0

Benzema Tolak Perpanjangan Kontrak Aneh dari Al Ittihad, Merasa Terhina dan Siap Tinggalkan Arab Saudi

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Karim Benzema dikabarkan menolak mentah-mentah tawaran perpanjangan kontrak yang diajukan oleh klubnya saat ini, Al Ittihad. Penolakan ini bukan sekadar keputusan biasa, melainkan dipicu oleh rasa gusar dan terhina atas tawaran kontrak baru yang dinilai "aneh" dan tidak masuk akal. Situasi ini bahkan berujung pada keputusan Benzema untuk tidak lagi bermain untuk Al Ittihad, sebagaimana yang dilaporkan oleh media terkemuka seperti L’Equipe dan ESPN. Kabar ini mencuat setelah Benzema tidak ambil bagian dalam pertandingan imbang melawan Al Fateh dalam lanjutan Liga Arab Saudi.

Krisis ini bermula dari situasi kontrak Karim Benzema dengan Al Ittihad yang akan berakhir pada musim panas tahun depan. Jika tidak ada kesepakatan baru, striker kelas dunia asal Prancis ini akan berstatus bebas transfer, sebuah skenario yang tentu ingin dihindari oleh Al Ittihad, mengingat investasinya yang besar pada sang pemain. Menanggapi hal ini, Al Ittihad berusaha untuk memperpanjang masa bakti mantan bomber Real Madrid tersebut. Namun, proposal yang diajukan justru menimbulkan kontroversi besar. Al Ittihad menawarkan perpanjangan kontrak dengan klausul yang sangat tidak biasa: Benzema akan bermain tanpa menerima gaji pokok, namun sebagai gantinya, ia akan mendapatkan 100 persen dari seluruh hak citranya.

Perlu dicatat bahwa dalam kontraknya yang masih berlaku saat ini, Karim Benzema menerima bayaran yang fantastis, mencapai 90 juta euro per tahun, atau setara dengan Rp 1,8 triliun untuk periode 2023-2026. Tawaran kontrak baru yang mengharuskan dirinya bermain tanpa bayaran, meskipun dengan janji 100 persen hak citra, dipandang oleh Benzema sebagai bentuk penghinaan dan perlakuan yang merendahkan martabatnya sebagai pemain sepak bola top dunia yang pernah meraih Ballon d’Or pada tahun 2022. Rasa tersinggung inilah yang mendorongnya untuk secara tegas menolak tawaran tersebut.

Keputusan Benzema untuk tidak lagi bermain untuk Al Ittihad disampaikan hanya beberapa jam sebelum pertandingan melawan Al Fateh. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi ini dan betapa besarnya kekecewaan yang dirasakan oleh pemain berusia 38 tahun tersebut. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak akan lagi bermain untuk klub tersebut dan akan menghabiskan sisa kontraknya tanpa membela tim. Laporan dari L’Equipe dan ESPN mengonfirmasi pernyataan ini, menambah bobot pada spekulasi yang beredar mengenai masa depan Benzema.

Sebelum keputusan drastis ini diambil, Karim Benzema telah menunjukkan performa yang cukup gemilang bagi Al Ittihad di musim 2025/2026. Ia berhasil mencetak 16 gol dalam 21 pertandingan di seluruh kompetisi. Angka ini menunjukkan bahwa kualitasnya sebagai penyerang masih sangat mumpuni, meskipun usianya tidak lagi muda. Namun, masalah di luar lapangan, terutama terkait tawaran kontrak yang dinilai tidak pantas, tampaknya telah merusak hubungannya dengan klub secara permanen.

Situasi yang dialami Benzema ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai kemungkinan kepulangannya ke Eropa. Beberapa klub top di Eropa mungkin akan tertarik untuk mendatangkan pemain sekaliber Benzema, terutama jika ia bisa didapatkan dengan status bebas transfer. Kualitas, pengalaman, dan naluri mencetak golnya masih sangat dibutuhkan oleh banyak tim. Kemungkinan ia akan kembali bersinar di liga-liga Eropa yang lebih kompetitif kembali terbuka lebar.

