Jakarta – Bill Gates, salah satu tokoh paling berpengaruh dan terkaya di dunia, telah mengalihkan sejumlah besar dana yang mencengangkan, mencapai USD 8 miliar atau setara dengan sekitar Rp 134 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.750 per USD), kepada Pivotal Philanthropies Foundation, sebuah badan amal yang didirikan dan dipimpin oleh mantan istrinya, Melinda French Gates. Pengalihan dana kolosal ini, yang dilaporkan oleh New York Times, bukan sekadar donasi biasa, melainkan sebuah realisasi dari kesepakatan finansial yang rumit pasca-perpisahan mereka yang sangat disorot publik, lima tahun setelah pengumuman perceraian mereka yang mengejutkan dunia pada tahun 2021.
Dokumen pajak terbaru yang menguak jumlah donasi fantastis ini menegaskan bahwa transfer dana tersebut merupakan salah satu sumbangan publik terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah filantropi global. Lebih dari sekadar angka, donasi ini secara signifikan membuka tabir kesepakatan finansial yang terjadi di balik layar perpisahan Bill dan Melinda, yang sempat menghebohkan dunia dan memicu spekulasi luas mengenai pembagian aset mereka yang tak terhingga. Kesepakatan ini menggarisbawahi komitmen Bill Gates untuk memenuhi kewajiban finansial yang telah disepakati dalam proses perceraian mereka, sekaligus mendukung visi filantropis Melinda yang kini berdiri secara independen.
Langkah ini juga sangat relevan dengan keputusan Melinda French Gates untuk mundur dari yayasan bersama mereka, The Bill and Melinda Gates Foundation, pada Mei 2024. Keputusan tersebut tidak diambil tanpa alasan; Melinda sebelumnya telah mengisyaratkan keinginannya untuk mendirikan yayasan amalnya sendiri dan bahkan menyarankan mantan suaminya untuk mendonasikan sejumlah USD 12,5 miliar ke yayasan amal baru yang ingin ia dirikan. Meskipun jumlah yang ditransfer saat ini sedikit di bawah angka yang disarankan Melinda, donasi USD 8 miliar ini merupakan bagian substansial dari kesepakatan yang lebih besar dan menandakan kemandirian filantropis Melinda.
Seorang perwakilan dari Pivotal Philanthropies Foundation mengonfirmasi bahwa kesepakatan finansial antara Bill dan Melinda kini telah dipenuhi, dan donasi senilai hampir USD 8 miliar tersebut adalah bagian integral dari penyelesaian tersebut. Ini mengakhiri babak panjang dari pembagian aset dan komitmen filantropis pasca-perceraian yang telah menarik perhatian global. Pivotal Philanthropies diharapkan akan menjadi platform bagi Melinda untuk melanjutkan pekerjaannya dalam isu-isu yang dekat di hatinya, seperti kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan kesehatan global, namun dengan fokus dan strategi yang mungkin berbeda dari yayasan sebelumnya yang lebih luas.
Pasangan tersebut secara resmi berpisah pada tahun 2021 setelah 27 tahun mengarungi bahtera pernikahan, memicu apa yang secara luas dianggap sebagai penyelesaian perceraian termahal dalam sejarah. Dengan kekayaan bersih Bill Gates yang mencapai puluhan miliar dolar, pembagian aset mereka menjadi sorotan utama. Melinda dilaporkan mengantongi aset senilai USD 76 miliar sebagai bagian dari penyelesaian tersebut, menjadikannya salah satu wanita terkaya di dunia dan memberinya kapasitas luar biasa untuk mengarahkan inisiatif filantropisnya sendiri. Perceraian ini bukan hanya tentang pembagian harta, tetapi juga tentang pembagian kekuasaan dan pengaruh dalam dunia filantropi global.
Namun, di balik citra filantropis dan berita perceraian yang mahal, serangkaian kontroversi juga turut mewarnai narasi seputar Bill Gates. Salah satu yang paling menonjol adalah terungkapnya perselingkuhan Bill Gates dengan seorang karyawan Microsoft. Hubungan asmara tersebut, yang dimulai pada tahun 2000, terkuak beberapa bulan setelah pengumuman perceraiannya. Wanita yang terlibat dalam perselingkuhan itu menulis surat kepada dewan direksi perusahaan pada tahun 2019, membeberkan rincian tentang hubungan mereka dan bahkan menuntut agar Melinda membaca surat tersebut. Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai etika di tempat kerja dan penggunaan kekuasaan.
