0

Cinta Laura Pilih Rawat Kucing Kampung, Pakai Dokter Hewan Terbaik

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Cinta Laura, seorang selebriti papan atas Indonesia, baru-baru ini mencuri perhatian publik bukan karena kariernya di dunia hiburan, melainkan karena dedikasinya yang tulus dalam merawat kucing-kucing peliharaannya. Berbeda dengan sebagian orang yang terfokus pada ras kucing tertentu, Cinta justru memprioritaskan kucing kampung atau domestik. Ia memiliki pandangan unik tentang perawatan hewan peliharaan, mulai dari kebersihan rutin hingga pemilihan dokter hewan yang tak main-main.

"Kan kucing-kucing aku kan kucing kampung ya guys. Aku bukan tipe orang yang mencari kucing ras tertentu," ungkap Cinta dalam sebuah kesempatan di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan. Ia menjelaskan bahwa perawatannya sangat terstruktur. "Jadi kalau secara perawatan ya setiap tiga bulan ada yang datang ke rumah untuk mandiin dan gosok gigi mereka." Langkah ini diambil untuk memastikan kebersihan kucing-kucingnya terjaga, meskipun ia juga memahami bahwa kucing tidak boleh dimandikan terlalu sering.

Lebih lanjut, Cinta sangat memperhatikan aspek kesehatan kucing-kucingnya. Ia tidak ragu untuk membawa mereka ke dokter hewan terbaik yang bisa ia temukan. Pengalamannya bahkan membuatnya takjub dengan kualitas fasilitas rumah sakit hewan modern. "Tapi yang pasti aku selalu bawa mereka ke dokter hewan yang terbaik. Jadi kalau dokter hewan aku gak main-main," tegasnya. Ia menceritakan sebuah anekdot yang menggambarkan betapa canggihnya fasilitas tersebut. "Pernah ada staf rumah aku yang bilang, ‘Non, ini rumah sakit kucingnya lebih bagus daripada rumah sakit manusia.’ Akupun kaget ya karena aku nggak nyangka ada rumah sakit hewan yang sebagus itu di Jakarta." Keterkejutan ini menunjukkan standar tinggi yang ia tetapkan untuk perawatan hewan kesayangannya.

Mengenai anggaran biaya perawatan, Cinta mengaku tidak memiliki pos anggaran khusus yang kaku. Namun, ia sangat menekankan pentingnya kualitas dalam setiap aspek. "Gak sih, yang masuk akal aja. Aku selalu pilihkan makanan yang layak makan manusia. Aku gak kaleng-kaleng kalau pilih makanan kucing buat kucing-kucing aku. Harus human grade," paparnya. Kualitas makanan yang ia berikan setara dengan makanan yang dikonsumsi manusia, menunjukkan betapa ia memperlakukan kucing-kucingnya seperti anggota keluarga. Hal ini juga berlaku pada pemilihan dokter hewan, di mana ia memastikan kredibilitas dan kepercayaan terhadap tenaga medis yang menangani.

Meskipun memberikan perawatan yang sangat baik, Cinta Laura memiliki tujuan agar kucing-kucingnya tidak menjadi terlalu manja. "Dan lagi-lagi mereka kan kucing domestik, kalau bahasa awamnya kucing kampung. Jadi ya mereka harus tahu tough-nya dunia jugalah, jangan terlalu manja. Walaupun mereka manja sekali karena sudah terbiasa hidup di rumah empat kamar," tuturnya sambil tersenyum. Ia ingin kucing-kucingnya tetap memiliki sedikit kemandirian, meskipun ia tak memungkiri bahwa mereka telah terbiasa dengan kenyamanan hidup di rumah yang luas.

Alasan di balik kecintaannya pada kucing kampung sangat unik dan personal. Sejak kecil, Cinta telah memiliki preferensi terhadap kucing domestik. "Dari kecil memang aku selalu ngerasa kucing domestik atau kucing kampung itu lebih lucu daripada kucing ras. Jadi kalau aku melihat teman-teman aku dengan kucing rasnya yang bulunya kayak kemoceng, aku gak jealous sama sekali karena buat aku gak lucu. Yang lucu memang yang domestik, yang asli Indonesia. Kucing yang made in Indonesia gitu," jelasnya dengan antusias. Baginya, kucing kampung memiliki pesona tersendiri yang lebih otentik dan mencerminkan keindahan lokal.

Saat ini, Cinta Laura memiliki dua kucing yang ia anggap sebagai anak kandung di rumahnya, bernama Pipo dan Spiky. Namun, ia juga menceritakan kisah kucing lain yang sempat ia beri nama Ramona, yang kemudian ia pindahkan karena dianggap "durhaka". Kini, Ramona memiliki adik bernama Midnight. Pengalaman merawat hewan bahkan membawanya pada skala yang lebih besar. "Tapi dulu sebelum aku pindah kantor karena aku sempat punya kantor di Ampera, itu ada 80 kucing. Tapi itu semua lahir di kantor itu dan akhirnya kita besarkan, kita vaksin, kita kasih makan, dan kita steril juga," ungkapnya. Pengalaman ini menunjukkan kepeduliannya yang luas terhadap kesejahteraan hewan.

Proses adopsi kucing bagi Cinta Laura tidak dilakukan secara sembarangan. Ia mengaku lebih mengandalkan koneksi batin saat memilih hewan yang akan ia bawa pulang. "Aku merasa biasanya kucing-kucing yang aku pilih memang ada koneksi batin gitu. Aku melihat mereka tiba-tiba kayak ‘Wah, aku harus mengangkat mereka menjadi anak’. Jadi gak asal, harus ada connection-nya," katanya. Pendekatan ini menunjukkan betapa ia merasakan ikatan emosional yang kuat dengan hewan-hewan yang ia pilih.

Cinta Laura juga membandingkan sifat kucing dengan anjing, terutama dalam hal membangun loyalitas. "Bedanya kucing sama anjing kan kalau anjing itu dikenal loyal kepada manusia. Kalau kucing, kita harus ajarkan mereka loyalitas," ujarnya. Ia menekankan pentingnya memberikan perhatian dan kasih sayang sejak awal. "Jadi enam bulan pertama kucing aku berada di dunia ini, aku yang kasih makan, aku yang kasih snack. Pokoknya aku ingin mereka belajar bahwa hanya aku yang memberikan mereka kenyamanan," tutupnya. Upayanya ini bukan sekadar memberikan makanan, tetapi juga membangun fondasi hubungan yang kuat, memastikan kucing-kucingnya merasa aman dan terhubung dengannya sebagai sumber utama kenyamanan dan kasih sayang. Dedikasi Cinta Laura dalam merawat kucing kampungnya menjadi inspirasi bagi banyak pecinta hewan, menunjukkan bahwa cinta dan perawatan berkualitas tidak mengenal batasan ras atau asal-usul. Ia membuktikan bahwa kucing kampung pun berhak mendapatkan perlakuan terbaik, layaknya anggota keluarga tersayang.