Dampak dari keputusan Benzema ini tentu akan sangat terasa bagi Al Ittihad. Kehilangan pemain bintang seperti dirinya akan menjadi pukulan telak, baik dari segi performa di lapangan maupun citra klub. Mereka harus segera mencari pengganti yang sepadan, sebuah tugas yang tidak akan mudah mengingat standar yang telah ditetapkan oleh Benzema. Selain itu, reputasi Al Ittihad sebagai klub yang mungkin tidak menghargai pemain bintangnya juga bisa terpengaruh.

Kisah Karim Benzema di Arab Saudi tampaknya akan segera berakhir dengan cara yang tidak terduga dan dramatis. Apa yang dimulai sebagai babak baru yang menjanjikan dalam kariernya, kini diwarnai oleh konflik dan kekecewaan. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada Benzema dan Al Ittihad, tetapi juga menjadi perhatian utama bagi dunia sepak bola, terutama para penggemar yang selalu menantikan aksi-aksi brilian dari seorang Karim Benzema.

Lebih jauh lagi, tawaran kontrak yang ditolak oleh Benzema ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi dan etika bisnis di dunia sepak bola, khususnya di liga-liga yang sedang berkembang pesat seperti Liga Arab Saudi. Apakah ini merupakan taktik negosiasi yang agresif dari pihak klub, ataukah mencerminkan kurangnya pemahaman mengenai nilai seorang pemain bintang global? Apapun alasannya, cara Al Ittihad memperlakukan salah satu aset terbesarnya ini jelas menuai kritik.

Perbandingan antara nilai kontrak lama yang sangat besar dengan tawaran baru yang justru terasa merendahkan ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas atau mungkin kesalahpahaman fundamental dari pihak manajemen Al Ittihad. Jika benar bahwa hak citra menjadi kompensasi utama, ini bisa jadi merupakan upaya untuk menghemat pengeluaran gaji pokok secara nominal, namun mengabaikan nilai intrinsik seorang pemain yang terbukti mampu memberikan dampak besar di lapangan dan di luar lapangan melalui daya tarik komersialnya.

Keputusan Benzema untuk menolak bermain bahkan di sisa kontraknya menegaskan betapa seriusnya ia memandang situasi ini. Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga soal harga diri dan rasa hormat. Sebagai seorang profesional yang telah meraih segalanya dalam karier sepak bolanya, ia berhak mendapatkan perlakuan yang layak dan proposal kontrak yang mencerminkan status dan kontribusinya.

Spekulasi mengenai masa depan Benzema kini menjadi topik hangat. Beberapa laporan awal menyebutkan bahwa beberapa klub Eropa, termasuk yang pernah dibelanya, mungkin akan membuka pintu untuknya. Ada juga kemungkinan ia akan melanjutkan kariernya di liga lain yang mampu memberikan kompensasi yang sesuai dengan nilainya, atau bahkan merambah ke ranah kepelatihan atau peran lain di dunia sepak bola setelah kontraknya berakhir.

Yang pasti, drama ini menambah warna pada lanskap transfer sepak bola global. Keputusan Benzema bukan hanya sekadar perpindahan pemain, tetapi sebuah pernyataan tentang bagaimana pemain bintang harus diperlakukan dalam industri yang semakin komersial ini. Penggemar sepak bola di seluruh dunia akan menantikan bagaimana episode terakhir dari saga Karim Benzema di Al Ittihad ini akan berakhir, dan ke mana langkah selanjutnya akan membawanya.

Masa depan Benzema di luar Al Ittihad kini menjadi fokus utama. Apakah ia akan kembali ke Eropa untuk merasakan kembali atmosfer kompetisi papan atas, ataukah ia akan mencari tantangan baru di liga lain yang mungkin menawarkan proyek yang lebih menarik? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab seiring berjalannya waktu, namun satu hal yang pasti, penolakan kontrak yang "aneh" dari Al Ittihad ini telah menjadi titik balik krusial dalam karier salah satu penyerang terbaik di generasinya. Al Ittihad sendiri harus segera merespons krisis ini dengan bijak agar tidak semakin terpuruk akibat kehilangan pemain bintangnya.