situasi yang menurutnya mencerminkan ketidakdewasaan dalam memimpin negara.
Konflik yang meletus pada 28 Februari lalu awalnya dipandang oleh pemerintahan Trump sebagai kesempatan untuk memberikan "pukulan telak" terhadap Iran. Serangan udara mendadak yang dilancarkan Israel berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, optimisme awal itu kini berbalik menjadi mimpi buruk bagi Washington. Alih-alih runtuh, rezim Iran justru tampil lebih tangguh di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah, yang dikenal memiliki garis kebijakan jauh lebih keras.
Data di lapangan menunjukkan dampak yang mengerikan dari konflik ini. Sebanyak tiga belas personel militer AS telah gugur, sementara laporan dari otoritas kesehatan Iran menyebutkan korban jiwa di pihak mereka mencapai lebih dari 1.400 orang. Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang masif. Angka jajak pendapatnya terus merosot seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu keresahan publik dan potensi ancaman resesi global. Koalisi pemilu yang selama ini mendukungnya mulai menunjukkan retakan, sementara Trump sendiri terlihat frustrasi dengan pemberitaan media, sering kali memberikan pernyataan yang simpang siur mengenai tujuan akhir dari operasi militer tersebut.
Leon Panetta, sosok yang berpengalaman dalam mengawasi operasi intelijen tingkat tinggi termasuk misi penumpasan Osama bin Laden, menyoroti satu kesalahan fatal dalam kalkulasi Trump: pengabaian terhadap Selat Hormuz. Selat ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana seperlima dari pasokan minyak global melintasinya setiap hari. Dalam setiap diskusi keamanan nasional yang pernah diikuti Panetta selama masa pemerintahan Clinton dan Obama, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran selalu menjadi skenario terburuk yang harus diantisipasi.
"Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi," ujar Panetta dalam sebuah percakapan telepon. Menurutnya, Trump memiliki kecenderungan untuk percaya bahwa jika ia terus meneriakkan keinginannya, maka realitas akan mengikuti. "Itu adalah cara berpikir anak-anak, bukan cara seorang presiden," tambahnya. Panetta menegaskan bahwa para penasihat keamanan nasional seharusnya sangat sadar akan kemampuan Iran dalam melakukan blokade energi. Namun, tampaknya pemerintahan Trump menganggap remeh potensi tersebut atau terlalu yakin bahwa perang akan berakhir dalam waktu singkat.
Akibat dari kelalaian ini, Iran kini secara efektif telah menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas agresi AS dan Israel. Langkah ini memicu kekacauan di pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak tajam, menciptakan ketidakpastian ekonomi yang tidak hanya merugikan Amerika Serikat, tetapi juga mengguncang ekonomi dunia. Bagi Panetta, ini adalah krisis yang "diciptakan sendiri" (self-inflicted) oleh Trump. Ia berargumen bahwa tidak sulit memahami kerentanan Selat Hormuz bagi ekonomi AS jika seseorang memutuskan untuk berperang dengan Iran.
Kondisi semakin rumit karena Trump tampak tidak memiliki strategi keluar (exit strategy) yang kredibel. Trump ingin menyatakan kemenangan dan mengakhiri operasi militer agar popularitasnya tidak terus tergerus, namun ia tidak memiliki dasar untuk melakukan gencatan senjata selama Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz. Sementara itu, Trump sendiri enggan mengerahkan pasukan darat secara besar-besaran, meski telah mengirim ribuan marinir ke wilayah Timur Tengah. Laporan mengenai rencana blokade atau pendudukan Pulau Kharg di Iran pun masih menggantung tanpa konfirmasi resmi, menunjukkan keragu-raguan sang presiden.
Situasi ini diperparah oleh rusaknya hubungan diplomatik antara Trump dan sekutu tradisionalnya. Ketika Trump mencoba meminta bantuan internasional untuk menjaga Selat Hormuz agar tetap terbuka, ia justru melontarkan hinaan kepada negara-negara NATO, menyebut mereka sebagai "pengecut" dan "macan kertas". Pendekatan unilateral yang tidak berperasaan ini kini menjadi bumerang. Panetta mencatat bahwa dalam merencanakan perang, sangat krusial untuk menggalang dukungan dari sekutu. "Kita telah belajar pelajaran itu sejak Perang Dunia Kedua, namun Trump justru mengasingkan pihak-pihak yang sekarang sangat ia butuhkan untuk membantunya keluar dari kesulitan," ujar Panetta sambil menyindir dengan ungkapan, "Karma akan segera datang."
Saat ini, Panetta menyarankan agar Trump segera menghentikan angan-angannya dan menghadapi kenyataan pahit. Satu-satunya jalan yang tersisa, menurut mantan direktur CIA tersebut, adalah tindakan militer yang lebih tegas: mengerahkan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker minyak, menetralisir pertahanan Iran di sepanjang pesisir, dan secara fisik membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Panetta mengakui bahwa opsi ini akan memperluas cakupan perang dan hampir pasti akan menimbulkan korban jiwa tambahan, baik dari pihak militer AS maupun rakyat Iran. Namun, ia melihat tidak ada alternatif lain. Jika Trump gagal mengambil langkah konkret untuk mengamankan selat tersebut, maka ia akan menghadapi kegagalan total yang akan membekas pada sejarah kepresidenannya. Harga bahan bakar akan terus melonjak, inflasi akan merajalela, dan risiko resesi global akan menjadi ancaman nyata yang harus ditanggung oleh rakyat Amerika.
"Dia berada dalam posisi yang sangat sulit saat ini, tetapi tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas posisinya selain Donald Trump," tegas Panetta. Baginya, perang ini bukan lagi sekadar soal target militer, melainkan ujian bagi kredibilitas Amerika Serikat sebagai kekuatan global. Apakah AS mampu mengatasi kekacauan yang telah dimulai ini, atau apakah Trump akan membiarkan kegagalan ini berlarut-larut hingga merusak fondasi ekonomi negaranya sendiri?
Pada akhirnya, Panetta menekankan bahwa jika Trump ingin mendapatkan ruang untuk negosiasi gencatan senjata, ia harus terlebih dahulu memiliki posisi tawar yang kuat di lapangan. Tanpa kendali atas Selat Hormuz, Trump hanyalah pemimpin yang terjebak dalam retorika kosong, sementara dunia menanggung harga mahal dari kebijakan luar negeri yang dianggap ceroboh. Krisis ini menjadi pengingat keras bahwa dalam geopolitik Timur Tengah, setiap langkah tanpa kalkulasi matang akan memicu dampak domino yang tidak hanya menghancurkan musuh, tetapi juga sang inisiator perang itu sendiri.

