BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Zaskia Adya Mecca membagikan update terbaru yang mengejutkan mengenai kasus pemukulan yang menimpa stafnya, Faisal, oleh oknum TNI. Insiden yang terjadi pada Oktober 2025 ini bermula saat Faisal sedang mengantar putri Zaskia, Kala, ke sekolah. Sebuah cekcok yang berujung pada aksi pemukulan di jalan raya tersebut, ternyata masih bergulir di ranah hukum militer. Zaskia Adya Mecca mengungkapkan rasa terkejutnya ketika menerima surat panggilan sidang lanjutan untuk kasus tersebut, yang dijadwalkan pada 7 April 2026 di Pengadilan Tinggi Militer Jakarta. "Pagi ini aku, Hanung Bramantyo, dan dua saksi sampai ke Pengadilan Militer Jakarta jam 9.50 pagi atas panggilan sidang lanjutan kasus Faisal dan Kala di bulan Oktober 2025. Jujur surprise ternyata kasus ini masih lanjut karena kami kehilangan update kasus sejak Oktober. Awal minggu ada surat pemanggilan," cerita Zaskia Adya Mecca melalui laman Instagram pribadinya, Rabu (8/4/2026). Pernyataan ini mengindikasikan adanya jeda waktu yang cukup lama tanpa informasi terkini mengenai perkembangan kasus, sehingga surat panggilan sidang tersebut menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi keluarga Zaskia.
Namun, rasa terkejut itu segera berganti menjadi kebingungan dan kekecewaan yang mendalam. Setibanya di Pengadilan Tinggi Militer Jakarta, Zaskia Adya Mecca, suaminya Hanung Bramantyo, serta dua saksi dan staf yang menjadi korban, mendapati fakta bahwa sidang yang telah mereka hadiri dengan penuh persiapan justru batal tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Suasana di pengadilan pun terasa sepi, bahkan lampu-lampu ruangan tampak gelap, menambah kebingungan yang dirasakan. "Pagi tadi kami hadir tapi kaget banget pas sampai di Pengadilan Militer Jakarta gak ada orang. Hanya ada tukang. Lampu-lampu diruangan gelap, petugas kami tanya juga kebingungan. ‘Gak ada sidang hari ini!’ ‘Loh terus kapan?’ ‘Ya besok kali.’ ‘Kok kami ga ada yang kabarin?’ ‘Hmm, ga tau juga’," ungkap Zaskia Adya Mecca, menirukan percakapannya dengan petugas. Lebih lanjut, ia menceritakan respons yang ia dapatkan ketika mencoba menghubungi pihak pengirim surat panggilan sidang. "Di wasap ke pengirim surat panggilan sidang jawabannya, ‘oh? Emang batal sidangnya?’" tambahnya, menunjukkan betapa minimnya koordinasi dan komunikasi dalam proses ini.
Kekecewaan Zaskia Adya Mecca semakin memuncak ketika ia merasa tidak ada pihak yang bertanggung jawab untuk menginformasikan mengenai pembatalan sidang tersebut. "Jujur bingung. Harusnya siapa yang mengabarkan ke kami kalau sidang batal? Lalu kapan lagi kalau di reschedule? Karna buat datang kesini juga jarak kami lumayan, ada jadwal yang harus dibatalkan. Sampai ke lokasi kosong dan ga ada yang bisa ditanya juga menjawab," tegasnya. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka di pengadilan memerlukan persiapan matang, termasuk pembatalan jadwal lain yang sudah disusun, sehingga pembatalan mendadak tanpa pemberitahuan ini menimbulkan kerugian waktu dan tenaga yang signifikan. Dalam video yang diunggahnya, Zaskia Adya Mecca terlihat mendatangi petugas yang berjaga seorang diri, namun tetap tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
Pertanyaan mendasar pun muncul dari benak Zaskia Adya Mecca sebagai orang awam yang terlibat dalam proses hukum militer. "Bukannya persidangan ini hal yang melibatkan banyak orang? Kenapa kalau cancel orang-orang yang terkait dan dipanggil dilupakan begitu saja? Apa ini hal yang biasa terjadi di persidangan militer? Sebagai awam, kami bingung," ungkapnya. Ia menyuarakan keheranannya atas kurangnya transparansi dan profesionalisme dalam penanganan kasus ini, terutama mengingat sensitivitas dan dampak emosional yang ditimbulkan pada korban.
