0

Bisnis Metaverse Mark Zuckerberg Hancur-hancuran, Rugi Rp 100 T

Share

Divisi Reality Labs milik Meta Platforms Inc. kembali menjadi sorotan tajam setelah membukukan kerugian operasional yang fantastis pada kuartal IV 2025. Unit yang menjadi garda depan ambisi Mark Zuckerberg di dunia metaverse dan teknologi realitas virtual (VR) ini mencatat rugi operasional sebesar USD 6,02 miliar, setara dengan sekitar Rp 100 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.600 per dolar AS). Angka ini menunjukkan peningkatan kerugian sebesar 21% secara tahunan, sebuah sinyal yang mengkhawatirkan bagi para investor dan pemangku kepentingan.

Kerugian pada akhir tahun 2025 tersebut bahkan lebih buruk dari perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kerugian sekitar USD 5,67 miliar. Meskipun pendapatan Reality Labs tercatat sebesar USD 955 juta, sedikit di atas estimasi USD 940,8 juta, angka tersebut jauh dari cukup untuk menutupi beban operasional yang membengkak. Kesenjangan antara pendapatan dan biaya menunjukkan betapa mahalnya upaya Meta untuk mewujudkan visi metaverse-nya.

Ini merupakan kerugian terbesar yang pernah dicatat Reality Labs sejak Meta mulai melaporkan kinerja divisi tersebut secara terpisah pada kuartal IV 2020. Dengan tambahan kerugian terbaru ini, total kumulatif kerugian operasional divisi Reality Labs diperkirakan telah menembus angka USD 80 miliar sejak 2020. Angka ini setara dengan pembangunan puluhan kota metropolitan baru atau investasi masif dalam berbagai sektor ekonomi, menunjukkan skala komitmen finansial yang telah dikucurkan Meta untuk proyek ambisius ini. Sebuah taruhan besar yang kini mulai menimbulkan pertanyaan serius mengenai kelayakannya.

Meskipun pendapatan Reality Labs menunjukkan pertumbuhan 13% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikan ini nyaris tidak berarti di tengah laju pembengkakan biaya operasional. Secara bersih, Meta masih harus menutupi selisih miliaran dolar setiap kuartal, yang secara signifikan mengikis profitabilitas keseluruhan perusahaan, meskipun bisnis inti mereka (Facebook, Instagram, WhatsApp) masih sangat menguntungkan. Beban ini menjadi sebuah "pajak" yang harus dibayar Meta demi mempertahankan visi jangka panjang yang belum jelas kapan akan membuahkan hasil.

Selama beberapa tahun, CEO Meta, Mark Zuckerberg, tetap teguh mempertahankan investasinya pada visi metaverse. Keyakinan ini bahkan mendorongnya untuk mengganti nama perusahaan dari Facebook menjadi Meta pada tahun 2021, sebuah langkah yang menggarisbawahi komitmennya untuk membangun "internet berikutnya." Ia berulang kali menyatakan bahwa industri metaverse berpotensi bernilai miliaran hingga bahkan triliunan dolar setelah tahun 2030, memposisikannya sebagai evolusi berikutnya dari komputasi dan interaksi sosial. Visi ini didasarkan pada keyakinan bahwa orang akan menghabiskan waktu mereka di dunia virtual yang imersif, berinteraksi melalui avatar, bekerja, bermain, dan bersosialisasi.

Investasi Meta dalam metaverse tidak hanya sebatas R&D, tetapi juga mencakup akuisisi besar seperti Oculus (yang kemudian menjadi basis perangkat VR Quest), pengembangan platform Horizon Worlds, dan pembangunan infrastruktur komputasi yang masif. Ribuan insinyur dan desainer telah dikerahkan untuk mewujudkan mimpi ini, dengan harapan Meta akan menjadi pemain dominan di era komputasi spasial. Zuckerberg melihat metaverse sebagai cara untuk melepaskan diri dari dominasi platform lain (seperti iOS dan Android) dan menciptakan ekosistem sendiri yang sepenuhnya di bawah kendalinya.

Namun, arah strategi perusahaan mulai bergeser seiring melonjaknya fokus industri teknologi global ke kecerdasan buatan (AI). Minat pasar dan adopsi pengguna terhadap metaverse dinilai tidak tumbuh secepat ekspektasi Zuckerberg. Sementara itu, investasi dalam AI, terutama model bahasa besar (LLM) dan aplikasi generatif, mulai menunjukkan dampak bisnis yang lebih langsung dan nyata, baik dalam peningkatan efisiensi operasional maupun pengembangan produk baru yang diminati pasar. Para investor mulai menuntut hasil yang lebih konkret, dan metaverse, dengan pengembalian investasi yang jauh di masa depan, mulai kehilangan daya tariknya.