Dewan direksi Microsoft menganggap hubungan tersebut tidak pantas dan memulai penyelidikan internal. Pada tahun 2020, Gates tiba-tiba mundur dari dewan direksi Microsoft, sebuah keputusan yang kala itu menimbulkan spekulasi. Belakangan terungkap bahwa pengunduran dirinya terjadi saat penyelidikan dewan direksi masih berlangsung dan belum mencapai keputusan formal. Meskipun Gates menyatakan bahwa pengunduran dirinya adalah untuk fokus pada kegiatan filantropi, waktu kejadian dan konteks penyelidikan tersebut memberikan kesan yang berbeda dan merusak reputasi profesionalnya.
Selain perselingkuhan, dua laporan terpisah juga mengklaim bahwa Bill Gates diduga sering menggoda staf perempuan di Microsoft dan The Bill and Melinda Gates Foundation, yayasan yang ia jalankan bersama mantan istrinya. Tuduhan-tuduhan ini semakin menambah keretakan pada citra publiknya, menggambarkan pola perilaku yang tidak sesuai dengan standar etika yang diharapkan dari seorang pemimpin global dan filantropis. Isu-isu ini tidak hanya mempengaruhi citra pribadinya tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang budaya perusahaan dan organisasi nirlaba yang ia pimpin.
Kontroversi lain yang tak kalah serius adalah hubungan Bill Gates dengan Jeffrey Epstein, seorang pelaku kejahatan seksual yang dihukum. Sebuah laporan mengklaim bahwa Gates pernah berkenalan dengan Epstein, setelah pertama kali bertemu dengan Epstein pada tahun 2011. Meskipun Gates sebelumnya mengatakan bahwa ia hanya bertemu Epstein beberapa kali untuk membahas filantropi, ia kemudian menggambarkan perkenalannya dengan Epstein sebagai "kesalahan yang ia sesali." Hubungan ini, meskipun Gates telah menyatakan penyesalannya, tetap menjadi noda pada reputasinya, mengingat kejahatan mengerikan yang dilakukan Epstein.
Terlepas dari kontroversi-kontroversi tersebut, Bill Gates, yang kini berusia 67 tahun, tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi dan filantropi. Ia adalah salah satu pendiri raksasa teknologi Microsoft bersama mendiang Paul Allen, dan warisannya dalam mengubah dunia komputasi pribadi tak terbantahkan. Hingga saat ini, ia masih menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Microsoft dan terus menjadi salah satu orang terkaya di planet ini. Kekayaannya yang melimpah memungkinkannya untuk terus terlibat dalam berbagai inisiatif global, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perubahan iklim melalui Breakthrough Energy Ventures.
Transfer dana sebesar Rp 134 triliun ini menandai babak baru dalam perjalanan filantropi Bill dan Melinda French Gates. Bagi Melinda, ini adalah kesempatan untuk mengukir jejaknya sendiri di dunia amal, terlepas dari bayang-bayang nama besar Bill Gates. Dengan Pivotal Philanthropies, ia diharapkan dapat mempercepat dampak positif pada isu-isu yang ia yakini, dengan kebebasan penuh dalam pengambilan keputusan dan alokasi dana. Sementara itu, Bill Gates, meskipun menghadapi berbagai tantangan reputasi, terus menunjukkan komitmennya terhadap filantropi, meskipun kini melalui jalur yang lebih terpisah dari mantan istrinya. Kisah mereka adalah cerminan kompleks dari kekayaan, kekuasaan, dan upaya untuk meninggalkan warisan positif di dunia. Dana sebesar ini akan memiliki implikasi jangka panjang bagi sektor-sektor yang didukung oleh Pivotal Philanthropies, berpotensi mengubah lanskap banyak masalah sosial dan kemanusiaan di seluruh dunia.

