0

Denada Akhirnya Akui Ressa Rizky Sebagai Anak Kandung

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Setelah sekian lama memilih bungkam dan menghadapi berbagai spekulasi publik, penyanyi Denada Tambunan akhirnya membuka tabir kebenaran terkait isu penelantaran anak yang sempat menyeret namanya hingga ke ranah hukum di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Keputusan untuk bersuara ini datang setelah Denada merasa tidak dapat lagi menahan beban kerahasiaan yang telah dipikulnya selama bertahun-tahun. Melalui sebuah unggahan video emosional di akun Instagram pribadinya, Denada dengan penuh keberanian dan air mata yang mengalir, secara terbuka mengakui bahwa pemuda bernama Ressa Rizky Rosano adalah anak kandungnya. Pernyataan ini menjadi titik balik krusial dalam kisahnya, sekaligus meredakan kegelisahan banyak pihak yang mengikuti perkembangan kasus ini.

"Saya Denada Tambunan menyatakan bahwa Ressa Rosano adalah anak kandung saya. Dan saya betul-betul minta maaf kepada Ressa karena Ressa tidak hidup bersama saya dari mulai dia masih bayi," ujar Denada dalam video yang diunggahnya pada Senin, 2 Februari 2026, dengan nada suara yang bergetar menahan tangis. Pengakuan ini bukan hanya sekadar pernyataan hukum, tetapi juga sebuah pengakuan emosional yang sarat dengan penyesalan mendalam. Denada tidak berusaha menutupi kesalahannya, melainkan justru memilih untuk menghadapi dan mengakui segala konsekuensi dari keputusannya di masa lalu. Ia menyadari betapa besar luka yang mungkin ditimbulkan oleh ketidakhadirannya dalam kehidupan Ressa sejak dini.

Dalam kesempatan yang sama, Denada memberikan penjelasan mengenai alasan di balik keputusannya untuk berpisah dengan buah hatinya selama puluhan tahun. Ia mengungkapkan bahwa pada masa ketika Ressa masih bayi, kondisi mentalnya sedang tidak stabil dan tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan peran sebagai seorang ibu secara optimal. "Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak," tuturnya, menekankan bahwa keputusannya bukan didasari oleh ketidakpedulian, melainkan oleh keterbatasan diri yang ia rasakan pada saat itu. Pernyataan ini memberikan perspektif baru, menunjukkan bahwa di balik keputusan yang tampak keras, ada pergulatan batin dan keterbatasan yang dihadapi oleh Denada. Ia tidak ingin menjadi ibu yang justru memberikan dampak negatif bagi perkembangan anaknya.

Lebih lanjut, Denada tidak henti-hentinya mengungkapkan penyesalan yang mendalam atas lamanya waktu yang dibutuhkan untuk akhirnya berani bersikap jujur kepada Ressa. Pengakuan ini datang setelah bertahun-tahun memendam rahasia, yang tentu saja membawa beban psikologis tersendiri bagi dirinya. "Saya juga ingin minta maaf kepada Ressa karena baru saat ini, setelah sekian lama, baru saat ini saya memberitahukan Ressa bahwa saya adalah ibu kandungnya. Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya, dan saya minta maaf," ujar Denada dengan suara yang semakin bergetar, menunjukkan betapa berat pengakuan ini baginya. Ia mengakui dengan jujur bahwa menunda pengakuan ini adalah sebuah kekhilafan yang ia sesali.

Setelah rahasia besar ini akhirnya terungkap, Denada hanya bisa berserah diri kepada Sang Pencipta. Ia menaruh harapan besar agar putranya, Ressa, mau membuka pintu maaf dan menerimanya kembali sebagai ibu kandungnya. Meskipun demikian, Denada menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan untuk menjadi ibu yang baik bagi Ressa masih panjang dan penuh tantangan. Ia siap untuk belajar dan berjuang demi memperbaiki hubungan yang sempat terputus dan membangun kembali kepercayaan yang mungkin telah terkikis. "Saat ini saya cuma bisa berdoa dan saya hanya bisa berharap semoga Ressa mau memaafkan saya dan menerima saya, ibu kandungnya, dengan segala kekurangan saya dan dengan keadaan bahwa saya masih harus banyak belajar untuk menjadi ibu yang sesuai dengan harapan anak-anak saya," ucapnya dengan penuh kerendahan hati.

