0

Blue Origin Hentikan Penerbangan Turis ke Luar Angkasa

Share

Jakarta – Blue Origin, perusahaan antariksa yang didirikan oleh miliarder Jeff Bezos, secara resmi mengumumkan penangguhan program penerbangan turis suborbitalnya ke luar angkasa. Keputusan mengejutkan ini, yang berlaku setidaknya selama dua tahun ke depan, menandai pergeseran fokus strategis perusahaan dari ambisi komersial langsung menuju prioritas nasional yang lebih besar: mendukung misi ambisius NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan melalui program Artemis.

Dalam pengumuman resminya yang dirilis pada Minggu (1/2/2026), Blue Origin menjelaskan bahwa penangguhan ini adalah langkah yang disengaja untuk mengalihkan sumber daya dan talenta teknik mereka sepenuhnya pada pengembangan sistem pendaratan manusia (Human Landing System/HLS) yang krusial bagi NASA. "Keputusan ini secara gamblang mencerminkan komitmen Blue Origin terhadap tujuan negara untuk kembali ke Bulan dan membangun kehadiran permanen serta berkelanjutan di permukaan Bulan," demikian pernyataan Blue Origin, seperti yang dikutip oleh TechCrunch. Pernyataan ini menegaskan bahwa visi jangka panjang perusahaan kini lebih selaras dengan agenda eksplorasi antariksa pemerintah Amerika Serikat.

Keputusan ini menyoroti peran sentral Blue Origin dalam program Artemis NASA, sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan untuk mengembalikan astronot Amerika Serikat ke permukaan Bulan, termasuk mengirimkan wanita dan orang kulit berwarna pertama ke satelit alami Bumi. Program Artemis tidak hanya sekadar mengulang pencapaian Apollo, melainkan bertujuan untuk membangun fondasi bagi eksplorasi jangka panjang dan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan, yang pada akhirnya akan menjadi batu loncatan untuk misi ke Mars.

Blue Origin merupakan salah satu dari beberapa perusahaan swasta terkemuka yang dipilih oleh NASA untuk mengembangkan wahana pendarat atau lander yang akan menjadi tulang punggung bagi program tersebut. Secara spesifik, mereka ditugaskan untuk mengembangkan lander bagi misi Artemis III dan Artemis V, dua misi kunci yang akan membawa manusia kembali ke permukaan Bulan. Pengembangan lander ini merupakan tantangan teknis yang sangat kompleks, melibatkan desain sistem propulsi yang efisien, kemampuan pendaratan presisi di lingkungan Bulan yang keras, serta integrasi sistem pendukung kehidupan bagi astronot.

Sistem pendaratan yang dikembangkan Blue Origin, dikenal sebagai Blue Moon, adalah komponen vital dalam arsitektur Artemis. Awalnya, Blue Origin dikontrak untuk membangun sistem pendaratan manusia yang akan digunakan untuk mengangkut astronot dari stasiun luar angkasa Gateway, yang mengorbit Bulan, ke wilayah Kutub Selatan Bulan untuk misi Artemis V. Wilayah Kutub Selatan Bulan sangat menarik bagi para ilmuwan karena diyakini menyimpan cadangan es air yang signifikan di kawah-kawah yang secara permanen teduh, yang dapat digunakan untuk air minum, oksigen pernapasan, dan bahan bakar roket.

Namun, lanskap program Artemis mengalami perubahan dinamis. Tahun lalu, NASA meminta Blue Origin untuk merancang wahana lander alternatif yang juga dapat digunakan untuk misi Artemis III. Permintaan ini muncul setelah SpaceX, kontraktor utama untuk misi pendaratan Artemis III dengan roket Starship mereka, menghadapi serangkaian penundaan signifikan akibat uji coba roket Starship yang belum sepenuhnya berhasil dan memakan waktu. Keterlambatan ini menuntut NASA untuk memiliki opsi cadangan guna menjaga jadwal Artemis tetap pada jalurnya, atau setidaknya meminimalisir dampak penundaan yang lebih lanjut. Keterlibatan Blue Origin sebagai penyedia lander alternatif ini menunjukkan kepercayaan NASA pada kemampuan rekayasa dan pengembangan Blue Origin, serta urgensi program Artemis.

