0

Bos Oppo Indonesia Blak-blakan Susahnya Bikin Toko HP di Era Mal & Anak Muda

Share

Jakarta – Membuka toko ponsel di pusat perbelanjaan modern kini bukan lagi perkara sederhana memajang produk dan menunggu pembeli datang. Ini adalah era di mana ekspektasi konsumen telah berevolusi secara drastis, menuntut lebih dari sekadar fungsi dasar sebuah toko. CEO Oppo Indonesia, Jim Zhang, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa membangun toko HP di tengah lanskap mal yang terus berkembang dan dominasi konsumen generasi muda justru semakin sulit, menuntut strategi yang jauh lebih kompleks dan berorientasi pengalaman dibanding beberapa tahun lalu.

Menurut Jim Zhang, perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan terbesar bagi setiap merek teknologi saat ini. Konsumen, terutama generasi muda yang akrab dengan dunia digital, tidak lagi memandang toko fisik semata sebagai titik transaksi untuk membeli perangkat. Mereka mencari sesuatu yang lebih dalam: pengalaman imersif, kenyamanan, dan interaksi yang berbeda yang melampaui sekadar pembelian produk.

"Saya ingat tiga tahun lalu kami ingin membuka sebuah Oppo Store, tapi saat itu bahkan kami sendiri belum punya bayangan, toko ini seharusnya seperti apa," ujar Jim Zhang dalam perbincangan di sela-sela pembukaan kembali Oppo Flagship Store di Gandaria City, Jakarta. Pernyataannya ini menyoroti betapa cepatnya perubahan dalam lanskap ritel dan bagaimana merek harus beradaptasi, bahkan ketika konsep toko yang ideal masih buram di benak mereka sendiri.

Inspirasi dari Toko Buku Multifungsi di China: Sebuah Paradigma Baru

Ide mendasar untuk mengubah konsep toko Oppo bermula dari pengalaman pribadi Jim Zhang saat berkunjung ke Shenzhen, China, kota yang dikenal sebagai pusat inovasi dan teknologi. Ia menceritakan bagaimana sebuah toko buku bernama Xi Xi Fu memberinya perspektif baru yang revolusioner tentang fungsi dan potensi ruang ritel.

Toko tersebut bukan sekadar tempat untuk membeli buku. Xi Xi Fu dirancang sebagai ruang multifungsi yang menghadirkan kafe yang menyajikan kopi berkualitas, area santai yang nyaman, hingga zona khusus bagi perokok, menciptakan ekosistem yang holistik. Pengalaman itu membuat pengunjung betah berlama-lama, bahkan seluruh keluarga, termasuk mereka yang membawa anak-anak kecil.

"Sebagai orang tua, saya bisa minum teh, ngopi dengan tenang, anak saya bisa baca buku atau bermain di area yang aman. Semua anggota keluarga merasa nyaman dan terhibur. Itu menurut saya tempat yang sangat ideal," kata Jim dengan antusias. Konsep inilah, perpaduan antara ritel, rekreasi, dan komunitas, yang kemudian diyakini dapat diterapkan pada toko ponsel.

Transformasi konsep inilah yang kemudian dibawa ke Indonesia dan mulai diterapkan pada Oppo Store. Dimulai dari toko di AEON Jakarta Garden City, kemudian Deli Park Medan, hingga kini dikembangkan lebih jauh dan lebih komprehensif di Jakarta. Ini adalah upaya untuk mentransformasi toko menjadi "third space" bagi konsumen, setelah rumah dan tempat kerja/sekolah.

Toko HP Tak Bisa Lagi Sekadar Jualan: Menciptakan Destinasi, Bukan Hanya Transaksi

Bos Oppo Indonesia Blak-blakan Susahnya Bikin Toko HP di Era Mal & Anak Muda

Jim Zhang menilai banyak toko HP masih terjebak pada pendekatan lama: fokus pada penjualan produk dan promosi harga yang agresif. Padahal, di tengah persaingan ketat dan kemudahan belanja online yang menawarkan harga kompetitif, pendekatan tersebut semakin tidak relevan dan kurang menarik bagi konsumen modern.

"Toko HP sekarang tidak cukup hanya menjual produk. Kalau hanya jualan, konsumen bisa beli di mana saja, bahkan dengan satu klik dari rumah," ujarnya, menyoroti realitas e-commerce yang telah mengubah cara berbelanja. Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjadikan toko sebagai destinasi, sebuah tempat yang menawarkan nilai lebih dan pengalaman yang tidak bisa didapatkan secara online, bukan sekadar tempat transaksi.

Karena itu, Oppo menghadirkan elemen-elemen yang jarang ditemui di toko ponsel tradisional. Di dalam Oppo Store yang baru, konsumen dapat menemukan kafe internal bernama Finders Cafe, sebuah area fotografi yang memungkinkan pengunjung mencoba fitur kamera ponsel secara langsung, activity corner untuk berbagai kegiatan interaktif, hingga teknologi mutakhir seperti robot interaktif yang menyapa pengunjung dan 3D printer yang memamerkan inovasi.

Langkah strategis ini terbukti efektif dalam menarik pengunjung dan menciptakan loyalitas. Jim mengungkapkan, di beberapa lokasi Oppo Store, Finders Cafe mampu menjual 80-100 cup kopi per hari, bahkan mencapai angka impresif 7.000-8.000 cup per bulan di satu lokasi. Sementara itu, penjualan ponsel juga menunjukkan angka yang positif, menembus lebih dari 300 unit per bulan. Ini menunjukkan bahwa pengalaman yang menyenangkan dan fasilitas pendukung dapat secara signifikan meningkatkan minat kunjungan dan pada akhirnya, penjualan produk.

