0

Biang Kerok Penjualan Mobil di Indonesia Turun Tajam: Ekonomi Lesu, Pembiayaan Seret, dan Beban Pajak Daerah Jadi Penyebab Utama

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pasar otomotif Indonesia tengah dilanda badai, ditandai dengan merosotnya penjualan mobil nasional ke titik terendah dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), yang secara gamblang membeberkan serangkaian faktor krusial di balik lesunya industri yang vital ini. Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyoroti tiga pilar utama yang menopang kelesuan pasar ini: kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, permasalahan mendasar pada sektor pembiayaan, serta implementasi opsen atau tambahan pajak daerah yang menambah beban konsumen.

"Yang pertama itu mungkin keadaan ekonomi," ujar Putu Juli Ardika dalam sebuah kesempatan kepada CNBC Indonesia, menggarisbawahi bahwa pemulihan daya beli masyarakat yang belum merata membuat pembelian mobil, yang notabene merupakan barang tersier, terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan oleh banyak calon konsumen. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, prioritas pengeluaran masyarakat cenderung bergeser ke kebutuhan primer, meninggalkan barang mewah seperti mobil di urutan terbawah. Ditambah lagi dengan inflasi yang mungkin masih menghantui, membuat anggaran rumah tangga semakin tertekan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan kesehatan seringkali menyita porsi anggaran yang lebih besar, sehingga alokasi dana untuk pembelian mobil menjadi semakin sulit direalisasikan. Para pelaku industri harus bersiap menghadapi skenario permintaan yang stagnan atau bahkan menurun dalam jangka waktu yang tidak dapat diprediksi.

Faktor kedua yang diungkapkan oleh Putu Juli Ardika adalah permasalahan di sektor pembiayaan. Ia menjelaskan bahwa mayoritas pasar mobil di Indonesia, yang mencapai lebih dari 70%, sangat bergantung pada skema kredit. "Yang kedua itu memang di pembiayaan. Ya karena kan tujuh puluh persen lebih itu kan kendaraan bermotor itu kredit. Nah kalau pembiayaan ada permasalahan atau kurang kondusif dia mendukung itu, itu kan berdampak sekali," tegasnya. Ketatnya persyaratan kredit, kenaikan suku bunga pinjaman, atau bahkan pembatasan kuota pembiayaan oleh lembaga keuangan dapat secara signifikan menghambat transaksi pembelian mobil. Ketika akses terhadap pembiayaan menjadi sulit, calon konsumen yang sebelumnya berencana membeli mobil secara kredit akan terpaksa menunda atau mencari alternatif lain yang mungkin tidak selalu tersedia. Ketidakpastian dalam kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia juga dapat mempengaruhi minat lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit kendaraan bermotor, menciptakan lingkaran setan yang memperparah kelesuan pasar.

Selain itu, Gaikindo juga menyoroti implementasi opsen atau tambahan pajak di daerah sebagai elemen yang cukup mengkhawatirkan. Kebijakan ini berpotensi menambah beban biaya bagi calon pembeli di berbagai wilayah di Indonesia. "Terus yang juga sedikit mengkhawatirkan adalah implementasi opsen. Ya di daerah opsen itu," kata Putu Juli Ardika. Opsen pajak daerah ini, meskipun bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, dapat menciptakan ketidakadilan harga antar daerah dan membuat harga mobil menjadi semakin mahal bagi konsumen. Hal ini tentu saja akan semakin menekan daya beli masyarakat dan membuat keputusan untuk membeli mobil menjadi semakin sulit. Di beberapa daerah, opsen ini bisa mencapai persentase yang cukup signifikan dari harga dasar kendaraan, sehingga konsumen di daerah tersebut harus merogoh kocek lebih dalam dibandingkan dengan konsumen di daerah lain yang tidak menerapkan opsen atau menerapkan opsen dengan persentase lebih rendah.

Lebih lanjut, Gaikindo juga mengungkapkan adanya isu terkait impor kendaraan truk yang tidak menggunakan homologasi dan digunakan di luar jalan raya. Meskipun tidak secara langsung mempengaruhi penjualan mobil penumpang, hal ini menunjukkan adanya potensi ketidakseragaman regulasi dan pengawasan yang dapat menimbulkan distorsi pasar. "Nah terus memang ada beberapa juga ya, beberapa juga kayak umpamanya impor kendaraan truk kayak gitu yang tidak pakai homologasi, yang digunakan di luar jalan raya itu kan, tapi semestinya kan pakai homologasi pakai itu," ujarnya. Isu ini, meskipun spesifik pada segmen kendaraan niaga, dapat menjadi indikator adanya celah dalam sistem regulasi yang perlu diperbaiki untuk menciptakan persaingan yang sehat di seluruh lini industri otomotif.

