0

Chip Ditolak Xi Jinping, CEO Nvidia Segera Sowan ke China

Share

Kunjungan CEO Nvidia Jensen Huang ke China pada akhir Januari dilaporkan menjadi sorotan utama di tengah ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan China. Perjalanan bos raksasa chip global ini dipandang bukan sekadar kunjungan bisnis rutin, melainkan sebuah misi strategis yang krusial untuk membuka kembali akses ke pasar utama bagi chip kecerdasan buatan (AI) mereka yang canggih, yang sebelumnya terhambat oleh kontrol ekspor AS dan kini dihadapkan pada penolakan tak terduga dari pihak China.

Laporan dari Bloomberg, yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut, menyebutkan bahwa Huang akan menghadiri acara perusahaan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, dengan Beijing menjadi salah satu kota yang kemungkinan akan ia kunjungi. Kendati demikian, laporan tersebut tidak merinci apakah dalam kunjungannya nanti ia akan berkesempatan untuk bertemu dengan pejabat senior China, sebuah pertemuan yang tentunya akan memiliki implikasi besar bagi masa depan bisnis Nvidia di negara tersebut. Ketidakpastian mengenai agenda pertemuan tingkat tinggi ini semakin menambah misteri di balik kunjungan yang sarat makna ini.

Momen kunjungan Huang ini sangatlah genting, mengingat Nvidia tengah berjuang keras untuk mendapatkan kembali pijakan di pasar China, sebuah pasar yang sangat vital bagi pertumbuhan dan dominasi mereka di sektor AI. Sejak tahun 2022, Nvidia telah merasakan dampak langsung dari kontrol ekspor yang diberlakukan oleh pemerintah AS terhadap chip AI canggih, yang dirancang untuk membatasi akses China terhadap teknologi yang berpotensi digunakan untuk pengembangan militer atau ancaman keamanan nasional. Pembatasan ini secara efektif menghalangi penjualan chip performa tinggi Nvidia seperti A100 dan H100 ke China.

Namun, dinamika pasar dan regulasi kembali berubah dengan cepat. Dikutip dari India Times, pemerintahan AS di bawah Presiden Trump, beberapa waktu sebelumnya, dilaporkan telah memberikan izin kepada Nvidia untuk menjual varian chip AI terbarunya, H200, ke China. Keputusan ini sempat memberikan secercah harapan bagi Nvidia dan para pelanggannya di China. Chip H200 sendiri merupakan penerus dari H100, dengan peningkatan signifikan dalam memori dan bandwidth, menjadikannya salah satu prosesor AI paling canggih di dunia. Harapannya, Nvidia dapat segera memulai kembali pengiriman chip ini, meskipun ada penolakan kuat dari beberapa pihak di Washington yang terus menentang hubungan bisnis yang erat dengan China, terutama di sektor teknologi strategis.

Ironisnya, harapan tersebut segera sirna. Hampir segera setelah keputusan AS tersebut, sebuah perkembangan mengejutkan muncul: pejabat bea cukai China dilaporkan secara eksplisit menyatakan bahwa chip H200 tidak diizinkan masuk ke negara itu. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa instruksi telah diberikan kepada petugas bea cukai untuk memblokir impor chip Nvidia H200. Penolakan ini, yang datang dari pihak China sendiri setelah AS melonggarkan pembatasan, menciptakan gelombang kebingungan dan kekhawatiran di kalangan industri. Langkah ini secara efektif membalikkan semua upaya Nvidia dan menciptakan situasi yang jauh lebih kompleks daripada sebelumnya.

Dampak dari penolakan China ini tidak butuh waktu lama untuk terasa. Beberapa hari setelah pejabat bea cukai China memblokir prosesor tersebut, para pemasok komponen utama untuk chip AI itu dilaporkan menghentikan lini produksi mereka. Laporan terbaru dari Financial Times, yang mengutip dua orang yang mengetahui masalah ini, secara gamblang menyebutkan bahwa produsen suku cadang chip penting, termasuk papan sirkuit cetak (PCB) yang esensial untuk mengemas chip H200, telah menghentikan operasi. Langkah ini diambil demi menghindari penumpukan stok yang tak terjual akibat ketidakpastian pasar dan penolakan yang tak terduga. Penghentian produksi ini menyoroti kerentanan rantai pasok global terhadap kebijakan geopolitik dan menunjukkan betapa cepatnya keputusan politik dapat merombak lanskap ekonomi.

