0

Cerita Al Ghazali Usai Gelar Syukuran Tujuh Bulanan dengan Adat Sunda

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Al Ghazali dan Alyssa Daguise tengah merayakan momen penuh sukacita dengan digelarnya acara syukuran tujuh bulanan kehamilan anak pertama mereka. Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini tidak hanya menjadi penanda penting dalam perjalanan kehamilan Alyssa, tetapi juga sebuah perayaan budaya yang kental dengan nuansa adat Sunda. Pemilihan adat Sunda ini, seperti yang dijelaskan oleh Al Ghazali, merupakan bentuk penghormatan terhadap latar belakang keluarga sang istri. "Adatnya Sunda, karena hari ini kan Alyssa Sunda," ujar Al Ghazali dengan senyum sumringah saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat (6/2/2026) malam. Keputusan ini mencerminkan keinginan pasangan muda ini untuk merangkul dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh keluarga Alyssa.

Meskipun demikian, Al Ghazali menekankan bahwa inti dari perayaan tujuh bulanan ini bukan semata-mata terletak pada kesempurnaan detail adat yang dijalani, melainkan pada makna kebersamaan dan silaturahmi dengan keluarga besar. "Iya, adatnya apa saja, yang penting kan silaturahmi sama keluarga semua juga," tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Al Ghazali dan Alyssa, momen penting ini adalah tentang mempererat tali persaudaraan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terkasih. Kebersamaan keluarga menjadi prioritas utama, menjadikan acara ini lebih dari sekadar sebuah tradisi, melainkan sebuah momen penguatan ikatan keluarga.

Salah satu momen yang cukup menarik perhatian dalam acara tersebut adalah prosesi simbolis yang biasanya identik dengan penggunaan belut. Namun, dalam syukuran kali ini, belut diganti dengan ikan mas. Al Ghazali pun tak ragu membagikan alasan di balik perubahan ini. "Harusnya belut, cuma diganti sama ikan mas. Aku bukan jijik sih, tapi takut dipegang licin lepas gitu (belut). Jadi agak kasihan sama binatangnya," tuturnya sambil tertawa kecil. Keputusan ini menunjukkan sisi kemanusiaan Al Ghazali yang merasa iba terhadap hewan, sekaligus komitmennya untuk tetap menjalankan tradisi dengan cara yang nyaman dan tidak menyakiti makhluk hidup. Penggantian belut dengan ikan mas ini menjadi salah satu detail unik yang membuat acara syukuran tujuh bulanan mereka semakin berkesan.

Prosesi tujuh bulanan sendiri merupakan tradisi yang kaya makna dalam budaya Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda. Tradisi ini menandai usia kehamilan yang memasuki bulan ketujuh, di mana kehamilan dianggap sudah cukup kuat dan janin sudah mulai terbentuk dengan lebih sempurna. Rangkaian acara dalam tujuh bulanan biasanya meliputi berbagai ritual yang memiliki filosofi mendalam, mulai dari memandikan calon bayi (meskipun dalam perut), memotong rambut, hingga memberikan seserahan kepada calon ibu. Dalam konteks adat Sunda, beberapa elemen khas yang sering ditampilkan antara lain penggunaan bunga-bungaan, kain tradisional seperti batik atau kebaya, serta lantunan shalawat atau doa-doa Islami yang dibawakan dengan irama khas Sunda.

Dalam acara yang digelar Al Ghazali dan Alyssa, nuansa adat Sunda terasa kental melalui berbagai elemen dekorasi dan busana yang dikenakan. Kemungkinan besar, Alyssa mengenakan pakaian adat Sunda yang anggun, seperti kebaya sulam yang indah, dipadukan dengan kain batik atau songket khas Sunda. Hiasan kepala yang menawan juga mungkin melengkapi penampilannya, menambah kesan anggun dan tradisional. Dekorasi ruangan kemungkinan dihiasi dengan bunga-bunga segar, dedaunan hijau, serta elemen-elemen alam lainnya yang mencerminkan kesuburan dan keindahan alam Sunda. Musik tradisional Sunda, seperti degung atau kacapi suling, kemungkinan juga mengalun lembut mengiringi jalannya acara, menciptakan suasana yang syahdu dan khidmat.