Misi Artemis III, yang ditargetkan untuk mendaratkan astronot di Bulan, merupakan tonggak sejarah yang sangat dinantikan. Meskipun target awal yang ambisius dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mewujudkannya sebelum masa jabatannya berakhir telah lama berlalu, momentum untuk kembali ke Bulan tetap kuat di bawah pemerintahan saat ini, dengan target yang lebih realistis namun tetap menantang. Keberhasilan Artemis III tidak hanya akan menjadi kemenangan bagi NASA dan mitra-mitranya, tetapi juga akan menginspirasi generasi baru dan memajukan batas-batas eksplorasi manusia.

Sebelum pengalihan fokus ini, Blue Origin telah menjadi salah satu pionir dalam mengembangkan pasar pariwisata luar angkasa komersial. Perusahaan ini pertama kali membawa turis ke luar angkasa pada bulan Juli 2021, dalam penerbangan bersejarah yang turut diikuti oleh pendirinya sendiri, Jeff Bezos, bersama tiga penumpang lainnya, termasuk Wally Funk, seorang pilot wanita legendaris, dan Oliver Daemen, yang kala itu menjadi astronot termuda. Penerbangan perdana ini menarik perhatian global dan memicu gelombang optimisme tentang masa depan pariwisata luar angkasa.

Penerbangan ini dilakukan menggunakan roket New Shepard, sebuah sistem yang dirancang khusus untuk perjalanan suborbital. Meskipun sering disebut sebagai ‘penerbangan ke luar angkasa’, roket New Shepard tidak pernah mencapai orbit Bumi. Sebaliknya, roket ini membawa kapsul berawak ke garis Karman, batas yang diakui secara internasional sebagai awal ruang angkasa, pada ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan Bumi. Para penumpang di dalamnya dapat merasakan sensasi gravitasi nol selama beberapa menit dan menyaksikan pemandangan Bumi yang menakjubkan dari ketinggian, sebelum kapsul kembali mendarat dengan parasut. Pengalaman ini, meski singkat, menawarkan sensasi unik dan perspektif baru tentang planet kita.

Sejak debutnya, Blue Origin menyatakan bahwa roket New Shepard telah berhasil terbang sebanyak 38 kali. Selama operasi penerbangan tersebut, ia telah membawa total 98 penumpang ke luar angkasa, membuktikan keandalan teknologinya dalam konteks pariwisata suborbital. Selain itu, New Shepard juga telah menjadi platform penting untuk membawa lebih dari 200 muatan riset dan ilmiah, mendukung berbagai eksperimen dalam kondisi mikrogravitasi untuk institusi pendidikan, pemerintah, dan perusahaan swasta. Ini menunjukkan bahwa New Shepard bukan hanya sekadar kendaraan turis, tetapi juga alat penelitian yang berharga.

Kehadiran Blue Origin di segmen pariwisata luar angkasa suborbital menempatkannya dalam persaingan dengan Virgin Galactic milik Richard Branson, yang juga menawarkan pengalaman serupa dengan pesawat roket SpaceShipTwo-nya. Kedua perusahaan ini berfokus pada memberikan pengalaman singkat di tepi ruang angkasa, bukan perjalanan orbital penuh yang jauh lebih kompleks dan mahal. Namun, berbeda dengan ambisi SpaceX yang berfokus pada penerbangan orbital dan antarplanet dengan roket Starship-nya yang revolusioner, Blue Origin dan Virgin Galactic fokus pada segmen pengalaman ‘melayang’ di tepi angkasa yang lebih mudah diakses dan berisiko lebih rendah.

