BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah sorotan publik yang mengiringi kabar poligami Pesulap Merah, nama asli Marcel Radhival, terkuak sebuah narasi yang jauh dari sekadar sensasi. Di balik layar kontroversi, tersembunyi sebuah kisah haru yang memperlihatkan hubungan unik antara mendiang istri pertamanya, Tika Mega Lestari, dengan istri keduanya, Ratu Rizky Nabila. Hubungan ini, yang awalnya diwarnai ketegangan, justru berkembang menjadi ikatan persahabatan yang menyentuh, menunjukkan kedewasaan dan penerimaan di antara kedua wanita yang berbagi suami. Pesulap Merah sendiri mengakui bahwa pernikahan dengan Ratu Rizky Nabila, yang telah disembunyikan sejak tahun 2022, baru terungkap kepada Tika pada Juli 2025. Pengungkapan ini, tak pelak lagi, memicu kemarahan dan ketidakpahaman awal. Namun, alih-alih membiarkan konflik berkepanjangan, Pesulap Merah memilih untuk tidak menyoroti sisi buruk dari peristiwa tersebut, mengacu pada ajaran agama yang menekankan pembicaraan baik mengenai almarhumah. Ia menekankan, "Di 2025 bulan Juli pas tahu ya awalnya berantem. Awalnya berantem saling gak terima dan semacamnya. Cuma kan saya gak bisa menceritakan yang buruk-buruk, rahimahullah udah meninggal itu kita diminta untuk membicarakan hal yang baik-baik," ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Timur, Sabtu (21/2/2026).
Proses penerimaan dan pembentukan ikatan persahabatan ini tidak terjadi dalam semalam. Setelah badai pertengkaran awal mereda, kedua wanita ini secara perlahan mulai membuka diri satu sama lain. Komunikasi yang terjalin secara pribadi, tanpa perantara Marcel, menjadi kunci utama. Pesulap Merah menceritakan bagaimana Tika dan Ratu mulai saling menelepon, bertukar pesan, dan bahkan menjalin hubungan pertemanan yang erat. Mereka saling memberi dukungan dan kabar, menunjukkan bahwa penerimaan telah mulai tumbuh di antara mereka. "Nah akhirnya lama-lama mereka teleponan, chat-chatan, temenan, saling berkabar. Bahkan saling titip ketika istri pertama saya ke Korea," jelasnya, menggambarkan betapa eratnya hubungan yang terjalin.
Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan Pesulap Merah adalah ketika mendiang Tika bersiap untuk melakukan perjalanan ke Korea. Dalam momen tersebut, Tika secara spesifik menitipkan dirinya kepada Ratu Rizky Nabila. Ungkapan ini, bagi Pesulap Merah, menjadi bukti nyata bahwa mendiang istrinya telah berdamai dengan keadaan dan sepenuhnya menerima kehadiran Ratu Rizky Nabila dalam hidup mereka. "Itu ada tuh omongan istri pertama saya ke Ratu, ‘Titip Mas Haris ya, titip Mas Marcel ya gitu, titip saya ya karena saya mau ke Korea dulu nih.’ Jadi memang pernah mereka baik gitu, mereka pernah temenan, pernah sedekat itu," terangnya dengan nada haru. Hal ini menunjukkan adanya kedalaman emosional dan kematangan dalam menyikapi situasi poligami yang kompleks.
Namun, narasi harmonis ini tidak luput dari tantangan. Menjelang akhir hayat Tika, hubungan baik antara kedua istrinya kembali terusik. Pesulap Merah mengungkapkan penyesalannya atas adanya campur tangan dari pihak keluarga yang kembali memanaskan situasi. Ironisnya, hal ini terjadi meskipun secara personal, Tika dan Ratu Rizky Nabila telah mencapai titik penerimaan dan kedamaian. Pesulap Merah menggarisbawahi perbedaan sikap keluarga kedua belah pihak dalam menghadapi situasi ini. Ia menambahkan, "Cuma memang belakangan-belakangan ada unsur keluarga yang ikut campur. Nah kalau dari keluarga Ratu sejujurnya tidak ikut campur sama sekali karena dia diberikan kayak ‘Ya udah itu pilihan lu, tanggung jawab lu lah gitu’." Pernyataan ini menyoroti bahwa Ratu Rizky Nabila dan keluarganya cenderung memberikan otonomi kepada Marcel dalam mengambil keputusan, sementara pihak lain mungkin memiliki pandangan yang berbeda dan lebih ikut campur dalam urusan pribadi tersebut.
