0

Bos ChatGPT Ramal AI Membuat Nilai Uang Melonjak

Share

OpenAI, sebagai pelopor di garis depan revolusi AI, tidak hanya beretorika. Perusahaan ini telah melakukan pertaruhan finansial terbesar dalam sejarah teknologi, berkomitmen untuk menggelontorkan lebih dari USD 1 triliun demi membangun jaringan pusat data raksasa (data center) yang akan menjadi tulang punggung infrastruktur AI masa depan. Skala investasi ini sungguh mencengangkan, terutama mengingat fundamental bisnis OpenAI yang, menurut pengakuan Altman sendiri, masih tertinggal dan belum mencapai profitabilitas. Perusahaan ini diketahui membakar miliaran dolar kasnya setiap tahun untuk riset, pengembangan, dan operasional, sebuah fakta yang mendorong Altman untuk mengakui kemungkinan perlambatan drastis dalam perekrutan pegawai. Meskipun demikian, optimisme Altman terhadap kapasitas transformatif teknologinya tetap tidak tergoyahkan.

Ketika disinggung mengenai potensi AI untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang semakin melebar di berbagai belahan dunia, Altman dengan tegas berargumen bahwa AI akan menjadi kekuatan deflasi yang masif. "Mengingat kemajuan dalam pekerjaan yang dapat Anda lakukan di depan komputer, serta apa yang tampaknya akan segera terjadi dengan robotika dan banyak hal lain, kita akan mengalami tekanan deflasi yang sangat besar," prediksinya, seperti yang dikutip dari Futurism pada Minggu (1/2/2026). Ia menjelaskan bahwa tekanan deflasi ini akan menyebabkan berbagai barang dan jasa menjadi jauh lebih murah, secara efektif meningkatkan daya beli dan memberdayakan individu karena nilai intrinsik uang akan lebih tinggi.

Altman menilai perubahan ekonomi fundamental ini adalah hasil langsung dari AI yang membuat individu jauh lebih produktif daripada sebelumnya. Ia memberikan gambaran konkret: pada akhir tahun ini, seseorang yang menginvestasikan sekitar USD 1.000 untuk menjalankan AI dapat menyelesaikan sebuah proyek pengembangan perangkat lunak dalam waktu singkat, sebuah tugas yang sebelumnya memerlukan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan bagi sebuah tim yang terdiri dari beberapa insinyur. Produktivitas yang meroket ini, menurut Altman, akan membanjiri pasar dengan barang dan jasa dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah, sehingga secara alami menekan harga dan meningkatkan standar hidup. Ini adalah narasi tentang "era kelimpahan" di mana kebutuhan dasar mudah terpenuhi dan pilihan untuk bekerja menjadi lebih fleksibel.

Argumen tentang AI yang memicu era kelimpahan, yang secara signifikan menurunkan biaya hidup dan bahkan memungkinkan individu untuk memilih tidak bekerja jika mereka tidak menginginkannya, bukanlah hal baru. Ide ini telah lama digaungkan oleh para pemimpin teknologi terkemuka, termasuk Altman sendiri dan CEO xAI, Elon Musk. Retorika semacam ini sering digunakan untuk memicu "hype" atau antusiasme publik dan investor terhadap potensi kecerdasan buatan, mengklaimnya sebagai solusi pamungkas untuk berbagai masalah sosial dan ekonomi.

Namun, di tengah gemuruh janji-janji utopis ini, muncul suara-suara skeptis yang kuat, terutama mengingat kondisi ekonomi global saat ini. Realitas inflasi yang melonjak, kenaikan biaya hidup yang terus-menerus, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang ironisnya sering dikaitkan dengan adopsi AI, membuat janji-janji Altman terdengar seperti angan-angan belaka bagi banyak pihak. Para kritikus berpendapat bahwa AI masih sangat jauh dari meningkatkan efisiensi secara signifikan untuk mengimbangi laju inflasi yang ada. Sebaliknya, AI lebih sering dikaitkan dengan peningkatan pengangguran struktural di sektor-sektor tertentu, membuat bertahan hidup semakin sulit bagi mereka yang terdampak, diiringi biaya hidup yang tak kunjung mereda.

Apakah AI akan benar-benar datang sebagai penyelamat ekonomi yang secara drastis menurunkan harga dan meningkatkan daya beli masih harus dibuktikan. Bagi banyak kritikus, AI belum menunjukkan potensinya yang diklaim secara substansial. Beberapa bahkan berpendapat bahwa model bisnis OpenAI sendiri, dengan pengeluaran triliunan dolar dan belum adanya profit, sangat rentan. Mereka percaya bahwa perusahaan tersebut bisa runtuh seketika jika terjadi penarikan dana besar-besaran dari investor, yang menunjukkan betapa rapuhnya landasan finansial di balik janji-janji masa depan yang cerah.

Oleh karena itu, ada banyak alasan kuat untuk bersikap skeptis terhadap klaim Altman bahwa AI akan secara ajaib meningkatkan daya beli masyarakat lantaran meroketnya produktivitas. Kritik ini tidak hanya datang dari ekonom yang berhati-hati, tetapi juga dari serikat pekerja, analis sosial, dan bahkan beberapa pengembang teknologi yang melihat tantangan besar dalam implementasi AI secara etis dan efektif di seluruh spektrum ekonomi. Mereka menyoroti bahwa keuntungan produktivitas AI cenderung terkonsentrasi di tangan segelintir perusahaan raksasa dan pemilik modal, memperlebar jurang ketimpangan, alih-alih mendistribusikan kemakmuran secara merata.

Namun, Sam Altman tidak berhenti sampai di situ. Visi utopisnya melangkah lebih jauh, berpendapat bahwa AI tidak hanya akan mengatasi masalah ekonomi, tetapi juga dapat menyembuhkan kanker, mengatasi perubahan iklim, dan meringankan kesulitan finansial dengan menciptakan "kesehatan ekstrem universal." Klaim-klaim monumental ini, meskipun inspiratif, menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana teknologi yang masih dalam tahap awal pengembangan ini dapat menyelesaikan tantangan global yang kompleks dan multi-dimensi. Meskipun AI telah menunjukkan potensi besar dalam penemuan obat, pemodelan iklim, dan diagnosis medis, lompatan dari potensi tersebut ke "penyembuhan" masalah global ini memerlukan terobosan ilmiah dan sosial yang luar biasa, jauh melampaui kemampuan teknologi saat ini.

Perdebatan seputar dampak AI terhadap nilai uang dan ekonomi secara keseluruhan mencerminkan ketegangan antara harapan akan kemajuan teknologi yang tak terbatas dan realitas tantangan sosial-ekonomi yang ada. Di satu sisi, ada visi optimis tentang masa depan yang digerakkan oleh AI di mana kelangkaan menjadi kenangan masa lalu, dan umat manusia memasuki era kelimpahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, ada kekhawatiran yang beralasan tentang disrupsi ekonomi, peningkatan ketimpangan, dan potensi dampak negatif yang belum sepenuhnya dipahami atau dikelola. Masa depan ekonomi yang didorong oleh AI, dengan segala janji dan ancamannya, tetap menjadi medan yang belum terpetakan, menunggu pembuktian di tengah dinamika global yang terus berubah.