0

Bos Samsung Buka-bukaan Soal Krisis RAM dan Kenaikan Harga HP

Share

Krisis semikonduktor global yang mendalam terus menghantui sektor elektronik pada awal tahun 2026, menciptakan gelombang ketidakpastian yang meresahkan industri. Samsung, salah satu raksasa teknologi terbesar di dunia, secara terbuka mengakui tidak kebal terhadap dampak signifikan dari kelangkaan chip memori ini, bahkan mempertimbangkan langkah krusial untuk menaikkan harga ponsel pintarnya demi menjaga margin keuntungan yang semakin tertekan. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Co-CEO Samsung Electronics, TM Roh, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Reuters di sela-sela ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas, Senin (5/1/2026), menjadi sorotan utama di tengah hiruk pikuk pameran teknologi tahunan tersebut.

Roh, yang memimpin divisi mobile Samsung, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa unit bisnisnya sangat merasakan tekanan dari kelangkaan chip memori yang kini telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ironisnya, Samsung Electronics memiliki divisi semikonduktor yang sangat terkemuka, menjadi salah satu dari tiga produsen chip memori terbesar di dunia, bersama SK Hynix dan Micron Technology. Divisi ini sejatinya diuntungkan besar dari "siklus super memori" (memory supercycle) yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan fantastis akibat permintaan yang melonjak dan pasokan yang terbatas. Namun, situasi unik ini menciptakan dilema internal yang kompleks: satu tangan (divisi semikonduktor) meraup untung besar, sementara tangan lainnya (divisi mobile) harus berjuang keras menghadapi kenaikan biaya komponen.

"Karena situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya, tidak ada perusahaan yang kebal terhadap dampaknya," tegas Roh, menggarisbawahi skala dan kompleksitas tantangan yang dihadapi industri global. Krisis ini bukan hanya sekadar gangguan sementara, melainkan sebuah perubahan struktural yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari lonjakan permintaan yang tak terduga pasca pandemi COVID-19, percepatan adopsi teknologi 5G dan kecerdasan buatan (AI), hingga ketegangan geopolitik dan hambatan rantai pasokan. Permintaan akan chip memori, baik Dynamic Random Access Memory (DRAM) maupun NAND Flash, telah meroket di berbagai sektor, jauh melampaui kapasitas produksi yang ada.

Roh juga menjelaskan bahwa kelangkaan memori tidak hanya memukul perangkat seluler seperti smartphone dan tablet, yang menjadi tulang punggung pendapatan divisi mobile. Dampak rambatan ini juga akan dirasakan di segmen perangkat konsumen lainnya, mulai dari televisi pintar (smart TV), perangkat elektronik rumah tangga seperti kulkas pintar dan mesin cuci canggih, hingga komponen vital di industri otomotif dan pusat data. Setiap perangkat modern kini semakin bergantung pada chip memori yang canggih, menjadikan krisis ini sebagai ancaman menyeluruh bagi ekosistem teknologi. Dengan demikian, kenaikan harga chip memori secara otomatis akan meningkatkan biaya produksi seluruh lini produk elektronik.

Menghadapi tekanan biaya yang terus meningkat, Roh tidak menutup kemungkinan bagi Samsung untuk menaikkan harga perangkat Galaxy mereka. Keputusan ini, tentu saja, tidak diambil dengan ringan. Kenaikan harga dapat berpotensi mempengaruhi daya beli konsumen dan pangsa pasar, namun di sisi lain, menahan harga di tengah lonjakan biaya input dapat menggerus margin keuntungan hingga ke titik yang tidak berkelanjutan. Roh menekankan bahwa Samsung sedang merencanakan strategi jangka panjang yang komprehensif untuk meminimalkan efek kenaikan harga ini terhadap konsumen, sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis mereka. Strategi ini mungkin mencakup optimisasi rantai pasokan, diversifikasi pemasok, investasi pada teknologi produksi chip yang lebih efisien, dan bahkan negosiasi ulang kontrak dengan mitra.

