BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Selebgram Dilan Janiyar belum lama ini melakukan perjalanan menyentuh hati ke Aceh, sebuah provinsi yang baru saja dilanda bencana banjir dan longsor yang dahsyat. Kedatangan Dilan ke Tanah Rencong bukan sekadar kunjungan biasa; ia membawa misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan bagi para korban yang terdampak langsung oleh musibah tersebut. "Di Aceh itu aku cuma ngasih bantuan saja sama jenguk saudaraku yang ada di Aceh juga, karena bapak ibuku orang Aceh asli. Cuma kan aku lahir besar di Yogya. Jadi aku masih ada keterikatan batin ya, apa pun yang mereka rasakan pasti aku juga merasakan, meskipun aku jauh di Jakarta ataupun di Yogya," ujar Dilan Janiyar saat ditemui awak media di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada hari kemarin.
Ikatan emosional Dilan dengan tanah kelahirannya, Aceh, sangatlah kuat. Meskipun lahir dan besar di Yogyakarta, darah Aceh yang mengalir dalam dirinya membuatnya turut merasakan kepedihan dan penderitaan yang dialami oleh para kerabat serta masyarakat di sana. Ia menjelaskan bahwa kedua orang tuanya saat bencana terjadi tidak berada di Aceh. Namun, keluarga besar dari pihak orang tuanya masih banyak yang bermukim di sana dan merasakan dampak langsung dari banjir bandang tersebut. "Orang tua gak di sana sih, cuma saudara-saudara dari orang tua kan masih banyak yang di Aceh. Kayak ikut merasakan betapa pedihnya pada saat banjir itu," ungkap Dilan dengan nada prihatin.
Dilan kemudian menceritakan secara detail kondisi mencekam yang ia saksikan di lokasi bencana. Ia menggambarkan betapa derasnya arus banjir yang mengakibatkan banyak rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan tak sedikit yang hancur lebur. Barang-barang berharga milik warga, yang telah mereka upayakan untuk diselamatkan, ikut hanyut terbawa arus yang tak terbendung. "Kayak misalnya mereka sudah ngamanin sertifikat-sertifikat ditaruh di atas lemari, tapi karena kehantam arus, lemarinya ambruk jadi jatuh semua dan gak tahu ke mana tuh sertifikat sekolah, ijazah gitu-gitu. Rumah gak tahu deh pokoknya sudah hanyut semua," tuturnya, menggambarkan kehancuran yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Lebih lanjut, Dilan menekankan betapa berbahayanya banjir yang melanda Aceh kali ini, bukan hanya karena volumenya yang besar, tetapi juga karena arus yang sangat deras. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kondisi geografis perkampungan berubah drastis menjadi genangan luas yang dipenuhi lumpur tebal, menyerupai laut. "Ada juga yang kegeret hampir ketancep tiang-tiang pohon. Jadi memang sebenarnya yang berbahaya dari banjir Aceh kemarin itu lebih ke arusnya. Terus debit volumenya gede, dan itu rata banget. Satu perkampungan yang dulunya perkampungan sekarang jadi kayak genangan laut, lumpur semua. Sedih, kasihan," ujar Dilan dengan nada getir.
Meskipun begitu, Dilan bersyukur bahwa di lokasi yang ia kunjungi, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, ia menemukan banyak korban yang mengalami luka-luka. Kondisi ini membuatnya memfokuskan bantuan pada aspek pengobatan. "Kalau yang meninggal gak ada alhamdulillah. Lebih ke luka-luka itu lumayan banyak. Makanya aku bantu sebisa aku buat beli obat-obatan. Soalnya orang-orang lebih fokus ke makanan, jadi aku bantuin dari segi medication-nya," jelasnya.
Dalam hal penyaluran bantuan, Dilan Janiyar memilih bentuk uang tunai. Ia berpendapat bahwa bantuan dalam bentuk uang lebih fleksibel dan dapat digunakan oleh para korban sesuai dengan kebutuhan mendesak mereka. "Aku bentuk uang sih, karena kalau uang lebih fleksibel, bisa dijadiin apa pun yang mereka butuh," katanya.
Dilan juga menyoroti kebutuhan mendesak para korban, terutama terkait nutrisi dan sanitasi yang memadai. Ia menekankan pentingnya asupan nutrisi yang baik untuk mencegah penyebaran penyakit di tengah kondisi pasca-bencana yang rentan. "Mereka butuh nutrisi yang bagus, karena di era kayak gitu benar-benar rawan sakit. Aku saja ke sana cuma dua hari, itu saja sudah langsung sakit. Hawanya berdebu, lumpurnya tebal banget," bebernya.
Selain nutrisi, Dilan juga menggarisbawahi urgensi penyediaan air bersih, pakaian bersih, serta fasilitas sanitasi yang layak. Ia melihat bahwa kondisi lumpur yang merata di mana-mana membuat kebutuhan akan kebersihan menjadi sangat krusial untuk pemulihan kesehatan para korban. "Nutrisinya harus bagus biar gak gampang sakit dan cepat recovery. Terus sanitasi juga, karena semuanya sudah lumpur di mana-mana. Baju bersih, toilet, air bersih, itu penting banget," imbuhnya, menekankan betapa vitalnya elemen-elemen dasar ini bagi kelangsungan hidup dan kesehatan para pengungsi.
Ketika ditanya mengenai lokasi pasti daerah yang ia bantu, Dilan mengaku lupa detailnya karena ia sepenuhnya mempercayakan proses penyaluran kepada pihak-pihak setempat yang lebih mengetahui kebutuhan di lapangan. "Pokoknya aku tahunya dibantu saja ke mana, diarahin terserah. Aku memasrahkan ke orang yang penting di situ," katanya.
Secara pribadi, Dilan Janiyar mengaku telah menyumbangkan dana sebesar Rp 100 juta untuk membantu meringankan beban para korban banjir di Aceh. "Ya semoga bisa membantu," pungkasnya, seraya berharap kontribusinya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang terdampak bencana.