Prosesi tujuh bulanan adat Sunda umumnya diawali dengan siraman, di mana calon ibu akan dimandikan dengan air bunga tujuh rupa oleh beberapa anggota keluarga atau sesepuh. Prosesi ini melambangkan penyucian diri dan harapan agar calon bayi lahir dengan bersih dan suci pula. Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara potong rambut, yang melambangkan pembuangan hal-hal buruk dan harapan untuk masa depan yang cerah bagi sang anak. Pengajian atau pembacaan doa-doa khusus juga menjadi bagian penting, memohon perlindungan dan keberkahan dari Tuhan untuk ibu dan calon bayi.

Mengenai penggantian belut dengan ikan mas, tradisi memancing belut dalam acara tujuh bulanan memiliki makna tersendiri. Belut yang licin melambangkan kelancaran proses persalinan dan kehidupan sang anak kelak. Namun, Al Ghazali yang merasa takut dan kasihan terhadap hewan tersebut, menunjukkan sisi empatinya yang patut diapresiasi. Penggantian dengan ikan mas pun tetap memiliki filosofi positif, di mana ikan mas seringkali diasosiasikan dengan rezeki dan keberuntungan. Ikan mas yang berenang lincah di air dapat melambangkan kelancaran rezeki dan kehidupan yang berkelimpahan bagi sang buah hati.

Ketika disinggung mengenai persiapan nama untuk calon buah hati mereka, Al Ghazali mengaku bahwa nama pasti belum terpikirkan secara matang. "Belum ada," ungkapnya singkat. Namun, ia membenarkan adanya rencana inisial nama yang telah diusulkan oleh Alyssa, di mana nama untuk anak perempuan mereka akan berawalan huruf "S". Hal ini senada dengan bocoran yang sebelumnya diberikan oleh sang ayah, Ahmad Dhani, yang juga menyebutkan bahwa inisial nama anak mereka akan berawalan huruf "S". "Inisial S itu dari Alyssa yang kasih nama. Kalau aku sendiri, nama tengahnya belum terpikirkan banget," pungkasnya. Keputusan untuk menamai anak dengan inisial "S" ini tentu akan memunculkan rasa penasaran publik, menunggu nama lengkap yang akan mereka pilih.

Pemilihan nama anak merupakan salah satu aspek penting dalam setiap kehamilan. Nama tidak hanya sekadar panggilan, tetapi juga doa dan harapan orang tua untuk masa depan sang anak. Dalam tradisi Sunda, pemilihan nama seringkali mempertimbangkan makna filosofis, keindahan bunyi, serta harapan akan karakter dan nasib baik. Kemungkinan besar, Al Ghazali dan Alyssa akan memilih nama yang memiliki arti mendalam, menggabungkan unsur modernitas dan nilai-nilai budaya.

Perhelatan syukuran tujuh bulanan ini tidak hanya menjadi momen penting bagi Al Ghazali dan Alyssa sebagai calon orang tua, tetapi juga sebagai refleksi kekayaan budaya Indonesia. Acara ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan makna dan esensinya. Dengan menggabungkan adat Sunda yang kental dengan sentuhan pribadi yang penuh perhatian, Al Ghazali dan Alyssa berhasil menciptakan sebuah perayaan yang tak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna dan kehangatan. Kebahagiaan mereka terpancar jelas, disambut oleh doa dan harapan terbaik dari keluarga dan kerabat. Kehamilan pertama ini tentu menjadi babak baru yang penuh tantangan dan kebahagiaan bagi pasangan muda ini, yang akan segera menyambut anggota keluarga baru mereka.