0

Boikot ChatGPT Menggema Gegara Kesepakatan dengan Pentagon

Share

Boikot terhadap ChatGPT menguat di kalangan penggunanya, menyusul pengumuman OpenAI yang telah meneken kesepakatan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, atau Pentagon. Keputusan ini memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan dari komunitas pengguna yang merasa perusahaan telah mengkhianati prinsip-prinsip etisnya demi keuntungan finansial. Insiden ini tidak hanya menyoroti tensi antara etika dan ambisi komersial di dunia kecerdasan buatan, tetapi juga memanaskan kembali perdebatan mengenai peran AI dalam militer dan pengawasan massal.

Pemicu utama gejolak ini bermula dari sikap kontras yang diambil oleh dua raksasa AI. Sebelum OpenAI mencapai kesepakatan dengan Pentagon, startup AI pesaing, Anthropic, dilaporkan menolak tawaran serupa dari Departemen Pertahanan AS. Penolakan Anthropic, pengembang chatbot Claude, didasarkan pada kekhawatiran mendalam mengenai potensi penyalahgunaan produknya untuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom. CEO Anthropic, Dario Amodei, dengan tegas menyatakan bahwa perusahaannya secara hati nurani tidak dapat menyetujui permintaan yang diajukan oleh pemerintah.

Sikap etis Anthropic ini tidak datang tanpa konsekuensi. Amodei mengungkapkan bahwa pemerintah mengancam akan melabeli perusahaannya sebagai "risiko rantai pasokan", sebuah label yang biasanya diperuntukkan bagi musuh-musuh negara dan belum pernah diterapkan pada perusahaan domestik. Ancaman ini menggarisbawahi tekanan signifikan yang dapat dihadapi perusahaan teknologi yang berani menentang kebijakan pemerintah, terutama di bidang keamanan nasional. Meskipun demikian, Anthropic bertahan pada pendiriannya, memilih untuk memprioritaskan prinsip etis di atas potensi keuntungan atau menghindari sanksi.

Insiden ini kemudian menarik perhatian politisi berpengaruh, termasuk mantan Presiden Donald Trump. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump melontarkan kritik keras terhadap Anthropic. "Orang-orang gila sayap kiri di Anthropic telah melakukan KESALAHAN FATAL karena mencoba MENEKAN Departemen Perang, dan memaksa mereka untuk mematuhi Ketentuan Layanan mereka alih-alih Konstitusi kita," tulis Trump. Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan dukungan kuatnya terhadap akses militer terhadap teknologi AI tanpa batasan, tetapi juga mencerminkan polarisasi politik yang kini menyentuh ranah pengembangan teknologi tinggi. Retorika Trump yang tajam menambah dimensi politik pada perdebatan yang sudah kompleks mengenai etika AI dan keamanan nasional.

Sejak penolakan Anthropic dan di tengah kontroversi yang berkembang, chatbot Claude milik Anthropic justru mengalami lonjakan popularitas. Aplikasi Claude melonjak ke puncak tangga aplikasi gratis Apple, berhasil menyalip ChatGPT milik OpenAI. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna menanggapi positif sikap etis Anthropic, memilih untuk mendukung perusahaan yang dianggap memegang teguh prinsip-prinsip moral. Lonjakan ini dapat diinterpretasikan sebagai kemenangan publik bagi perusahaan yang berani menentang kekuatan pemerintah demi integritas etisnya.

Di sisi lain, OpenAI, melalui CEO-nya Sam Altman, mengumumkan kesepakatan perusahaannya dengan Pentagon. Altman menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut memungkinkan militer AS menggunakan teknologi AI OpenAI di dalam sistem rahasia mereka. Ia berusaha meredam kekhawatiran dengan mengklaim bahwa Departemen Pertahanan memiliki "penghormatan yang mendalam terhadap keselamatan" dan akan mematuhi langkah-langkah pengamanan untuk mencegah penyalahgunaan. Altman menekankan bahwa dua prinsip keselamatan terpenting OpenAI adalah larangan terhadap pengawasan massal domestik dan tanggung jawab manusia atas penggunaan kekuatan, termasuk untuk sistem senjata otonom. Ia menyatakan bahwa Departemen Pertahanan telah menyepakati prinsip-prinsip ini, mencerminkannya dalam hukum serta kebijakan, dan telah memasukkannya ke dalam kesepakatan mereka.