Di balik penolakan bea cukai ini, terdapat strategi yang lebih besar dari pemerintah China. Berbagai laporan mengindikasikan bahwa meskipun perusahaan teknologi raksasa seperti Alibaba, ByteDance, dan Tencent sangat ingin membeli H200 karena performanya yang superior untuk mengembangkan infrastruktur AI mereka, pemerintah China memberikan tekanan kuat kepada mereka. Tekanan ini bertujuan agar perusahaan-perusahaan domestik memprioritaskan alternatif lokal, seperti chip Ascend buatan Huawei. Selain itu, ada kekhawatiran yang mendalam bahwa penggunaan chip asing untuk tujuan yang dapat mengancam keamanan nasional harus dihindari. Ini adalah bagian dari dorongan China untuk mencapai kemandirian teknologi yang lebih besar, sebuah agenda yang semakin dipercepat di tengah ketegangan dengan AS.

Chip Ascend buatan Huawei, khususnya Ascend 910, telah dipromosikan secara agresif oleh Beijing sebagai solusi domestik yang mampu menandingi kemampuan chip Nvidia. Meskipun saat ini performa Ascend 910 mungkin belum sepenuhnya setara dengan chip kelas atas Nvidia seperti H100 atau H200, investasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan, ditambah dengan dukungan pemerintah yang kuat, menunjukkan ambisi China untuk menjadi pemain utama dalam desain dan produksi chip AI. Memaksa perusahaan-perusahaan domestik untuk beralih ke solusi lokal tidak hanya mendukung industri dalam negeri tetapi juga mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, yang dipandang sebagai risiko keamanan dan kerentanan strategis.

Akibat langsung dari ketidakpastian ini dan tekanan pemerintah, laporan FT juga mengungkapkan bahwa meskipun telah memesan lebih dari 2 juta unit H200, beberapa pelanggan China terpaksa membatalkan pesanan mereka. Pembatalan pesanan dalam skala besar ini tidak hanya merugikan Nvidia dari segi pendapatan tetapi juga mengirimkan sinyal yang jelas tentang perubahan prioritas dan kebijakan di pasar China. Bagi Nvidia, kehilangan pasar China atau setidaknya sebagian besar darinya, akan menjadi pukulan signifikan terhadap proyeksi pendapatan dan posisi dominan mereka di pasar chip AI global. China merupakan salah satu pasar AI terbesar di dunia, dengan investasi yang masif dalam pusat data, pengembangan aplikasi AI, dan riset ilmiah.

Kunjungan Jensen Huang ke China, dengan demikian, bukan hanya tentang penjualan chip. Ini adalah upaya untuk menavigasi labirin kompleks hubungan AS-China, memahami niat sebenarnya dari pemerintah Beijing, dan mencari celah atau solusi yang memungkinkan Nvidia untuk terus beroperasi di salah satu pasar paling penting di dunia. Apakah Huang akan berhasil meyakinkan pejabat China tentang pentingnya kolaborasi teknologi, atau apakah ia akan dihadapkan pada realitas bahwa China telah memutuskan untuk sepenuhnya beralih ke jalur kemandirian teknologi, masih harus dilihat.

Misi Huang juga mencerminkan dilema yang dihadapi banyak perusahaan teknologi global: bagaimana menyeimbangkan kepatuhan terhadap regulasi negara asal mereka dengan kebutuhan untuk mempertahankan akses ke pasar-pasar besar yang vital. Nvidia sebelumnya telah mencoba menavigasi pembatasan AS dengan merancang chip versi "detuned" seperti A800 dan H800, yang memiliki kemampuan komputasi yang sedikit lebih rendah untuk memenuhi batas kontrol ekspor. Namun, penolakan H200 oleh China sendiri menunjukkan bahwa bahkan upaya penyesuaian ini mungkin tidak lagi cukup untuk memenuhi tuntutan Beijing yang semakin meningkat akan kemandirian dan keamanan teknologi.

Secara lebih luas, situasi ini menggarisbawahi eskalasi perang teknologi antara AS dan China, di mana chip AI menjadi medan pertempuran utama. Kontrol atas teknologi semikonduktor canggih dianggap krusial untuk dominasi ekonomi dan militer di masa depan. China, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, telah menjadikan kemandirian teknologi sebagai prioritas utama, dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan membangun rantai pasok domestik yang tangguh. Penolakan terhadap H200 adalah manifestasi dari kebijakan ini, menunjukkan bahwa China bersedia menanggung biaya jangka pendek demi mencapai tujuan strategis jangka panjang.

Maka, kunjungan Jensen Huang bukan sekadar perjalanan bisnis biasa. Ini adalah sebuah perjalanan diplomatik teknologi yang krusial, sebuah upaya untuk memahami dan mungkin membentuk kembali masa depan hubungan Nvidia dengan pasar China yang sangat kompleks dan strategis. Keberhasilan atau kegagalan misi ini tidak hanya akan menentukan nasib bisnis Nvidia di China tetapi juga dapat memberikan petunjuk penting tentang arah masa depan persaingan dan kolaborasi teknologi global. Dunia akan menyaksikan dengan cermat bagaimana CEO Nvidia, yang dikenal dengan visi dan ketajamannya, akan menavigasi tantangan monumental ini.