BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sebuah kisah luar biasa datang dari Anshar, seorang pria berusia 42 tahun asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Om Daeng. Ia baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan epik yang membawanya dari Lumajang, Jawa Timur, hingga ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi, dengan mengendarai sepeda motor Yamaha XMax kesayangannya. Perjalanan yang tak hanya menguji ketangguhan fisik dan mental, tetapi juga menjadi sebuah ziarah spiritual yang mendalam, menempuh jarak fantastis sejauh 27 ribu kilometer dalam kurun waktu sekitar tujuh bulan. Perjalanan ini membawanya melintasi belasan negara, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Om Daeng, dalam wawancaranya dengan detikOto di program Siniar Injeksi, membagikan detail perjalanannya yang penuh warna dan tantangan. Cita-citanya untuk keliling dunia telah lama terpendam, dan memilih Mekkah sebagai tujuan awal adalah sebuah keputusan yang penuh makna. "Hobi saya kan motoran ya dan cita-cita saya memang pingin keliling dunia. Nah, keinginan touring lintas dunia harus ke Arab dulu nih biar kita bisa minta restu ke pusat langsung," ungkapnya dengan penuh semangat. Keputusan ini tidak hanya didasari oleh keinginan petualangan, tetapi juga oleh sebuah niat spiritual untuk memulai sebuah perjalanan besar dengan restu dan doa dari tempat yang paling suci. Sebelum memberanikan diri menaklukkan benua, Om Daeng telah melakukan "pemanasan" dengan menjelajahi berbagai penjuru Indonesia, menguji kesiapan dirinya dan kendaraannya untuk petualangan yang lebih besar. Ketika ditanya mengenai profesi sehari-hari, Om Daeng justru memilih untuk tidak banyak bicara, dengan santai mengaku sebagai seorang "pengangguran" yang memiliki hobi luar biasa: jalan-jalan. Pengakuan ini justru menambah aura misterius dan keunikan pada sosoknya, menunjukkan bahwa passion dan keberanian tidak selalu harus dibarengi dengan status pekerjaan formal.
Perjalanan melintasi 12 negara ini menyuguhkan berbagai macam pengalaman dan pemandangan yang tak terlupakan. Negara yang paling membekas di benak Om Daeng adalah Tiongkok. Keberagaman lanskap di Tiongkok, mulai dari hiruk pikuk perkotaan yang modern, keindahan pedesaan yang asri, panorama alam yang memukau, hingga deretan pegunungan yang megah, semuanya terekam dalam ingatannya. Ia bahkan berkesempatan untuk melintasi jalur sutra (Silk Road) yang bersejarah, sebuah rute perdagangan kuno yang menjadi saksi bisu peradaban dan pertukaran budaya selama berabad-abad. Pengalaman melintasi jalur legendaris ini tentu memberikan dimensi historis yang tak ternilai pada petualangannya.
Namun, tidak semua negara menawarkan keindahan semata. Afghanistan menjadi negara yang paling menantang dan berat bagi Om Daeng. Situasi politik negara tersebut yang masih bergejolak dan kondisi geografis yang sulit menjadi faktor utama. "Kalau paling berat di Afghanistan, banyak hal yang membuat itu berat. Mulai dari situasi politik negara mereka sampai kondisinya. Jadi pas saya masuk sana, saya ngerasa kayak beda banget," tuturnya dengan nada serius. Pengalaman ini tentu menguji ketangguhan mentalnya, namun juga memberikan pelajaran berharga tentang keberagaman dunia dan kompleksitas kehidupan di berbagai belahan bumi.

Sebuah momen dramatis dan menegangkan terjadi ketika Om Daeng memasuki Afghanistan dari Tajikistan. Rute yang dilaluinya dipenuhi pasir dan debu, menciptakan suasana yang serba tidak pasti. Tiba-tiba, di tengah hamparan pasir tersebut, muncul bendera tauhid dan sekelompok masyarakat bersenjata lengkap, yang diidentifikasinya sebagai anggota Taliban. "Gimana perasaannya coba? Tapi ternyata setelah makin dekat, mereka senyum dan rasa cemas saya berkurang," ungkapnya, menceritakan bagaimana ketegangan awal mereda seketika saat melihat keramahan yang tak terduga. Pengalaman ini menunjukkan bahwa persepsi awal terkadang bisa berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan, dan bahwa kebaikan hati bisa ditemukan di tempat yang paling tidak terduga. Momen ini juga menjadi bukti nyata bahwa di balik berita-berita yang terkadang menakutkan, ada sisi kemanusiaan yang patut dihargai.
Selama tujuh bulan petualangan yang luar biasa ini, Om Daeng memperkirakan total biaya yang dihabiskannya mencapai sekitar Rp 300 jutaan. Angka ini mencakup segala pengeluaran selama perjalanan, termasuk biaya kargo motornya dari Arab Saudi kembali ke Indonesia, sebuah logistik yang tentu tidak sedikit. Namun, bagi Om Daeng, nilai pengalaman dan pencapaian spiritual yang didapatkannya jauh melampaui angka tersebut.
Kisah Om Daeng tidak berhenti di Mekkah. Dengan semangat petualangan yang masih membara, ia berencana untuk melanjutkan perjalanannya di tahun ini. Kali ini, tujuannya lebih ambisius lagi: dari Mekkah menuju London, Inggris. Rencananya adalah untuk kembali melintasi sekitar 12 negara, membuktikan bahwa semangat eksplorasi tanpa batas adalah bagian dari dirinya. "Kita start dari Arab dan ngelewatin 12 negara juga. Kenapa Inggris? Sebenarnya yang dekat dari Arab kan Afrika ya, tapi Afrika menantang jadi nanti-nanti dulu. Kita nikmatin Eropa dulu," jelasnya. Keputusan untuk memilih Eropa sebagai destinasi selanjutnya menunjukkan bahwa Om Daeng memiliki rencana yang matang dan terus berevolusi dalam petualangannya. Ia sengaja menunda penjelajahan benua Afrika yang dikenal penuh tantangan, memilih untuk menikmati keindahan dan keragaman Eropa terlebih dahulu.
Perjalanan Om Daeng ini bukan sekadar touring biasa. Ini adalah sebuah perwujudan mimpi, sebuah pembuktian diri, dan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. Dengan Yamaha XMax yang setia menemaninya, ia membuktikan bahwa batasan jarak dan negara dapat ditembus oleh semangat dan keberanian. Kisahnya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang memiliki impian besar, mengajarkan bahwa dengan perencanaan yang matang, ketekunan, dan keberanian, segala sesuatu mungkin terwujud. Dari jalanan Indonesia hingga ke tanah suci, dan kini menatap cakrawala Eropa, Om Daeng terus menuliskan babak baru dalam petualangan hidupnya yang luar biasa. Ia menunjukkan bahwa dunia ini luas untuk dijelajahi, dan setiap perjalanan adalah kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menemukan makna yang lebih dalam.

