0

Dhani: Pernikahan El Rumi Tanpa Unduh Mantu, Efisiensi Jadi Kunci di Tengah Kondisi Ekonomi

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Musisi sekaligus politikus kondang, Ahmad Dhani, tak lama lagi akan menggelar acara bahagia untuk putranya, El Rumi, yang dikabarkan akan segera mempersunting kekasihnya, aktris Syifa Hadju. Berbeda dengan pernikahan kakaknya, Al Ghazali, yang digelar dengan meriah dan megah, Dhani membocorkan bahwa konsep pernikahan El Rumi akan jauh lebih sederhana. Salah satu perbedaan mencolok yang ia tegaskan adalah tidak akan adanya acara unduh mantu. Pernyataan ini disampaikan Dhani saat ditemui awak media di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (17/1/2026) malam.

Keputusan untuk meniadakan tradisi unduh mantu ini, menurut Dhani, bukanlah permintaan langsung dari El Rumi maupun Syifa Hadju. Alih-alih, ia secara blak-blakan menyinggung kondisi perekonomian pribadi yang sedang tidak stabil. "Kayaknya sekarang nggak ada ngunduh mantu," ujarnya lugas. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai alasan di balik keputusan tersebut, Dhani menjawab dengan jujur, "Bukan. Ayahnya lagi ini… lagi ekonominya kurang baik."

Pernyataan Dhani yang menyebutkan kondisi ekonomi kurang baik ini sontak memancing reaksi dari para wartawan. Mengingat statusnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), banyak yang beranggapan bahwa kendala ekonomi semacam itu seharusnya tidak menjadi masalah baginya. Namun, Dhani tetap berpegang teguh pada alasannya, menekankan pentingnya efisiensi dalam penyelenggaraan acara. "Loh kan ada apa namanya itu? Efisiensi," tandasnya. Ia tampaknya ingin menyampaikan bahwa meskipun memiliki kapasitas sebagai anggota legislatif, ia tetap mengedepankan prinsip hemat dan bijak dalam setiap pengeluaran, termasuk untuk acara keluarga yang bersifat pribadi.

Ketika kembali didesak mengenai apakah konsep pernikahan yang lebih sederhana ini sejalan dengan keinginan El Rumi dan Syifa Hadju, Dhani tidak memberikan jawaban yang gamblang. Ia hanya menegaskan kembali bahwa keputusan tersebut sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi keluarga yang tengah dihadapinya saat ini. "Ekonominya lagi apa… riuh rendah," pungkasnya, menyiratkan bahwa situasi finansial keluarga sedang dalam kondisi yang fluktuatif atau memerlukan penyesuaian yang cermat.

Lebih jauh, mari kita telaah lebih dalam implikasi dari pernyataan Ahmad Dhani ini. Keputusan untuk mengadakan pernikahan yang lebih sederhana, tanpa unduh mantu, dan dengan penekanan pada efisiensi, mencerminkan beberapa aspek penting. Pertama, ini bisa menjadi cerminan dari perubahan tren dalam penyelenggaraan acara pernikahan di kalangan publik figur. Jika dulu kemewahan dan kemeriahan menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pernikahan, kini kesederhanaan dan makna yang lebih dalam mulai diperhitungkan. Pernikahan bukan lagi sekadar ajang pamer, melainkan sebuah momen sakral yang lebih intim dan personal.

Kedua, pernyataan Dhani mengenai kondisi ekonomi keluarga, meskipun diungkapkan dengan sedikit nuansa humor ("riuh rendah"), bisa jadi merupakan sebuah pengingat bagi banyak orang, termasuk para penggemarnya. Di tengah sorotan publik yang seringkali mengasosiasikan kekayaan dengan para figur publik, pengakuan jujur mengenai kondisi finansial yang tidak selalu stabil dapat memberikan perspektif yang lebih realistis. Ini juga bisa menjadi pesan bahwa di balik gemerlap dunia hiburan dan politik, ada juga tantangan dan pertimbangan ekonomi yang harus dihadapi oleh setiap individu, terlepas dari status sosialnya.

Ketiga, penekanan pada "efisiensi" menunjukkan adanya pemikiran yang matang dalam perencanaan acara. Dalam konteks pernikahan, efisiensi tidak hanya berarti penghematan biaya, tetapi juga efektivitas dalam menjalankan setiap elemen acara agar berjalan lancar dan berkesan tanpa pemborosan yang tidak perlu. Unduh mantu, sebagai sebuah tradisi, memang seringkali membutuhkan biaya dan tenaga ekstra. Menghilangkannya bisa menjadi langkah strategis untuk memfokuskan sumber daya pada aspek-aspek lain yang dianggap lebih penting, seperti upacara pernikahan itu sendiri atau bulan madu.

Keempat, meskipun Dhani tidak secara langsung mengonfirmasi apakah ini keinginan El Rumi dan Syifa Hadju, keputusan akhir mengenai konsep pernikahan tentulah akan melibatkan persetujuan dari kedua mempelai. Kemungkinan besar, El Rumi dan Syifa Hadju sebagai generasi muda yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial, juga memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya kesederhanaan dan makna dalam sebuah pernikahan. Mereka mungkin lebih memprioritaskan kebahagiaan dan keintiman hubungan mereka daripada kemeriahan acara yang berlebihan.

Kelima, mari kita lihat bagaimana tradisi unduh mantu sendiri. Unduh mantu adalah sebuah upacara adat yang biasanya diadakan oleh keluarga mempelai wanita untuk menyambut menantu baru di rumah mereka. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antara kedua keluarga dan memberikan kesempatan bagi kerabat serta teman-teman untuk bertemu dan memberikan restu kepada pasangan pengantin. Namun, seiring dengan mobilitas penduduk yang semakin tinggi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini tidak selalu relevan atau memungkinkan untuk dilaksanakan oleh semua keluarga. Di beberapa daerah, unduh mantu masih menjadi bagian penting dari rangkaian pernikahan, namun di perkotaan dan di kalangan masyarakat yang lebih modern, konsep ini seringkali diadaptasi atau bahkan dihilangkan demi kepraktisan.

Dengan demikian, keputusan Ahmad Dhani untuk meniadakan unduh mantu pada pernikahan El Rumi dapat dilihat sebagai sebuah langkah progresif yang sejalan dengan perkembangan zaman dan pertimbangan praktis. Ini menunjukkan bahwa di balik sosoknya yang dikenal tegas dan terkadang kontroversial, terdapat pula pemikiran yang rasional dan bijaksana dalam urusan keluarga. Pernyataan ini juga memberikan sedikit gambaran mengenai dinamika kehidupan pribadi figur publik yang terkadang luput dari perhatian publik yang hanya melihat sisi gemerlapnya.

Pada akhirnya, pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, terlepas dari konsep yang diusung, diharapkan akan menjadi momen yang penuh kebahagiaan dan keberkahan. Keputusan untuk mengedepankan kesederhanaan dan efisiensi, di tengah pertimbangan ekonomi yang diungkapkan oleh Ahmad Dhani, justru dapat memberikan pelajaran berharga bahwa cinta dan komitmen adalah inti dari sebuah pernikahan, bukan kemegahan acara semata. Pengakuan jujur mengenai kondisi ekonomi juga bisa menjadi pengingat bahwa semua orang, termasuk publik figur, memiliki tantangan dan prioritas yang harus dikelola dengan baik. Pernyataan Dhani ini, dengan segala nuansa dan implikasinya, telah berhasil memperkaya narasi seputar rencana pernikahan El Rumi, memberikan perspektif yang lebih mendalam daripada sekadar berita permukaan.