Analisis dari lembaga riset terkemuka seperti IDC dan Counterpoint Research semakin memperkuat kekhawatiran ini. Keduanya memprediksi bahwa pasar smartphone global akan mengalami penyusutan signifikan pada tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada dua faktor utama: kelangkaan chip yang terus-menerus dan ancaman kenaikan harga perangkat yang tak terhindarkan. Konsumen, yang sudah menghadapi inflasi di berbagai sektor, mungkin akan lebih enggan untuk meng-upgrade ponsel mereka atau beralih ke merek yang menawarkan nilai lebih terjangkau, meskipun dengan kompromi fitur.

Lebih lanjut, laporan dari berbagai sumber industri mengindikasikan bahwa pemasok chip memori, termasuk divisi semikonduktor Samsung sendiri, telah beralih dari model kontrak jangka panjang ke kontrak jangka pendek yang lebih fleksibel. Pergeseran ini memungkinkan produsen chip untuk menyesuaikan harga secara lebih dinamis sesuai dengan kondisi pasar, memaksimalkan keuntungan mereka di tengah permintaan yang tinggi. Namun, bagi divisi mobile Samsung dan pelanggan lainnya, ini berarti volatilitas harga yang lebih tinggi dan ketidakpastian dalam perencanaan produksi. Laporan sebelumnya bahkan mengklaim bahwa divisi semikonduktor Samsung sendiri beralih ke kontrak jangka pendek untuk menyediakan memori ke divisi mobile mereka, menunjukkan bahwa bahkan dalam satu perusahaan raksasa, dinamika pasar tetap berlaku. Ini menciptakan skenario internal yang kompleks, di mana satu divisi harus membeli komponen dari divisi saudaranya dengan harga pasar yang fluktuatif, seolah-olah mereka adalah entitas terpisah.

Samsung sendiri saat ini sedang dalam persiapan akhir untuk meluncurkan seri flagship terbarunya, Galaxy S26 series, yang kabarnya akan diumumkan pada akhir Februari 2026 mendatang. Peluncuran seri S selalu menjadi momen krusial bagi Samsung untuk memamerkan inovasi terbaru dan mempertahankan posisinya di segmen premium. Rumor terbaru yang beredar di industri mengklaim bahwa harga Galaxy S26 tidak akan terpengaruh secara signifikan oleh kenaikan harga memori, sebuah upaya untuk menjaga daya saing di pasar yang semakin ketat. Namun, pernyataan TM Roh di CES 2026 ini secara implisit menyoroti tantangan besar di balik rumor tersebut. Jika rumor itu benar, itu berarti Samsung harus menyerap sebagian besar kenaikan biaya komponen, yang pada akhirnya akan menekan margin keuntungan mereka secara substansial. Ini adalah pertaruhan besar antara mempertahankan pangsa pasar dan profitabilitas. Keputusan akhir mengenai harga, tentu saja, masih menunggu pengumuman resmi dari Samsung yang diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan acara Galaxy Unpacked.

Krisis chip memori ini bukan hanya masalah pasokan dan permintaan semata. Ini adalah refleksi dari kerapuhan rantai pasokan global yang sangat terintegrasi, di mana gangguan di satu titik dapat memicu efek domino di seluruh dunia. Investasi besar-besaran diperlukan untuk membangun fasilitas produksi chip baru (fab), yang membutuhkan waktu bertahun-tahun dan miliaran dolar. Geopolitik juga memainkan peran krusial, dengan negara-negara besar berlomba-lomba untuk mengamankan pasokan chip domestik melalui subsidi dan insentif. Bagi Samsung, yang berada di garis depan inovasi dan produksi chip, tantangan ini sekaligus menjadi peluang untuk memperkuat posisi kepemimpinan mereka di masa depan, meskipun dengan harga yang tidak murah. Kemampuan mereka untuk menavigasi krisis ini tidak hanya akan menentukan nasib divisi mobile mereka, tetapi juga akan membentuk lanskap industri teknologi global untuk tahun-tahun mendatang. Konsumen, pada akhirnya, akan menjadi penentu apakah kenaikan harga ini dapat diterima demi mendapatkan inovasi terbaru, atau apakah mereka akan memilih untuk menunda pembelian dan menunggu stabilitas pasar kembali.

(vmp/fay)