Kisah ini, lebih dari sekadar cerita tentang poligami, adalah refleksi tentang kompleksitas hubungan manusia, kemampuan beradaptasi, dan kekuatan penerimaan. Dalam sebuah struktur keluarga yang tidak konvensional, Tika dan Ratu Rizky Nabila berhasil menemukan titik temu, bahkan membangun jembatan persahabatan yang kuat. Momen-momen intim seperti saling menitipkan diri dan komunikasi personal menunjukkan bahwa di balik keputusan seorang pria, ada dua wanita yang mampu menjalin ikatan tulus, bahkan dalam situasi yang paling menantang sekalipun. Pesulap Merah, melalui pengakuannya, tidak hanya berbagi fakta, tetapi juga memberikan perspektif yang lebih dalam tentang sisi emosional dan kemanusiaan yang terlibat dalam pernikahannya yang berpoligami. Ia berusaha menampilkan gambaran yang lebih seimbang, menekankan pada aspek positif dan upaya rekonsiliasi yang terjadi di antara kedua istrinya, bahkan ketika menghadapi kesulitan dan campur tangan eksternal. Pengakuan ini membuka jendela ke dalam kehidupan pribadi Pesulap Merah yang jauh dari citra publiknya sebagai seorang pesulap yang kerap menampilkan sisi misterius dan supranatural. Ia menunjukkan sisi dirinya sebagai seorang suami dan figur yang mencoba menavigasi dinamika keluarga yang rumit dengan segala kerentanannya.
Lebih jauh lagi, cerita ini dapat dijadikan pelajaran berharga mengenai pentingnya komunikasi terbuka, empati, dan kematangan emosional dalam menghadapi situasi yang tidak biasa. Bagaimana kedua wanita ini, meskipun memiliki suami yang sama, mampu bertransformasi dari ketegangan menjadi persahabatan, adalah sebuah bukti bahwa penerimaan dan pemahaman dapat mengalahkan prasangka dan kecemburuan. Kemampuan mereka untuk saling mendukung, bahkan dalam momen-momen krusial seperti kepergian Tika ke luar negeri, menunjukkan kedalaman ikatan yang telah terjalin. Pesulap Merah juga memberikan apresiasi terhadap sikap keluarga Ratu Rizky Nabila yang tidak ikut campur, memberikan ruang bagi Marcel untuk bertanggung jawab atas pilihannya. Hal ini kontras dengan campur tangan keluarga lain yang justru berpotensi memperkeruh suasana. Dalam konteks ini, Pesulap Merah tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga tentang peran penting keluarga dan lingkungan dalam membentuk dinamika sebuah hubungan.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa di balik berita sensasional yang sering kali didominasi oleh drama dan konflik, seringkali terdapat cerita-cerita manusiawi yang kompleks dan penuh nuansa. Pesulap Merah, dengan keterbukaannya, mengajak publik untuk melihat lebih jauh dari sekadar judul berita. Ia mengundang kita untuk merenungkan tentang bagaimana individu dapat beradaptasi, memaafkan, dan bahkan menemukan keindahan dalam situasi yang mungkin dianggap sulit oleh banyak orang. Hubungan antara Tika dan Ratu Rizky Nabila, meskipun tragis karena terputus oleh maut, menjadi saksi bisu akan kekuatan ikatan yang melampaui batas-batas konvensional. Ini adalah cerita tentang keberanian, kerentanan, dan kemampuan manusia untuk menemukan kedamaian dan koneksi, bahkan dalam keadaan yang paling tidak terduga sekalipun. Pengakuan Pesulap Merah ini memberikan warna baru pada persepsi publik mengenai poligami, menunjukkan bahwa di balik struktur sosial yang sering diperdebatkan, terdapat pengalaman pribadi yang kaya dan beragam, yang layak untuk dipahami dengan lebih mendalam dan empati. Cerita ini menjadi bukti bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakang atau pilihan hidupnya, memiliki cerita yang patut didengarkan dan dipahami.

