0

Efek Punya Keponakan, Abidzar Al Ghifari Langsung Mau Belanja Baju Anak

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar almarhum Ustaz Jefri Al Buchori. Kabar gembira datang dari pasangan Adiba Khanza dan Egy Maulana Vikri yang baru saja dikaruniai buah hati pertama mereka, seorang putri cantik bernama Elara Mahakalila. Kehadiran Elara tidak hanya membawa sukacita bagi kedua orang tuanya, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga, tak terkecuali sang paman, Abidzar Al Ghifari. Aktor muda yang dikenal dengan perannya dalam berbagai sinetron dan film ini tak bisa menyembunyikan antusiasmenya saat berbagi cerita tentang keponakan pertamanya tersebut.

"Ya senanglah, pasti senang. Alhamdulillah cuman emang masih belum berani buat gendong segala macam," ungkap Abidzar dengan senyum lebar saat ditemui di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, belum lama ini. Nada suaranya menunjukkan kebahagiaan yang tulus, namun di balik itu terselip sedikit rasa gugup dan kehati-hatian khas seorang paman yang baru pertama kali merasakan peran tersebut. Ia mengakui bahwa meskipun perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedikit ragu, momen ini adalah sebuah anugerah yang sangat ia syukuri. Kehadiran Elara menjadi warna baru dalam dinamika keluarga yang selama ini sudah hangat, kini bertambah dengan kehadiran sosok mungil yang membawa sejuta tawa dan kehangatan.

Abidzar, yang merupakan anak kedua dari almarhum Ustaz Jefri Al Buchori dan Umi Pipik Dian Irawati, menuturkan bahwa kehadiran baby Elara membawa perubahan signifikan dalam kehidupannya sehari-hari. Ia kini lebih sering teringat akan keponakannya, bahkan ketika sedang menjalani aktivitas di luar rumah. "Maksudnya apa-apa jadi kepikiran. Misal lagi jalan-jalan nih, lihat baju anak kecil lucu-lucu, pengin beliin," ujarnya dengan antusias. Cerita ini menggambarkan bagaimana naluri kebapakan atau keponakan mulai tumbuh dalam dirinya. Tiba-tiba saja, toko-toko pakaian anak yang tadinya mungkin hanya dilewati begitu saja, kini menjadi tempat yang menarik perhatiannya. Ia mulai membayangkan pakaian apa yang cocok untuk Elara, warna apa yang lucu, dan motif apa yang menggemaskan. Perasaan ingin memberikan yang terbaik untuk keponakan tercinta memang seringkali muncul begitu saja, tanpa disadari.

Namun, di balik keinginan kuat untuk memanjakan keponakannya, Abidzar mengaku masih merasa belum sepenuhnya percaya diri untuk menggendong baby Elara. Perasaan ini muncul bukan karena ia tidak sayang atau tidak ingin, melainkan karena ia menyadari betapa rentannya kondisi seorang bayi yang baru lahir. Ia sangat berhati-hati dan tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun. "Nantilah, belum percaya diri karena kan gue juga aktif merokok. Jadi mendingan gak usahlah, entaran," jelas Abidzar dengan jujur. Keputusan ini menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawabnya. Ia memahami bahwa sebagai seorang perokok, ada potensi risiko penularan bau atau zat yang tidak baik bagi kesehatan bayi yang masih sangat sensitif. Oleh karena itu, ia memilih untuk menunda momen menggendong Elara hingga ia merasa benar-benar siap dan dapat memastikan tidak ada risiko kesehatan bagi sang keponakan. Hal ini patut diapresiasi, karena menunjukkan kesadaran Abidzar akan pentingnya kesehatan bayi dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga.

Meskipun belum berani menggendong, Abidzar tetap merasakan kebahagiaan yang luar biasa dari sekadar melihat dan berada di dekat Elara. Ia menggambarkan suasana rumah kini terasa berbeda dan jauh lebih hangat sejak kehadiran sang bayi. "Iya, jadi seru, lucu, happy-lah," ungkapnya dengan nada penuh syukur. Setiap momen bersama Elara, sekecil apapun itu, terasa berharga baginya. Senyum mungil Elara, celotehannya yang masih belum jelas, bahkan tangisannya, semuanya menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Kehadiran bayi memang memiliki kekuatan magis untuk menyatukan keluarga dan menciptakan suasana yang penuh cinta dan keceriaan.

