0

DeepSeek Siapkan Senjata Baru untuk Hadapi Persaingan AI di 2026

Share

Jakarta – Persaingan di arena kecerdasan buatan (AI) global kian memanas, dan tahun 2026 diproyeksikan menjadi titik krusial di mana inovasi efisiensi akan menjadi pembeda utama. Di tengah perlombaan pengembangan model AI yang semakin besar dan kompleks, DeepSeek, salah satu pemain kunci dalam ekosistem AI, tengah mempersiapkan "senjata baru" berupa metodologi pelatihan yang revolusioner. Senjata ini bukan tentang kekuatan komputasi mentah, melainkan tentang kecerdasan dalam memanfaatkan sumber daya, menawarkan solusi untuk masalah pelik yang selama ini menghantui industri: biaya tinggi, konsumsi energi yang masif, dan ketidakstabilan pelatihan model AI berskala raksasa.

Pelatihan model kecerdasan buatan (AI) berukuran besar telah menjadi salah satu usaha paling mahal dan boros energi di era digital. Setiap iterasi model yang lebih canggih menuntut daya komputasi yang eksponensial, mengakibatkan lonjakan biaya operasional dan jejak karbon yang signifikan. Riset terbaru dari DeepSeek kini muncul sebagai secercah harapan, menawarkan pendekatan inovatif yang dirancang untuk mereduksi pemborosan tersebut secara fundamental. Fokusnya bukan pada penambahan daya, melainkan pada optimalisasi dan stabilisasi proses pelatihan model AI, menjadikannya lebih dapat diprediksi dan andal.

Dalam makalah riset terbarunya, yang berpotensi menjadi cetak biru bagi pengembangan AI di masa depan, DeepSeek memperkenalkan sebuah metode bernama manifold-constrained hyperconnection (mHC). Pendekatan ini secara cerdas mengalihkan fokus dari sekadar peningkatan performa mentah, menuju aspek yang lebih krusial namun sering terabaikan: stabilitas pelatihan model AI berskala besar. Stabilitas ini merupakan jantung permasalahan di industri, di mana kegagalan di tengah jalan bisa berarti kerugian besar, demikian dikutip detikINET dari Gizmochina, Minggu (4/1/2026).

DeepSeek menyoroti fakta pahit bahwa tak terhitung banyaknya model AI canggih yang gagal mencapai garis akhir dalam proses pelatihannya. Kegagalan-kegagalan ini bukan sekadar kemunduran kecil; ketika sebuah model AI gagal di tengah proses yang memakan waktu berbulan-bulan, perusahaan harus mengulang pelatihan dari awal. Ini berarti pembuangan waktu berminggu-minggu, konsumsi listrik dalam jumlah gigantis yang setara dengan kota kecil, serta ribuan jam komputasi GPU yang harganya mencapai puluhan ribu dolar per unit. Kondisi ini secara langsung membuat biaya pengembangan AI melonjak tajam, mencapai ratusan juta dolar untuk model-model paling mutakhir, dan membatasi kemampuan inovasi hanya pada segelintir raksasa teknologi.

Bayangkan skenario di mana sebuah perusahaan menginvestasikan jutaan dolar dan ribuan jam kerja tim engineer untuk melatih model AI baru, hanya untuk melihatnya "hang" atau menghasilkan keluaran yang tidak masuk akal di tengah jalan. Ini bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga hilangnya momentum, penundaan peluncuran produk, dan bahkan risiko kehilangan talenta berharga yang frustrasi dengan proses yang tidak efisien. Masalah ketidakstabilan ini seringkali disebabkan oleh berbagai faktor teknis yang kompleks, mulai dari gradient explosion atau vanishing dalam jaringan saraf, ketidaksesuaian data, hingga bug dalam arsitektur model yang baru. Metodologi brute force yang selama ini dominan—yaitu dengan hanya menambah lebih banyak GPU, memperbesar kapasitas memori, atau memperpanjang waktu pelatihan—terbukti tidak berkelanjutan dan hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.