Namun, jaminan dari Sam Altman tampaknya tidak cukup untuk menenangkan gelombang kekecewaan. Pengumuman tersebut justru memicu gerakan boikot ChatGPT yang masif. Di komunitas r/ChatGPT di Reddit, yang beranggotakan 11 juta orang, salah satu unggahan teratas minggu itu secara terang-terangan menyerukan para pengguna untuk membatalkan langganan mereka. Unggahan tersebut menyatakan, "OpenAI baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Sam Altman memutuskan uang pertahanan lebih penting dari semua prinsip yang jadi fondasi berdirinya perusahaan ini." Sentimen ini mencerminkan rasa pengkhianatan yang mendalam di kalangan pengguna, yang sebelumnya mungkin melihat OpenAI sebagai pionir teknologi yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kemanusiaan.

Gerakan boikot ini juga dimotori oleh situs web QuitGOT, sebuah platform yang secara eksplisit menyerukan penghentian penggunaan ChatGPT. Kampanye boikot QuitGOT menuduh OpenAI lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan publik. Mereka secara tajam membandingkan tindakan OpenAI dengan Anthropic: "Pada 27 Februari, pesaing ChatGPT, Anthropic, menolak memberi Pentagon akses tanpa batas ke AI-nya untuk pengawasan massal terhadap orang Amerika atau untuk memproduksi senjata AI yang membunuh tanpa pengawasan manusia." QuitGOT melanjutkan, "Dalam hitungan jam, CEO ChatGPT Sam Altman langsung masuk dan menerima kesepakatan korup Pentagon, menempatkan kita semua dalam bahaya AI yang mematikan demi keuntungan perusahaannya. OpenAI setuju membiarkan Pentagon menggunakan teknologinya untuk tujuan sah apa pun, termasuk robot pembunuh dan pengawasan massal."

Tuduhan "robot pembunuh dan pengawasan massal" yang dilontarkan QuitGPT menyoroti kekhawatiran inti yang mendasari gerakan boikot ini: potensi teknologi AI untuk digunakan dalam konteks militer yang dapat melanggar hak asasi manusia atau memicu konflik tak terkendali. Meskipun Altman telah memberikan jaminan, para kritikus meragukan efektivitas pengamanan tersebut ketika teknologi canggih seperti AI diserahkan ke tangan militer yang memiliki mandat untuk menggunakan kekuatan. Mereka berpendapat bahwa batas antara penggunaan "sah" dan penyalahgunaan dapat menjadi sangat tipis dan mudah dilanggar dalam skenario militer.

QuitGPT juga berpendapat bahwa banyak pengguna keliru karena menganggap ChatGPT sebagai satu-satunya asisten AI yang mumpuni. Mereka mendesak orang-orang untuk beralih platform dan merekomendasikan alternatif yang diklaim memiliki privasi lebih tinggi dan bersifat open-source, seperti Confer, Alpine, dan Lumo. Selain itu, mereka juga menyarankan pengguna untuk mempertimbangkan Gemini dari Google dan tentu saja, Claude dari Anthropic, yang telah membuktikan komitmen etisnya. Dengan menyediakan daftar alternatif, gerakan ini tidak hanya menyuarakan protes, tetapi juga menawarkan solusi konkret bagi pengguna yang ingin menjauh dari OpenAI. Sebagai bentuk protes yang lebih nyata, organisasi tersebut juga merencanakan demonstrasi langsung di markas besar OpenAI di San Francisco pada tanggal 3 Maret, menunjukkan tingkat keseriusan dan komitmen mereka terhadap tujuan boikot ini.

Insiden ini bukan hanya tentang satu kesepakatan antara perusahaan teknologi dan militer, tetapi juga mencerminkan perdebatan yang lebih luas mengenai etika AI di tingkat global. Dengan semakin canggihnya AI, pertanyaan tentang siapa yang mengendalikan teknologi ini, untuk tujuan apa, dan dengan batasan etis apa, menjadi semakin mendesak. Kasus OpenAI dan Anthropic ini menjadi studi kasus penting tentang bagaimana perusahaan teknologi menavigasi lanskap yang kompleks antara inovasi, keuntungan, dan tanggung jawab sosial, serta bagaimana pilihan mereka dapat memengaruhi kepercayaan publik dan masa depan pengembangan AI itu sendiri.