Kasus Pemukulan Staf Zaskia Mecca
Kasus yang memicu kemarahan Zaskia Adya Mecca ini bermula dari insiden pada Oktober 2025, ketika Faisal, karyawan kepercayaannya, sedang menjalankan tugas mengantar Kala, putri kedua Zaskia, ke sekolah. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang pengendara motor Vespa berwarna pink yang mengenakan helm senada. Pengendara tersebut, yang kemudian berteriak mengaku sebagai anggota TNI, terlibat cekcok dengan Faisal. Tanpa kendali emosi, oknum tersebut melakukan aksi pemukulan terhadap Faisal. Kejadian ini sangat mengejutkan dan meninggalkan trauma mendalam, tidak hanya bagi Faisal, tetapi juga bagi Kala yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut dari boncengan motor.
Dalam rekaman CCTV yang kemudian diperlihatkan oleh Zaskia Adya Mecca, terlihat jelas bahwa Kala nyaris ikut jatuh dari motor akibat peristiwa tersebut. Dampak psikologis yang dialami Kala sangat serius. Ia mengalami trauma yang cukup parah hingga harus dibawa ke psikolog. Zaskia mengungkapkan bahwa putrinya masih sering menangis ketika melihat video kejadian tersebut atau bahkan hanya teringat akan peristiwa mengerikan itu. Situasi ini tentu saja sangat memprihatinkan bagi Zaskia Adya Mecca sebagai seorang ibu yang menyaksikan anaknya mengalami trauma akibat tindakan kekerasan yang tidak beralasan.
Kasus pemukulan yang dialami oleh karyawan Zaskia Adya Mecca ini kemudian ditangani oleh Polisi Militer Daerah Militer (Pomdam) Jaya. Pelaku yang teridentifikasi berteriak sebagai anggota TNI tersebut, diduga kuat adalah seorang oknum TNI. Pihak berwenang telah mengambil tindakan dengan menahan oknum tersebut di Detasemen Polisi Militer (Denpom) Jaya-2 untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Penjelasan Pengadilan Militer Jakarta
Menanggapi pernyataan dan keluhan Zaskia Adya Mecca, Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya memberikan klarifikasi mengenai penundaan sidang yang terjadi. Melalui juru bicaranya, Pengadilan Militer II-08 Jakarta menjelaskan bahwa penundaan sidang pada Selasa, 7 April 2026, merupakan permintaan dari Oditurat Militer (Otmil) II-07 Jakarta. Alasan penundaan tersebut adalah karena hari yang sama bertepatan dengan fokus Otmil II-07 Jakarta dalam pelimpahan Berkas Perkara Penyiraman Air Keras dari Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI kepada Otmil II-07 Jakarta. Hal ini menunjukkan adanya bentrokan jadwal dan prioritas penanganan perkara di lingkungan peradilan militer.
Lebih lanjut, Pengadilan Militer menegaskan bahwa kewenangan untuk memanggil para pihak yang terkait dalam persidangan, termasuk terdakwa, para saksi, maupun pihak lain yang relevan, sepenuhnya berada di tangan Oditurat Militer. "Bahwa pemanggilan para pihak dalam persidangan, baik Terdakwa, Para Saksi maupun Pihak lain yg terkait adalah menjadi kewenangan dari Oditurat Militer," demikian pernyataan yang disampaikan. Pengadilan Militer juga menyatakan bahwa kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi internal mereka demi perbaikan proses di masa mendatang. "Bahwa atas kejadian ini, akan menjadi menjadi bahan evaluasi bagi kami dan kami ucapkan terima kasih atas kepedulian rekan-rekan terhadap institusi kami," tambah mereka.
Informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Militer II-08 Jakarta, mengungkapkan bahwa terdakwa dalam kasus pemukulan ini bernama Nico Corentha. Sidang dengan nomor perkara 38-K/PM.II-08/AD/III/2026 ini sendiri telah dimulai sejak 11 Maret 2026 dengan agenda pembacaan surat dakwaan. Sidang berlanjut pada 31 Maret dengan agenda pemeriksaan saksi, dan pada 8 April 2026 diagendakan kembali untuk pemeriksaan saksi. Penjelasan ini memberikan gambaran mengenai tahapan persidangan yang telah dilalui dan yang akan datang, meskipun adanya insiden pembatalan mendadak yang menimbulkan kekecewaan bagi pihak yang terlibat. Kejadian ini menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dan transparan dalam setiap proses hukum, terutama ketika melibatkan korban dan saksi yang telah menanggung beban emosional akibat insiden kekerasan.