Melalui mHC, DeepSeek berupaya secara fundamental menjaga perilaku internal model agar tetap berada dalam batas-batas yang lebih terkontrol dan terdefinisi selama seluruh proses pelatihan. Ini berarti mencegah model "menyimpang" dari jalur optimalnya, menghindari kondisi-kondisi ekstrem yang dapat memicu kegagalan, dan memastikan kurva pembelajaran yang lebih mulus dan prediktif. Dengan tingkat stabilitas yang jauh lebih baik, risiko kegagalan di tengah jalan dapat ditekan secara drastis, sehingga pelatihan model memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk diselesaikan dengan sukses tanpa perlu pengulangan berulang. Ini adalah pergeseran paradigma dari "mencoba-coba hingga berhasil" menjadi "merancang agar berhasil."

Pendekatan ini dinilai sangat relevan dan krusial di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai konsumsi energi pusat data yang didorong oleh kebutuhan pelatihan AI. Meskipun mHC tidak secara langsung membuat perangkat keras GPU menjadi lebih hemat daya per siklus komputasi, metode ini secara tidak langsung berpotensi mengurangi jumlah energi yang terbuang secara signifikan akibat pelatihan yang gagal atau tidak efisien. Dengan kata lain, efisiensi yang dicapai oleh mHC berasal dari pengurangan pemborosan sumber daya secara menyeluruh—mulai dari listrik, waktu komputasi GPU, hingga jam kerja engineer—bukan dari perubahan spesifik pada perangkat keras itu sendiri. Ini adalah efisiensi operasional yang cerdas, bukan hanya peningkatan spesifikasi.

DeepSeek juga menilai bahwa stabilitas pelatihan yang ditingkatkan ini dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan industri pada pendekatan "brute force" yang tidak efisien dan mahal. Selama ini, banyak pengembang terpaksa menambah jumlah GPU secara masif, memperbesar kapasitas memori, atau memperpanjang waktu pelatihan secara eksesif hanya demi menjaga model agar tetap berjalan dan akhirnya selesai. Jika pelatihan menjadi lebih stabil dan prediktif, kebutuhan akan sumber daya komputasi berlebih yang hanya berfungsi sebagai "penyangga" terhadap kegagalan dapat ditekan secara substansial. Ini akan membebaskan sumber daya berharga untuk inovasi lain, atau mengurangi total investasi yang diperlukan untuk mencapai hasil yang sama.

Dalam makalahnya, DeepSeek dengan rendah hati tidak mengklaim bahwa mHC akan langsung menyelesaikan semua persoalan kelangkaan perangkat keras global atau lonjakan konsumsi energi secara instan. Namun, riset ini diposisikan sebagai langkah yang sangat penting dan strategis untuk memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur komputasi yang sudah ada. Dengan membuat setiap siklus pelatihan lebih efisien dan andal, mHC memungkinkan organisasi untuk mendapatkan hasil maksimal dari investasi perangkat keras mereka, menunda kebutuhan akan ekspansi infrastruktur yang mahal, dan secara keseluruhan mengurangi jejak lingkungan dari pengembangan AI.

Seiring skala model AI yang terus membesar—menuju triliunan parameter dan bahkan lebih—pendekatan inovatif seperti mHC dinilai berpotensi membantu pengembang melatih model yang jauh lebih kuat dan canggih dengan biaya dan konsumsi energi yang makin terkendali. Ini bukan hanya keuntungan finansial, tetapi juga sebuah langkah menuju AI yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Bagi industri AI, efisiensi semacam ini semakin krusial di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat, serta tuntutan lingkungan yang kian mendesak dari masyarakat dan regulator.

DeepSeek, dengan mHC-nya, tidak hanya mengembangkan sebuah alat teknis, tetapi juga mengukir jalan menuju masa depan AI yang lebih cerdas dan lestari. Ini adalah "senjata" yang akan memungkinkan mereka untuk tidak hanya bersaing, tetapi juga memimpin dalam arena AI di tahun 2026 dan seterusnya, dengan menawarkan solusi yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijaksana dalam pemanfaatan sumber daya. Ini menandakan pergeseran fokus industri dari sekadar "berapa besar" menjadi "seberapa efisien," sebuah evolusi yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan AI menuju kematangan. Dengan mengurangi pemborosan dan meningkatkan prediktabilitas, DeepSeek berharap dapat mempercepat laju inovasi AI, menjadikannya lebih mudah diakses, lebih terjangkau, dan pada akhirnya, lebih bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan dan dominasi strategis di era AI.