Menutup pernyataannya yang penuh emosi, Denada juga tidak lupa menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besarnya. Ia secara khusus menyebut almarhumah ibundanya, Emilia Contessa, serta adik-adiknya. Pengakuan ini bukan hanya untuk Ressa, tetapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban dan upaya untuk menebus kesalahannya di hadapan orang-orang terkasih. Ia berharap, dengan langkah ini, dapat membuka lembaran baru yang lebih baik dan membawa kedamaian bagi semua pihak yang terlibat. "Saya juga minta maaf kepada almarhum Mama, dan saya juga minta maaf kepada semua adik-adik saya. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa dan khilaf saya. Aamiin ya Rabbal’alamin," pungkasnya, mengakhiri pernyataannya dengan doa dan harapan untuk pengampunan.

Kasus yang melibatkan Denada dan Ressa Rizky Rosano ini sempat menjadi sorotan publik karena kompleksitasnya yang melibatkan isu keluarga, hukum, dan emosional. Pengakuan Denada ini diharapkan dapat menjadi awal dari rekonsiliasi dan penyembuhan bagi Ressa, serta memberikan kejelasan bagi publik yang selama ini mengikuti perkembangan berita tersebut. Perjuangan Denada untuk menghadapi masa lalu dan memperbaiki hubungannya dengan sang putra patut mendapatkan perhatian, karena di balik sorotan publik, terdapat kisah manusiawi yang penuh dengan perjuangan, penyesalan, dan harapan. Keberanian Denada untuk mengakui kesalahannya dan membuka diri adalah langkah penting menuju pemulihan hubungan keluarga yang mungkin sempat renggang.

Dalam konteks hukum, pengakuan ini kemungkinan akan memberikan dampak signifikan terhadap proses hukum yang sedang berjalan di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Pihak pengadilan akan mempertimbangkan pengakuan ini sebagai salah satu elemen penting dalam pengambilan keputusan terkait kasus penelantaran anak. Namun, yang terpenting dari sudut pandang kemanusiaan adalah bagaimana Ressa Rizky Rosano akan merespon pengakuan ibunya. Apakah ia akan menerima permintaan maaf Denada dan membuka kembali komunikasi? Ini adalah pertanyaan yang jawabannya akan sangat menentukan masa depan hubungan ibu dan anak ini.

Denada, dengan segala kejujurannya, telah meletakkan pondasi awal untuk rekonsiliasi. Ia telah berani mengakui kesalahan dan menunjukkan penyesalannya. Kini, bola berada di tangan Ressa. Pengalaman hidup yang telah dilalui Ressa, terpisah dari ibu kandungnya sejak kecil, tentu saja membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Namun, pengakuan ini bisa jadi membuka luka lama, sekaligus memberikan kesempatan untuk menyembuhkan luka tersebut.

Publik, yang selama ini menjadi saksi bisu dari drama ini, akan terus mengikuti perkembangan selanjutnya. Harapannya, kisah ini akan berakhir dengan kebahagiaan dan kedamaian bagi Denada dan Ressa. Pengakuan Denada ini merupakan bukti bahwa terkadang, mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah langkah paling berani yang bisa dilakukan seseorang, terutama ketika menyangkut hubungan keluarga yang paling fundamental.

Kisah Denada dan Ressa Rizky Rosano ini juga menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga, terutama dalam menghadapi masa-masa sulit. Keputusan yang diambil di masa lalu, sekecil apapun dampaknya, bisa memiliki konsekuensi jangka panjang. Namun, penyesalan dan keinginan untuk memperbaiki diri adalah awal dari segalanya. Denada telah menunjukkan hal tersebut. Kini, penantian berlanjut untuk melihat bagaimana Ressa akan merespon pengakuan ibunya dan bagaimana keduanya akan melangkah bersama di masa depan, membangun kembali ikatan keluarga yang telah lama terputus.

Lebih dari sekadar pengakuan pribadi, pernyataan Denada ini juga memberikan pelajaran berharga tentang kompleksitas kehidupan dan peran sebagai orang tua. Tidak semua orang tua sempurna, dan terkadang, mereka sendiri bergulat dengan masalah pribadi yang membuat mereka kesulitan menjalankan peran tersebut. Namun, yang membedakan adalah keberanian untuk mengakui kekurangan dan berusaha memperbaiki diri. Denada telah mengambil langkah penting tersebut, dan semoga ini menjadi awal dari babak baru yang lebih baik dalam hidupnya dan kehidupan Ressa Rizky Rosano.

Pesan yang disampaikan Denada sangat jelas: penyesalan, permintaan maaf, dan harapan untuk rekonsiliasi. Ia tidak mencari pembenaran, melainkan pengampunan dan kesempatan kedua. Ini adalah momen krusial yang akan menentukan arah hubungan ibu dan anak ini ke depannya. Semoga kisah ini berakhir dengan kebaikan dan memberikan inspirasi bagi banyak orang yang mungkin sedang menghadapi situasi serupa.