Dampak nyata dari berbagai faktor ini tercermin jelas dalam data penjualan yang dirilis oleh Gaikindo. Secara kumulatif, periode Januari hingga November 2025 mencatat wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) sebanyak 710.084 unit. Angka ini mengalami penurunan sebesar 9,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mampu mencapai 785.917 unit. Penurunan ini menunjukkan adanya perlambatan signifikan dalam pasokan kendaraan dari produsen ke jaringan dealer, mengindikasikan bahwa produsen pun mulai menyesuaikan produksinya dengan proyeksi permintaan yang menurun.

Tidak hanya wholesales, retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) juga menunjukkan tren yang sama mengkhawatirkannya. Selama 11 bulan pertama tahun 2025, tercatat retail sales sebanyak 739.977 unit. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 807.586 unit, dengan penurunan sebesar 8,4%. Angka retail sales ini menjadi indikator paling akurat mengenai daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Penurunan ini menegaskan bahwa konsumen semakin mengerem pengeluaran mereka untuk pembelian mobil.

Jika kita menilik data lima tahun terakhir, tren penurunan penjualan otomotif di tahun 2025 ini menjadi yang paling signifikan. Data wholesales dari tahun 2021 hingga 2025 (Januari-November) menunjukkan bahwa tahun 2025 ini merupakan titik terendah dalam rentang periode tersebut. Rincian data wholesales per tahun adalah sebagai berikut:

  • 2021: (Angka spesifik tidak disediakan dalam teks asli, namun diasumsikan lebih tinggi dari 2025)
  • 2022: (Angka spesifik tidak disediakan dalam teks asli, namun diasumsikan lebih tinggi dari 2025)
  • 2023: (Angka spesifik tidak disediakan dalam teks asli, namun diasumsikan lebih tinggi dari 2025)
  • 2024: (Angka spesifik tidak disediakan dalam teks asli, namun diasumsikan lebih tinggi dari 2025)
  • 2025: 710.084 unit (Januari-November)

Melihat data historis, meskipun angka spesifik untuk tahun-tahun sebelumnya tidak dirinci, pernyataan bahwa tahun 2025 "kurang moncer" dan menjadi "titik terendah dalam lima tahun terakhir" cukup kuat mengindikasikan adanya penurunan yang drastis. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor eksternal seperti ketidakstabilan ekonomi global, perubahan kebijakan pemerintah, atau peristiwa tak terduga lainnya yang belum teridentifikasi secara spesifik dalam berita ini. Analisis lebih lanjut terhadap data historis retail sales juga akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perbandingan performa penjualan mobil dari tahun ke tahun.

Implikasi dari penurunan penjualan mobil ini sangat luas. Bagi industri otomotif, ini berarti potensi penurunan pendapatan, pengurangan produksi, bahkan kemungkinan PHK bagi para pekerja di sektor manufaktur, diler, dan industri pendukung lainnya. Bagi perekonomian negara, industri otomotif merupakan salah satu kontributor PDB yang signifikan, sehingga kelesuan sektor ini dapat memberikan dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu segera merumuskan strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan ini, baik melalui stimulus ekonomi, relaksasi kebijakan pembiayaan, maupun upaya peningkatan daya beli masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, produsen, diler, dan lembaga keuangan menjadi kunci untuk membangkitkan kembali gairah pasar otomotif Indonesia.

Menghadapi situasi yang penuh tantangan ini, para pelaku industri otomotif di Indonesia dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Strategi pemasaran yang lebih cerdas, penawaran produk yang lebih relevan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial konsumen, serta peningkatan kualitas layanan purna jual dapat menjadi langkah awal untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan menarik konsumen baru. Selain itu, diversifikasi produk ke segmen yang diprediksi masih memiliki potensi pertumbuhan, seperti kendaraan listrik atau kendaraan niaga yang efisien, bisa menjadi alternatif untuk menyeimbangkan portofolio bisnis. Perhatian terhadap tren global dalam industri otomotif, termasuk elektrifikasi dan mobilitas berkelanjutan, juga perlu menjadi fokus agar industri otomotif Indonesia tetap relevan dan kompetitif di masa depan.

Pemerintah juga memegang peranan krusial dalam memulihkan sektor otomotif. Kebijakan yang mendukung industri, seperti insentif pajak untuk kendaraan ramah lingkungan atau kemudahan akses kredit bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, dapat memberikan dorongan positif. Pengkajian ulang terhadap kebijakan opsen pajak daerah juga perlu dilakukan untuk memastikan tidak membebani konsumen secara berlebihan. Transparansi dan harmonisasi regulasi di tingkat nasional dan daerah akan sangat membantu menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif dan dapat diprediksi. Dengan langkah-langkah yang terarah dan kolaborasi yang kuat, diharapkan pasar otomotif Indonesia dapat bangkit kembali dari keterpurukan ini.