Abidzar juga menambahkan bahwa ia tidak terlalu sering berkunjung ke rumah sang kakak, Adiba, dalam beberapa waktu terakhir. Alasannya pun sangat logis dan menunjukkan perhatiannya terhadap kondisi Elara. "Meski begitu, Abidzar mengaku tidak terlalu sering berkunjung ke rumah sang kakak karena kondisi bayi yang masih kecil dan belum diperbolehkan sering keluar rumah," jelasnya. Ia memahami bahwa bayi yang baru lahir memerlukan lingkungan yang steril dan tenang, serta belum memiliki kekebalan tubuh yang kuat untuk sering terpapar keramaian atau perubahan lingkungan. Oleh karena itu, ia memilih untuk membatasi kunjungannya demi kesehatan dan kenyamanan Elara. Ia lebih memilih untuk menunggu hingga Elara tumbuh sedikit lebih besar dan kondisinya lebih stabil, baru kemudian ia akan lebih sering menghabiskan waktu bersama sang keponakan tercinta.

Perasaan memiliki keponakan pertama memang membawa dampak emosional yang mendalam bagi banyak orang, dan Abidzar Al Ghifari adalah salah satunya. Perubahan dalam pandangan hidup, keinginan untuk berbagi kebahagiaan, dan rasa tanggung jawab yang timbul adalah hal-hal positif yang seringkali menyertai momen ini. Bagi Abidzar, momen ini tidak hanya sekadar memiliki anggota keluarga baru, tetapi juga sebuah pengalaman yang membentuk karakternya. Ia belajar tentang kesabaran, kehati-hatian, dan pentingnya menjaga kesehatan orang-orang terkasih, terutama bayi yang rapuh.

Kebahagiaan Abidzar ini juga semakin terasa ketika mengingat kembali bagaimana ia dulu juga pernah merasakan masa-masa menjadi seorang "anak kecil" di tengah keluarga. Kini, ia harus beradaptasi dengan peran baru sebagai seorang paman. Peran ini tidak kalah pentingnya, karena seorang paman juga memiliki peran dalam memberikan kasih sayang, dukungan, dan contoh yang baik bagi keponakan. Meskipun ia masih muda dan memiliki kesibukan di dunia hiburan, komitmennya untuk hadir dalam kehidupan Elara sudah terlihat jelas. Keinginannya untuk membelikan baju anak-anak adalah bukti nyata dari rasa sayangnya yang mulai tumbuh.

Dalam wawancara tersebut, Abidzar juga sempat menyentuh sedikit tentang kehidupannya sendiri. Meskipun ia mengakui kesibukannya dan juga kebiasaan merokoknya, namun ia menunjukkan kesadaran dan kemauan untuk beradaptasi demi keponakan. Ini adalah sebuah langkah positif yang menunjukkan kedewasaan dan kepeduliannya. Ia tidak menutupi kekurangannya, tetapi justru menjadikannya pertimbangan dalam bersikap. Sikap jujur seperti ini sangat penting, terutama ketika berhadapan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan bayi.

Lebih lanjut, Abidzar juga menyampaikan bahwa ia sangat menantikan momen ketika ia bisa dengan leluasa menggendong Elara. Ia membayangkan betapa bahagianya nanti ketika ia bisa bermain dan berinteraksi langsung dengan sang keponakan. Momen-momen seperti ini adalah fondasi penting dalam membangun kedekatan antara paman dan keponakan. Ikatan yang kuat antara anggota keluarga akan memberikan dampak positif bagi perkembangan emosional dan sosial anak di masa depan.

Kehadiran Elara tidak hanya membawa kebahagiaan bagi Abidzar dan keluarganya, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai keluarga. Di tengah kesibukan dunia modern yang serba cepat, momen-momen seperti ini mengingatkan kita untuk selalu meluangkan waktu bagi orang-orang terkasih dan merayakan setiap kebahagiaan bersama. Kabar bahagia ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus menjaga keharmonisan keluarga dan merayakan setiap momen penting dalam kehidupan.

Sebagai penutup, kehadiran Elara Mahakalila di tengah keluarga besar Abidzar Al Ghifari telah membawa gelombang kebahagiaan yang tak terhingga. Perasaan Abidzar yang antusias, sedikit gugup, namun penuh kasih sayang, menunjukkan betapa berartinya peran baru ini baginya. Keinginannya untuk segera membelikan baju anak-anak adalah simbol cinta yang mulai ia curahkan. Semoga Elara tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan membanggakan keluarga, serta membawa lebih banyak lagi kebahagiaan bagi Abidzar dan seluruh anggota keluarga.