Keputusan untuk menghentikan sementara program pariwisata ini menandai pergeseran prioritas yang signifikan bagi Blue Origin. Dari sudut pandang strategis, kontrak-kontrak dengan NASA menawarkan aliran pendapatan yang stabil dan besar, serta kesempatan untuk mengembangkan teknologi inti yang jauh lebih canggih dan kompleks. Program Artemis, dengan skala dan ambisinya, memerlukan investasi yang masif dalam penelitian, pengembangan, dan pengujian. Fokus penuh pada proyek ini memungkinkan Blue Origin untuk mengkonsolidasikan keahliannya dan menjadi pemain yang tidak tergantikan dalam ekosistem eksplorasi antariksa.

Meskipun pariwisata luar angkasa menjanjikan potensi keuntungan besar di masa depan, pasar ini masih dalam tahap awal dan memerlukan investasi besar. Fokus pada misi Bulan melalui NASA memberikan Blue Origin platform untuk memvalidasi teknologi, membangun rekam jejak yang solid, dan memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam eksplorasi antariksa jangka panjang. Kontrak pemerintah sering kali berfungsi sebagai katalisator untuk inovasi, memungkinkan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi yang mungkin terlalu berisiko atau mahal untuk dikembangkan hanya dengan dana swasta di tahap awal.

Ini juga menggarisbawahi bagaimana perusahaan antariksa swasta semakin terintegrasi dengan tujuan eksplorasi antariksa nasional. Bagi Amerika Serikat, kembalinya ke Bulan adalah prioritas geopolitik dan ilmiah, dan Blue Origin kini berada di garis depan upaya tersebut. Kemitraan publik-swasta semacam ini telah menjadi model yang dominan dalam pengembangan ruang angkasa modern, memungkinkan NASA untuk memanfaatkan kecepatan dan inovasi sektor swasta sambil memberikan stabilitas keuangan dan arahan strategis.

Penangguhan ini tentu akan mengecewakan bagi ratusan, bahkan ribuan, calon turis luar angkasa yang telah mendaftar atau menunjukkan minat pada penerbangan New Shepard. Bagi mereka yang telah membayar deposit atau menunggu giliran, ini berarti penantian yang lebih lama. Ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pasar pariwisata suborbital secara keseluruhan, meskipun pemain lain mungkin akan mencoba mengisi kekosongan ini atau mempercepat jadwal mereka.

Agar pariwisata dapat dilanjutkan, Blue Origin harus berhasil memenuhi tenggat waktu dan persyaratan NASA untuk program Artemis. Keberhasilan dalam pengembangan dan pengujian lander Blue Moon akan menjadi penentu utama. Setelah misi-misi Artemis awal terlaksana dan teknologi lander terbukti, Blue Origin mungkin akan kembali mengalihkan perhatiannya pada potensi komersial jangka panjang, termasuk pariwisata yang lebih canggih atau bahkan perjalanan ke orbit, memanfaatkan teknologi yang dikembangkan untuk Bulan.

Selain New Shepard dan Blue Moon, Blue Origin juga tengah mengembangkan roket orbital New Glenn, yang dirancang untuk meluncurkan satelit dan misi yang lebih berat, menunjukkan ambisi jangka panjang perusahaan yang melampaui sekadar pariwisata suborbital. New Glenn, dengan kapasitas muatan yang jauh lebih besar, akan memungkinkan Blue Origin untuk bersaing di pasar peluncuran satelit komersial yang menguntungkan dan mendukung misi eksplorasi ruang angkasa yang lebih kompleks.

Dengan keputusan ini, Blue Origin menegaskan kembali posisinya bukan hanya sebagai pionir pariwisata, tetapi sebagai kontributor utama dalam babak baru eksplorasi Bulan. Penangguhan penerbangan turis ke luar angkasa, meski disayangkan bagi sebagian pihak, merupakan langkah strategis yang menunjukkan komitmen serius Blue Origin terhadap visi yang lebih besar: membantu umat manusia kembali ke Bulan dan menancapkan pijakan yang kuat untuk masa depan di antariksa. Ini adalah investasi jangka panjang dalam teknologi dan kapabilitas yang akan membentuk masa depan eksplorasi ruang angkasa bagi generasi mendatang.