Mengkritik Layanan Purna Jual: Lokasi Service Center yang Strategis Adalah Kunci

Selain konsep toko, Jim Zhang juga menyoroti kesalahan umum yang dilakukan industri dalam menempatkan lokasi toko dan service center. Ia secara terbuka mengkritik praktik menaruh pusat layanan di area yang sulit dijangkau, tersembunyi, atau bahkan kurang nyaman di dalam mal.

"Kita sering lihat service center ada di ujung mal, bahkan ada yang di dekat toilet. Siapa yang mau servis handphone di sebelah WC? Itu pengalaman yang sangat buruk bagi konsumen," ujarnya blak-blakan, menunjukkan keprihatinannya terhadap pengalaman purna jual yang seringkali terabaikan.

Menurutnya, pengalaman konsumen tidak berhenti saat pembelian, tetapi justru berlanjut pada layanan purna jual. Kualitas dan kenyamanan layanan ini sangat memengaruhi persepsi merek secara keseluruhan. Karena itu, Oppo memilih menempatkan area layanan di lokasi yang strategis, mudah dijangkau, dan nyaman, setara dengan area penjualan produk. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa seluruh perjalanan konsumen, mulai dari pembelian hingga dukungan purna jual, berjalan mulus dan menyenangkan.

Hasilnya, selama masa uji coba pembukaan toko, Oppo menerima banyak ulasan positif dari pengguna yang merasa terbantu dengan akses layanan yang lebih mudah, efisien, dan dalam lingkungan yang lebih menyenangkan. Ini menegaskan bahwa investasi pada pengalaman purna jual sama pentingnya dengan investasi pada pengalaman pembelian.

Bukan Diskon, Tapi Pengalaman: Strategi Pembukaan Toko yang Berbeda

Bos Oppo Indonesia Blak-blakan Susahnya Bikin Toko HP di Era Mal & Anak Muda

Menariknya, Oppo juga memilih pendekatan yang tidak lazim dalam strategi pembukaan toko, yaitu dengan tidak mengandalkan promo diskon besar-besaran. Jim Zhang menilai pendekatan yang terlalu berfokus pada diskon justru berisiko merusak pengalaman pengguna dan citra merek dalam jangka panjang.

"Grand opening dengan diskon besar biasanya sangat ramai dan kacau. Pelayanan tidak maksimal karena lonjakan pengunjung yang tidak terkelola, pengalaman jadi buruk," ujarnya, mengibaratkan situasi tersebut seperti restoran baru yang belum siap melayani lonjakan pengunjung. Situasi seperti ini dapat menciptakan kesan pertama yang negatif, yang sulit dihilangkan.

Sebaliknya, Oppo memilih membangun pengalaman yang stabil, berkesan, dan berkualitas sejak awal. Tujuannya adalah agar konsumen datang ke toko karena kenyamanan, pelayanan prima, dan nilai tambah yang ditawarkan, bukan semata-mata karena daya tarik harga murah yang bersifat sementara. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun loyalitas merek yang kokoh.

Tantangan Besar di Era Anak Muda: Inovasi dan Interaksi adalah Mata Uang Baru

Jim Zhang menegaskan bahwa generasi muda saat ini, yang sering disebut sebagai generasi Z dan Alpha, memiliki ketertarikan yang sangat berbeda terhadap teknologi dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak dan remaja lebih tertarik pada inovasi, interaksi langsung, dan pengalaman hands-on dibanding sekadar produk dengan spesifikasi tinggi atau harga murah.

Ia mencontohkan ketertarikan anak-anak pada teknologi seperti 3D printer, yang kini menjadi bagian dari keseharian generasi baru dan membuka wawasan mereka tentang kreasi dan inovasi. Hal ini, menurutnya, memaksa setiap merek untuk terus beradaptasi dan berinovasi jika ingin tetap relevan dan menarik bagi pasar masa depan.

"Ke depan, kami berharap semua toko Oppo bisa menjadi tujuan utama anak muda untuk mencari teknologi, inovasi, dan inspirasi. Kami ingin mereka melihat toko kami sebagai tempat di mana mereka bisa mengeksplorasi dan berinteraksi dengan masa depan," katanya.

Bagi Jim Zhang, membangun toko HP di era sekarang memang jauh lebih sulit dan menantang. Dibutuhkan investasi yang tidak sedikit, baik secara finansial maupun konseptual, pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen yang terus berubah, serta keberanian untuk meninggalkan pendekatan lama yang terlalu fokus pada penjualan semata.

Namun, ia meyakini bahwa langkah transformasi ini tak terhindarkan jika merek ingin bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Era di mana toko fisik hanya menjadi titik penjualan telah berakhir. Kini, toko harus menjadi pusat pengalaman, inovasi, dan interaksi yang tak terlupakan.

"Kami tidak hanya meng-upgrade tampilan toko, tapi yang terpenting, kami terus meng-upgrade pengalaman pengguna secara menyeluruh. Prinsip kami sederhana: melakukan hal yang benar, dan melakukannya dengan benar," tutup Jim Zhang, merangkum filosofi Oppo dalam menghadapi tantangan ritel modern. Transformasi ini bukan hanya tentang menjual ponsel, melainkan tentang membangun hubungan yang lebih dalam dengan konsumen di era digital yang dinamis.