0

Cisadane Tercemar 2,5 Ton Pestisida, BRIN: Bahaya Jika Konsumsi Ikan!

Share

Sungai Cisadane, nadi kehidupan bagi jutaan warga di Provinsi Banten dan sekitarnya, kini dihadapkan pada ancaman serius pasca insiden dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida. Peristiwa yang berawal dari kebakaran sebuah gudang penyimpanan bahan kimia di wilayah hulu ini telah memicu kekhawatiran meluas, dengan dampak pencemaran yang dilaporkan menjangkau radius 22,5 kilometer, memengaruhi tidak hanya Kabupaten Tangerang, tetapi juga Kota Tangerang hingga Kota Tangerang Selatan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengeluarkan peringatan keras, menegaskan bahwa konsumsi ikan dari sungai yang tercemar ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Insiden tragis ini, yang diduga berawal dari kebakaran hebat sebuah gudang penyimpanan pestisida dan bahan kimia pertanian di kawasan industri dekat hulu Sungai Cisadane pada akhir pekan lalu, telah memicu krisis lingkungan yang masif. Volume pestisida yang sangat besar, mencapai 2,5 ton, diperkirakan ikut terbawa aliran air hujan dan sisa pemadaman api, kemudian mengalir deras ke dalam sungai. Skala pencemaran ini, menurut pemantauan awal dari berbagai pihak, telah menyebabkan kontaminasi serius yang membentang dari titik tumpahan awal hingga ke wilayah hilir, meliputi area padat penduduk dan industri di tiga wilayah administrasi yang sangat bergantung pada sungai tersebut.

Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, menegaskan bahwa kejadian ini bukan sekadar insiden lingkungan biasa, melainkan sebuah krisis ekologis akut yang membutuhkan respons cepat, terkoordinasi, dan multi-sektoral. "Sungai Cisadane adalah urat nadi kehidupan, penyedia utama air baku untuk konsumsi sehari-hari, tulang punggung irigasi pertanian yang menopang ketahanan pangan lokal, dan penopang vital ekosistem perairan yang kompleks di salah satu wilayah terpadat di Indonesia. Insiden kali ini sangatlah berbahaya karena melibatkan masuknya volume besar zat beracun secara tiba-tiba dan dalam konsentrasi tinggi, jauh melampaui ambang batas aman yang bisa ditoleransi ekosistem dan kapasitas alami sungai untuk memulihkan diri," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima media.

Penyebaran pestisida hingga puluhan kilometer, seperti yang teramati saat ini dengan banyaknya laporan ikan mati mengapung, dijelaskan Ignasius terjadi akibat kombinasi mekanisme hidrodinamika sungai yang kompleks dan karakteristik kimia pestisida itu sendiri. Saat beban pencemaran mencapai skala masif dan masuk secara mendadak, kemampuan alami sungai untuk melakukan dilusi (pengenceran) dan asimilasi (pemrosesan oleh ekosistem) seketika terlampaui. Kontaminan beracun ini kemudian tidak hanya terbawa arus utama sungai, tetapi juga mengalami proses dispersi dan difusi yang menyebarkan partikel-partikel toksik ke seluruh kolom air. Jika jenis pestisida yang tumpah memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil, tidak mudah terurai dalam lingkungan perairan, maka konsentrasinya dapat bertahan lama dan menyebar secara lebih homogen sepanjang koridor sungai. Kondisi ini secara langsung menimbulkan ancaman serius bagi wilayah hilir, terutama titik-titik pengambilan air baku yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Tangerang Raya, yang melayani jutaan pelanggan dengan air minum.

Cisadane Tercemar 2,5 Ton Pestisida, BRIN: Bahaya Jika Konsumsi Ikan!