Pergeseran prioritas ini bukan hanya wacana. Pada Desember 2025, muncul laporan bahwa Meta memangkas anggaran Reality Labs hingga 30%. Kebijakan penghematan ini dikonfirmasi awal tahun 2026 melalui serangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi tersebut. Langkah-langkah ini mencerminkan realitas pahit bahwa meskipun visi metaverse mungkin mulia, keberlanjutan finansial perusahaan tidak dapat dipertaruhkan selamanya demi sebuah mimpi yang belum terwujud. PHK ini menambah daftar panjang pemangkasan karyawan di Meta sejak akhir tahun 2022, menunjukkan adanya restrukturisasi besar-besaran di tengah gejolak ekonomi dan perubahan prioritas strategis.

Meta secara terbuka menyatakan bahwa sebagian besar investasi yang sebelumnya dialokasikan untuk metaverse kini dialihkan ke pengembangan kacamata pintar (smart glasses) dan perangkat wearable berbasis AI. Perusahaan melihat adanya momentum pertumbuhan yang lebih menjanjikan di segmen tersebut, yang menawarkan potensi adopsi yang lebih luas dan lebih cepat dibandingkan headset VR yang masih dianggap niche. Kacamata pintar, seperti Ray-Ban Meta Smart Glasses yang telah diluncurkan, menawarkan integrasi AI yang mulus ke dalam kehidupan sehari-hari, memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan dunia digital tanpa sepenuhnya terputus dari dunia fisik. Ini adalah pendekatan yang lebih pragmatis dan berorientasi pasar.

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, yang merupakan salah satu arsitek utama di balik visi metaverse Meta, mengakui bahwa Meta masih berinvestasi besar di teknologi VR. Namun, ia secara jujur mengakui bahwa pertumbuhan bisnis tersebut berjalan lebih lambat dari harapan manajemen. "Kami tetap berkomitmen pada realitas virtual dan augmented, namun kami harus realistis tentang kecepatan adopsi pasar," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Meta tidak sepenuhnya meninggalkan VR, tetapi telah melakukan penyesuaian strategi yang signifikan, mungkin dengan fokus pada aplikasi VR yang lebih spesifik dan praktis, atau dengan menunggu teknologi dan infrastruktur pasar matang.

Kegagalan metaverse Meta untuk lepas landas secepat yang diharapkan dapat diatribusikan pada beberapa faktor kunci. Pertama, harga perangkat VR/AR masih relatif mahal untuk konsumen umum, menciptakan hambatan masuk yang tinggi. Kedua, kurangnya "aplikasi pembunuh" atau konten yang benar-benar menarik dan esensial yang dapat menarik miliaran pengguna. Platform seperti Horizon Worlds seringkali dikritik karena grafisnya yang kurang menarik, pengalaman pengguna yang canggung, dan lingkungan yang terasa kosong. Ketiga, masalah kenyamanan dan ergonomi headset VR yang masih berat dan kurang praktis untuk penggunaan jangka panjang. Keempat, kekhawatiran privasi dan keamanan data di dunia virtual yang terus-menerus. Terakhir, teknologi dasar untuk metaverse yang benar-benar imersif dan interoperabel mungkin belum sepenuhnya matang, membutuhkan terobosan signifikan dalam komputasi spasial, konektivitas, dan kecerdasan buatan.

Di tengah tantangan ini, pivot Meta ke AI dan perangkat wearable menunjukkan kemampuan adaptasi perusahaan. Mereka tampaknya belajar dari kesalahan dan mendengarkan sinyal pasar serta kekhawatiran investor. Pengembangan AI generatif, seperti model bahasa besar Llama, dan integrasi AI ke dalam produk konsumen seperti Ray-Ban Meta Smart Glasses, menunjukkan arah yang lebih menjanjikan. Perangkat ini memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan, mendengarkan musik, mengambil foto dan video, serta mendapatkan informasi secara real-time melalui asisten AI, semuanya tanpa harus mengeluarkan ponsel. Ini adalah bentuk augmented reality yang lebih ringan dan langsung dapat digunakan.

Meskipun demikian, jalan Meta masih panjang. Kompetisi di ranah AI dan perangkat wearable juga semakin ketat, dengan pemain besar seperti Apple yang baru saja meluncurkan Vision Pro, serta berbagai startup inovatif lainnya. Keberhasilan Meta di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk secara efektif mengintegrasikan AI ke dalam produk-produk yang benar-benar bermanfaat dan diminati konsumen, sambil tetap menjaga keseimbangan antara inovasi jangka panjang dan profitabilitas jangka pendek. Kerugian fantastis di Reality Labs adalah pengingat yang menyakitkan akan risiko besar yang melekat dalam taruhan teknologi transformatif, dan kini, Mark Zuckerberg harus membuktikan bahwa ia bisa mengarahkan kapalnya ke pelabuhan yang lebih aman dan menguntungkan.