Bahaya Konsumsi Ikan dari Cisadane: Ancaman Bioakumulasi dan Karsinogenik

Salah satu kekhawatiran terbesar yang disoroti BRIN adalah potensi risiko bioakumulasi dan biomagnifikasi. Bioakumulasi adalah proses penumpukan residu pestisida dalam jaringan organisme air, seperti ikan, udang, atau kerang, seiring waktu. Organisme ini menyerap zat beracun dari air dan makanan, dan karena tidak dapat sepenuhnya mengeluarkannya, konsentrasi di dalam tubuh mereka terus meningkat. Sementara biomagnifikasi adalah peningkatan konsentrasi zat beracun ini saat berpindah melalui rantai makanan, dari organisme yang lebih rendah ke predator tingkat lebih tinggi – puncaknya adalah manusia yang mengonsumsi ikan-ikan tersebut. Ini berarti, semakin tinggi posisi suatu organisme dalam rantai makanan, semakin tinggi pula konsentrasi pestisida yang mungkin terkandung dalam tubuhnya.

"Selain toksisitas akut yang dapat menyebabkan kematian massal biota air secara instan, seperti yang telah banyak dilaporkan terjadi pada ikan, zooplankton, dan fitoplankton di Cisadane, paparan kronis dalam jangka panjang juga sangat berbahaya bagi manusia," jelas Ignasius. Ia merinci bahwa jenis pestisida tertentu, khususnya yang bersifat neurotoksik (merusak sistem saraf), dapat memicu gejala akut seperti mual, muntah, pusing hebat, tremor, gangguan pernapasan, kerusakan saraf permanen, hingga kematian, tergantung pada dosis dan durasi paparan. Dalam jangka panjang, paparan residu pestisida, bahkan dalam dosis rendah, berpotensi menyebabkan gangguan endokrin yang memengaruhi hormon tubuh, kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal, masalah reproduksi, hingga peningkatan risiko karsinogenik atau pemicu kanker. Oleh karena itu, Ignasius dengan tegas mengimbau seluruh masyarakat untuk sementara waktu menghentikan konsumsi ikan dan biota air lainnya yang berasal dari Sungai Cisadane di wilayah terdampak, hingga ada pernyataan resmi dari otoritas yang berwenang bahwa kondisi perairan telah aman dan residu pestisida berada di bawah ambang batas yang diizinkan untuk konsumsi.

Ancaman pencemaran tidak berhenti pada kolom air permukaan. Pestisida juga memiliki kecenderungan untuk mengendap dan terikat kuat pada sedimen dasar sungai. Sedimen yang terkontaminasi ini dapat menjadi reservoir racun sekunder yang melepaskan kembali zat berbahaya ke kolom air dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan setelah sumber pencemaran awal diatasi dan air di permukaan tampak jernih. "Artinya, meskipun secara visual air sungai mungkin tampak kembali jernih dan bersih, ancaman toksikologi masih bisa tersimpan di dasar dan kembali terlepas ke air dalam kondisi tertentu, misalnya akibat perubahan arus yang drastis, aktivitas pengerukan, atau gangguan lainnya pada dasar sungai. Ini menciptakan risiko jangka panjang yang kompleks dan membutuhkan strategi penanganan yang komprehensif, termasuk rehabilitasi sedimen," kata Ignasius, menekankan pentingnya tidak hanya fokus pada air, tetapi juga dasar sungai.

Rekomendasi Mitigasi Darurat dan Solusi Jangka Panjang BRIN

Cisadane Tercemar 2,5 Ton Pestisida, BRIN: Bahaya Jika Konsumsi Ikan!

Menyikapi krisis ini, BRIN telah merumuskan sejumlah rekomendasi mitigasi darurat yang harus segera diimplementasikan oleh pihak-pihak terkait untuk meminimalkan dampak lebih lanjut dan mempercepat proses pemulihan:

  1. Pengambilan Sampel dan Monitoring Intensif: Melakukan pengambilan sampel air, sedimen, dan biota air secara berkala dan intensif di berbagai titik sepanjang koridor sungai yang terdampak. Analisis harus mencakup identifikasi jenis pestisida secara spesifik, konsentrasi residu, dan potensi metabolit toksik yang mungkin terbentuk. Data ini krusial untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
  2. Pemasangan Barrier atau Booms: Jika memungkinkan dan sesuai dengan karakteristik hidrologi sungai, pemasangan barrier apung atau oil booms dapat dipertimbangkan di titik-titik strategis untuk mencegah penyebaran kontaminan lebih jauh ke wilayah hilir atau untuk mengonsentrasikan kontaminan agar lebih mudah diangkat dan ditangani.
  3. Penghentian Sementara Pengambilan Air Baku: PDAM yang terdampak harus segera menghentikan sementara pengambilan air baku dari Sungai Cisadane dan mengaktifkan sumber air alternatif atau pasokan darurat untuk memastikan ketersediaan air bersih yang aman bagi masyarakat. Pengujian kualitas air harus dilakukan secara ketat sebelum air disalurkan.
  4. Diseminasi Informasi Publik yang Akurat: Pemerintah daerah dan otoritas kesehatan harus secara proaktif dan transparan memberikan informasi yang akurat dan terkini kepada masyarakat mengenai risiko yang ada, wilayah terdampak secara spesifik, dan langkah-langkah pencegahan yang harus diambil, termasuk larangan konsumsi ikan dan penggunaan air untuk keperluan tertentu.
  5. Peningkatan Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan: Kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas, perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi kemungkinan kasus keracunan akut akibat paparan langsung atau tidak langsung terhadap pestisida, serta menyediakan panduan penanganan medis yang sesuai.
  6. Kajian Cepat Penanggulangan Sumber: Melakukan investigasi mendalam dan komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan sumber tumpahan pestisida, serta mengambil langkah penanggulangan segera di sumber untuk mencegah terjadinya pengulangan insiden serupa di masa depan.

Sebagai lembaga riset nasional, BRIN siap berperan aktif dalam penanganan krisis ini dengan menyediakan dukungan ilmiah dan teknologi. Tim peneliti BRIN akan membantu dalam identifikasi jenis dan konsentrasi pestisida secara presisi, memodelkan pola penyebaran kontaminan untuk memprediksi daerah terdampak dan pergerakan racun, serta memberikan rekomendasi teknologi pengolahan air baku yang paling efektif dan adaptif bagi PDAM yang terdampak. Ini penting mengingat karakteristik pestisida yang mungkin memerlukan metode pengolahan khusus, seperti penggunaan karbon aktif, ozonasi, atau sistem filtrasi membran canggih untuk menghilangkan senyawa kimia berbahaya.

Lebih jauh ke depan, penanganan krisis Sungai Cisadane ini harus menjadi momentum untuk penguatan kebijakan dan praktik lingkungan jangka panjang. Ignasius menekankan pentingnya penguatan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), dengan sanksi yang memberikan efek jera maksimal agar tidak ada lagi pihak yang berani mencemari lingkungan. Selain itu, diperlukan investasi dalam pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online yang terintegrasi, memungkinkan pemantauan real-time dan respons cepat terhadap anomali kualitas air atau indikasi pencemaran. Diversifikasi sumber air baku juga menjadi krusial untuk meningkatkan ketahanan wilayah saat menghadapi krisis serupa di masa mendatang, mengurangi ketergantungan pada satu sumber air tunggal yang rentan. Terakhir, restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian (tepian sungai) yang ditanami vegetasi alami dinilai esensial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan, menstabilkan sedimen, dan memulihkan keanekaragaman hayati serta fungsi ekologisnya.

"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik, tetapi harus senantiasa waspada dan mengikuti setiap instruksi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan PDAM setempat. Prioritaskan keselamatan dan kesehatan diri serta keluarga. Hindari sama sekali konsumsi ikan dan biota air lainnya dari wilayah terdampak selama masa krisis ini, serta pastikan penggunaan air bersih yang aman dari sumber terverifikasi dan telah dinyatakan layak konsumsi oleh otoritas. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga kelestarian Sungai Cisadane," tegas Ignasius, mengakhiri pesannya dengan harapan agar kolaborasi semua pihak, dari pemerintah, akademisi, industri, hingga masyarakat, dapat segera memulihkan kondisi Cisadane dan mencegah terulangnya bencana lingkungan serupa di masa depan.